• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Momentum Ramadhan; Membentuk Budaya Membaca

(Reorientasi Keilmuan dalam Islam)


اقرأ باسم ربك الذي خلق. خلق الإنسان من علق. اقرأ وربك الأكرم. الذي علم بالقلم. علم الإنسان ما لم يعلم

Ramadhân adalah bulan yang suci dan mulia. Di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai kitab yang keasliannya selalu terjaga. Sudah selayaknya setiap muslim membasahi bibirnya dengan lantunan ayat-ayat Tuhannya. Terlebih pahala ibadah dalam bulan Ramadhân yang bertambah berlipat ganda. Dalam sebuah hadits Rasûlullâh bersabda bahwasanya setiap huruf dari al-Qur’an yang dibaca akan mendapatkan nilai 10 kebaikan sebagai pahala. Jika sekiranya seseorang membaca billâhirrahmânirrahîm sungguh betapa banyak nilai pahala kebaikan yang akan ia panen darinya. Maka sungguh merugi orang-orang yang terluput dari ladang amal di bulan Ramadhân yang penuh kesempatan beramal utama. Belum ada kata terlambat untuk memperbaiki dan meningkatkan kembali aktivitas kebaikan di hari-hari yang tersisa. Terlebih sepuluh hari bulan Ramadhân adalah saat-saat dimana terdapat malam seribu bulan yang sungguh sangat mulia. Sebuah malam yang pahalanya bernilai lebih daripada pahala amalan seribu bulan lamanya. Subhânallâh ta’âlâ.

Mungkin sangat tepat jika saya menyebut bulan Ramadhân sebagai bulan membaca, Syahrul Qur’ân atau Syahru al-Qirô’ah, disamping penyebutannya sebagai Syahru al-Shiyam (bulan berpuasa) atau Syahru al-Qiyam (bulan menghidupkan salat malam). Terlebih juga penyebutan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah terkenal dengan nama al-Qur’an, sebuah kata yang berasal dari akar kata Qoro’a - Yaqro’u - Qur’ânan - Qirô’atan yang berarti membaca. Mungkin memang kitab suci umat Islam tersebut memiliki nama lain selain al-Qur’an, seperti al-Bayan, al-Furqon, al-Kitab, dan sebagainya. Namun keterkenalan al-Qur’an sebagai nama kitab umat Islam lebih banyak didengar dan dikenal daripada nama selainnya, terutama di kalangan orang awam non arab yang lebih akrab menyebut kitab suci umat Islam dengan sebutan al-Qur’an. Hal ini sebenarnya memberikan sebuah sinyalemen bagi umat Islam agar sadar akan urgensi membaca sebagai kunci atau media utama mendapatkan ilmu yang sedemikian luasnya. Khususnya ilmu agama yang jatah umur tersedia pun tidak sanggup untuk menangkap seluruhnya. Maka tidak selayaknya seorang muslim sudah merasa pintar dan puas dengan ilmu yang telah diraihnya, sehingga meninggalkan aktivitas membaca sebagai jendela untuk membuka cakrawala ilmu yang tiada habisnya.

Para ulama banyak berpendapat bahwa ayat pertama dari al-Qur’an yang turun adalah ayat 1-5 dari surat al-‘Alaq. Sebuah surat yang diawali dengan "إقرأ" yang berarti “bacalah !”, sebuah perintah yang secara tegas, jelas, dan bermakna kontinuitas agar senantiasa melakukan aktivitas membaca. Fi’il amar dalam perspektif pakar ushul fiqih pada hakikatnya menunjukkan sebuah keharusan melakukan sesuatu yang diperintahkan, baik keharusan yang tegas dan pasti (wajib) maupun keharusan yang tidak tegas dan pasti (sunnah). Terlepas dari apakah hukum membaca itu wajib atau sunnah, sebagai seorang muslim yang sadar akan kebutuhan bertaqarrub dengan Tuhan maka sudah selayaknya menjadikan aktivitas membaca sebagai media beribadah kepada Allâh ta’ala. Terlebih di dalam banyak ayat, Allâh telah menyebutkan begitu banyak kelebihan dan ketinggian nilai kedudukan yang Ia anugrahkan kepada hamba-hamba-Nya yang berilmu pengetahuan.

Yang harus menjadi titik perhatian kita dalam memahami lima ayat yang turun pertama kali ini adalah perintah proses membaca yang dikorelasikan dengan proses penciptaan manusia. Sebab di akhir ayat pertama Allâh menyebut Dzat-Nya sebagai alladzî kholaq, yakni  “Yang Maha Menciptakan”. Dan penciptaan yang disebut dalam ayat ini adalah berkaitan dengan proses penciptaan manusia, yang berasal dari ’alaq, yaitu segumpal darah. Hal ini dapat ditarik sebuah intisari pemahaman bahwa pada hakikatnya proses membaca yang merupakan aktivitas menggali ilmu tersebut sebenarnya erat kaitannya dengan fitrah naluriah manusia. Artinya, manusia secara esensi tabi’i (alami) adalah makhluk yang cinta ilmu. Dan ilmu merupakan sebuah kebutuhan pokok sebuah makhluk yang bernama manusia. Sehingga ketika ada seorang meninggalkan proses menggali ilmu, sama artinya ia telah menanggalkan atau melepas sifat karakter aslinya sebagai manusia. Oleh karena manusia secara fitrah naluriah diciptakan sebagai makhluk yang cinta ilmu, maka Allâh pun menyebutkan dalam Q.S. al-Tiin bahwa Ia telah menciptakan manusia dalam bentuk, rupa, dan kondisi yang sebaik dan sebagus mungkin. Namun kebaikan dan kebagusan penciptaan manusia ini akan digugurkan oleh ulahnya sendiri dengan melakukan pelanggaran-pelanggaran tuntunan Tuhan yang secara esensi dilatarbelakangi oleh kebodohan atau ketidak-tahuannya terhadap ilmu. Ketidak-tahuannya ini disebabkan oleh keengganannya melakukan proses membaca sebagai media menggali ilmu.

Kemudian pada ayat selanjutnya, Allâh pun kembali memerintahkan agar kembali membaca. Dan perintah membaca pada ayat ketiga ini disambungkan dengan penyebutan Dzat Allâh sebagai Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Memberi Anugrah. Hal ini secara implisit memberikan isyarat bahwa orang yang berilmu akan senantiasa mendapatkan anugrah nikmat dari Allâh, baik anugrah ini sifatnya abstrak ataupun empiris. Dan kita pun juga harus menyadari bahwasanya masing-masing manusia memiliki jatah kekuatan logika intelektual yang berbeda. Sehingga dalam proses membacapun, terjadi perbedaan antara satu orang dengan yang lain dalam hal kecepatan menangkap atau menyerap ilmu dari apa yang dibaca. Namun hal ini tidak lantas disikapi oleh yang kebetulan mendapat jatah kemampuan intelektual yang pas-pasan dengan sikap pesimis atau putus asa. Oleh sebab itu, ia diingatkan dan disadarkan akan keluasan kemurahan dan kedermawanan Allâh ta’ala. Sehingga orang yang mungkin jatah daya tangkapnya pas-pasan tidak kemudian ngambek dan meninggalkan proses menggali ilmu dengan membaca. Sebab selemah apapun otak manusia, namun jika terus menerus secara kontinu dimasuki ilmu maka pasti suatu saat otak tersebut akan berubah status menjadi cerdas yang mudah menangkap dan menyerap ilmu.

Lafadz iqro’  bagaimanapun juga adalah sebuah kata yang pertama kali turun dari al-Qur’an. Sebuah kata yang bersambung dengan huruf ba’ , sebuah huruf jarr yang dalam gramatika bahasa arab memiliki banyak makna. Musththofa al-Ghulayini menyebutkan ada 13 makna yang dimiliki oleh huruf ba’. Diantaranya adalah untuk ilshôq, yakni menyambungkan atau melengketkan. Sehingga ada yang menyebut “lem” dalam bahasa arab dengan lâshiq, sebab fungsi lem adalah melengketkan dan menyambungkan bagian satu dengan yang lainnya. Nah, dalam konteks bertemunya lafadz iqro’  dengan huruf ba’ setelahnya, hal ini memberikan isyarat bahwa dalam proses membaca yang menjadi media menggali ilmu seyogyanya si pembaca menyambungkan proses membacanya itu dengan ismi robbika (nama Tuhanmu). 

Ditulis Oleh

Author
Ust. Heri Mahfudhi, Lc
Ghozwul Fikri
Nantikan Ghozwul Fikri berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar