• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Dua hari raya ISLAM, yang sesuai dan dicontohkan Rasulullah

IDUL FITRI  DAN IDUL ADHA,
Dua hari raya ISLAM, yang sesuai dan dicontohkan Rasulullah, memang sudah mentradisi di Indonesia, lengkap dengan kembangannya.
Yang Idul Fitri ada halal bi halal, bahkan berlaku sampai sebulan di bulan Syawal, hanya sayangnya Idul Adha tidak begitu meriah, karena setelah pemotongan kurban seolah hari raya selesai, dan hal itu tidak apa-apa, memang Islam itu sederhana dan simple.

Mestinya ada lagi di hari JUM’AT, juga merupakan hari raya mingguan, meriahkan dengan sholat Jum’at dan memperbanyak shodaqoh, InsyaAllah akan meriah, misalnya  setelah Jum’atan disediakan BANCAKAN makan siang bersama, secara bergiliran dibanding orang membuat-buat bancakan yang dituntun agama Hindu, tentu saja bancakan setiap Jum’at bisa disertai dengan niat untuk bershodaqoh kepada orang tua yang sudah meninggal, Insya Allah pahalanya sampai.

MEMPRIHATINKAN memang di Indonesia, orang membuat-buat Ied – hari raya dengan beragam tema, dan hal itu dikaitkan dengan tholabull ‘ilmu, sehingga seolah-olah BELAJAR ISLAM setiap tahun tetap saja muter, mulai :
  • Tahun baru Hijriyah,
  • Maulud Nabi,
  • Isra’ mi’roj,
  • Nuzulul Qur’an,
  • Idul Fitri – Halal bi halal,
  • Ditambah kreasi-kreasi baru , seperti Indonesia bersholawat sampai ke kampong-kampung dan kampus-kampus.


SAMA SEKALI, tidak ada tuntunan dari Rasulullah.
Apalagi jika pengisi hanya mengajak NYANYI-NYANYI, atau tidak kompeten di agama, orang hanya membuat kesimpulan bagusnya Islam hanya karena titel pembicara, karena lucunya, karena karomahnya, dan lain-lainnya, sehingga arahan Tholabul Ilmi untuk memahami syare’at Islam dengan benar jauh panggang dari api.

Coba saja dikembalikan kepada cara Rasulullah, Hari raya hanya Idul Fitri dan Idul Adha serta Jum’atan, sedangkan tholabul ilmi dilakukan sehari-hari, memang orang Islam wajib belajar ilmu syare’at, karena dalam prinsip Islam  wajib BER ILMU SEBELUM BERAMAL  ( Bahkan di Hadits Buhori dikumpulkan dalam satu bab tersendiri ), dengan pemahaman tholabul ilmi merupakan ikhtiar membangun taman-taman surga, maka Insya Allah kemeriahan dan semarak Islam akan hadir dimana-mana, jangan malah yang benar-benar akan tholabul ilmi diusir dan dibubarkan justru oleh ormas Islam sendiri, memalukan.

KEMERIAHAN ISLAM, justru akan terlihat setiap waktu, ketika JAMA’AH SHOLAT tegak disetiap masjid, dimulai dengan adanya suara adzan, dan itulah syi’ar Islam, kemudian orang menghentikan segala aktifitas dan berbondong-bondong ke masjid untuk jamaah, inilah syi’ar Islam.

Kemudian seminggu sekali, orang bersegera ke masjid, itulah syi’ar Islam, sehingga kalau setiap Jum’at ada saja orang yang membuat bancakan dan dihidangkan setiap selesai Jum’atan, insya Allah keberkahannya jelas akan nampak nyata, dibanding bancakan menggunakan sistem 3 hari, 7 hari, 40 hari dan seterusnya. Namun di Indonesia hal ini  agak sulit berlaku, karena sistem libur HARI AHAD yang dipaksakan Belanda mampu mengarahkan orang-orang di Indonesia untuk menghormati hari MINGGU, sebagai hari ketuhanan orang lain, sehingga kalau hari Jum’at sebagai hari rayanya orang muslim para buruh muslim pun KUYU-KUYU datang dari kantor-kantor dan pabrik-pabrik dengan kondisi pas-pasaan dan mengantuk, Astaghfirullah………….

Mari kita rubah sendiri, hari masuk boleh tetap Jumat, namun begitu jam istirahat kita mandi, pakai pakaian terbaik kita, dan ke masjid dengan gagah, kemudian mendengarkan khutbah dengan segar, dan setelah jum’atan kita sediakan makan siang bersama, secara bergantian. Inilah hari raya kita, sedang hari-hari raya lainnya kita hilangkan atau dikurangi.

NANTI begitu Idul Fitri, kita siapkan energi untuk menyambut hari raya lagi, siapkan kunjungan SILATURAHIM ke tetangga, kepada kerabat dan saudara, sehingga hari raya setelah sholat Ied dengaan meriah, maka semarak hari raya itu berkibar dimana-mana.

KEMUDIAN Idul Adha, selain sholat hari raya juga penyembelihan kurban, kita gerakkan untuk bisa dilaksanakan dimana-mana, ada 4 hari kesempatan – Hari Raya Idul Adha ditambah 3 hari Tasyrik. Dahulu Rasulullah menyembelih kurban sampai 60 ekor kambing, maka jangan enggan untuk kita menyembelih 2 atau 3 ekor kambing, kalau perlu 1 sapi seutuhnya kita sembelih sendiri, tidak perlu dirombong orang ber tujuh.  Inilah hari penyembelihan hanya karena Allah ta’ala, tidak ada penyembelihan selain hanya penyembelihan hari ini ( dan Aqiqoh ), sehingga upacara penyembelihan lainnya wajib dihilangkan ( seperti untuk membangun jembatan, nglarung, untuk makam keramat dan lain-lain wajib dihilangkan ). Insya Allah kita mampu, dengan gaji yang kecil seorang pembantu rumah tangga, mampu berkurban enggan kambing paling besar, waktu itu, sehingga kalau setiap bulan kita sisihkan UANG PULSA  Rp. 200 ribu, Insya Allah setiap tahun kita akan gampang berkurban dengan 1 kambing, daripada uang terbuang untuk koran, pulsa dan lain-lainnya.

SELAMAT MENIKMATI HARI RAYA ISLAM SEBENARNYA, Hari Raya Idul Fitri untuk tahun ini, dan dilanjutkan Idul Adha untuk 2 bulan ke depan, dan jangan lupa untuk JUMATAN sebagai hari raya mingguan kita.  ( MJK ).



Ditulis Oleh

Author
HM. Jatmiko, Ch
Pimpinan BIAS Jogja & YAUMMI Pati
Nantikan tulisan Pak Jat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar