• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tampilkan postingan dengan label Sinaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinaran. Tampilkan semua postingan

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 48

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. Al-Baqarah Ayat 48

Setelah mengingatkan  kembali beberapa nikmat yang telah diberikan kepada Bani Isra’il , selanjutnya Allah memberi ancaman kepada mereka tentang beratnya siksaan yang akan mereka terima kelak di hari pembalasan. Yaitu di hari yang saat itu tidak ada lagi keadaan saling tolong menolong satu dengan lainnya, terputus semua hubungan kekerabatan, dan tidak berharga lagi harta dan kekuasaannya. Tidak sebagaimana ketika di dunia, manusia bisa saling membantu dan saling membutuhkan. Anak butuh bantuan orang tua, orang tua butuh bantuan tetangga, tetangga membutuhkan bantuan tetangga lainnya, demikian seterusnya. Namun di hari kiamat akan putus semua hubungan kekerabatan itu. Tidak ada seseorangpun yang dapat mencukupi kebutuhan orang lain, sebagaimana firman Allah dalam QS AL-AN’AM : 37

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui".
Atau yang dijelaskan Allah dalam QS ‘ABASA :37

لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.

Maka yang terpenting dalam hidup ini adalah memperbanyak amal sholeh di dunia sebagia bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat. Di mana saat itu hanya amal kebaikan kitalah yang akan menolong kita dari ancaman siksa api neraka. Beramalal di dunia untuk membangun kehidupan di akhirat. Allah berfirman dalam QS QHOSHOSH : 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Allah telah menyediakan alam beserta isinya kepada manusia untuk dikelola, dieksplorasi dengan ilmu pengetahuan sehingga memberikan hasil yang optimal. Allah juga membekali manusia dengan panca indera, kekuatan fhisik dan akal pikiran. Yang dengan kesemuanya itu bila dikembangkan sudah cukup bagi manusia untuk mengolah isi bumi dan akhirnya menguasai dunia.

Setelah mampu menguasai dan mengexplorasi bumi hasilnya digunakan untuk menghadapi kehidupan akhirat. Dalam bentuk mendistribusikan harta untuk kepentingan FIE SABILILLAH. Dan yang lebih penting dari itu semua, agar  terselamatkan dari siksa api neraka manusia harus menggunakan mata, telinga dan hatinya untuk mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Allah berfirman dalam QS AL A’RAAF : 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Tentang SYAFA’AT
Allah berfirman dalam QS AL-MAIDAH : 36
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir - jika mereka memiliki semua yang ada di bumi dan sejenisnya dengan itu untuk menebus dirinya dari hukuman pada hari kiamat, itu tidak akan diterima dari mereka, dan bagi mereka adalah Hukuman yang menyakitkan.

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa siapapun yang imannya rusak baik dia sebagai muslim ataupun ahli kitab maka kelak pada hari kiamat apapun yang dimiliki di dunia, kedudukan yang terhormat ataupun kedekatan kaum kerabat tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Tidak ada kaum kerabat yang merasa iba kepada mereka, kemudian memberi pertolongan kepadanya.

Tentang ayat ini Ibnu Jarir mengatakan : “ Bahwa pada hari itu tidak ada seorang penolongpun yang menolong mereka sebagaimana tidak ada yang memberi syafa’at kepada mereka. Tidak diterima dari mereka tebusan dan juga ganti rugi. Habislah semua kehormatan, tertutuplah segala praktek suap-menyuap dan bantu membantu. Berakhirlah kesempatan untuk saling tolong dan saling bantu diantara mereka.”

 Di hari kiamat kelak mereka tidak akan mendapat pertolongan dari siapapun juga tidak mendapatkan syafa’at dari Allah, dikarenakan perbuatan syirik sehingga imannya menjadi rusak. Karena syarat mutlak untuk mendapatkan syafaat dari Allah adalah : TIDAK SYIRIK.

Bahkan kekayaan yang dimilikinya meskipun mempunyai emas sebesar bumi tidak akan bisa menebus dari kekafirannya. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam QS ALI IMRON : 91
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.

Sudah menjadi tabiat manusia akan membangga-banggakan harta dan tahta ketika di dunia. Mereka merasa takabbur dengan apa yang dimilikinya. Sampai-sampai mempunyai keyakinan bahwa dengan harta dan kedudukan yang dimilikinya, mereka akan bisa membeli surga. Sesuai dengan apa yang disampaikan Allah dalam QS AL-KAHFI : 35-36

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا(35) وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَب(36)
Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,(35). dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu"(36).

Di akhir ayat Allah memberi ketegasan “......dan tidaklah mereka akan mendapatkan pertolongan. “
Demikianlah keadaan orang-orang yang tidak iman kepada Rasul-Nya dan tidak mengikuti ajaran yang dibawanya, serta tidak memenuhi kewajiban yang dibebankan kepadanya. Keadaan yang akan dialami oleh orang-orang yang imannya rusak, yaitu orang musyrik baik dari orang Islam maupun para ahli kitab. Mereka tidak akan mendapatkan pertolongan dari siapapun, dan juga tidak akan bisa saling menolong antara satu dengan yang lainnya.

Firman Allah dalam QS AS SAFFAT : 22-31
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ(22)مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ(23)وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ(24)مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ(25)بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ(26)وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ(27)قَالُوا إِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ(28)قَالُوا بَلْ لَمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ(29)وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ ۖ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ(30)فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا ۖ إِنَّا لَذَائِقُونَ(31)
(kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,(22). selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka(23). Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya(24): "Kenapa kamu tidak tolong menolong?"(25),  Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri(26). Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan(27).Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan(28).  Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah yang tidak beriman"(29). Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas(30). Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu)(31).

Pada hari kiamat kelak, orang-orang dzalim (syirik) akan dikumpulkan dengan Ilah-ilah selain dari Allah yang ketika di dunia dijadikan tempat berdoa dan berharap pertolongannya secara ghaib. Mereka bersama-sama digiring ke neraka. Pada suatu tempat mereka dikumpulkan dan ditanya mengapa sekarang tidak saling tolong menolong ? Sebagaimana keyakinan orang-orang syirik ketika di dunia ? Dan mereka akan mendapatkan jawaban yang sungguh-sungguh tidak mereka sangka sebelumnya. Bahwa ilah-ilah selain dari Allah yang ketika di dunia diyakini mampu mendatangkan pertolongan, namun pada hari ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan memberikan pertolongan, pada saat itu merekapun disibukan dengan kesulitannya sendiri-sendiri.

Yang lebih menyakitkan antara akan terjadi saling bantah, saling menuduh antara orang-orang dzalim dengan ilah-ilah selain dari Allah. Para pengikut akan menuduh pemimpin-pemimpinnya (maksudnya ilah-ilah selain dari Allah) telah mendatangi mereka dengan membawa tipu muslihat yang memikat hati. Maka akan dijawabnya, bahwa memang mereka adalah orang-orang yang tidak mau beriman. Bisa kita bayangkan betapa sakit hati dan sungguh mengecewakannya, orang yang diharap akan mampu memberi pertolongan justru menyalah-nyalahkan.

Demikianlah keadaan orang-orang syirik dan ilah-ilah selain dari Allah. Pada hari itu tidak ada yang mempunyai kemampuan apa-apa. Semuanya TASLIM, tunduk patuh kepada keputusan Allah.

Allahu ‘alam bish showwab.......

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 47

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).


Ayat 47
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat(47).

Allah ta’ala mengingatkan kepada Bani Israil, atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada mereka, diantaranya :.
  1. Diutusnya  para Rasul dari kalangan bangsa mereka sendiri.
  2. Diturunkannya beberapa kitab mereka sebagai petunjuk.
  3. Kekuasaan, atau keutamaan mereka dari umat-umat yang lain pada zamannya, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala dalam QS Ad-DUKHAAN : 32

وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa.

Atau dalam QS AL MAIDAH : 20
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ
Dan [menyebutkan, O Muhammad], ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, mengingat nikmat Allah kepadamu ketika Dia ditunjuk di antara kamu nabi-nabi dan membuat Anda pemiliknya dan memberi Anda bahwa yang Dia tidak diberikan siapa pun di antara dunia.

Kecuali dari beberapa hal di atas Allah juga memberikan kelebihan kepada Bani israil sebagai bangsa yang unggul, dari sebab mereka berpegang teguh kepada kitab dan mengoprasionalkan dalam

kehidupan sehari-hari, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَلَ: قَلَ رَسُوْلُ اللّٰهِ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ : اَنّ اللّٰهَ يَرْ فَعُ بِهَذَ الْكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
“ Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitab, dan merendahkan suatu kaum yang lain juga dengan kitab. “  (Hr. Muslim)

Maksudnya suatu kaum akan terangkat derajat kehidupannya apabila berpegang teguh kepada kitab serta bersedia untuk mengamalkannya, dan sebaliknya suatu kaum akan hancur sehancur-hancurnya manakala kaum tersebut abai terhadap kitab, bahkan memusuhi orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab.

Demikian juga dengan orang-orang Bani Israil saat ini, seandainya mereka mau kembali berpegang teguh kepada isi Al Qur’an niscaya Allah akan memberikan kembali kejayaan Bani Israil
sebagaimana kejayaan semasa Nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian, kita lihat dalam sejarah semenjak Bani Israil meninggalkan kitab (menyimpang jauh dari taurot dan Injil) maka kita lihat mereka menjadi bangsa yang terhina sepanjang jaman. Meskipun bisa kita lihat saat ini orang-orang Yahudi bisa menguasai negeri Palestina, namun itu hanya keunggulan yang sangat kecil, tidak sebanding dengan perasaan takut dan khawatir yang senantiasa meliputi bangsa Israil. Menjadi bangsa yang hina dan tidak aman mulai sejak menyatakan berdiri tahun 1948 sampai dengan sekarang.

Secara lengkap Allah ,menceritakan perjalanan kehidupan Bani Israil dalam QS AL BAQOROH : 61

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

Umat Nabi Muhammad lebih mulia dibanding Bani Israil, ayat tersebut di atas harus dipahami seperti itu, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam QS ALI-IMRON : 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

 Makna ayat di atas tidak boleh dibelokkan untuk mengunggulkan Bani Israil atas umat-umat lain, baik yang sebelum ataupun yang sesudahnya. Untuk konteks sekarang kaum yang diunggulkan yang dimaksud adalah umat Nabi Muhammad SAW.

 Nabi Ibrahim As yang ada sebelum mereka adalah lebih unggul dari segenap Nabi-nabi terdahulu. Tetapi Nabi Muhammad SAW yang lahir setelah mereka adalah orang yang yang paling unggul dan mulia atas semua makhluk, junjungan umat manusia baik di dunia maup[un di akhirat. Sholawat, salam dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadanya.

Umat Islam adalah umat yang terbaik dibanding umat-umat yang lain dengan syarat : menegakan AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR. Dengan tetap Iman kepada Allah menjadi poros dalam beramal dan berkarya. Sebagaimana yang diwujudkan pada generasi Sahabat dan Salafush Sholeh, mampu menunjukan sebagai umat terbaik, karena istiqomah berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah, yang diwujudkan dalam sikap :
  1. SHIDIQ,  yaitu jujur dan sportif dalam bersikap.
  2. IKHLASH, mengamalkan Al Qur’an tanpa reserve, beribadah kepada Allah tanpa syirik, dan baro’ (berlepas diri) dari sistem Non Islam.
  3. Menjunjung tinggi Ilmu.
  4. JIHAD dengan harta dan nyawa.
Dalam sebuah hadist dari Mu’awiyah al-Qusyairi, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“ Kalian sebanding dengan 70 umat, kalian adalah umat terbaik dan paling mulia di sisi Allah. “


Allahu ‘alam bishowwab......

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 45 - 46

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).

(وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ(45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ(46

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'(45),  (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (46).

Allah memperintahkan hamba-hamba-Nya untuk meraih kebaikan dunia akhirat dengan cara menjadikan Sholat dan Shabar sebagai penolong. Minta tolong harusnya hanya ditujukan kepada Allah saja, maka dalam hal ini sholat dan shabar hanya sebagai wasilah untuk minta tolong kepada Allah.

Dalam perjalanan kehidupan sudah barang tentu manusia akan menghadapi masalah-masalah, yang biasanya masalah tersebut terkait erat dengan kepentingan duniawi.  Untuk itu setiap manusia pasti butuh pertolongan atau jalan keluar dari masalahnya. Dan kebanyakan manusia mempunyai kecenderungan untuk minta tolong kepada ilah-ilah selain Allah, biasanya kuburan orang sholeh yang sudah mati yang dijadikan obyek untuk minta tolong secara ghaib.

Maka dalam ayat ini Allah member resep untuk minta tolong kepada :

  1. SHABAR, yaitu shabar terhadap kesulitan yang dihadapi dengan tetap berdoa dan menjalankan  ibadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Termasuk shabar di sini adalah  menahan diri dari perbuatan maksiyat. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Umar Bin Khoththob Ra, ia berkata : “ Shabar itu ada dua, shabar ketika mendapatkan musibah, itu adalah baik, dan shabar dalam menahan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah, dan itu lebih baik. “
  2. SHOLAT, yaitu dengan menjalankan sholat sunnah Hajat kemudian dilanjutkan dengan terus berdoa kepada Allah. Sesungguhnya sholat termasuk perkara yang besar yang menolong seseorang intuk mendapatkan keputusan dalam sebuah perkara, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam QS AL-ANKABUUT ; 45 


اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Rasulullah SAW member tauladan yang terbaik, ketika menghadapi kesulitan beliau melakukan sholat. Sebagaimana hadist  yang diriwayatkan Abu Dawud…….
“ Apabila Rasulullah SAW menemui suatu kesulitan, maka beliau segera mengerjakan sholat. “
Dari Ali Ra, ia berkata : “ Menurut penglihatan kami pada malam perang Badr orang-orang pada tidur kecuali Rasulullah SAW, beliau sholat dan berdo’a hingga shubuh. “

“ Dan sesungguhnya wasiyat Shabar dan Sholat adalah masalah yang sangat berat “ dan tidak aka nada yang mampu melaksanakannya kecuali orang-orang yang mendapatkan keberuntungan yang besar. Allah berfirman dalam QS FUSHSHILAT : 34-35

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ(34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ(35
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (34).  Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar(35).

Karena dalam kenyataan banyak sekali orang yang ketika menghadapi kesulitan, tidak bisa menjadikan Shabar dan Sholat sebagai penolong. Bahkan yang lebih menyedihkan mayoritas mereka ketika mendapatkan kesulitan justru berdoa kepada Ilah-ilah selain Allah dengan mendatangi  kuburan orang-orang sholeh yang telah mati.
Hanya orang-rang yang KHUSYU’ yang mampu meneriwa wasiyat  Shabar dan Sholat….


Al Baqoroh : 46

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

 (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Yang dimaksud khusyu’ adalah orang-orang yang yakin akan bertemu Allah kelak di hari akhir kelak. Adapun beberapa proses kejadian hari akhir yang harus diimani adalah sebagai berikut :

  1. Dimulai dengan kehancuran alam semesta, gunung-gungung yang menjulang akan hancur menutupi lembah dan ngarai, sungai-sungai akan hilang di telan reruntuhan dan debu. Tidak ada tanah yang tinggi, tidak ada pula yang rendah. Bumi menjadi rata seluruhnya.
  2. Hari KEBANGKITAN  ketika malaikat Isrofil meniup sangkakala maka semua manusia bangkit dari kuburnya, dan berbondong-bondong ke padang Mahsyar. Orang-orang kafir, munafik, musyrik, dan orang-orang mukmin yang tertipu dengan angan-angan (termasuk di dalamnya adalah orang-orang sekuler), akan dibangkitkan Allah dalam keadaan telanjang bulat. Karena ketika di dunia tidak membawa amal kebaikan, atau bisa jadi karena imannya batal maka amal-amalnya tidak ada nilai di hadapan Allah. Sedangkan orang-orang yeng beriman akan dibangkitkan dalam keadaan yang terhormat.
  3. HISAB, perhitungan amal manusia ketika hidup di dunia. Pada hari itu Allah SWT memperlihatkan semua amal manusia dan mereka mengakuinya, karena tangan, kaki dan anggota badan yang lain menjadi saksi. Pada hari itu semua manusia akan menerima kitab catatan amal masing-masing, dengan tidak ada satupun yang merasa terdzolomi. Saat itu Allah menegakan maha Adil-Nya.
  4. MIZAN, adalah timbangan untuk menimbang amal orang-orang yang beriman meskipun iman mereka hanya sedikit sekali. Sedangkan orang-orang kafir dan munafik yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, amal mereka tidak ditimbang, karena tidak ada nilainya di hadapan Allah. Mereka tidak di Hisab dan ditimbang, kecuali langsung dimasukan ke dalam neraka.
  5. SHIROTH,  yaitu jembatan sangat kecil dan panjang yang melintasi antara surga dan neraka. Orang-orang yang melewatinya juga dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan amal masing-masing. Ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang lari seperti larinya kuda, dan ada juga yang dengan merangkak . Dan yang  terbanyak adalah yang jatuh ke dalam neraka.

Demikianlah peristiwa yang terjadi yang harus diimani dalam proses bertemu dengan Allah. Dengan iman akan membentuk sikap hidup. Misalnya iman kepada proses Hisab, harus dipahami bahwa jika ingin cepat hisabnya maka harus memperbanyak amal sholeh, dan meminimalkan maksiyat. Sehingga orang-orang yang mengaku dengan masa Hisab, maka hidupnya selalu berada di jalan-Nya, memperbanyak amal, dan yang lebih penting dalam mempercepat Hisab adalah dengan jalan Jihad fi Sabilillah, dengan harta dan nyawanya.

Sedangkan mereka yang kehidupannya ketika di dunia tidak memperdulikan petunjuk Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang ragu terhadap Hisab-Nya Allah. Rasulullah SAW  bersabda :
“ Allah marah kepada orang-orang yang pandai urusan dunia, tapi bodoh dalam ilmu akhirat. “
“ Dan bahwa mereka akan kembali kepada-NYA….” Dengan membawa amal masing-masing. Bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, akan mengharap surga dan akan ketemu dengan Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang ingkar, nifaq dan musyrik tentu juga akan menerima balasan yang setimpal, yaitu neraka dan kekal di dalamnya.

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Dua hari raya ISLAM, yang sesuai dan dicontohkan Rasulullah

IDUL FITRI  DAN IDUL ADHA,
Dua hari raya ISLAM, yang sesuai dan dicontohkan Rasulullah, memang sudah mentradisi di Indonesia, lengkap dengan kembangannya.
Yang Idul Fitri ada halal bi halal, bahkan berlaku sampai sebulan di bulan Syawal, hanya sayangnya Idul Adha tidak begitu meriah, karena setelah pemotongan kurban seolah hari raya selesai, dan hal itu tidak apa-apa, memang Islam itu sederhana dan simple.

Mestinya ada lagi di hari JUM’AT, juga merupakan hari raya mingguan, meriahkan dengan sholat Jum’at dan memperbanyak shodaqoh, InsyaAllah akan meriah, misalnya  setelah Jum’atan disediakan BANCAKAN makan siang bersama, secara bergiliran dibanding orang membuat-buat bancakan yang dituntun agama Hindu, tentu saja bancakan setiap Jum’at bisa disertai dengan niat untuk bershodaqoh kepada orang tua yang sudah meninggal, Insya Allah pahalanya sampai.

MEMPRIHATINKAN memang di Indonesia, orang membuat-buat Ied – hari raya dengan beragam tema, dan hal itu dikaitkan dengan tholabull ‘ilmu, sehingga seolah-olah BELAJAR ISLAM setiap tahun tetap saja muter, mulai :
  • Tahun baru Hijriyah,
  • Maulud Nabi,
  • Isra’ mi’roj,
  • Nuzulul Qur’an,
  • Idul Fitri – Halal bi halal,
  • Ditambah kreasi-kreasi baru , seperti Indonesia bersholawat sampai ke kampong-kampung dan kampus-kampus.


SAMA SEKALI, tidak ada tuntunan dari Rasulullah.
Apalagi jika pengisi hanya mengajak NYANYI-NYANYI, atau tidak kompeten di agama, orang hanya membuat kesimpulan bagusnya Islam hanya karena titel pembicara, karena lucunya, karena karomahnya, dan lain-lainnya, sehingga arahan Tholabul Ilmi untuk memahami syare’at Islam dengan benar jauh panggang dari api.

Coba saja dikembalikan kepada cara Rasulullah, Hari raya hanya Idul Fitri dan Idul Adha serta Jum’atan, sedangkan tholabul ilmi dilakukan sehari-hari, memang orang Islam wajib belajar ilmu syare’at, karena dalam prinsip Islam  wajib BER ILMU SEBELUM BERAMAL  ( Bahkan di Hadits Buhori dikumpulkan dalam satu bab tersendiri ), dengan pemahaman tholabul ilmi merupakan ikhtiar membangun taman-taman surga, maka Insya Allah kemeriahan dan semarak Islam akan hadir dimana-mana, jangan malah yang benar-benar akan tholabul ilmi diusir dan dibubarkan justru oleh ormas Islam sendiri, memalukan.

KEMERIAHAN ISLAM, justru akan terlihat setiap waktu, ketika JAMA’AH SHOLAT tegak disetiap masjid, dimulai dengan adanya suara adzan, dan itulah syi’ar Islam, kemudian orang menghentikan segala aktifitas dan berbondong-bondong ke masjid untuk jamaah, inilah syi’ar Islam.

Kemudian seminggu sekali, orang bersegera ke masjid, itulah syi’ar Islam, sehingga kalau setiap Jum’at ada saja orang yang membuat bancakan dan dihidangkan setiap selesai Jum’atan, insya Allah keberkahannya jelas akan nampak nyata, dibanding bancakan menggunakan sistem 3 hari, 7 hari, 40 hari dan seterusnya. Namun di Indonesia hal ini  agak sulit berlaku, karena sistem libur HARI AHAD yang dipaksakan Belanda mampu mengarahkan orang-orang di Indonesia untuk menghormati hari MINGGU, sebagai hari ketuhanan orang lain, sehingga kalau hari Jum’at sebagai hari rayanya orang muslim para buruh muslim pun KUYU-KUYU datang dari kantor-kantor dan pabrik-pabrik dengan kondisi pas-pasaan dan mengantuk, Astaghfirullah………….

Mari kita rubah sendiri, hari masuk boleh tetap Jumat, namun begitu jam istirahat kita mandi, pakai pakaian terbaik kita, dan ke masjid dengan gagah, kemudian mendengarkan khutbah dengan segar, dan setelah jum’atan kita sediakan makan siang bersama, secara bergantian. Inilah hari raya kita, sedang hari-hari raya lainnya kita hilangkan atau dikurangi.

NANTI begitu Idul Fitri, kita siapkan energi untuk menyambut hari raya lagi, siapkan kunjungan SILATURAHIM ke tetangga, kepada kerabat dan saudara, sehingga hari raya setelah sholat Ied dengaan meriah, maka semarak hari raya itu berkibar dimana-mana.

KEMUDIAN Idul Adha, selain sholat hari raya juga penyembelihan kurban, kita gerakkan untuk bisa dilaksanakan dimana-mana, ada 4 hari kesempatan – Hari Raya Idul Adha ditambah 3 hari Tasyrik. Dahulu Rasulullah menyembelih kurban sampai 60 ekor kambing, maka jangan enggan untuk kita menyembelih 2 atau 3 ekor kambing, kalau perlu 1 sapi seutuhnya kita sembelih sendiri, tidak perlu dirombong orang ber tujuh.  Inilah hari penyembelihan hanya karena Allah ta’ala, tidak ada penyembelihan selain hanya penyembelihan hari ini ( dan Aqiqoh ), sehingga upacara penyembelihan lainnya wajib dihilangkan ( seperti untuk membangun jembatan, nglarung, untuk makam keramat dan lain-lain wajib dihilangkan ). Insya Allah kita mampu, dengan gaji yang kecil seorang pembantu rumah tangga, mampu berkurban enggan kambing paling besar, waktu itu, sehingga kalau setiap bulan kita sisihkan UANG PULSA  Rp. 200 ribu, Insya Allah setiap tahun kita akan gampang berkurban dengan 1 kambing, daripada uang terbuang untuk koran, pulsa dan lain-lainnya.

SELAMAT MENIKMATI HARI RAYA ISLAM SEBENARNYA, Hari Raya Idul Fitri untuk tahun ini, dan dilanjutkan Idul Adha untuk 2 bulan ke depan, dan jangan lupa untuk JUMATAN sebagai hari raya mingguan kita.  ( MJK ).



Ditulis Oleh

Author
HM. Jatmiko, Ch
Pimpinan BIAS Jogja & YAUMMI Pati
Nantikan tulisan Pak Jat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Kiat Sehat di Bulan Ramadhan

Ibadah puasa pada bulan Ramadhan menjadi kesempatan yang baik bagi kaum muslimin untuk meraih manfaat sebesar-besarnya, baik manfaat pahala ibadah maupun manfaat kesehatan. Masalahnya, pada bulan puasa biasanya munculnya kebiasaan-kebiasaan baru. Misalnya produktivitas kerja yang menurun dengan alasan badan lemas karena kurang makan, kebiasaan makan sahur yang banyak, makan berlebihan saat berbuka, kurangnya konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran serta tidur seharian tanpa berolahraga. Tanpa kita sadari hal-hal ini justru dapat menyebabkan berat badan yang terus meningkat dan kondisi tubuh menjadi kurang fit, sehingga mengurangi manfaat puasa untuk kesehatan kita.

Agar puasa dapat menyehatkan diperlukan strategi yang tepat. Siasat yang baik adalah dengan melakukan pengaturan pola makan dan minum, pengaturan aktivitas/olahraga, perhatian ekstra dan strategi khusus untuk penyakit/kondisi tertentu, serta persiapan mental.

Pengaturan makan dan minum
Walaupun tidak makan dan minum di siang hari, jumlah kalori, karbohidrat, dan asupan gizi lainnya harus tetap sama dengan saat kita tidak berpuasa. Fungsi zat gizi dalam tubuh adalah sebagai sumber energi (karbohidrat dan lemak), zat pembangun (protein) terutama untuk tumbuh kembang serta mengganti sel yang rusak dan sumber zat pengatur (vitamin dan mineral).

Sahur
Pengaturan makan dan minum pada saat puasa dimulai ketika sahur. Sahur menjadi penting karena pada saat sahur kita mempersiapkan makanan yang menjadi sumber energi selama puasa. Sahur dianjurkan dilakukan di akhir waktu. Makanan yang dikonsumsi saat sahur tidak hanya sekadar praktis, tapi juga makanan bergizi, yang mengandung lima unsur zat gizi yaitu: protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Selain itu, pada saat sahur perlu mengkonsumsi makanan yang berserat yakni sayuran dan buah untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan. Sebaiknya konsumsi air 8-10 gelas per hari termasuk susu, jus, dan kuah sup atau sayur agar tubuh kita tidak kekurangan cairan. Pembagiannya 5 gelas pada malam hari dan 3 gelas pada saat sahur. Setelah makan sahur dianjurkan tidak langsung tidur untuk memperlancar pencernaan.

Berbuka Puasa
Pada saat berbuka puasa sebaiknya dengan minuman yang manis dan hangat. Makan dilakukan secara bertahap dan tidak langsung makan dalam porsi yang besar dan terburu-buru. Bagi orang gemuk hindari berbuka puasa dengan makanan yang tinggi kolesterol dan kurangi makanan yang manis-manis. Sebaiknya lebih banyak konsumsi sayuran dan buah serta kurangi makanan yang digoreng. Bagi yang terlalu kurus perlu menambah porsi susu dan hindari makanan yang sulit dicerna seperti sayuran berserat kasar (daun singkong, daun pepaya). Bagi yang berusia lanjut makanlah dalam jumlah porsi kecil tapi sering. Setelah buka puasa sebaiknya tidak langsung tidur untuk memperlancar pencernaan.

Contoh Perencanaan Makan Selama Puasa 
Saat berbuka 10% dari total kebutuhan kalori sehari (makanan kecil) dilanjutkan sesudah sholat maghrib 25% dari total kebutuhan kalori sehari (makanan utama). Usai tarawih 20% dari total kebutuhan kalori sehari (makanan utama). Dan sebelum tidur malam cukup 10% dari total kebutuhan kalori sehari (makanan kecil/susu/buah). Sedangkan saat sahur 25% dari total kebutuhan kalori sehari (makanan utama) dan sebelum imsak 10% dari total kebutuhan kalori sehari (makanan kecil/susu/buah)

Pengaturan Aktivitas/olahraga
Berpuasa tidak berarti mengurangi aktivitas atau kerja. Kita dapat terus berolahraga dengan memperhatikan waktu berolahraga yang tepat. Pada saat puasa tidak dianjurkan melakukan aktivitas/olahraga berat. Sebaiknya olahraga dilakukan menjelang berbuka puasa atau pada malam hari. Olahraga yang dianjurkan adalah olahraga ringan seperti jalan kaki, senam, lari kecil. Shalat tarawih pun dapat dijadikan aktivitas untuk menjaga kebugaran tubuh.
Perhatian ekstra dan strategi khusus untuk penyakit/kondisi tertentu

1. Penyakit lambung
Pada pasien yang memiliki penyakit pada lambung yang disebabkan oleh peningkatan asam lambung, stres dan makan tidak teratur umumnya boleh berpuasa. Namun bila penyakit pada lambung disebabkan karena adanya luka (ulkus) pada lambung umumnya tidak dianjurkan berpuasa. Makanan yang perlu dihindari antara lain:

  • Banyak mengandung gas dan tinggi serat (sawi, kol, nangka, pisang, kedondong, buah yang dikeringkan, minuman bersoda)
  • Merangsang pengeluaran asam lambung (kopi, sari buah sitrus, susu)
  • Merusak dinding lambung (cuka, pedas, merica, dan bumbu yang merangsang)
  • Sulit dicerna (makanan berlemak, kue tart, coklat dan keju)

2. Penyandang diabetes (Diabetesi)
Penyandang diabetes atau diabetisi yang ingin berpuasa sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Secara umum diabetesi boleh berpuasa bila:

  1. Keadaan gula darahnya terkontrol (gula darah puasanya 80-126 mg/dl, 2 jam setelah makan 80-180 mg/dl).
  2. Bila menggunakan insulin tidak lebih dari dua kali sehari
  3. Mempunyai fungsi hati/liver dan ginjal yang baik
  4. Tak ada gangguan pembuluh darah otak yang berat
  5. Tak ada kelainan pembuluh darah jantung
  6. Cadangan lemak tubuh cukup
  7. Tak ada kelainan hormonal lain
  8. Tidak mengalami demam tinggi.

Pengaturan makan pada saat puasa untuk diabetisi tidak berbeda dengan jumlah asupan kalori dari makanan bila tidak puasa. Hanya saja diperlukan pengaturan dan distribusi makanan serta obat-obatan yang perlu dikonsultasikan dengan dokter.

3. Ibu hamil dan menyusui
Untuk ibu hamil diperbolehkan puasa apabila kuat dan tidak merasakan keluhan seperti pusing, gemetar, mual berlebihan, serta tidak termasuk kehamilan berisiko tinggi. Ibu hamil juga sebaiknya tidak memaksakan berpuasa jika membahayakan diri sendiri dan janin. Jenis dan jumlah makanan yang dibutuhkan pada waktu puasa sama seperti bila tidak puasa.

Sebagian besar ibu menyusui tidak kuat berpuasa karena mengeluarkan ASI, karena pengeluaran ASI bisa memberikan dampak lemas dan mudah lapar. Sebaiknya tidak memaksakan diri untuk puasa bila tidak kuat, karena bukan tindakan bijaksana bagi seorang ibu menyusui memaksakan diri menjalankan puasa tapi mengganti ASI dengan susu kaleng untuk sang anak.

Persiapan mental
Menghadapi puasa di bulan Ramadhan diperlukan persiapan mental, di antaranya niat dan motivasi kuat yang juga mempengaruhi kesiapan fisik. Puasa dengan niat ibadah yang ikhlas dan tenang, diiringi dengan kesabaran dapat menghindarkan stress, dan terbukti bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Dengan persiapan yang baik, kita dapat melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan dengan khusyuk dan optimal, meraih manfaat pahala ibadah dan meningkatkan kesehatan. Ah.J@m_L@naFad3L

7. Syiah Imamiyah Itsna’Asyariah dan Imam Mahdi.

Penyimpangan – penyimpangan Aqidah
SYI’AH

Pendahuluan
Segala puji bagi Allâh swt yang selalu mencurahkan nikmat dan karunia serta hidayah dan inayahnya kepada kita semua sehingga sampai pada saat sekarang ini kita masih berjalan di atas jalannya. Mudah–mudahan kita bisa mempertahankan, merawat, menjaga serta menumbuh kembangkan iman di dalam dada hingga kita tidak menghadap kepada-Nya melainkan dalam keadaan iman dan taqwa. Amin.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Rasûlullâh Muhammad saw, keluarganya, para sahabat sahabatnya, serta para pengikut, pecinta dan pembela sunnah–sunnahnya sampai akhir zaman. Dan semoga di akherat nanti kita termasuk Ummat Muhammad saw yang termasuk Ashâbul Yamin yang akan pertama–tama bersama beliau masuk surga karena kesetiaan kita dan banyaknya kita mengikuti sunnah–sunnah beliau saw. 

Pada edisi sebelumnya sudah kita paparkan tentang 6 golongan Syi’ah dan ajaran–ajarannya maka pada edisi kali ini akan kita bahas secara ringkas tentang firqoh–firqoh /sekte/golongan  / aliran–aliran dalam Syiah selanjutnya yang masing-masing memiliki kesamaan dasar aqidah dan juga memiliki perbedaan–perbedaan ajaran sesuai pemikiran para pendiri masing–masing.
Di antara golongan-golongan dan gerakan-gerakan Syiah yang berikutnya adalah sebagai berikut:

7. Syiah Imamiyah Itsna’Asyariah dan Imam Mahdi.
Sebagaimana maklum bahwa Syiah Imamiah adalah mereka yang mengakui dua belas orang imam, telah didefinisikan sendiri oleh salah seorang ulama Syiah modern yang bernama Muhammad al Husain al Muzhaffar bahwa mereka adalah orang-orang yang mengakui dua belas imam yang dimulai dari Imam Ali bin Abi Thalib sampai kepada  keturunan Hasan. Teks ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa Syiah Imamiyah memiliki karakteristik yang berupa pengakuan mengenai keimaman dua belas imam. Syaikh Muhammad Jawwad Mughniah juga menegaskan bahwa: “Itsna Asyariyah merupakan  sebuah julukan yang diberikan kepada kelompok Syiah Imamiyah yang mengakui keberadaan dua belas imam yang ditentukan melalui nama-nama mereka” . Kedua Belas Imam tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ali bin Abi Thalib “al Murtadha” (w. 40 H/661 M)
  2. Al Hasan bin ‘Ali “az Zaky” (w. 49 H/669 M)
  3. Al Husain bin ‘Ali “Sayyid asy Syuhada’” (w. 61 H/680 M)
  4. Ali bin Al Husain, Zain Al Abidin “Zainal ‘Abidin” (w. 95 H/714 M)
  5. Abu Ja’far Muhammad Ali “Al Baqir” (w. 115 H/733 M)
  6. Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad “Ash Shadiq” (w. 148 H/765 M)
  7. Abu Ibrahim Musa bin Ja’far “Al Kadhim” (w. 183 H/799 M)
  8. Abu Hasan Ali bin Musa “Ar Ridha” (w. 203 H/818 M)
  9. Abu Ja’far Muhammad bin Ali “al Jawad” At Taqi (w. 220 H/835 M)
  10. Abu Hasan Ali bin Muhammad “al Hadi”(w. 254H/868 M)
  11. Abu Muhammad Al Hasan bin Ali “Al Askari” (w. 260 H/874 M)
  12. Abu al Qasim Muhammad bin Hasan “Al Mahdi”, Al Qa’im Al Hujjah (memasuki kegaiban besar pada 329   H/940 M).

Di sebalik kematian Imam ke Sebelas, yaitu Imam Hasan Al Askari yang bagi Ahlu Sunnah ia meninggal tanpa meninggalkan keturunan. Sehingga hal ini menyusahkan tokoh dan ulama Syiah Imamiyah, sebab dalam tradisi kepemimpinan Imamah Syiah Imamiyah, seorang imam wajib meninggalkan putra sebagai generasi kepemimpinan selanjutnya untuk mencukupkan bilangan dua belas imam-imam Syiah yang dikenali sebagai Syiah Al Itsnaa ‘Asyariyah. Bahkan kepimpinan ini sebenarnya merupakan kepemimpinan umum ilahiyah, khilafah penerus Rasûlullâh saw dalam berbagai perkara dunia dan agama, sehingga semua manusia harus mentaati sang imam. Dan perbedaan di antara Nabi saw dan imam yaitu, Nabi saw adalah hakim asal untuk manusia pada perkara agama dan dunia mereka secara langsung tanpa ada perantara, sedangkan imam adalah hakim dengan perantara Nabi saw . Jadi Imamah dengan dua kekuasaan agama dan dunia ini merupakan suatu jawatan agama yang bersifat Ilahi, sama dengan silsilah kenabian, yang membedakannya dengan Nabi adalah tidak diturunkannya wahyu kepada imam. Oleh karena itu Imamah tidak melalui proses pemilihan, dan penetapannya hanya semata-mata berdasarkan ketentuan dari Allâh dan Rasûlullâh saw, atau berdasarkan nash yang diberikan oleh Rasûlullâh saw secara turun temurun dari imam yang terdahulu kepada imam yang selanjutnya .

Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya hukum-hukum ilahi hanya diperoleh dari sumber para imam, dan pengambilannya hanya sah jika dikeluarkan oleh mereka. Dan tidak ada perselisihan di antara Syiah Imamiyah dengan Syiah Isma’iliyah pada masalah ini. 

Adapun Syiah Zaidiyah, Imamah adalah sebuah kepemimpinan umum dengan ketentuan syari’at untuk individu yang tertentu dalam berbagai perkara agama dan dunia dengan catatan jangan sampai dia melakukan kezaliman. Berkaitan dengan definisi ini, Imam Ahmad bin Yahya al Murtadha berpendapat: “Imamah adalah kepemimpinan umum untuk individu tertentu dengan ketetapan syari’at yang tidak mengandung unsur kezaliman”. Sedangkan definisi yang diberikan oleh Imam al Qasim bin Muhammad adalah: “Kepemimpinan umum dengan ketetapan syari’at untuk seorang laki-laki yang tidak memiliki kezaliman kepada seorangpun”. 

Orang laki-laki harus berasal dari keturunan ahlul bait, dan lebih tepatnya harus berasal dari keturunan Hasan dan Husain. Definisi ini boleh dikatakan sebagai definisi yang disepakati oleh para ulama Syiah Zaidiyah, sebagaimana yang diisyaratkan Imam Humaidan bin Yahya dengan ucapannya mengenai hakikat imam, dia berkata: “yaitu seorang individu yang lengkap (sempurna) untuk memimpin manusia dalam agama dan dunia dalam bentuk yang tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi darinya, sebagaimana yang dikatakan oleh para imam kita, imam-imam Zaidiyah alaihissalam”. Jadi menurut mereka imam yang legal adalah yang ditetapkan oleh syari’ah untuk menepikan semua jenis kepemimpinan yang lain yang berdiri berdasarkan kekerasan, paksaan, dan dasar pilihan bagi orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkannya. Oleh karena itu, Imamah harus diberikan kepada individu yang tertentu yang berasal dari keturunan ahlul bait yang memenuhi semua persyaratannya. Dan Syi’ah Zaidiyah membatasi kewajiban rakyat terhadap imamnya terhadap perkara-perkara agama dan dunia yang berkaitan dengan kepentingan rakyat, seperti jihad, wilayah, hukuman, dan perkara zakat, sedangkan hal yang berkaitan dengan perkara agama dan dunia secara syar’i  tidak masuk ke dalam kapasitasnya (kekuasaannya). 

Dari sini, menurut Syiah Zaidiyah seorang imam tidak boleh turun dari tahtanya jika dia mendapati di antara rakyatnya ada orang-orang yang mau membantunya untuk melaksanakan perintah Allâh dan berjihad bersamanya. Sedangkan jika dia tidak mendapati di antara rakyatnya yang mau membantunya melaksanakan perintah Allâh dan berjihad bersamanya di jalan Allâh maka dia boleh melepaskan jabatannya, sebagaimana sikap yang telah diambil oleh Ali as untuk tidak menuntut kekhilafahan setelah kematian Rasûlullâh saw Meskipun jawatan itu adalah haknya. Begitu juga yang telah dilakukan oleh anaknya, Hasan bin Ali as, manakala para sahabatnya mengkhianatinya dan mengecewakannya, maka dia tinggalkan mereka dan dia serahkan jawatan kepada Mu’awiyah. Begitu juga yang telah dilakukan oleh al Qasim bin Ibrahim yang telah dibai’at, dan orang-orang telah mengelilinginya, kemudian dia saksikan kegagalan mereka dan dia memiliki keyakinan bahwa dia tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka dia lepaskan jawatannya; karena perkara ini tidak akan dapat berhasil tanpa bantuan para penolong dan pendukung, jika mereka tidak mendukungnya maka gugur kewajibannya untuk menjadi imam. .

Jadi kalau seorang imam meninggal tanpa meninggalkan seorang pun putra yang akan melanjutkan misi dan perjuangan kepimpinan (Imamah) Syiah, maka gugurlah kepimpinan Imamah tersebut, dan atas sebab ini ulama Syiah Imamiyah berusaha menutupi kemusykilan kepimpinan setelah meninggalnya imam yang ke dua belas yaitu imam Hasan Al Askari. Sebab apapun keadaannya, Imamah wajib hadir di tengah masyarakat dan mereka wajib mengenal dan mengesan keberadaan seorang imam, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh pengarang kitab “Usul Al Kafi”:

مَنْ مَاَت وَلَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَانِهِ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barang siapa yang mati tanpa mengetahui imam pada masanya, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah .

Pada tempat lain Al Kulaini dengan sanadnya dari Abu Ja’far as memaparkan bahwa : Sesungguhnya jika seorang imam diangkat dari bumi untuk sesaat saja, maka para penghuni bumi pasti akan bergelombang sebagaimana bergelombangnya laut dengan para penghuninya. 

Hal ini juga ditegaskan oleh syaikh Muhammad Ridha al Muzhaffar, seorang ulama Syiah modern, yang berkata: Oleh karena itu, suatu masa/zaman tidak boleh kosong dari seorang imam yang harus ditaati yang dipilih langsung oleh Allâh swt, tanpa memedulikan apakah manusia mau terima atau tidak, juga baik mereka mendukungnya ataupun tidak mendukungnya, menaatinya ataupun  tidak menaatinya, juga apakah mereka tampak kelihatan dari mata manusia ataupun  tidak kelihatan. .

Dalam keadaan seperti di atas dan ketika Imam Hasan Al Askari wafat, dengan sigapnya seorang rekan Imam Hasan Al Askari bernama Usman bin Said menyatakan bahwa Hasan al Askari sebenarnya telah memiliki seorang anak sebelum ia wafat. Anak ini seharusnya berusia empat tahun dan diberi nama “Muhammad”.  Dan anak ini menghilang dari pandangan mata, sebab ia dalam “keghaiban”, sehingga hanya  Usman bin Said yang dapat berhubungan dengannya. Dan semenjak itu Usman bin Said  bertindak sebagai perwakilan dari Imam Ghaib. Salah satu alasan Ghaibnya Muhammad Hasan Askari disebutkan oleh seorang ulama Syiah Imamiah yaitu imam At Tusi, ia katakan: “Tidak ada alasan yang menghalangi kemunculannya, selain karena ia khawatir dibunuh. Sebab jika tidak ada kekhawatiran ini, ia tidak boleh menyembunyikan diri. 

Oleh karena itu pengikut Syiah jika ditanya penyebab dan hikmah persembunyian Imam Mahdinya di dalam gua dan tidak menampakkan diri di hadapan orang ramai, mereka akan mengatakan bahwa dikhawatirkan keselamatannya dari pengejaran penguasa Khilafah Abbassiyah yang senantiasa memantau pergerakan Imam Hasan Askari dan keluarganya.

Menurut kepercayaan Syiah Imamiyah, Imam yang kedua belas sebenarnya mengalami peristiwa menghilang (Ghaib) sebanyak dua kali, yaitu ghaib sughra “pendek/singkat” dan ghaib kubra “lama/panjang”. Ghaib sughra dimulai sejak kelahirannya pada tahun 255 H, dan berlanjut hingga tahun 329 H. Sepanjang masa ini, meskipun ia ghaib di mata manusia, namun ia melalui sejumlah orang kanan/khas dapat berhubungan dan menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang Syiah, terutama untuk menjawab persoalan dan masalah agama ketika itu.

Orang kanan imam Ghaib yang menjadi wakil umat Syiah ada empat orang , yaitu :

  1. Usman bin Sa’id. Dia adalah sahabat Imam Al Hadi dan Imam Hasan Al Askari yang terpercaya. Dia adalah salah satu orang yang dipertemukan atau diperlihatkan langsung Imam Mahdi oleh Imam Hasan Askari yang berkata, “Setelah ini, kalian tidak akan melihatnya lagi dan di masa gaib, kalian harus patuh kepada Usman bin Sa’id karena dialah pengganti Imam kalian”.
  2. Muhammad bin Usman Al Umriy. Dia ditunjuk sebagai naib dari pihak yang suci setelah ayahnya. Usman bin Sa’id menjelang wafatnya mengatakan: “Setelahku, putraku, Muhammad, akan menjadi penggantiku dan naib Imam kalian. Niyabah-nya ‘kewakilannya’ telah didukung dan dibenarkan oleh Imam Mahdi as”.
  3. Husain bin Ruh. Muhammad bin Usman menjelang wafatnya mengenalkan Husain sebagai penggantinya dan Husain pun mendapat kepercayaan sebagai wakil dari Imam Mahdi. Kepada sahabatnya, Muhammad bin Usman mengatakan: “Aku telah diberi tugas oleh Imam Mahdi as untuk menunjuk Husain bin Ruh sebagai wakil dan merujuklah kepadanya dalam berbagai urusan agama”.
  4. Ali bin Muhammad Samari. Dia adalah salah seorang tokoh terkenal dan ternama serta terpercaya di kalangan Syiah ketika itu. Husain bin Ruh, sebelum wafat, menunjuknya sebagai wakil dari pihak yang suci.

Dengan demikian Ali bin Muhammad Samari merupakan wakil khas Imam Mahdi yang terakhir.
Pada tahun 329 H, Ali bin Muhammad Samari wafat. Sebelumnya, dia membacakan surat yang datang dari tempat yang suci untuk manusia. Di dalam surat tersebut tertulis:

“Enam hari lagi, ajalmu akan tiba. Urusi dan selesaikan semua pekerjaanmu. Namun, jangan engkau menunjuk wakil atau penggantimu. Sejak sekarang, keghaiban akan benar-benar sepenuhnya terjadi (dalam masa yang lama). Aku sendiri tidak akan muncul dan keluar dari keghaibanku. Selagi hati manusia belum beku dan bumi belum dipenuhi dengan kezaliman, Allâh swt tidak akan mengizinkanku muncul. Sebelum syarat-syarat itu ada, siapa saja yang mengaku melihatku telah berdusta dan janganlah kalian percaya kepadanya”.

Periode gaib sughra dan niyabah ‘perwakilan’ wakil-wakil khas terus menerus berlanjut dalam masa 74 tahun. Oleh karena itu dalam masa Ghaib ini, golongan Syiah Imamiah mengadakan hubungan dengan Imam Mahdi melalui para empat wakil-wakil di atas. Hikmah di sebalik adanya ghaib sughra yang memerlukan masa 74 tahun lamanya, bertujuan supaya pengikut Syiah mempersiapkan diri untuk menghadapi ghaib kubra yang begitu lama sehingga penantiannya akan berakhir masa-masa dekatnya hari kiamat.

Kedua peristiwa ghaib ini dilandasi oleh riwayat dari Ishaq bin Ammar mengatakan: “Dari Imam Ja’far Sadiq, aku mendengarnya menyatakan, “Al-Qaim mengalami dua keghaiban: ghaib yang lama (panjang) dan lainnya singkat (pendek). Pada ghaib sughra, hanya orang-orang tertentu dari kalangan Syiah dan yang memiliki kepimpinan (wilayah) yang mengetahui keberadaan Imam Mahdi saat itu. Selain itu, tiada yang mengetahuinya”.

Beberapa keganjilan-keganjilan yang timbul dari alasan keselamatan hayat Imam Mahdi yang dikemukakan oleh al Tusi dan ulama Syiah lainnya, sebab beberapa hal perlu dipertimbangkan, yaitu: kalaulah benar telah disebutkan dalam berbagai kitab-kitab referensi utama mereka bahwa al-Mahdi merupakan seorang insan yang ditolong, dijaga dan dibantu, sebab ia dalam naungan dan lindungan Allâh swt, tapi mengapa ia menjauhkan dan menyembunyikan diri dan tidak muncul di hadapan orang ramai?. Semestinya ia tidak bersembunyi dan justru sebaliknya lebih baik menzahirkan diri, sebab ia dalam penjagaan Allâh swt.

Tentu keyakinan seperti ini akan membawa kesan bahwa Imam Mahdi tidak komitmen dengan kepemimpinannya sebagai pemimpin yang berani melindungi pengikutnya dari kejaran penguasa khilafah Abbasiyah, ia pemimpin yang takut dari keramaian dan massa serta menghindar dari berbagai kritikan dan cabaran yang dihadapi oleh pengikut Syiah saat itu. Di samping itu dalam keyakinan Syiah Imam Mahdi Syiah khawatir akan terbunuh sehingga menyembunyikan diri, akan memiliki konsekuensi gugur dan pupus Imamahnya. Sebab, menurut Syiah, seorang imam haruslah manusia yang paling berani. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kitab Syiah bertajuk “Al Anwar An Nu’maniyyah” bahwa: “Seorang imam memiliki beberapa tanda: ia adalah orang yang paling alim, paling bijak, paling bertakwa dan paling berani” 

Di samping itu, Syiah Imamiah membantah keras kepercayaan tentang Imam Mahdi dari golongan-golongan selain Syiah Imamiah, seperti dakwaan Syiah Hashimiyyah bahwa Muhammad bin al Hanafiah adalah Imam Mahdi yang sebenarnya. Oleh karena itu dakwaan seperti ini merupakan pemikiran yang mengeksploitasi dan mengkhianati Imam Mahdi yang sebenarnya yaitu Imam kedua belas Muhammad bin Hasan al Askari .

Apapun halnya, diantara kepercayaan Syiah Imamiah yang paling menonjol dan memenuhi lembaran-lembaran kitab mereka adalah akidah al-Mahdi al-Muntazhar. Akidah ini sering kali diiringi dengan berbagai khurafat dan kepercayaan yang menyimpang dan tidak diterima oleh golongan Ahli Sunnah wal Jamaah. Dan ide tentang kemunculannya di akhir zaman nanti telah tertanam kuat di dalam keyakinan Syiah Imamiah, mereka telah bersiap sedia menanti kemunculannya dalam waktu dekat ini-menurut klaim mereka-, dan mereka berbicara mengenai kemunculannya pada beberapa ritual Syiah. Oleh karena itu tidak heran kalau semenjak ratusan tahun lepas, orang Syiah di berbagai negara merayakan kelahiran Imam Mahdi. 

Dengan akidah ini mereka terus melanjutkan dakwah kesucian para imam, dan cara ini mereka dapat memungut khumus dari pengikut mereka sebanyak 1/5 harta mereka, dengan alasan ini adalah bagian Imam al Mahdi al Muntadhar. Dan dengan cara ini mereka mengaku bahwa terjalin hubungan dengan ahlul bait. Mereka terpaksa menciptakan akidah yang jauh dari logika karena mereka telah membatasi kepemimpinan (Imamah) hanya kepada keturunan Husain dan kepada beberapa orang tertentu. Akan tetapi pada tahun 260 H mereka dikejutkan dengan kematian al Hasan al Askari yang menurut kepercayaan mereka dia adalah imam yang kesebelas- tanpa meninggalkan keturunan, maka kematiannya ini membuat mereka terpecah dan tidak tentu arah. Dan menurut sejarawan Syiah Imamiyah yaitu Imam an Naubakhti bahwa mereka terpecah menjadi empat belas kelompok, dan menurut al Qummi mereka terpecah menjadi lima belas kelompok. Kedua tokoh ini adalah ulama Syiah Imamiah atau dikenal sebagai Syiah ar Rafidhah yang telah menyaksikan terjadinya peristiwa ini, dan keduanya adalah pembesar mereka pada abad ketiga.

Ditulis Oleh

Author
Muhammad Suparman al Jawi, S.Pd.I
Mjelis Syuro MPAQ
Baca terus kajian aQidah ini hanya ada di www.mpaqpusat.com

Solusi Inflasi di Bulan Ramadhân

Sudah menjadi fenomena umum yang terjadi dari tahun ke tahun, ketika bulan Ramadhân harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Kondisi ini sering dibahasakan oleh para ahli dengan istilah inflasi. Pada bulan ini masyarakat muslim berpuasa dan dihimbau untuk mengendalikan hawa nafsu, tetapi mengapa justru tingkat konsumsi kebutuhan pokok malah meningkat? Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan masyarakat muslim yang lebih konsumtif pada bulan Ramadhân, terutama dalam pemenuhan kebutuhan bahan makanan.

Selain itu, inflasi juga disebabkan adanya kelangkaan kebutuhan pokok di pasaran karena penimbunan barang oleh oknum pedagang nakal. Pada kondisi seperti ini peran pemerintah menjadi sangat penting agar masyarakat ekonomi menengah ke bawah tidak semakin tercekik oleh kondisi ekonomi yang tidak berpihak kepada mereka.

Kalau saja umat Islam mau menyambut dan menjalani bulan Ramadhân sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasûlullâh dan para sahabatnya, penulis yakin tidak akan terjadi inflasi yang membuat perekonomian kita menjadi tidak stabil setiap datang bulan Ramadhân. Hadits Anas radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Muhammad SAW berbuka puasa sebelum melakukan shalat magrib dengan ruthob, jika tidak ada ruthob (kurma basah) maka beliau berbuka dengan beberapa butir tamr (kurma kering) dan jika tidak ada tamr maka beliau meminum beberapa teguk air putih.” (HR Tirmidzi: 696).

Mengenai masalah kenaikan harga barang-barang yang terjadi di Indonesia khususnya yang terjadi pada bulan Ramadhân. Pemerintah hiruk pikuk merapatkan, merumuskan, serta memutuskan arah kebijakan apa yang tepat untuk mengatasi ‘demam’ kenaikan harga demi tetap terjaganya stabilitas perekonomian Indonesia. Padahal jika dikaji, Islam dengan sistem ekonominya yang mumpuni yaitu ‘ekonomi Islam’ atau ‘ekonomi syariah’ sudah lebih dulu menjelaskan langkah tepat dalam mengambil kebijakan mengenai permasalahan tersebut. Sejenak mari kita simak dua kisah di zaman sahabat, mudah-mudahan bisa dipetik hikmahnya.

Kisah ini terjadi di zaman sahabat Umar bin Khattab radhiyallâhu’anhu. Ketika itu terjadi masa panen yang panjang, dua tahun hujan tidak turun-turun. Akibatnya gandum menjadi langka, lalu akibat berikutnya adalah terjadinya kenaikan harga di Kota Madinah. Umar bin Khattab ketika itu mengatasi persoalan inflasi yang terjadi akibat panen yang gagal ini dengan mengimpor gandum secara besar-besaran dari Fustat-Mesir. Fustat merupakan sebuah kota tua di dekat Kota Cairo. Dengan datangnya gandum yang diimpor besar-besaran dari Fustat ini maka kelangkaan gandum di Madinah menjadi teratasi, walhasil inflasi di Kota Madinah dapat diatasi oleh pemerintahan Umar bin Khattab.

Kejadian kedua, masih di zaman Umar bin Khattab, ketika itu para pedagang dari Kota Madinah mengalami untung yang besar dari perjalanan bisnis ke negeri Syam. Sepulangnya dari negeri Syam para pedagang Islam membawa uang yang berlimpah-limpahan. Karena masuknya uang secara tiba-tiba ke Kota Madinah maka terjadilah supply uang yang naik secara mendadak, walhasil terjadi yang kita sebut dalam ilmu ekonomi yaitu impuls buying (orang tiba-tiba merasa kaya). Hal ini mengakibatkan peningkatan demand yang sangat tinggi untuk 3 jenis barang pokok di Madinah pada waktu itu. Akibat adanya kenaikan demand yang sangat tinggi untuk 3 jenis barang pokok di Madinah, inflasi pun juga ikut meningkat. Inflasi yang didorong karena masuknya uang dari negeri Syam secara tiba-tiba mengganggu kestabilan ekonomi Madinah pada waktu itu, maka Umar bin Khattab mengambil satu kebijakan yaitu suspend (menunda, melarang transaksi) untuk 3 barang pokok tersebut. Dengan dilakukannya suspend oleh Umar bin Khattab terhadap barang-barang tersebut maka inflasi di Madinah dapat diatasi.

Dari dua kisah di atas, jika dikaitkan dengan ilmu ekonomi Islam, maka ketika membicarakan tentang stabilitas ekonomi, ekonomi Islam telah mempunyai dua kriteria. Yang pertama adalah stabilitas sektor riil, yang kedua adalah stabilitas sektor moneter. Jadi, jika kita berbicara mengenai stabilitas ekonomi, maka dalam ekonomi Islam itu harus dibedakan menjadi dua, yaitu stabilitas sektor riil dan stabilitas sektor moneter. Stabilitas sektor riil dalam ekonomi Islam ini dilihat dari struktur pasarnya. Jika kita bicara stabilitas sektor riil dalam ekonomi Islam, maka yang kita bicarakan adalah struktur pasar dari demand dan struktur pasar dari supply.

Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallâm dan sahabat waktu itu fully aware, sangat tahu bahwa ada perusahaan-perusahaan yang mempunyai platform yang sama yang bisa menawarkan dua pasar yang berbeda. Sebagai contoh, kita menggunakan google dan yahoo secara gratis, namun ketika ada yang ingin membuat aplikasi dan memasang iklan harus bayar. Dengan kata lain, di satu pasar kita bisa buat gratis tapi keuntungan datang dari pasar yang lain. Inilah yang disebut dengan the same platform untuk dua pasar yang berbeda.

Dalam ekonomi Islam penguasaan pasar yang dimonopoli seperti ini atau bertumpuknya kekuatan pasar di tangan satu supplier, di tangan satu pemasok, produsen, ini sangat tidak disukai, karena dalam ilmu ekonomi Islam monopoli boleh-boleh saja, monopoli tidak jadi masalah, tapi dia baru jadi masalah ketika monopoli itu menentukan harga pada saat bukan supply ketemu demand, tapi pada saat marginal revenue ketemu dengan marginal cost yang dalam ekonomi syariah dalam istilah qur’annya ini disebut sebagai ‘an tarâdhin minkum, dalam istilah fiqh nya disebut sâmanul mishr. Sâmanul mishr inilah yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa inggris menjadi equiblirium price.

Begitulah ekonomi Islam mengatur stabilitas ekonomi dalam suatu negara. Ekonomi Islam bukanlah ‘produk’ yang baru muncul, melainkan ia sudah ada di zaman Rasûlullâh dan para sahabat. Justru secara tidak sadar, ekonomi modern lah yang telah menjiplak ilmu-ilmu ekonomi Islam yang ada sejak zaman dahulu ke dalam sistem ekonomi modern saat ini. Namun sayangnya jiplakan itu tidak berhasil, sebab mereka terjebak dengan pola pikir mereka sendiri, terperangkap pada keyakinan dan paradigma yang salah. Semoga bisa dijadikan ‘ibrah (pelajaran), bahwa semua permasalahan hidup, termasuk permasalahan ekonomi sudah Allâh paparkan secara jelas melalui al-Qur’an dan ajaran Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallâm (as-sunnah). 
Ini membuktikan pula bahwa sistem ekonomi yang kita agung-agungkan itu gagal 100% untuk dijadikan solusi mengenai permasalahan kehidupan berbangsa. Sudah saatnya, Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam kembali pada tuntunan Allâh Subhânahu Wa Ta’âlâ yang dijelaskan melalui ajaran Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallâm. Sudah saatnya sistem ekonomi Indonesia berlandaskan pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Sudah saatnya ekonomi syariah sebagi solusi, bukan hanya sekadar alternatif semu tanpa makna.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Referensi : Fiqih Ekonomi Umar Bin Khotob ( Dr. Jaribah), Ekonomi Islam ( Adiwarman A. Karim)

Ditulis Oleh

Author
M. Akhyar, SE
KSPPS YA UMMI MAZIYAH ASSA'ADAH
Nantikan kajian Ekonomi Syari'ah berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

MEMOTONG KUKU & RAMBUT SAAT DATANG BULAN

PERTANYAAN
Assalamualikum Warohmatullahi Wabarokatuh, kami ingin bertanya apakah wanita ketika menstruasi boleh memotong kuku dan rambut? Atas jawabannya kami ucapkan jazakumullah ahsana jaza 
JAWABAN
Wa’alaikumussalâm warahmatullâhi wabarakâtuh. Wallâhu a’lam bissowab, sebatas yang kami ketahui, pendapat tersebut diambil dari kitab Ihya Ulumu Diin, Imam Gozali. Disana disebutkan larangan memotong rambut dan kuku bagi wanita ketika menstruasi, dikarenakan rambut dan kuku yang dipotong ketika menstruasi kelak akan dibangkitkan pada yaumil qiymat dalam keadaan junub. 
Hal tersebut setelah kami teliti tidak ada dalil yang melarang bagi wanita memotong rambut dan kuku ketika menstruasi, sehingga karena tidak ada nas yang melarang hukum dikembalikan pada asalnya yaitu mubah, atau boleh wanita memotong rambut dan kuku ketika menstruasi. 

HUKUM ISBAL BAGI WANITA

PERTANYAAN
Assalamualikum Warohmatullahi Wabarokatuh, maaf kami mau bertanya tentang apakah hukum isbal berlaku juga bagi wanita?  Jazakumullah atas jawabannya
JAWABAN 
Wa’alaikumussalâm warahmatullâhi wabarakâtuh.  Hukum isbal atau larangan memanjangkan kain celana melebihi mata kaki, hanya berlaku untuk laki-laki dan tidak berlaku untuk perempuan. Hal tersebut berdasarkan sebuah riwayat dimana Nabi Muhammad SAW ditanya tentang bagaimana cara mensucikan pakaian wanita yang terkena najis lantaran panjangnya sampai menyeret tanah. Beliau SAW menjawab, “bahwa terseret di tanah itu sudah cukup untuk membersihkan najis yang mengenainya” 

Dari riwayat di atas bisa dipahami bahwa pakaian wanita boleh sampai menyeret ke tanah asalkan kelebihannya tidak berlebih-lebihan seperti gaun pengantin ala eropa yang ekornya sampai dibawa oleh dua orang, ini sudah menunjukkan unsur tafakhur atau sombong. 

Momentum Ramadhan; Membentuk Budaya Membaca

(Reorientasi Keilmuan dalam Islam)


اقرأ باسم ربك الذي خلق. خلق الإنسان من علق. اقرأ وربك الأكرم. الذي علم بالقلم. علم الإنسان ما لم يعلم

Ramadhân adalah bulan yang suci dan mulia. Di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai kitab yang keasliannya selalu terjaga. Sudah selayaknya setiap muslim membasahi bibirnya dengan lantunan ayat-ayat Tuhannya. Terlebih pahala ibadah dalam bulan Ramadhân yang bertambah berlipat ganda. Dalam sebuah hadits Rasûlullâh bersabda bahwasanya setiap huruf dari al-Qur’an yang dibaca akan mendapatkan nilai 10 kebaikan sebagai pahala. Jika sekiranya seseorang membaca billâhirrahmânirrahîm sungguh betapa banyak nilai pahala kebaikan yang akan ia panen darinya. Maka sungguh merugi orang-orang yang terluput dari ladang amal di bulan Ramadhân yang penuh kesempatan beramal utama. Belum ada kata terlambat untuk memperbaiki dan meningkatkan kembali aktivitas kebaikan di hari-hari yang tersisa. Terlebih sepuluh hari bulan Ramadhân adalah saat-saat dimana terdapat malam seribu bulan yang sungguh sangat mulia. Sebuah malam yang pahalanya bernilai lebih daripada pahala amalan seribu bulan lamanya. Subhânallâh ta’âlâ.

Mungkin sangat tepat jika saya menyebut bulan Ramadhân sebagai bulan membaca, Syahrul Qur’ân atau Syahru al-Qirô’ah, disamping penyebutannya sebagai Syahru al-Shiyam (bulan berpuasa) atau Syahru al-Qiyam (bulan menghidupkan salat malam). Terlebih juga penyebutan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah terkenal dengan nama al-Qur’an, sebuah kata yang berasal dari akar kata Qoro’a - Yaqro’u - Qur’ânan - Qirô’atan yang berarti membaca. Mungkin memang kitab suci umat Islam tersebut memiliki nama lain selain al-Qur’an, seperti al-Bayan, al-Furqon, al-Kitab, dan sebagainya. Namun keterkenalan al-Qur’an sebagai nama kitab umat Islam lebih banyak didengar dan dikenal daripada nama selainnya, terutama di kalangan orang awam non arab yang lebih akrab menyebut kitab suci umat Islam dengan sebutan al-Qur’an. Hal ini sebenarnya memberikan sebuah sinyalemen bagi umat Islam agar sadar akan urgensi membaca sebagai kunci atau media utama mendapatkan ilmu yang sedemikian luasnya. Khususnya ilmu agama yang jatah umur tersedia pun tidak sanggup untuk menangkap seluruhnya. Maka tidak selayaknya seorang muslim sudah merasa pintar dan puas dengan ilmu yang telah diraihnya, sehingga meninggalkan aktivitas membaca sebagai jendela untuk membuka cakrawala ilmu yang tiada habisnya.

Para ulama banyak berpendapat bahwa ayat pertama dari al-Qur’an yang turun adalah ayat 1-5 dari surat al-‘Alaq. Sebuah surat yang diawali dengan "إقرأ" yang berarti “bacalah !”, sebuah perintah yang secara tegas, jelas, dan bermakna kontinuitas agar senantiasa melakukan aktivitas membaca. Fi’il amar dalam perspektif pakar ushul fiqih pada hakikatnya menunjukkan sebuah keharusan melakukan sesuatu yang diperintahkan, baik keharusan yang tegas dan pasti (wajib) maupun keharusan yang tidak tegas dan pasti (sunnah). Terlepas dari apakah hukum membaca itu wajib atau sunnah, sebagai seorang muslim yang sadar akan kebutuhan bertaqarrub dengan Tuhan maka sudah selayaknya menjadikan aktivitas membaca sebagai media beribadah kepada Allâh ta’ala. Terlebih di dalam banyak ayat, Allâh telah menyebutkan begitu banyak kelebihan dan ketinggian nilai kedudukan yang Ia anugrahkan kepada hamba-hamba-Nya yang berilmu pengetahuan.

Yang harus menjadi titik perhatian kita dalam memahami lima ayat yang turun pertama kali ini adalah perintah proses membaca yang dikorelasikan dengan proses penciptaan manusia. Sebab di akhir ayat pertama Allâh menyebut Dzat-Nya sebagai alladzî kholaq, yakni  “Yang Maha Menciptakan”. Dan penciptaan yang disebut dalam ayat ini adalah berkaitan dengan proses penciptaan manusia, yang berasal dari ’alaq, yaitu segumpal darah. Hal ini dapat ditarik sebuah intisari pemahaman bahwa pada hakikatnya proses membaca yang merupakan aktivitas menggali ilmu tersebut sebenarnya erat kaitannya dengan fitrah naluriah manusia. Artinya, manusia secara esensi tabi’i (alami) adalah makhluk yang cinta ilmu. Dan ilmu merupakan sebuah kebutuhan pokok sebuah makhluk yang bernama manusia. Sehingga ketika ada seorang meninggalkan proses menggali ilmu, sama artinya ia telah menanggalkan atau melepas sifat karakter aslinya sebagai manusia. Oleh karena manusia secara fitrah naluriah diciptakan sebagai makhluk yang cinta ilmu, maka Allâh pun menyebutkan dalam Q.S. al-Tiin bahwa Ia telah menciptakan manusia dalam bentuk, rupa, dan kondisi yang sebaik dan sebagus mungkin. Namun kebaikan dan kebagusan penciptaan manusia ini akan digugurkan oleh ulahnya sendiri dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran tuntunan Tuhan yang secara esensi dilatarbelakangi oleh kebodohan atau ketidak-tahuannya terhadap ilmu. Ketidak-tahuannya ini disebabkan oleh keengganannya melakukan proses membaca sebagai media menggali ilmu.

Kemudian pada ayat selanjutnya, Allâh pun kembali memerintahkan agar kembali membaca. Dan perintah membaca pada ayat ketiga ini disambungkan dengan penyebutan Dzat Allâh sebagai Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Memberi Anugrah. Hal ini secara implisit memberikan isyarat bahwa orang yang berilmu akan senantiasa mendapatkan anugrah nikmat dari Allâh, baik anugrah ini sifatnya abstrak ataupun empiris. Dan kita pun juga harus menyadari bahwasanya masing-masing manusia memiliki jatah kekuatan logika intelektual yang berbeda. Sehingga dalam proses membacapun, terjadi perbedaan antara satu orang dengan yang lain dalam hal kecepatan menangkap atau menyerap ilmu dari apa yang dibaca. Namun hal ini tidak lantas disikapi oleh yang kebetulan mendapat jatah kemampuan intelektual yang pas-pasan dengan sikap pesimis atau putus asa. Oleh sebab itu, ia diingatkan dan disadarkan akan keluasan kemurahan dan kedermawanan Allâh ta’ala. Sehingga orang yang mungkin jatah daya tangkapnya pas-pasan tidak kemudian ngambek dan meninggalkan proses menggali ilmu dengan membaca. Sebab selemah apapun otak manusia, namun jika terus menerus secara kontinu dimasuki ilmu maka pasti suatu saat otak tersebut akan berubah status menjadi cerdas yang mudah menangkap dan menyerap ilmu.

Lafadz iqro’  bagaimanapun juga adalah sebuah kata yang pertama kali turun dari al-Qur’an. Sebuah kata yang bersambung dengan huruf ba’ , sebuah huruf jarr yang dalam gramatika bahasa arab memiliki banyak makna. Musththofa al-Ghulayini menyebutkan ada 13 makna yang dimiliki oleh huruf ba’. Diantaranya adalah untuk ilshôq, yakni menyambungkan atau melengketkan. Sehingga ada yang menyebut “lem” dalam bahasa arab dengan lâshiq, sebab fungsi lem adalah melengketkan dan menyambungkan bagian satu dengan yang lainnya. Nah, dalam konteks bertemunya lafadz iqro’  dengan huruf ba’ setelahnya, hal ini memberikan isyarat bahwa dalam proses membaca yang menjadi media menggali ilmu seyogyanya si pembaca menyambungkan proses membacanya itu dengan ismi robbika (nama Tuhanmu). 

Ditulis Oleh

Author
Ust. Heri Mahfudhi, Lc
Ghozwul Fikri
Nantikan Ghozwul Fikri berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 44

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).


أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?"
QS. Albaqoroh; 44.

Allah mencela prilaku orang-orang Ahli Kitab, yang mereka memperintah, atau mengajak orang lain untuk berbuat baik akan tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka tidak melakukan kebajikan-kebajikan yang mereka ajakan kepada orang lain. Padahal mereka adalah orang-orang yang membaca kitab,  dan mengetahui tentang perintah untuk melakukan kebajikan merupakan fardlu a’in.

Hal tersebut sebagaimana yg diriwayatkan oleh Abdurrozaq dari Ma’mar, dari Qotadah tentang ayat di atas  ia mengatakan : “ Dahulu bani Israil menyuruh manusia berbuat ketaatan, taqwa dan mengajak kepada kebajikan, namun mereka menselisihinya, maka Allah Aza Wajala mencela mereka.”

Kebajikan yang mereka selisihi adalah :
1. Mengingkari Al Qur’an, padahal Al Qur’an membenarkan keberadaan kitab Taurot dan Injil.
2. Membunuh beberapa Nabi yang membawa ajaran Tauhid yang mengoreksi dan meluruskan pandangaan beragama mereka.

Mengapa Allah mencela sikap orang-orang Ahli Kitab  ? Allah memperingatkan kesalahan mereka berkenaan dengan hak diri mereka, yaitu menyeru kepada kebaikan namun mereka sendiri tidak melakukan kebaikan itu. Jadi yang dicela bukanlah usaha mereka dalam amar ma’ruf, karena hal tersebut juga merupakan perintah agama bagi orang-orang yang berilmu. Akan tetapi yang lebih wajib bagi orang-orang yang berilmu adalah mengerjakanj kebaikan bersama dengan orang-orang yang diseur dengan tidak menselisihi mereka. Sebagaimana perkataan Nabi Syuaib yang termaktub dalam QS HUUD ; 88

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ


Dia berkata, "Hai umat-Ku, apakah Anda telah mempertimbangkan: jika saya memiliki bukti yang jelas dari Tuhanku dan Dia telah memberikan saya persediaan yang baik dari Dia ...? Dan saya tidak bermaksud untuk berbeda dari Anda dalam apa yang saya miliki Melarang Anda, saya hanya ingin melakukan reformasi sebanyak yang saya bisa, dan kesuksesan saya bukan melalui Allah. Atas dia saya telah mengandalkan, dan kepada-Nya saya kembali.

Sehingga Amar Ma’ruf dan pengamalannya adalah suatu kewajiban yang jika salah satunya sudah diamalkan tidak kemudian menggugurkan amal yang lainnya. Demikianlah pendapat dari beberapa ulama salaf.

Maka yang terpenting dalam ayat ini adalah Allah mencela orang-orang Ahli Kitab karena mereka  telah meninggalkan ketaatan dan melakukan kemungkaran, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berilmu. Karena tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tak berilmu. Oleh karena itu beberapa hadist mengancam perbuatan mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Anas bin Malik Ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
 “ Pada malam aku di-Isro’ kan, aku melihat suatu kaum yang mengguntingi lidahnya dengan gunting yang terbuat dari api.” Aku bertanya : “ Siapakah mereka itu ?” Mereka menjawab : “ Mereka adalah para penceramah umatku dari kalangan ahli dunia, yaitu yang menyuruh manusia berbuat kebajikan, namun mereka melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca Al-Kitab. Tidaklah mereka berakal ?”

Dan Imam Ahmad meriwayatkan, melalui sanad dari Abi Wa’il, dia berkata bahwa Usamah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“ Pada hari kiamat akan ditampilkan seseorang, kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ususnya terburai, dan ia berputar di neraka mengitari ususnya itu seperti keledai mengitari batu penggilingan. Lalu penghuni neraka mengelilinginya seraya bertanya, “ Hai fulan apa yang telah terjadi pada dirimu, bukankah kamu dulu suku menyuruh kami kepada amal ma’ruf dan melarang kami dari kemungkaran ? Si fulan menjawab : “ Dahulu aku menyuruhmu kepada amal ma’ruf namun aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarangmu dari kemungkaran, tetapi aku malah melakukannya.” (HR Bukhory dan Muslim).

Ibnu Asakir meriwayatkan dalam biografi al-Walid bin Uqbah, dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“ Sesungguhnya sekelompok ahli surga melongok kepada penghuni neraka. Mereka bertanya : “ Mengapa kalian masuk neraka ? Demi Allah kami tidak masuk surga kecuali karena apa yang telah kami pelajari dari kalian. Ahli neraka menjawab : “ Dahulu kami hanya berkata, tapi tidak berbuat.”
Ada tanggung jawab yang berbeda antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, jelas orang berilmu mempunyai beban tanggung jawab lebih besar untuk beramal dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Hasil yang diterima kelak di hari pembalasan juga akan berbeda.
Maka dalam QS AZ-Zumar : 9 Allah berfirman 

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ


Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com