أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?"
QS. Albaqoroh; 44.
Allah mencela prilaku orang-orang Ahli Kitab, yang mereka memperintah, atau mengajak orang lain untuk berbuat baik akan tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka tidak melakukan kebajikan-kebajikan yang mereka ajakan kepada orang lain. Padahal mereka adalah orang-orang yang membaca kitab, dan mengetahui tentang perintah untuk melakukan kebajikan merupakan fardlu a’in.
Hal tersebut sebagaimana yg diriwayatkan oleh Abdurrozaq dari Ma’mar, dari Qotadah tentang ayat di atas ia mengatakan : “ Dahulu bani Israil menyuruh manusia berbuat ketaatan, taqwa dan mengajak kepada kebajikan, namun mereka menselisihinya, maka Allah Aza Wajala mencela mereka.”
1. Mengingkari Al Qur’an, padahal Al Qur’an membenarkan keberadaan kitab Taurot dan Injil.
2. Membunuh beberapa Nabi yang membawa ajaran Tauhid yang mengoreksi dan meluruskan pandangaan beragama mereka.
Mengapa Allah mencela sikap orang-orang Ahli Kitab ? Allah memperingatkan kesalahan mereka berkenaan dengan hak diri mereka, yaitu menyeru kepada kebaikan namun mereka sendiri tidak melakukan kebaikan itu. Jadi yang dicela bukanlah usaha mereka dalam amar ma’ruf, karena hal tersebut juga merupakan perintah agama bagi orang-orang yang berilmu. Akan tetapi yang lebih wajib bagi orang-orang yang berilmu adalah mengerjakanj kebaikan bersama dengan orang-orang yang diseur dengan tidak menselisihi mereka. Sebagaimana perkataan Nabi Syuaib yang termaktub dalam QS HUUD ; 88
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
Dia berkata, "Hai umat-Ku, apakah Anda telah mempertimbangkan: jika saya memiliki bukti yang jelas dari Tuhanku dan Dia telah memberikan saya persediaan yang baik dari Dia ...? Dan saya tidak bermaksud untuk berbeda dari Anda dalam apa yang saya miliki Melarang Anda, saya hanya ingin melakukan reformasi sebanyak yang saya bisa, dan kesuksesan saya bukan melalui Allah. Atas dia saya telah mengandalkan, dan kepada-Nya saya kembali.
Sehingga Amar Ma’ruf dan pengamalannya adalah suatu kewajiban yang jika salah satunya sudah diamalkan tidak kemudian menggugurkan amal yang lainnya. Demikianlah pendapat dari beberapa ulama salaf.
Maka yang terpenting dalam ayat ini adalah Allah mencela orang-orang Ahli Kitab karena mereka telah meninggalkan ketaatan dan melakukan kemungkaran, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berilmu. Karena tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tak berilmu. Oleh karena itu beberapa hadist mengancam perbuatan mereka.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Anas bin Malik Ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“ Pada malam aku di-Isro’ kan, aku melihat suatu kaum yang mengguntingi lidahnya dengan gunting yang terbuat dari api.” Aku bertanya : “ Siapakah mereka itu ?” Mereka menjawab : “ Mereka adalah para penceramah umatku dari kalangan ahli dunia, yaitu yang menyuruh manusia berbuat kebajikan, namun mereka melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca Al-Kitab. Tidaklah mereka berakal ?”
“ Pada hari kiamat akan ditampilkan seseorang, kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ususnya terburai, dan ia berputar di neraka mengitari ususnya itu seperti keledai mengitari batu penggilingan. Lalu penghuni neraka mengelilinginya seraya bertanya, “ Hai fulan apa yang telah terjadi pada dirimu, bukankah kamu dulu suku menyuruh kami kepada amal ma’ruf dan melarang kami dari kemungkaran ? Si fulan menjawab : “ Dahulu aku menyuruhmu kepada amal ma’ruf namun aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarangmu dari kemungkaran, tetapi aku malah melakukannya.” (HR Bukhory dan Muslim).
Ibnu Asakir meriwayatkan dalam biografi al-Walid bin Uqbah, dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“ Sesungguhnya sekelompok ahli surga melongok kepada penghuni neraka. Mereka bertanya : “ Mengapa kalian masuk neraka ? Demi Allah kami tidak masuk surga kecuali karena apa yang telah kami pelajari dari kalian. Ahli neraka menjawab : “ Dahulu kami hanya berkata, tapi tidak berbuat.”
Ada tanggung jawab yang berbeda antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, jelas orang berilmu mempunyai beban tanggung jawab lebih besar untuk beramal dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Hasil yang diterima kelak di hari pembalasan juga akan berbeda.
Maka dalam QS AZ-Zumar : 9 Allah berfirman
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar