• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 48

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. Al-Baqarah Ayat 48

Setelah mengingatkan  kembali beberapa nikmat yang telah diberikan kepada Bani Isra’il , selanjutnya Allah memberi ancaman kepada mereka tentang beratnya siksaan yang akan mereka terima kelak di hari pembalasan. Yaitu di hari yang saat itu tidak ada lagi keadaan saling tolong menolong satu dengan lainnya, terputus semua hubungan kekerabatan, dan tidak berharga lagi harta dan kekuasaannya. Tidak sebagaimana ketika di dunia, manusia bisa saling membantu dan saling membutuhkan. Anak butuh bantuan orang tua, orang tua butuh bantuan tetangga, tetangga membutuhkan bantuan tetangga lainnya, demikian seterusnya. Namun di hari kiamat akan putus semua hubungan kekerabatan itu. Tidak ada seseorangpun yang dapat mencukupi kebutuhan orang lain, sebagaimana firman Allah dalam QS AL-AN’AM : 37

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَىٰ أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui".
Atau yang dijelaskan Allah dalam QS ‘ABASA :37

لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.

Maka yang terpenting dalam hidup ini adalah memperbanyak amal sholeh di dunia sebagia bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat. Di mana saat itu hanya amal kebaikan kitalah yang akan menolong kita dari ancaman siksa api neraka. Beramalal di dunia untuk membangun kehidupan di akhirat. Allah berfirman dalam QS QHOSHOSH : 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Allah telah menyediakan alam beserta isinya kepada manusia untuk dikelola, dieksplorasi dengan ilmu pengetahuan sehingga memberikan hasil yang optimal. Allah juga membekali manusia dengan panca indera, kekuatan fhisik dan akal pikiran. Yang dengan kesemuanya itu bila dikembangkan sudah cukup bagi manusia untuk mengolah isi bumi dan akhirnya menguasai dunia.

Setelah mampu menguasai dan mengexplorasi bumi hasilnya digunakan untuk menghadapi kehidupan akhirat. Dalam bentuk mendistribusikan harta untuk kepentingan FIE SABILILLAH. Dan yang lebih penting dari itu semua, agar  terselamatkan dari siksa api neraka manusia harus menggunakan mata, telinga dan hatinya untuk mengkaji ayat-ayat Al Qur’an. Allah berfirman dalam QS AL A’RAAF : 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Tentang SYAFA’AT
Allah berfirman dalam QS AL-MAIDAH : 36
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir - jika mereka memiliki semua yang ada di bumi dan sejenisnya dengan itu untuk menebus dirinya dari hukuman pada hari kiamat, itu tidak akan diterima dari mereka, dan bagi mereka adalah Hukuman yang menyakitkan.

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa siapapun yang imannya rusak baik dia sebagai muslim ataupun ahli kitab maka kelak pada hari kiamat apapun yang dimiliki di dunia, kedudukan yang terhormat ataupun kedekatan kaum kerabat tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Tidak ada kaum kerabat yang merasa iba kepada mereka, kemudian memberi pertolongan kepadanya.

Tentang ayat ini Ibnu Jarir mengatakan : “ Bahwa pada hari itu tidak ada seorang penolongpun yang menolong mereka sebagaimana tidak ada yang memberi syafa’at kepada mereka. Tidak diterima dari mereka tebusan dan juga ganti rugi. Habislah semua kehormatan, tertutuplah segala praktek suap-menyuap dan bantu membantu. Berakhirlah kesempatan untuk saling tolong dan saling bantu diantara mereka.”

 Di hari kiamat kelak mereka tidak akan mendapat pertolongan dari siapapun juga tidak mendapatkan syafa’at dari Allah, dikarenakan perbuatan syirik sehingga imannya menjadi rusak. Karena syarat mutlak untuk mendapatkan syafaat dari Allah adalah : TIDAK SYIRIK.

Bahkan kekayaan yang dimilikinya meskipun mempunyai emas sebesar bumi tidak akan bisa menebus dari kekafirannya. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam QS ALI IMRON : 91
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.

Sudah menjadi tabiat manusia akan membangga-banggakan harta dan tahta ketika di dunia. Mereka merasa takabbur dengan apa yang dimilikinya. Sampai-sampai mempunyai keyakinan bahwa dengan harta dan kedudukan yang dimilikinya, mereka akan bisa membeli surga. Sesuai dengan apa yang disampaikan Allah dalam QS AL-KAHFI : 35-36

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا(35) وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَب(36)
Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,(35). dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu"(36).

Di akhir ayat Allah memberi ketegasan “......dan tidaklah mereka akan mendapatkan pertolongan. “
Demikianlah keadaan orang-orang yang tidak iman kepada Rasul-Nya dan tidak mengikuti ajaran yang dibawanya, serta tidak memenuhi kewajiban yang dibebankan kepadanya. Keadaan yang akan dialami oleh orang-orang yang imannya rusak, yaitu orang musyrik baik dari orang Islam maupun para ahli kitab. Mereka tidak akan mendapatkan pertolongan dari siapapun, dan juga tidak akan bisa saling menolong antara satu dengan yang lainnya.

Firman Allah dalam QS AS SAFFAT : 22-31
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ(22)مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ(23)وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ(24)مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ(25)بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ(26)وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ(27)قَالُوا إِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ(28)قَالُوا بَلْ لَمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ(29)وَمَا كَانَ لَنَا عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ ۖ بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ(30)فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَا ۖ إِنَّا لَذَائِقُونَ(31)
(kepada malaikat diperintahkan): "Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah,(22). selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka(23). Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya(24): "Kenapa kamu tidak tolong menolong?"(25),  Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri(26). Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan(27).Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan(28).  Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah yang tidak beriman"(29). Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas(30). Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu)(31).

Pada hari kiamat kelak, orang-orang dzalim (syirik) akan dikumpulkan dengan Ilah-ilah selain dari Allah yang ketika di dunia dijadikan tempat berdoa dan berharap pertolongannya secara ghaib. Mereka bersama-sama digiring ke neraka. Pada suatu tempat mereka dikumpulkan dan ditanya mengapa sekarang tidak saling tolong menolong ? Sebagaimana keyakinan orang-orang syirik ketika di dunia ? Dan mereka akan mendapatkan jawaban yang sungguh-sungguh tidak mereka sangka sebelumnya. Bahwa ilah-ilah selain dari Allah yang ketika di dunia diyakini mampu mendatangkan pertolongan, namun pada hari ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan memberikan pertolongan, pada saat itu merekapun disibukan dengan kesulitannya sendiri-sendiri.

Yang lebih menyakitkan antara akan terjadi saling bantah, saling menuduh antara orang-orang dzalim dengan ilah-ilah selain dari Allah. Para pengikut akan menuduh pemimpin-pemimpinnya (maksudnya ilah-ilah selain dari Allah) telah mendatangi mereka dengan membawa tipu muslihat yang memikat hati. Maka akan dijawabnya, bahwa memang mereka adalah orang-orang yang tidak mau beriman. Bisa kita bayangkan betapa sakit hati dan sungguh mengecewakannya, orang yang diharap akan mampu memberi pertolongan justru menyalah-nyalahkan.

Demikianlah keadaan orang-orang syirik dan ilah-ilah selain dari Allah. Pada hari itu tidak ada yang mempunyai kemampuan apa-apa. Semuanya TASLIM, tunduk patuh kepada keputusan Allah.

Allahu ‘alam bish showwab.......

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 47

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).


Ayat 47
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat(47).

Allah ta’ala mengingatkan kepada Bani Israil, atas nikmat-nikmat yang diberikan kepada mereka, diantaranya :.
  1. Diutusnya  para Rasul dari kalangan bangsa mereka sendiri.
  2. Diturunkannya beberapa kitab mereka sebagai petunjuk.
  3. Kekuasaan, atau keutamaan mereka dari umat-umat yang lain pada zamannya, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala dalam QS Ad-DUKHAAN : 32

وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa.

Atau dalam QS AL MAIDAH : 20
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ
Dan [menyebutkan, O Muhammad], ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, mengingat nikmat Allah kepadamu ketika Dia ditunjuk di antara kamu nabi-nabi dan membuat Anda pemiliknya dan memberi Anda bahwa yang Dia tidak diberikan siapa pun di antara dunia.

Kecuali dari beberapa hal di atas Allah juga memberikan kelebihan kepada Bani israil sebagai bangsa yang unggul, dari sebab mereka berpegang teguh kepada kitab dan mengoprasionalkan dalam

kehidupan sehari-hari, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَلَ: قَلَ رَسُوْلُ اللّٰهِ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ : اَنّ اللّٰهَ يَرْ فَعُ بِهَذَ الْكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
“ Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitab, dan merendahkan suatu kaum yang lain juga dengan kitab. “  (Hr. Muslim)

Maksudnya suatu kaum akan terangkat derajat kehidupannya apabila berpegang teguh kepada kitab serta bersedia untuk mengamalkannya, dan sebaliknya suatu kaum akan hancur sehancur-hancurnya manakala kaum tersebut abai terhadap kitab, bahkan memusuhi orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab.

Demikian juga dengan orang-orang Bani Israil saat ini, seandainya mereka mau kembali berpegang teguh kepada isi Al Qur’an niscaya Allah akan memberikan kembali kejayaan Bani Israil
sebagaimana kejayaan semasa Nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian, kita lihat dalam sejarah semenjak Bani Israil meninggalkan kitab (menyimpang jauh dari taurot dan Injil) maka kita lihat mereka menjadi bangsa yang terhina sepanjang jaman. Meskipun bisa kita lihat saat ini orang-orang Yahudi bisa menguasai negeri Palestina, namun itu hanya keunggulan yang sangat kecil, tidak sebanding dengan perasaan takut dan khawatir yang senantiasa meliputi bangsa Israil. Menjadi bangsa yang hina dan tidak aman mulai sejak menyatakan berdiri tahun 1948 sampai dengan sekarang.

Secara lengkap Allah ,menceritakan perjalanan kehidupan Bani Israil dalam QS AL BAQOROH : 61

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

Umat Nabi Muhammad lebih mulia dibanding Bani Israil, ayat tersebut di atas harus dipahami seperti itu, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam QS ALI-IMRON : 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

 Makna ayat di atas tidak boleh dibelokkan untuk mengunggulkan Bani Israil atas umat-umat lain, baik yang sebelum ataupun yang sesudahnya. Untuk konteks sekarang kaum yang diunggulkan yang dimaksud adalah umat Nabi Muhammad SAW.

 Nabi Ibrahim As yang ada sebelum mereka adalah lebih unggul dari segenap Nabi-nabi terdahulu. Tetapi Nabi Muhammad SAW yang lahir setelah mereka adalah orang yang yang paling unggul dan mulia atas semua makhluk, junjungan umat manusia baik di dunia maup[un di akhirat. Sholawat, salam dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadanya.

Umat Islam adalah umat yang terbaik dibanding umat-umat yang lain dengan syarat : menegakan AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR. Dengan tetap Iman kepada Allah menjadi poros dalam beramal dan berkarya. Sebagaimana yang diwujudkan pada generasi Sahabat dan Salafush Sholeh, mampu menunjukan sebagai umat terbaik, karena istiqomah berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As Sunnah, yang diwujudkan dalam sikap :
  1. SHIDIQ,  yaitu jujur dan sportif dalam bersikap.
  2. IKHLASH, mengamalkan Al Qur’an tanpa reserve, beribadah kepada Allah tanpa syirik, dan baro’ (berlepas diri) dari sistem Non Islam.
  3. Menjunjung tinggi Ilmu.
  4. JIHAD dengan harta dan nyawa.
Dalam sebuah hadist dari Mu’awiyah al-Qusyairi, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“ Kalian sebanding dengan 70 umat, kalian adalah umat terbaik dan paling mulia di sisi Allah. “


Allahu ‘alam bishowwab......

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 45 - 46

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).

(وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ(45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ(46

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'(45),  (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (46).

Allah memperintahkan hamba-hamba-Nya untuk meraih kebaikan dunia akhirat dengan cara menjadikan Sholat dan Shabar sebagai penolong. Minta tolong harusnya hanya ditujukan kepada Allah saja, maka dalam hal ini sholat dan shabar hanya sebagai wasilah untuk minta tolong kepada Allah.

Dalam perjalanan kehidupan sudah barang tentu manusia akan menghadapi masalah-masalah, yang biasanya masalah tersebut terkait erat dengan kepentingan duniawi.  Untuk itu setiap manusia pasti butuh pertolongan atau jalan keluar dari masalahnya. Dan kebanyakan manusia mempunyai kecenderungan untuk minta tolong kepada ilah-ilah selain Allah, biasanya kuburan orang sholeh yang sudah mati yang dijadikan obyek untuk minta tolong secara ghaib.

Maka dalam ayat ini Allah member resep untuk minta tolong kepada :

  1. SHABAR, yaitu shabar terhadap kesulitan yang dihadapi dengan tetap berdoa dan menjalankan  ibadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Termasuk shabar di sini adalah  menahan diri dari perbuatan maksiyat. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Umar Bin Khoththob Ra, ia berkata : “ Shabar itu ada dua, shabar ketika mendapatkan musibah, itu adalah baik, dan shabar dalam menahan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah, dan itu lebih baik. “
  2. SHOLAT, yaitu dengan menjalankan sholat sunnah Hajat kemudian dilanjutkan dengan terus berdoa kepada Allah. Sesungguhnya sholat termasuk perkara yang besar yang menolong seseorang intuk mendapatkan keputusan dalam sebuah perkara, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam QS AL-ANKABUUT ; 45 


اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Rasulullah SAW member tauladan yang terbaik, ketika menghadapi kesulitan beliau melakukan sholat. Sebagaimana hadist  yang diriwayatkan Abu Dawud…….
“ Apabila Rasulullah SAW menemui suatu kesulitan, maka beliau segera mengerjakan sholat. “
Dari Ali Ra, ia berkata : “ Menurut penglihatan kami pada malam perang Badr orang-orang pada tidur kecuali Rasulullah SAW, beliau sholat dan berdo’a hingga shubuh. “

“ Dan sesungguhnya wasiyat Shabar dan Sholat adalah masalah yang sangat berat “ dan tidak aka nada yang mampu melaksanakannya kecuali orang-orang yang mendapatkan keberuntungan yang besar. Allah berfirman dalam QS FUSHSHILAT : 34-35

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ(34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ(35
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (34).  Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar(35).

Karena dalam kenyataan banyak sekali orang yang ketika menghadapi kesulitan, tidak bisa menjadikan Shabar dan Sholat sebagai penolong. Bahkan yang lebih menyedihkan mayoritas mereka ketika mendapatkan kesulitan justru berdoa kepada Ilah-ilah selain Allah dengan mendatangi  kuburan orang-orang sholeh yang telah mati.
Hanya orang-rang yang KHUSYU’ yang mampu meneriwa wasiyat  Shabar dan Sholat….


Al Baqoroh : 46

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

 (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Yang dimaksud khusyu’ adalah orang-orang yang yakin akan bertemu Allah kelak di hari akhir kelak. Adapun beberapa proses kejadian hari akhir yang harus diimani adalah sebagai berikut :

  1. Dimulai dengan kehancuran alam semesta, gunung-gungung yang menjulang akan hancur menutupi lembah dan ngarai, sungai-sungai akan hilang di telan reruntuhan dan debu. Tidak ada tanah yang tinggi, tidak ada pula yang rendah. Bumi menjadi rata seluruhnya.
  2. Hari KEBANGKITAN  ketika malaikat Isrofil meniup sangkakala maka semua manusia bangkit dari kuburnya, dan berbondong-bondong ke padang Mahsyar. Orang-orang kafir, munafik, musyrik, dan orang-orang mukmin yang tertipu dengan angan-angan (termasuk di dalamnya adalah orang-orang sekuler), akan dibangkitkan Allah dalam keadaan telanjang bulat. Karena ketika di dunia tidak membawa amal kebaikan, atau bisa jadi karena imannya batal maka amal-amalnya tidak ada nilai di hadapan Allah. Sedangkan orang-orang yeng beriman akan dibangkitkan dalam keadaan yang terhormat.
  3. HISAB, perhitungan amal manusia ketika hidup di dunia. Pada hari itu Allah SWT memperlihatkan semua amal manusia dan mereka mengakuinya, karena tangan, kaki dan anggota badan yang lain menjadi saksi. Pada hari itu semua manusia akan menerima kitab catatan amal masing-masing, dengan tidak ada satupun yang merasa terdzolomi. Saat itu Allah menegakan maha Adil-Nya.
  4. MIZAN, adalah timbangan untuk menimbang amal orang-orang yang beriman meskipun iman mereka hanya sedikit sekali. Sedangkan orang-orang kafir dan munafik yaitu orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, amal mereka tidak ditimbang, karena tidak ada nilainya di hadapan Allah. Mereka tidak di Hisab dan ditimbang, kecuali langsung dimasukan ke dalam neraka.
  5. SHIROTH,  yaitu jembatan sangat kecil dan panjang yang melintasi antara surga dan neraka. Orang-orang yang melewatinya juga dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan amal masing-masing. Ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang lari seperti larinya kuda, dan ada juga yang dengan merangkak . Dan yang  terbanyak adalah yang jatuh ke dalam neraka.

Demikianlah peristiwa yang terjadi yang harus diimani dalam proses bertemu dengan Allah. Dengan iman akan membentuk sikap hidup. Misalnya iman kepada proses Hisab, harus dipahami bahwa jika ingin cepat hisabnya maka harus memperbanyak amal sholeh, dan meminimalkan maksiyat. Sehingga orang-orang yang mengaku dengan masa Hisab, maka hidupnya selalu berada di jalan-Nya, memperbanyak amal, dan yang lebih penting dalam mempercepat Hisab adalah dengan jalan Jihad fi Sabilillah, dengan harta dan nyawanya.

Sedangkan mereka yang kehidupannya ketika di dunia tidak memperdulikan petunjuk Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang ragu terhadap Hisab-Nya Allah. Rasulullah SAW  bersabda :
“ Allah marah kepada orang-orang yang pandai urusan dunia, tapi bodoh dalam ilmu akhirat. “
“ Dan bahwa mereka akan kembali kepada-NYA….” Dengan membawa amal masing-masing. Bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, akan mengharap surga dan akan ketemu dengan Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang ingkar, nifaq dan musyrik tentu juga akan menerima balasan yang setimpal, yaitu neraka dan kekal di dalamnya.

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

SELAMAT DATANG ROMADLON

( Dinukil dari Kitab MINHAJUL MUSIM karya Syeikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi ).

Alhamdulillah, Romadlon akan datang lagi, dan sebagai hamba yang percaya bahwa hidup adalah untuk IBADAH, maka inilah saatnya mengoptimalisasi ibadah lantaran nilai yang sangat tinggi dijanjikan Allah untuk orang yang berpuasa dengan berbagai kembangannya.
Puasa menurut syariat adalah menahan diri dengan niat ibadah dari makan, minum dan berhubungan biologis, dan semua yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

KEUTAMAAN PUASA DAN MANFAATNYA,
  1. Sebagai perisai dari api neraka, dan akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 tahun ( waktu akhirat ) setara 70.000 tahun waktu dunia.
  2. Menghapus dosa ( kecil ) antara waktu Romadlon, 
  3. Doa tidak akan tertolak, ketika sedang puasa sampai saatnya berbuka  ( dengan catatan doa dikabulkan dengan  keadaan, bisa dituruti seperti apa yang didoakannya, bisa diganti dengan dijauhkan dari marabahaya setara doanya, dan bisa juga disimpan di akhirat, dan hal ini akan sangat menggembirakan kita dibanding pertama dan kedua ).
  4. Akan memasuki surga dengan pintu khusus, yaitu pintu AR ROYYAN.
  5. Saat Romadlon setan-setan akan dibelenggu, pintu neraka ditutup serta pintu-pintu surga di buka lebar-lebar.
  6. Puasa akan menjadikan orang bertambah SABAR, keadaan yang sangat bagus menjalin kehidupan ini ( dengan sabar ), kesabaran juga tercermin dari pengendalian diri akan menjadi lebih baik.
  7. Membiasakan keteraturan hidup, bersatu dalam bentuk-bentuk ibadah seperti tarawih, cinta keadilan dan persamaan, membentuk perasaan kasih sayang dengan sesama, akhlaq untuk berbuat baik dengan sesama, melindungi masyarakat dari keburukan dan kerusakan.
  8. Menjadi lebih sehat, badan bersih, ringan, membersihkan lambung dan usus-usus.

KEWAJIBAN PUASA ROMADLON,
Puasa Romadlon diwajibkan berdasar dalil Al-Qur’an surat Al-Baqoroh : 185,   “ Beberapa hari itu ialah bulan Romadlon, bulan yang didalamnya diturunkan permulaan Al- Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda, barangsiapa diantara kalian hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu “
Sabda Rasulullah  “ Tali Islam dan kaidah agama ada tiga, dan Islam dibangun diatas ketiganya, Barangsiapa meninggalkan salah satunya IA KAFIR dan HALAL DARAHNYA, ketiga hal tersebut adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, sholat wajib dan PUASA ROMADLON  ( dari Abu Ya’la ).

AMALAN-AMALAN UTAMA DI BULAN ROMADLON  :

  1. Saatnya menghitung ZAKAT, karena hitungan zakat adalah tahun Hijriyah maka Romadlon adalah saat yang tepat, disamping yang penting beramal di bulan ini pahalanya akan berlipat.
  2. SEDEKAH,  khususnya memberi makan / minum kepada orang yang berbuka puasa, karena pahalanya setara dengan orang yang berbuka diberi makan / minum itu.
  3. QIYAMUL LAIL,  sesuai penetapan Khalifah Umar bin Khoththob maka qiyamul lail dilakukan setelah sholat Isya, disini orang menyebut TARAWIH BERJAMAAH DI MASJID.
  4. MEMBACA AL QURAN, Rasulullah memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Romadlon dengan disimak malaikat Jibril, karena hadits Rasulullah, “ Puasa dan Al Quran membeir syafaat kepada seseorang di hari kiamat, Puasa berkata Ya Allah, aku melarangnya makan dan minum, Al Qur’an berkata  Ya Allah aku melarangnya tidur di malam hari , maka izinkanlah KAMI memberinya syafaat “  HR. An Nasa’i dan Ahmad .
  5. I’TIKAF, yaitu berdiam diri DI DALAM MASID dengan niat untuk bertaqorrub kepada Allah dengan kegiatan sholat, dzikrullah, membaca Al-Qur’an dan tholabul ilmi. Rasulullah biasa ber I’tikaf di sepuluh hari terakhir Romadlon. Sedangkan kita minimal sehari semalam beri’tikaf.
  6. UMROH, karena umroh dibulan Romadlon seperti haji bersama Rasulullah.

PENETAPAN BULAN ROMADLON :
Di dalam sistem Islam hanya dikenal dengan dua cara :

  1. MENGGENAPKAN bulan sebelumnya, apabila hari mendung, maka Sya’ban digenapkan 30 hari.
  2. MELIHAT BULAN  SABIT, inilah cara syar’i.

Selain dua sistem ini tidak pernah dikenal dalam Islam, meskipun kemajuan zaman sudah sangat modern dan manusia dengan mudah menetapkan HITUNGAN tanggal, namun syara’ telah menetapkan dengan MELIHAT atau MENGGENAPKAN.

HR MUSLIM,  “ Jika kalian MELIHAT bulan sabit, maka puasalah, dan jika kalian melihat bulan syawwal maka berbukalah, jika langit mendung maka genapkanlah jumlah tiga puluh hari “.
Alasan membuat HITUNGAN – me ru’yat, karena Rasulullah waktu itu UMMI sangat tidak beradab, dan tidak sesuai dengan ketentuan syara’.

SYARAT PUASA, puasa diwajibkan bagi orang muslim yang berakal dan sudah baligh, dan untuk wanita ditambahkan bersih dari haid dan nifas.

MUSAFIR, Jika seorang muslim melakukan perjalanan sejauh jarak QOSHOR sholat, yaitu sejauh 80 km ( kalau Imam syafii ), atau 48 Mil ( kalau Imam Ahmad ), maka Allah memberi rukhsoh ( keringanan ) untuk tidak berpuasa, tetapi dihitung sebagai HUTANG yang harus dibayar setelah Romadlon. Namun jika musafir tidak menemui kesulitan untuk berpuasa maka hal itu baik baginya.

ORANG SAKIT,  Jika sakitnya tidak menyulitkan untuk berpuasa maka sebaiknya tetap berpuasa, tetapi jika sakitnya berat maka boleh tidak berpuasa, apabila diharapkan ada kesembuhan maka wajib baginya untuk membayar puasa setelah sembuh, namun jika harapan sembuh tidak ada maka baginya wajib FAIDYAH.  All Baqoroh : 184.

Demikian juga untuk orang yang lanjut usia.
WANITA HAMIL DAN MENYUSUI, Jika dikhawatirkan keselamatan ibu dan bayinya, maka boleh dia tidak berpuasa, dan WAJIB mengganti dihari lainnya.  Dan jika dia berkecukupan maka sangat baik dia juga membayar FIDYAH  ( dan juga membayar puasanya), hal ini lebih besar dan sempurna pahalanya.

Deikian semoga kita bisa menyambut Romadlon tahun ini dengan kegiatan ibadah yang benar sesuai dengan Rasulullah ( ittiba’) dengan niat yang ikhlas, InsyaAllah………….
Bagaimana dengan anda ???

Ditulis Oleh

Author
HM. Jatmiko, Ch
Dewan Pengawas MPAQ
Nantikan tulisan Pak Jat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

7. Syiah Imamiyah Itsna’Asyariah dan Imam Mahdi.

Penyimpangan – penyimpangan Aqidah
SYI’AH

Pendahuluan
Segala puji bagi Allâh swt yang selalu mencurahkan nikmat dan karunia serta hidayah dan inayahnya kepada kita semua sehingga sampai pada saat sekarang ini kita masih berjalan di atas jalannya. Mudah–mudahan kita bisa mempertahankan, merawat, menjaga serta menumbuh kembangkan iman di dalam dada hingga kita tidak menghadap kepada-Nya melainkan dalam keadaan iman dan taqwa. Amin.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Rasûlullâh Muhammad saw, keluarganya, para sahabat sahabatnya, serta para pengikut, pecinta dan pembela sunnah–sunnahnya sampai akhir zaman. Dan semoga di akherat nanti kita termasuk Ummat Muhammad saw yang termasuk Ashâbul Yamin yang akan pertama–tama bersama beliau masuk surga karena kesetiaan kita dan banyaknya kita mengikuti sunnah–sunnah beliau saw. 

Pada edisi sebelumnya sudah kita paparkan tentang 6 golongan Syi’ah dan ajaran–ajarannya maka pada edisi kali ini akan kita bahas secara ringkas tentang firqoh–firqoh /sekte/golongan  / aliran–aliran dalam Syiah selanjutnya yang masing-masing memiliki kesamaan dasar aqidah dan juga memiliki perbedaan–perbedaan ajaran sesuai pemikiran para pendiri masing–masing.
Di antara golongan-golongan dan gerakan-gerakan Syiah yang berikutnya adalah sebagai berikut:

7. Syiah Imamiyah Itsna’Asyariah dan Imam Mahdi.
Sebagaimana maklum bahwa Syiah Imamiah adalah mereka yang mengakui dua belas orang imam, telah didefinisikan sendiri oleh salah seorang ulama Syiah modern yang bernama Muhammad al Husain al Muzhaffar bahwa mereka adalah orang-orang yang mengakui dua belas imam yang dimulai dari Imam Ali bin Abi Thalib sampai kepada  keturunan Hasan. Teks ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa Syiah Imamiyah memiliki karakteristik yang berupa pengakuan mengenai keimaman dua belas imam. Syaikh Muhammad Jawwad Mughniah juga menegaskan bahwa: “Itsna Asyariyah merupakan  sebuah julukan yang diberikan kepada kelompok Syiah Imamiyah yang mengakui keberadaan dua belas imam yang ditentukan melalui nama-nama mereka” . Kedua Belas Imam tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ali bin Abi Thalib “al Murtadha” (w. 40 H/661 M)
  2. Al Hasan bin ‘Ali “az Zaky” (w. 49 H/669 M)
  3. Al Husain bin ‘Ali “Sayyid asy Syuhada’” (w. 61 H/680 M)
  4. Ali bin Al Husain, Zain Al Abidin “Zainal ‘Abidin” (w. 95 H/714 M)
  5. Abu Ja’far Muhammad Ali “Al Baqir” (w. 115 H/733 M)
  6. Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad “Ash Shadiq” (w. 148 H/765 M)
  7. Abu Ibrahim Musa bin Ja’far “Al Kadhim” (w. 183 H/799 M)
  8. Abu Hasan Ali bin Musa “Ar Ridha” (w. 203 H/818 M)
  9. Abu Ja’far Muhammad bin Ali “al Jawad” At Taqi (w. 220 H/835 M)
  10. Abu Hasan Ali bin Muhammad “al Hadi”(w. 254H/868 M)
  11. Abu Muhammad Al Hasan bin Ali “Al Askari” (w. 260 H/874 M)
  12. Abu al Qasim Muhammad bin Hasan “Al Mahdi”, Al Qa’im Al Hujjah (memasuki kegaiban besar pada 329   H/940 M).

Di sebalik kematian Imam ke Sebelas, yaitu Imam Hasan Al Askari yang bagi Ahlu Sunnah ia meninggal tanpa meninggalkan keturunan. Sehingga hal ini menyusahkan tokoh dan ulama Syiah Imamiyah, sebab dalam tradisi kepemimpinan Imamah Syiah Imamiyah, seorang imam wajib meninggalkan putra sebagai generasi kepemimpinan selanjutnya untuk mencukupkan bilangan dua belas imam-imam Syiah yang dikenali sebagai Syiah Al Itsnaa ‘Asyariyah. Bahkan kepimpinan ini sebenarnya merupakan kepemimpinan umum ilahiyah, khilafah penerus Rasûlullâh saw dalam berbagai perkara dunia dan agama, sehingga semua manusia harus mentaati sang imam. Dan perbedaan di antara Nabi saw dan imam yaitu, Nabi saw adalah hakim asal untuk manusia pada perkara agama dan dunia mereka secara langsung tanpa ada perantara, sedangkan imam adalah hakim dengan perantara Nabi saw . Jadi Imamah dengan dua kekuasaan agama dan dunia ini merupakan suatu jawatan agama yang bersifat Ilahi, sama dengan silsilah kenabian, yang membedakannya dengan Nabi adalah tidak diturunkannya wahyu kepada imam. Oleh karena itu Imamah tidak melalui proses pemilihan, dan penetapannya hanya semata-mata berdasarkan ketentuan dari Allâh dan Rasûlullâh saw, atau berdasarkan nash yang diberikan oleh Rasûlullâh saw secara turun temurun dari imam yang terdahulu kepada imam yang selanjutnya .

Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya hukum-hukum ilahi hanya diperoleh dari sumber para imam, dan pengambilannya hanya sah jika dikeluarkan oleh mereka. Dan tidak ada perselisihan di antara Syiah Imamiyah dengan Syiah Isma’iliyah pada masalah ini. 

Adapun Syiah Zaidiyah, Imamah adalah sebuah kepemimpinan umum dengan ketentuan syari’at untuk individu yang tertentu dalam berbagai perkara agama dan dunia dengan catatan jangan sampai dia melakukan kezaliman. Berkaitan dengan definisi ini, Imam Ahmad bin Yahya al Murtadha berpendapat: “Imamah adalah kepemimpinan umum untuk individu tertentu dengan ketetapan syari’at yang tidak mengandung unsur kezaliman”. Sedangkan definisi yang diberikan oleh Imam al Qasim bin Muhammad adalah: “Kepemimpinan umum dengan ketetapan syari’at untuk seorang laki-laki yang tidak memiliki kezaliman kepada seorangpun”. 

Orang laki-laki harus berasal dari keturunan ahlul bait, dan lebih tepatnya harus berasal dari keturunan Hasan dan Husain. Definisi ini boleh dikatakan sebagai definisi yang disepakati oleh para ulama Syiah Zaidiyah, sebagaimana yang diisyaratkan Imam Humaidan bin Yahya dengan ucapannya mengenai hakikat imam, dia berkata: “yaitu seorang individu yang lengkap (sempurna) untuk memimpin manusia dalam agama dan dunia dalam bentuk yang tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi darinya, sebagaimana yang dikatakan oleh para imam kita, imam-imam Zaidiyah alaihissalam”. Jadi menurut mereka imam yang legal adalah yang ditetapkan oleh syari’ah untuk menepikan semua jenis kepemimpinan yang lain yang berdiri berdasarkan kekerasan, paksaan, dan dasar pilihan bagi orang yang sebenarnya tidak berhak mendapatkannya. Oleh karena itu, Imamah harus diberikan kepada individu yang tertentu yang berasal dari keturunan ahlul bait yang memenuhi semua persyaratannya. Dan Syi’ah Zaidiyah membatasi kewajiban rakyat terhadap imamnya terhadap perkara-perkara agama dan dunia yang berkaitan dengan kepentingan rakyat, seperti jihad, wilayah, hukuman, dan perkara zakat, sedangkan hal yang berkaitan dengan perkara agama dan dunia secara syar’i  tidak masuk ke dalam kapasitasnya (kekuasaannya). 

Dari sini, menurut Syiah Zaidiyah seorang imam tidak boleh turun dari tahtanya jika dia mendapati di antara rakyatnya ada orang-orang yang mau membantunya untuk melaksanakan perintah Allâh dan berjihad bersamanya. Sedangkan jika dia tidak mendapati di antara rakyatnya yang mau membantunya melaksanakan perintah Allâh dan berjihad bersamanya di jalan Allâh maka dia boleh melepaskan jabatannya, sebagaimana sikap yang telah diambil oleh Ali as untuk tidak menuntut kekhilafahan setelah kematian Rasûlullâh saw Meskipun jawatan itu adalah haknya. Begitu juga yang telah dilakukan oleh anaknya, Hasan bin Ali as, manakala para sahabatnya mengkhianatinya dan mengecewakannya, maka dia tinggalkan mereka dan dia serahkan jawatan kepada Mu’awiyah. Begitu juga yang telah dilakukan oleh al Qasim bin Ibrahim yang telah dibai’at, dan orang-orang telah mengelilinginya, kemudian dia saksikan kegagalan mereka dan dia memiliki keyakinan bahwa dia tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka dia lepaskan jawatannya; karena perkara ini tidak akan dapat berhasil tanpa bantuan para penolong dan pendukung, jika mereka tidak mendukungnya maka gugur kewajibannya untuk menjadi imam. .

Jadi kalau seorang imam meninggal tanpa meninggalkan seorang pun putra yang akan melanjutkan misi dan perjuangan kepimpinan (Imamah) Syiah, maka gugurlah kepimpinan Imamah tersebut, dan atas sebab ini ulama Syiah Imamiyah berusaha menutupi kemusykilan kepimpinan setelah meninggalnya imam yang ke dua belas yaitu imam Hasan Al Askari. Sebab apapun keadaannya, Imamah wajib hadir di tengah masyarakat dan mereka wajib mengenal dan mengesan keberadaan seorang imam, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh pengarang kitab “Usul Al Kafi”:

مَنْ مَاَت وَلَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَانِهِ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barang siapa yang mati tanpa mengetahui imam pada masanya, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah .

Pada tempat lain Al Kulaini dengan sanadnya dari Abu Ja’far as memaparkan bahwa : Sesungguhnya jika seorang imam diangkat dari bumi untuk sesaat saja, maka para penghuni bumi pasti akan bergelombang sebagaimana bergelombangnya laut dengan para penghuninya. 

Hal ini juga ditegaskan oleh syaikh Muhammad Ridha al Muzhaffar, seorang ulama Syiah modern, yang berkata: Oleh karena itu, suatu masa/zaman tidak boleh kosong dari seorang imam yang harus ditaati yang dipilih langsung oleh Allâh swt, tanpa memedulikan apakah manusia mau terima atau tidak, juga baik mereka mendukungnya ataupun tidak mendukungnya, menaatinya ataupun  tidak menaatinya, juga apakah mereka tampak kelihatan dari mata manusia ataupun  tidak kelihatan. .

Dalam keadaan seperti di atas dan ketika Imam Hasan Al Askari wafat, dengan sigapnya seorang rekan Imam Hasan Al Askari bernama Usman bin Said menyatakan bahwa Hasan al Askari sebenarnya telah memiliki seorang anak sebelum ia wafat. Anak ini seharusnya berusia empat tahun dan diberi nama “Muhammad”.  Dan anak ini menghilang dari pandangan mata, sebab ia dalam “keghaiban”, sehingga hanya  Usman bin Said yang dapat berhubungan dengannya. Dan semenjak itu Usman bin Said  bertindak sebagai perwakilan dari Imam Ghaib. Salah satu alasan Ghaibnya Muhammad Hasan Askari disebutkan oleh seorang ulama Syiah Imamiah yaitu imam At Tusi, ia katakan: “Tidak ada alasan yang menghalangi kemunculannya, selain karena ia khawatir dibunuh. Sebab jika tidak ada kekhawatiran ini, ia tidak boleh menyembunyikan diri. 

Oleh karena itu pengikut Syiah jika ditanya penyebab dan hikmah persembunyian Imam Mahdinya di dalam gua dan tidak menampakkan diri di hadapan orang ramai, mereka akan mengatakan bahwa dikhawatirkan keselamatannya dari pengejaran penguasa Khilafah Abbassiyah yang senantiasa memantau pergerakan Imam Hasan Askari dan keluarganya.

Menurut kepercayaan Syiah Imamiyah, Imam yang kedua belas sebenarnya mengalami peristiwa menghilang (Ghaib) sebanyak dua kali, yaitu ghaib sughra “pendek/singkat” dan ghaib kubra “lama/panjang”. Ghaib sughra dimulai sejak kelahirannya pada tahun 255 H, dan berlanjut hingga tahun 329 H. Sepanjang masa ini, meskipun ia ghaib di mata manusia, namun ia melalui sejumlah orang kanan/khas dapat berhubungan dan menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang Syiah, terutama untuk menjawab persoalan dan masalah agama ketika itu.

Orang kanan imam Ghaib yang menjadi wakil umat Syiah ada empat orang , yaitu :

  1. Usman bin Sa’id. Dia adalah sahabat Imam Al Hadi dan Imam Hasan Al Askari yang terpercaya. Dia adalah salah satu orang yang dipertemukan atau diperlihatkan langsung Imam Mahdi oleh Imam Hasan Askari yang berkata, “Setelah ini, kalian tidak akan melihatnya lagi dan di masa gaib, kalian harus patuh kepada Usman bin Sa’id karena dialah pengganti Imam kalian”.
  2. Muhammad bin Usman Al Umriy. Dia ditunjuk sebagai naib dari pihak yang suci setelah ayahnya. Usman bin Sa’id menjelang wafatnya mengatakan: “Setelahku, putraku, Muhammad, akan menjadi penggantiku dan naib Imam kalian. Niyabah-nya ‘kewakilannya’ telah didukung dan dibenarkan oleh Imam Mahdi as”.
  3. Husain bin Ruh. Muhammad bin Usman menjelang wafatnya mengenalkan Husain sebagai penggantinya dan Husain pun mendapat kepercayaan sebagai wakil dari Imam Mahdi. Kepada sahabatnya, Muhammad bin Usman mengatakan: “Aku telah diberi tugas oleh Imam Mahdi as untuk menunjuk Husain bin Ruh sebagai wakil dan merujuklah kepadanya dalam berbagai urusan agama”.
  4. Ali bin Muhammad Samari. Dia adalah salah seorang tokoh terkenal dan ternama serta terpercaya di kalangan Syiah ketika itu. Husain bin Ruh, sebelum wafat, menunjuknya sebagai wakil dari pihak yang suci.

Dengan demikian Ali bin Muhammad Samari merupakan wakil khas Imam Mahdi yang terakhir.
Pada tahun 329 H, Ali bin Muhammad Samari wafat. Sebelumnya, dia membacakan surat yang datang dari tempat yang suci untuk manusia. Di dalam surat tersebut tertulis:

“Enam hari lagi, ajalmu akan tiba. Urusi dan selesaikan semua pekerjaanmu. Namun, jangan engkau menunjuk wakil atau penggantimu. Sejak sekarang, keghaiban akan benar-benar sepenuhnya terjadi (dalam masa yang lama). Aku sendiri tidak akan muncul dan keluar dari keghaibanku. Selagi hati manusia belum beku dan bumi belum dipenuhi dengan kezaliman, Allâh swt tidak akan mengizinkanku muncul. Sebelum syarat-syarat itu ada, siapa saja yang mengaku melihatku telah berdusta dan janganlah kalian percaya kepadanya”.

Periode gaib sughra dan niyabah ‘perwakilan’ wakil-wakil khas terus menerus berlanjut dalam masa 74 tahun. Oleh karena itu dalam masa Ghaib ini, golongan Syiah Imamiah mengadakan hubungan dengan Imam Mahdi melalui para empat wakil-wakil di atas. Hikmah di sebalik adanya ghaib sughra yang memerlukan masa 74 tahun lamanya, bertujuan supaya pengikut Syiah mempersiapkan diri untuk menghadapi ghaib kubra yang begitu lama sehingga penantiannya akan berakhir masa-masa dekatnya hari kiamat.

Kedua peristiwa ghaib ini dilandasi oleh riwayat dari Ishaq bin Ammar mengatakan: “Dari Imam Ja’far Sadiq, aku mendengarnya menyatakan, “Al-Qaim mengalami dua keghaiban: ghaib yang lama (panjang) dan lainnya singkat (pendek). Pada ghaib sughra, hanya orang-orang tertentu dari kalangan Syiah dan yang memiliki kepimpinan (wilayah) yang mengetahui keberadaan Imam Mahdi saat itu. Selain itu, tiada yang mengetahuinya”.

Beberapa keganjilan-keganjilan yang timbul dari alasan keselamatan hayat Imam Mahdi yang dikemukakan oleh al Tusi dan ulama Syiah lainnya, sebab beberapa hal perlu dipertimbangkan, yaitu: kalaulah benar telah disebutkan dalam berbagai kitab-kitab referensi utama mereka bahwa al-Mahdi merupakan seorang insan yang ditolong, dijaga dan dibantu, sebab ia dalam naungan dan lindungan Allâh swt, tapi mengapa ia menjauhkan dan menyembunyikan diri dan tidak muncul di hadapan orang ramai?. Semestinya ia tidak bersembunyi dan justru sebaliknya lebih baik menzahirkan diri, sebab ia dalam penjagaan Allâh swt.

Tentu keyakinan seperti ini akan membawa kesan bahwa Imam Mahdi tidak komitmen dengan kepemimpinannya sebagai pemimpin yang berani melindungi pengikutnya dari kejaran penguasa khilafah Abbasiyah, ia pemimpin yang takut dari keramaian dan massa serta menghindar dari berbagai kritikan dan cabaran yang dihadapi oleh pengikut Syiah saat itu. Di samping itu dalam keyakinan Syiah Imam Mahdi Syiah khawatir akan terbunuh sehingga menyembunyikan diri, akan memiliki konsekuensi gugur dan pupus Imamahnya. Sebab, menurut Syiah, seorang imam haruslah manusia yang paling berani. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kitab Syiah bertajuk “Al Anwar An Nu’maniyyah” bahwa: “Seorang imam memiliki beberapa tanda: ia adalah orang yang paling alim, paling bijak, paling bertakwa dan paling berani” 

Di samping itu, Syiah Imamiah membantah keras kepercayaan tentang Imam Mahdi dari golongan-golongan selain Syiah Imamiah, seperti dakwaan Syiah Hashimiyyah bahwa Muhammad bin al Hanafiah adalah Imam Mahdi yang sebenarnya. Oleh karena itu dakwaan seperti ini merupakan pemikiran yang mengeksploitasi dan mengkhianati Imam Mahdi yang sebenarnya yaitu Imam kedua belas Muhammad bin Hasan al Askari .

Apapun halnya, diantara kepercayaan Syiah Imamiah yang paling menonjol dan memenuhi lembaran-lembaran kitab mereka adalah akidah al-Mahdi al-Muntazhar. Akidah ini sering kali diiringi dengan berbagai khurafat dan kepercayaan yang menyimpang dan tidak diterima oleh golongan Ahli Sunnah wal Jamaah. Dan ide tentang kemunculannya di akhir zaman nanti telah tertanam kuat di dalam keyakinan Syiah Imamiah, mereka telah bersiap sedia menanti kemunculannya dalam waktu dekat ini-menurut klaim mereka-, dan mereka berbicara mengenai kemunculannya pada beberapa ritual Syiah. Oleh karena itu tidak heran kalau semenjak ratusan tahun lepas, orang Syiah di berbagai negara merayakan kelahiran Imam Mahdi. 

Dengan akidah ini mereka terus melanjutkan dakwah kesucian para imam, dan cara ini mereka dapat memungut khumus dari pengikut mereka sebanyak 1/5 harta mereka, dengan alasan ini adalah bagian Imam al Mahdi al Muntadhar. Dan dengan cara ini mereka mengaku bahwa terjalin hubungan dengan ahlul bait. Mereka terpaksa menciptakan akidah yang jauh dari logika karena mereka telah membatasi kepemimpinan (Imamah) hanya kepada keturunan Husain dan kepada beberapa orang tertentu. Akan tetapi pada tahun 260 H mereka dikejutkan dengan kematian al Hasan al Askari yang menurut kepercayaan mereka dia adalah imam yang kesebelas- tanpa meninggalkan keturunan, maka kematiannya ini membuat mereka terpecah dan tidak tentu arah. Dan menurut sejarawan Syiah Imamiyah yaitu Imam an Naubakhti bahwa mereka terpecah menjadi empat belas kelompok, dan menurut al Qummi mereka terpecah menjadi lima belas kelompok. Kedua tokoh ini adalah ulama Syiah Imamiah atau dikenal sebagai Syiah ar Rafidhah yang telah menyaksikan terjadinya peristiwa ini, dan keduanya adalah pembesar mereka pada abad ketiga.

Ditulis Oleh

Author
Muhammad Suparman al Jawi, S.Pd.I
Mjelis Syuro MPAQ
Baca terus kajian aQidah ini hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 44

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).


أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?"
QS. Albaqoroh; 44.

Allah mencela prilaku orang-orang Ahli Kitab, yang mereka memperintah, atau mengajak orang lain untuk berbuat baik akan tetapi mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka tidak melakukan kebajikan-kebajikan yang mereka ajakan kepada orang lain. Padahal mereka adalah orang-orang yang membaca kitab,  dan mengetahui tentang perintah untuk melakukan kebajikan merupakan fardlu a’in.

Hal tersebut sebagaimana yg diriwayatkan oleh Abdurrozaq dari Ma’mar, dari Qotadah tentang ayat di atas  ia mengatakan : “ Dahulu bani Israil menyuruh manusia berbuat ketaatan, taqwa dan mengajak kepada kebajikan, namun mereka menselisihinya, maka Allah Aza Wajala mencela mereka.”

Kebajikan yang mereka selisihi adalah :
1. Mengingkari Al Qur’an, padahal Al Qur’an membenarkan keberadaan kitab Taurot dan Injil.
2. Membunuh beberapa Nabi yang membawa ajaran Tauhid yang mengoreksi dan meluruskan pandangaan beragama mereka.

Mengapa Allah mencela sikap orang-orang Ahli Kitab  ? Allah memperingatkan kesalahan mereka berkenaan dengan hak diri mereka, yaitu menyeru kepada kebaikan namun mereka sendiri tidak melakukan kebaikan itu. Jadi yang dicela bukanlah usaha mereka dalam amar ma’ruf, karena hal tersebut juga merupakan perintah agama bagi orang-orang yang berilmu. Akan tetapi yang lebih wajib bagi orang-orang yang berilmu adalah mengerjakanj kebaikan bersama dengan orang-orang yang diseur dengan tidak menselisihi mereka. Sebagaimana perkataan Nabi Syuaib yang termaktub dalam QS HUUD ; 88

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ


Dia berkata, "Hai umat-Ku, apakah Anda telah mempertimbangkan: jika saya memiliki bukti yang jelas dari Tuhanku dan Dia telah memberikan saya persediaan yang baik dari Dia ...? Dan saya tidak bermaksud untuk berbeda dari Anda dalam apa yang saya miliki Melarang Anda, saya hanya ingin melakukan reformasi sebanyak yang saya bisa, dan kesuksesan saya bukan melalui Allah. Atas dia saya telah mengandalkan, dan kepada-Nya saya kembali.

Sehingga Amar Ma’ruf dan pengamalannya adalah suatu kewajiban yang jika salah satunya sudah diamalkan tidak kemudian menggugurkan amal yang lainnya. Demikianlah pendapat dari beberapa ulama salaf.

Maka yang terpenting dalam ayat ini adalah Allah mencela orang-orang Ahli Kitab karena mereka  telah meninggalkan ketaatan dan melakukan kemungkaran, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berilmu. Karena tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tak berilmu. Oleh karena itu beberapa hadist mengancam perbuatan mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Anas bin Malik Ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :
 “ Pada malam aku di-Isro’ kan, aku melihat suatu kaum yang mengguntingi lidahnya dengan gunting yang terbuat dari api.” Aku bertanya : “ Siapakah mereka itu ?” Mereka menjawab : “ Mereka adalah para penceramah umatku dari kalangan ahli dunia, yaitu yang menyuruh manusia berbuat kebajikan, namun mereka melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca Al-Kitab. Tidaklah mereka berakal ?”

Dan Imam Ahmad meriwayatkan, melalui sanad dari Abi Wa’il, dia berkata bahwa Usamah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“ Pada hari kiamat akan ditampilkan seseorang, kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ususnya terburai, dan ia berputar di neraka mengitari ususnya itu seperti keledai mengitari batu penggilingan. Lalu penghuni neraka mengelilinginya seraya bertanya, “ Hai fulan apa yang telah terjadi pada dirimu, bukankah kamu dulu suku menyuruh kami kepada amal ma’ruf dan melarang kami dari kemungkaran ? Si fulan menjawab : “ Dahulu aku menyuruhmu kepada amal ma’ruf namun aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarangmu dari kemungkaran, tetapi aku malah melakukannya.” (HR Bukhory dan Muslim).

Ibnu Asakir meriwayatkan dalam biografi al-Walid bin Uqbah, dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“ Sesungguhnya sekelompok ahli surga melongok kepada penghuni neraka. Mereka bertanya : “ Mengapa kalian masuk neraka ? Demi Allah kami tidak masuk surga kecuali karena apa yang telah kami pelajari dari kalian. Ahli neraka menjawab : “ Dahulu kami hanya berkata, tapi tidak berbuat.”
Ada tanggung jawab yang berbeda antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, jelas orang berilmu mempunyai beban tanggung jawab lebih besar untuk beramal dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Hasil yang diterima kelak di hari pembalasan juga akan berbeda.
Maka dalam QS AZ-Zumar : 9 Allah berfirman 

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ


Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 42 dan 43

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ).

ولا تلبسوا الحق بالباطل وتكتموا الحق وأنتم تعلمون

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 42)

Allâh Ta’ala melarang  dua hal yang penting, yaitu mencampuradukkan kebenaran dan menyembunyikannya.  Ayat ini peringatan bagi Ahli Kitab, dalam hal ini orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah mencampuradukkan kebenaran dengan kebathilan.  Mereka mencapuradukkan keyahudian dan kenasranian dengan keislaman.  Padahal  ke-tiganya jelas berbeda. Yahudi dan Nasrani dikembangkan dengan jalan bid’ah dan bahkan syirik, sedangkan Islam adalah agama Tauhid. Sehingga jelas Yahudi-Nasrani berbeda dengan Islam dan tidak akan bisa dicampuradukkan.

Inti dari penyimpangan Ahli Kitab adalah mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebathilan. Yang dimaksud Kebenaran adalah  kitab Taurat yang dibawa Nabi Musa As, dan kitab Injil yang yang dibawa oleh Nabi Isa As. Sedangkan kebathilan adalah merubah, merevisi, menambah dan mengurangi isi kitab Taurat dan Injil, sebagaimana yang dilakukan oleh pendeta dan ulama mereka.

Pada mulanya Nabi Isa dan Nabi Musa membawa bendera Islam Tauhid, akan tetapi setelah pergantian generasi ulama dan pendetanya merivisi kitabnya dan jadilah agama Nasrani dan Yahudi yang sekarang, yang menyimpang jauh dari agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa.
Berkenaan dengan masalah di atas Rasûlullâh SAW memberi peringatan dengan keras agar tidak mengikuti pola pikir beragama Yahudi dan Nasrani, dengan jalan memegang teguh pemahaman Islam salafush shaleh. Rasûlullâh SAW bersabda : 

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Orang-orang Yahudi dan Nasrani menyembunyikan kebenaran

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa yang dimaksud menyembunyikan kebenaran adalah prilaku Yahudi-Nasrani yang menyembunyikan pengetahuan mereka tentang keberadaan Nabi Muhammad SAW  dan apa-apa yang dibawanya, padahal mereka menemukan berita dan nama itu tertulis dalam kitab Taurat. Dan mereka sangat mengenal dengan nama tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan Allâh dalam QS Al-Baqarah [2]: 146

الذين آتيناهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون أبناءهم وإن فريقا منهم ليكتمون الحق وهم يعلمون

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 146)

Atau pernyataan Nabi Isa As yang termaktub dalam QS Ash-Shaff [61]: 6

وإذ قال عيسى ابن مريم يا بني إسرائيل إني رسول الله إليكم مصدقا لما بين يدي من التوراة ومبشرا برسول يأتي من بعدي اسمه أحمد فلما جاءهم بالبينات قالوا هذا سحر مبين

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: "Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)" Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".” (QS. Ash-Shaff [61]: 6)

Dua ayat di atas menunjukan bahwa semestinya orang-orang Yahudi sudah mengenal dengan dekat berita tentang diutusnya Nabi Muhammad sebagai Râsul, akan tetapi Yahudi tetaplah Yahudi yang keras kepala dan tetap menolak Islam. Bahkan terhadap kedatangan Rasûlullâh SAW, mereka membuat tuduhan-tuduhan keji dengan mengatakan apa yang dibawa Rasûlullâh adalah ilmu sihir.

وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة واركعوا مع الراكعين

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Perintah  untuk menegakan sholat, setelah mengimani beberapa penjelasan yang  di bawa oleh Rasûlullâh  SAW, karena sesungguhnya sholat dan amal-amal yang lain tidaklah ada guna bila tanpa dengan landasan Iman. Demikian juga dengan amal zakat, shaum dan haji, tidak boleh tanpa dengan landasan Iman. Yaitu iman dengan apa yang dibawa Rasûlullâh, yaitu al-Qur’an.

Selanjutnya diperintahkan untuk membayar zakat dan menyerahkan kepada Nabi. Zakat adalah simbol amal muamalah, itupun harus dengan landasan Iman, agar amal yang kita kerjakan menjadi amal yang mempunyai nilai di hadapan Allâh SWT.

 Perintah terakhir dalam ayat ini adalah : “ dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk “ maksudnya adalah perintah untuk berjamaah dalam menjalankan kebaikan-kebaikan. Dan diantara  amal kebaikan yang khusus dan sempurna adalah shalat. Maka banyak ulama yang menafsiri ayat ini sebagai dalil wajibnya menegaakkan shalat fardlu dan berjamaa’ah.

أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Allâh mencela perilaku orang-orang Ahli Kitab yang menyerukan kebaikan kepada orang lain sedangkan dirinya mengabaikan kebaikan-kebaikan tersebut. Padahal kepadanya telah diturunkan kitab yang memberi pengajaran tentang kebaikan. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abdurazzaq dari Ma’mar dari Qotadah, ia mengatakan : “Dahulu Bani Isra’il menyuruh manusia berbuat ketaatan, takwa dan kebajikan, namun mereka menselisihinya, maka Allâh mencela mereka.”

Jadi yang dicela Allâh bukanlah perbuatan mereka menyeru kepada kebaikan, karena sesungguhnya itu adalah perbuatan baik dan merupakan kewajiban bagi orang yang berilmu. Akan tetapi yang lebih wajib dari itu adalah seorang alim mengajak kebaikan kepada orang lain serta mengerjakan kebaikan-kebaikan tersebut bersama orang-orang yang diajak dan tidak menyelisihi mereka. Sebagaimana  yang dijelasakan dalam QS Hûd: 88

قال يا قوم أرأيتم إن كنت على بينة من ربي ورزقني منه رزقا حسنا وما أريد أن أخالفكم إلى ما أنهاكم عنه إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

“Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hûd [11]: 88)

Sehingga Amar Ma’ruf dan pengamalannya merupakan suatu kewajiban yang salah satu dari keduanya tidak gugur dengan meninggalkan yang lain. Demikian menurut pendapat yang paling shoheh dari para ulama shalaf.

Mestinya pada mulanya semua agama, baik Yahudi, Nasrani maupun Islam sama-sama mengajak kepada kebaikan yaitu risalah Tauhid. Hanya saja orang-orang Ahli Kitab menyimpang, ulama dan pendeta mereka merubah isi kitab Taurat dan Injil. Sehingga mereka melupakan kebaikan tersebut dengan mengingkari isi al-Qur’an, mengingkari keberadaan Muhammad sebagai Rasûl Allâh, bahkan lebih dari itu mereka sampai berani membunuh nabi-nabi. Demikianlah penyimpangan dan pengingkaran yang dilakukan oleh Ahli Kitab, hal itu disebabkan karena ada dua sebab : 
  • Karena mengikuti hawa nafsu.
  • Kedengkian,  atas keberadan Rasûlullâh SAW yang bukan dari golongannya.

Demikian Allâh memberi pelajaran kepada Umat Islam, dengan berulang-ulang menurunkan ayat yang menceritakan tentang kedustaan dan  pengingkaran orang-orang Ahli Kitab. Agar umat Islam waspada dan berhati-hati untuk mengikuti pola pikir beragama gaya Yahudi dan Nasrani.
Allâhu ‘alam bis-shawwab

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

KEUTAMAAN SEDEKAH DAN ADAB-ADABNYA

Keutamaan sedekah sangatlah banyak Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud -radhiyallâhu ‘anhu-, beliau berkata, Rasûlullâh -shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ. قَالَ: فَإِنَّ مَالَهُ مَا قُدِّمَ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

“Siapa di antara kalian yang harta ahli warisnya lebih dia cintai dari hartanya sendiri?’ mereka menjawab, ‘tidak seorang pun dari kami kecuali lebih mencintai hartanya sendiri.’ Nabi bersabda, ‘sesungguhnya harta seseorang adalah apa yang dinafkahkan (semasa hidupnya) dan harta ahli warisnya adalah apa yang dia simpan.’”

Dalam ash-Shohihain dari hadits Abu Hurairah -radhiyallâhu ‘anhu-,  bahwa Rasûlullâh -shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ -وَلَا يَصْعَدُ إِلَى اللهِ إِلَّا الطَّيِّبُ- فَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“barangsiapa bersedekah seberat biji kurma dari hasil usaha yang baik -dan tidak akan naik kepada Allâh kecuali yang baik saja- maka sesungguhnya Allâh menerimanya dengan Tangan kananNya kemudian mengembangkannya untuknya sebagaimana salah seorang di antara kalian memelihara anak kudanya, sehingga sedekah itu menjadi seperti gunung.”

Dalam hadits lain,
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَقِي مِيْتَةَ السُّوْءِ

“sesungguhnya sedekah memadamkan murka Rabb dan menjaga dari kematian buruk.”

Dalam hadits lain,
تَصَدَّقُوْا فَإِنَّ الصَّدَقَةَ فِكَاكُكُمْ مِنَ النَّاِر

“bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya sedekah adalah yang membebaskan kalian dari neraka.”

Dari Buraidah dari Rasûlullâh -shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
مَا يُخْرِجُ أَحَدٌ شَيْئاً مِنَ الصَّدَقَةِ حَتَّى يَفُكَّ عَنْهُ لَحْيَ سَبْعِيْنَ شَيْطَاناً

“tidaklah seseorang mengeluarkan sesuatu dari sedekah sehingga ia (sedekah) melepaskannya dari jepitan 70 setan.”

Diriwayatkan bahwa seorang rahib beribadah selama 60 tahun dalam biaranya. Suatu hari dia turun dengan membawa sepotong roti, lalu seorang wanita menghadangnya dan memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang menggiurkan, lalu rahib tersebut terjatuh ke dalam pelukannya, ajal kematian datang sementara ia dalam kondisi tersebut. Pada saat seperti itu seorang pengemis datang, maka rahib itu memberinya sepotong roti yang dibawanya dan akhirnya dia mati. Amal 60 tahun dihadirkan, diletakkan di atas salah satu daun timbangan dan kesalahannya di daun yang lainnya, maka kesalahannya lebih berat, lalu sepotong roti dihadirkan dan diletakkan bersama amalnya, maka ia mengalahkan berat kesalahannya.



Dalam hadits yang hanya diriwayatkan oleh Muslim dari hadits abu Hurairah dari Nabi -shallallâhu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“sedekah tidak mengurangi harta.”

Diriwayatkan dari ‘Aisyah,
أَنَّهُمْ ذَبَحُوْا شَاةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَقِيَ مِنْهَا؟ قُلْتُ: مَا بَقِيَ مِنْهَا إِلَّا كَتِفُهَا. قَالَ: بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا

“bahwasannya orang-orang menyembelih seekor kambing, lalu Nabi -shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bertanya, ‘apa yang tersisa darinya?’ Aisyah menjawab, ‘yang tersisa hanyalah sampilnya (paha depan).’ Rasûlullâh bersabda, ‘yang tersisa adalah semuanya kecuali sampilnya.’”

Adapun adab-adabnya, maka sama dengan adab-adab zakat. Para ulama berbeda pendapat, apa yang lebih utama bagi orang miskin, menerima zakat atau menerima sedekah? Ada yang berkata dari zakat lebih utama, ada yang berkata dari sedekah lebih utama.

Sedangkan tentang sedekah paling utama adalah sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah bahwa beliau berkata, Rasûlullâh -shallallâhu ‘alaihi wa sallam- ditanya,

أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيْحٌ شَحِيْحٌ، تَخْشَى الْفَقْرَ، وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلَا تُمْهِلْ حَتَّى ((إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُوْمَ)) قُلْتَ: لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

“‘sedekah apa yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘kamu bersedekah sementara kamu masih sehat, mencintai harta, takut miskin dan ingin kaya. Dan jangan menunda sampai ketika nyawa sampai di kerongkongan (sakaratul maut) lalu kamu berkata, “(berikan) untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian.” Padahal hartanya itu telah menjadi milik fulan.’” Diriwayatkan dalam ash-shohihain.

Ditulis Oleh

Author
Ust. H. Sigit Sulistyo, Lc
Mjelis Syuro MPAQ
Nantikan kajian Tazkiyatun Nafs berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

ALL ABOUT SEDEKAH

Ketika bumi diciptakan, maka bumi berguncang sangat dahsyat. Maka Allâh pun menciptakan gunung dan diletakkan di atas bumi, seketika bumi menjadi tenang. Malaikat yang takjub lalu bertanya: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat dari gunung?’ 

Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu besi.” (Kita tahu bahwa gunung yang sedemikian besar mampu dibelah menggunakan kendaraan berat dari besi).
Malaikat bertanya lagi: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat dari besi?’
Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu api’ (kita tahu bahwa besi akan meleleh jika bertemu dengan api).
 Malaikat bertanya lagi: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat dari api?’
Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu air’ (kita tahu bahwa api akan padam jika bertemu dengan air).
Malaikat bertanya lagi: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat dari air?’
Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu angin’ (kita tahu bahwa air akan terombang-ambing tak berdaya jika bertemu dengan angin).
Malaikat bertanya lagi: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat itu semua?’
Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu sedekah yang dikeluarkan oleh seorang hamba dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya tidak mengetahuinya.’

Dialog Allâh dengan malaikat di atas termaktub dalam sebuah hadits qudsy. Yaitu hadits yang lafalnya berasal dari Nabi, tetapi substansi atau maknanya dan isinya berasal dari Allâh SWT. 
Subhanallâh, sedemikian hebatnya sedekah yang dikeluarkan secara sembunyi-sembunyi yang bahkan tangan kiri pun tidak mengetahui sedekah yang dikeluarkan oleh tangan kanannya. Sedekah model ini teramat sulit, maka pahalanya pun tidak main-main. Contoh sedekah secara sembunyi-sembunyi ini adalah kita mengisi pulsa listrik sebuah masjid. 

Silahkan datang ke sebuah masjid, lihat dan catatlah nomor rekening masjid tersebut lalu belilah sejumlah token listrik dan masukkan ke ‘meteran’ listrik masjid tersebut dengan tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Mudah-mudahan dengan begitu kita mendapatkan fadhilah besar atas sedekah sembunyi-sembunyi yang kita lakukan. 

Atau cara lain adalah, belilah sepasang atau dua pasang sandal jepit baru, (atau barang lain yang kira-kira dibutuhkan di masjid) lalu letakkan dan tinggalkan di masjid secara sembunyi-sembunyi. Lakukanlah satu atau dua model sedekah ini dan jangan ceritakan kepada siapa pun!

Mayat ingin bersedekah
Al-Qur'an menyebutkan angan-angan orang muslim yang suka menunda amal shalih di dunia sehingga datang kematiannya, seandainya diberi kesempatan hidup kembali dirinya akan bersedekah dan menjadi orang shalih.
Allâh Subhânahu wa Ta'ala berfirman,
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqûn [63]: 10)

Kenapa dia tidak mengatakan, "Maka aku dapat melaksanakan umroh", atau "Maka aku dapat melakukan shalat atau puasa" atau harapan yang lain-lain?
Berkata para ulama, “tidaklah seorang mayit menyebutkan "sedekah" kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal...”
Perkara yang paling menyelamatkan orang di akhirat adalah iman. Dan sedekah adalah bukti kebenaran iman. Rasûlullâh  Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
والصدقة برهان
“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi Râhimahullâh menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya).”
Sedekah dapat juga membebaskan pelakunya dari siksa kubur. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

‏إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور
“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al-Albani dalam Shahih At Targhib, 873)
Pahala sedekah yang dikeluarkan seseorang akan terus mengalir kepadanya, walau ia sudah berada di liang kuburnya.

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga perkara; salah satunya, shadaqah jâriyah.” (HR. Muslim)
Sedekah juga bisa menyelamatkan pelakunya dari jilatan api neraka. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabada,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Hindarkan dirimu dari neraka walaupun hanya dengan separoh butir kurma, jika tidak ada maka dengan tutur kata yang baik.” (Muttafaq 'alaih)

Sedekahlah Meskipun Sedikit
Keluarkanlah sedekah, walaupun hanya sedikit. Sedekah, berapapun nilainya, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya. 

Sedekah yang dikeluarkan seseorang akan menaunginya di akhirat. Rasûlullâh  Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di hari kiamat yang tidak ada naungan lain selain dari Allâh di hari itu. Salah satunya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadits lain,
كل امرء في ظل صدقته حتى يقضى بين الناس
“Setiap orang dibawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum diantara manusia.” (HR Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Maka perbanyaklah bersedekah. Karena sedekah menjadi salah satu sebab utama yang bisa menyelamatkan kita di akhirat. Mumpung kita masih hidup, kesempatan untuk bersedekah terbuka lebar, manfaatkan sebaik-baiknya demi akherat kita. Dan, bersedekah-lah atas nama orang yang sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mereka. Wallahu a’lam

Ditulis Oleh

Author
Muhsin Suny M
Pengisi Selayang Pandang Sinaran
Nantikan artikel berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Meluruskan Pemahaman Sujud kepada Makhluk

Pada hakikatnya sujud itu hanya ditujukan atau dipersembahkan secara murni untuk Allâh saja. Bahkan sujud kepada selain Allâh dinilai sebagai perbuatan syirik yang sangat dilarang dalam agama. Namun ada beberapa ayat qur’aniyyah yang berisi tentang sujud kepada selain Allâh, seperti sujud Malaikat kepada Adam, dan sujud saudara-saudara Yusuf kepada Nabi Yusuf. Fenomena sujud beberapa makhluk Allâh kepada Adam atau Yusuf ini seringkali dimaknai secara keliru oleh kaum orientalis, bahkan juga digunakan sebagai celah oleh mereka untuk melakukan serangan terhadap Islam, serta menghembuskan badai syubhat atau tasykik (keragu-raguan) dalam tubuh umat Islam. Tidak sedikit umat Islam yang terkecoh dan tertipu dengan pemelintiran makna dan tafsir yang dilakukan oleh orientalis perihal sujud ini, sehingga hal itu berimplikasi kepada sikap ragu terhadap
syariat Islam.  

Untuk menangkal syubhat atau tasykik yang dilancarkan oleh para orientalis ini maka sangat penting kiranya kembali mengkaji ayat-ayat tentang hal itu dari persepektif para Ulama agar tidak terjadi kesalah-pahaman di kalangan kaum muslimin, sehingga akan tetap terjaga kelurusan aqidah dan syari’ah mereka, dan tidak terkontaminasi oleh tasykik yang dilakukan orang-orang yang benci dan memusuhi Islam. 

Esensi Sujud
Diantara rukun sholat yang wajib dilakukan adalah sujud. Sujud sendiri adalah sebuah posisi yang sangat utama dalam ritual ibadah sholat. Bahkan dalam sebuah hadits shohih dikatakan bahwa posisi hamba yang paling dekat dengan Allâh adalah posisi sujud, maka hendaknya pada saat itu diperbanyak melakukan doa.  Do’a adalah sumsum dan otak dari ibadah.

Berdasarkan hadits Nabi di atas, maka para ulama pun berkesimpulan bahwa diantara saat-saat yang sangat mustajab untuk memanjatkan munajat doa adalah pada saat posisi sujud. Oleh karena itulah, maka sujud adalah sebuah praktek ritual ibadah yang sangat sakral dan utama, sehingga dalam syari’at yang dibawa Nabi Muhammad tidak diperbolehkan sujud kecuali hanya kepada Allâh ta’ala. Bahkan mempersembahkan sujud kepada selain Allâh adalah termasuk syirik.

Klasifikasi Sujud
Para Ulama melakukan pembagian terhadap makna sujud menjadi dua; pertama : sujud ibadah, yakni sujud yang dilakukan dengan tujuan mengagungkan serta mendekatkan diri kepada Yang disujudi (sujûdu ta’dzîmin wa taqorrub). Sujud dalam makna ini baik dalam syari’at Islam maupun syari’at-syari’at sebelum Islam tidak boleh ditujukan kepada siapapun kecuali hanya kepada Allâh ta’ala saja. Sebab sujud semacam ini dihitung sebagai sujud ibadah, sedangkan ibadah tidak boleh ditujukan kecuali hanya murni dan ikhlas untuk Allâh saja.

Adapun yang kedua adalah : sujud ghairu ibadah, yakni sujud yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan kepada objek yang disujudi (sujûdu tahiyyah wa takrîm).  Sujud dalam makna ini contohnya adalah seperti sujud yang dilakukan oleh para Malaikat kepada Adam atas perintah Allâh kepada mereka sebagai bentuk pemuliaan kepada Adam. Sujud semacam ini tidaklah dianggap sebagai kesalahan atau dosa, namun justru dianggap sebagai bentuk ketaatan malaikat kepada Allâh, sebab mereka melakukan sujud tersebut hanya atas perintah Allâh kepada mereka. Dan kita pun juga tahu bahwa Malaikat adalah makhluk Allâh yang diciptakan untuk beribadah dan taat kepadaNya, serta melakukan ketaatan dan taqorrub ibadah dalam setiap saat dan waktu. Bahkan segala aktifitas malaikat yang dilakukan adalah dinilai sebagai ibadah dan ketaatan, sebab memang ketaatan adalah karakter asli diciptakannya Malaikat.

Sujud Manusia kepada Manusia
Bentuk contoh lain dari sujûd tahiyyatin wa takdzîm adalah sujud saudara-saudara Yusuf kepada Nabi Yusuf.  Sujud mereka ini juga dinilai sebagai sujud penghormatan dan pemuliaan mereka kepada Nabi Yusuf. Hal semacam ini memang dibolehkan dalam syari’at mereka. Adapun dalam syari’at yang dibawa Nabi Muhammad maka hal semacam itu (sujud kepada makhluk) telah di-nasakh (dihapus) sehingga secara mutlak tidak boleh sujud kecuali hanya untuk Allâh saja.

Di samping itu, para ulama telah menetapkan kaidah penafsiran untuk meluruskan pemahaman terhadap ayat yang berkenaan tentang hal tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Dr. Muhammad Abu an-Nur al-Hadidy bahwa para ulama memaknai “Lâm” yang ada dalam ayat “roaituhum Lii sâjidîn” bahwa lam disitu memiliki fungsi “ta’lîl’ yang berarti “karena”, dan bukan berfungsi untuk “ta’diyah” yang berarti “terhadap” atau “kepada”. Imam Fakhrurrozi di dalam kitab tafsirnya “Mafâtih al-Ghoib” mengatakan bahwa inilah tafsir yang paling baik dan layak untuk memahami ayat tersebut. Sehingga sujud saudara-saudara Yusuf dalam ayat tersebut pada esensinya ditujukan kepada Allâh sebagai rasa terima kasih atas jasa Yusuf di dalam menyadarkan mereka terhadap kesalahan yang telah mereka lakukan.

Dalil Larangan Sujud kepada selain Allâh
Ketidak-bolehan sujud kepada sesama makhluk dalam syari’ah Nabi Muhammad ini berdasarkan pada beberapa hadits shahih, diantaranya diriwayatkan bahwasanya Nabi bersabda yang artinya ; “Seandainya aku diperkenankan untuk menyuruh seseorang bersujud kepada sesama orang, maka pasti akan kuperintah para wanita untuk sujud kepada suaminya”. Juga ada riwayat dalam sebuah hadits bahwasanya Nabi melarang Mu’adz ketika ia akan bersujud kepada Nabi pada saat Nabi menyebutkan kepadanya bahwa Ahlul Kitab melakukan ritual sujud kepada para pembesar atau tokoh-tokoh utama mereka.

Ketidak bolehan sujud kepada selain Allâh dalam syari’at Islam pada hakikatnya adalah sebuah bukti akan kesempurnaan syari’at ini, yakni di dalam penguatan serta pemantapan pemurnian tauhid kepada Allâh ta’ala. Sehingga syari’at Islam adalah syari’at yang sempurna dan paripurna dalam segala hukum yang dikandungnya. Hal ini telah ditegaskan Allâh dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 3, yang artinya : “pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, serta telah Ku sempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku ridloi Islam sebagai agama untukmu”. Syaikhul Islam Ibnnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa berkata: “bahwasanya tidak dibolehkan sujud kecuali hanya untuk Allâh saja. Meskipun dalam syari’at sebelum syariat Nabi Muhammad sujud kepada selain Allâh dengan tujuan memuliakan dan menghormati adalah dibolehkan, namun dalam syari’at kita hal itu telah dilarang”.

Ditulis Oleh

Author
Ust. Heri Mahfudhi, Lc
Ghozwul Fikri
Nantikan Ghozwul Fikri berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com