ولا تلبسوا الحق بالباطل وتكتموا الحق وأنتم تعلمون
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 42)
Allâh Ta’ala melarang dua hal yang penting, yaitu mencampuradukkan kebenaran dan menyembunyikannya. Ayat ini peringatan bagi Ahli Kitab, dalam hal ini orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah mencampuradukkan kebenaran dengan kebathilan. Mereka mencapuradukkan keyahudian dan kenasranian dengan keislaman. Padahal ke-tiganya jelas berbeda. Yahudi dan Nasrani dikembangkan dengan jalan bid’ah dan bahkan syirik, sedangkan Islam adalah agama Tauhid. Sehingga jelas Yahudi-Nasrani berbeda dengan Islam dan tidak akan bisa dicampuradukkan.
Inti dari penyimpangan Ahli Kitab adalah mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebathilan. Yang dimaksud Kebenaran adalah kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa As, dan kitab Injil yang yang dibawa oleh Nabi Isa As. Sedangkan kebathilan adalah merubah, merevisi, menambah dan mengurangi isi kitab Taurat dan Injil, sebagaimana yang dilakukan oleh pendeta dan ulama mereka.
Pada mulanya Nabi Isa dan Nabi Musa membawa bendera Islam Tauhid, akan tetapi setelah pergantian generasi ulama dan pendetanya merivisi kitabnya dan jadilah agama Nasrani dan Yahudi yang sekarang, yang menyimpang jauh dari agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa.
Berkenaan dengan masalah di atas Rasûlullâh SAW memberi peringatan dengan keras agar tidak mengikuti pola pikir beragama Yahudi dan Nasrani, dengan jalan memegang teguh pemahaman Islam salafush shaleh. Rasûlullâh SAW bersabda :
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).
Orang-orang Yahudi dan Nasrani menyembunyikan kebenaran
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa yang dimaksud menyembunyikan kebenaran adalah prilaku Yahudi-Nasrani yang menyembunyikan pengetahuan mereka tentang keberadaan Nabi Muhammad SAW dan apa-apa yang dibawanya, padahal mereka menemukan berita dan nama itu tertulis dalam kitab Taurat. Dan mereka sangat mengenal dengan nama tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan Allâh dalam QS Al-Baqarah [2]: 146
الذين آتيناهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون أبناءهم وإن فريقا منهم ليكتمون الحق وهم يعلمون
Atau pernyataan Nabi Isa As yang termaktub dalam QS Ash-Shaff [61]: 6
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".” (QS. Ash-Shaff [61]: 6)
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)
“Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hûd [11]: 88)
Demikian Allâh memberi pelajaran kepada Umat Islam, dengan berulang-ulang menurunkan ayat yang menceritakan tentang kedustaan dan pengingkaran orang-orang Ahli Kitab. Agar umat Islam waspada dan berhati-hati untuk mengikuti pola pikir beragama gaya Yahudi dan Nasrani.
Allâhu ‘alam bis-shawwab
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 146)
وإذ قال عيسى ابن مريم يا بني إسرائيل إني رسول الله إليكم مصدقا لما بين يدي من التوراة ومبشرا برسول يأتي من بعدي اسمه أحمد فلما جاءهم بالبينات قالوا هذا سحر مبين
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".” (QS. Ash-Shaff [61]: 6)
Dua ayat di atas menunjukan bahwa semestinya orang-orang Yahudi sudah mengenal dengan dekat berita tentang diutusnya Nabi Muhammad sebagai Râsul, akan tetapi Yahudi tetaplah Yahudi yang keras kepala dan tetap menolak Islam. Bahkan terhadap kedatangan Rasûlullâh SAW, mereka membuat tuduhan-tuduhan keji dengan mengatakan apa yang dibawa Rasûlullâh adalah ilmu sihir.
وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة واركعوا مع الراكعين
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)
Perintah untuk menegakan sholat, setelah mengimani beberapa penjelasan yang di bawa oleh Rasûlullâh SAW, karena sesungguhnya sholat dan amal-amal yang lain tidaklah ada guna bila tanpa dengan landasan Iman. Demikian juga dengan amal zakat, shaum dan haji, tidak boleh tanpa dengan landasan Iman. Yaitu iman dengan apa yang dibawa Rasûlullâh, yaitu al-Qur’an.
Selanjutnya diperintahkan untuk membayar zakat dan menyerahkan kepada Nabi. Zakat adalah simbol amal muamalah, itupun harus dengan landasan Iman, agar amal yang kita kerjakan menjadi amal yang mempunyai nilai di hadapan Allâh SWT.
Perintah terakhir dalam ayat ini adalah : “ dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk “ maksudnya adalah perintah untuk berjamaah dalam menjalankan kebaikan-kebaikan. Dan diantara amal kebaikan yang khusus dan sempurna adalah shalat. Maka banyak ulama yang menafsiri ayat ini sebagai dalil wajibnya menegaakkan shalat fardlu dan berjamaa’ah.
أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)
Allâh mencela perilaku orang-orang Ahli Kitab yang menyerukan kebaikan kepada orang lain sedangkan dirinya mengabaikan kebaikan-kebaikan tersebut. Padahal kepadanya telah diturunkan kitab yang memberi pengajaran tentang kebaikan. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abdurazzaq dari Ma’mar dari Qotadah, ia mengatakan : “Dahulu Bani Isra’il menyuruh manusia berbuat ketaatan, takwa dan kebajikan, namun mereka menselisihinya, maka Allâh mencela mereka.”
Jadi yang dicela Allâh bukanlah perbuatan mereka menyeru kepada kebaikan, karena sesungguhnya itu adalah perbuatan baik dan merupakan kewajiban bagi orang yang berilmu. Akan tetapi yang lebih wajib dari itu adalah seorang alim mengajak kebaikan kepada orang lain serta mengerjakan kebaikan-kebaikan tersebut bersama orang-orang yang diajak dan tidak menyelisihi mereka. Sebagaimana yang dijelasakan dalam QS Hûd: 88
قال يا قوم أرأيتم إن كنت على بينة من ربي ورزقني منه رزقا حسنا وما أريد أن أخالفكم إلى ما أنهاكم عنه إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب
“Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hûd [11]: 88)
Sehingga Amar Ma’ruf dan pengamalannya merupakan suatu kewajiban yang salah satu dari keduanya tidak gugur dengan meninggalkan yang lain. Demikian menurut pendapat yang paling shoheh dari para ulama shalaf.
Mestinya pada mulanya semua agama, baik Yahudi, Nasrani maupun Islam sama-sama mengajak kepada kebaikan yaitu risalah Tauhid. Hanya saja orang-orang Ahli Kitab menyimpang, ulama dan pendeta mereka merubah isi kitab Taurat dan Injil. Sehingga mereka melupakan kebaikan tersebut dengan mengingkari isi al-Qur’an, mengingkari keberadaan Muhammad sebagai Rasûl Allâh, bahkan lebih dari itu mereka sampai berani membunuh nabi-nabi. Demikianlah penyimpangan dan pengingkaran yang dilakukan oleh Ahli Kitab, hal itu disebabkan karena ada dua sebab :
- Karena mengikuti hawa nafsu.
- Kedengkian, atas keberadan Rasûlullâh SAW yang bukan dari golongannya.
Demikian Allâh memberi pelajaran kepada Umat Islam, dengan berulang-ulang menurunkan ayat yang menceritakan tentang kedustaan dan pengingkaran orang-orang Ahli Kitab. Agar umat Islam waspada dan berhati-hati untuk mengikuti pola pikir beragama gaya Yahudi dan Nasrani.
Allâhu ‘alam bis-shawwab
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar