• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan

ALL ABOUT SEDEKAH

Ketika bumi diciptakan, maka bumi berguncang sangat dahsyat. Maka Allâh pun menciptakan gunung dan diletakkan di atas bumi, seketika bumi menjadi tenang. Malaikat yang takjub lalu bertanya: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat dari gunung?’ 

Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu besi.” (Kita tahu bahwa gunung yang sedemikian besar mampu dibelah menggunakan kendaraan berat dari besi).
Malaikat bertanya lagi: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat dari besi?’
Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu api’ (kita tahu bahwa besi akan meleleh jika bertemu dengan api).
 Malaikat bertanya lagi: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat dari api?’
Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu air’ (kita tahu bahwa api akan padam jika bertemu dengan air).
Malaikat bertanya lagi: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat dari air?’
Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu angin’ (kita tahu bahwa air akan terombang-ambing tak berdaya jika bertemu dengan angin).
Malaikat bertanya lagi: ‘Ya Allâh, adakah ciptaan-Mu yang lebih hebat itu semua?’
Allâh berfirman: ‘Ada. Yaitu sedekah yang dikeluarkan oleh seorang hamba dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya tidak mengetahuinya.’

Dialog Allâh dengan malaikat di atas termaktub dalam sebuah hadits qudsy. Yaitu hadits yang lafalnya berasal dari Nabi, tetapi substansi atau maknanya dan isinya berasal dari Allâh SWT. 
Subhanallâh, sedemikian hebatnya sedekah yang dikeluarkan secara sembunyi-sembunyi yang bahkan tangan kiri pun tidak mengetahui sedekah yang dikeluarkan oleh tangan kanannya. Sedekah model ini teramat sulit, maka pahalanya pun tidak main-main. Contoh sedekah secara sembunyi-sembunyi ini adalah kita mengisi pulsa listrik sebuah masjid. 

Silahkan datang ke sebuah masjid, lihat dan catatlah nomor rekening masjid tersebut lalu belilah sejumlah token listrik dan masukkan ke ‘meteran’ listrik masjid tersebut dengan tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Mudah-mudahan dengan begitu kita mendapatkan fadhilah besar atas sedekah sembunyi-sembunyi yang kita lakukan. 

Atau cara lain adalah, belilah sepasang atau dua pasang sandal jepit baru, (atau barang lain yang kira-kira dibutuhkan di masjid) lalu letakkan dan tinggalkan di masjid secara sembunyi-sembunyi. Lakukanlah satu atau dua model sedekah ini dan jangan ceritakan kepada siapa pun!

Mayat ingin bersedekah
Al-Qur'an menyebutkan angan-angan orang muslim yang suka menunda amal shalih di dunia sehingga datang kematiannya, seandainya diberi kesempatan hidup kembali dirinya akan bersedekah dan menjadi orang shalih.
Allâh Subhânahu wa Ta'ala berfirman,
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqûn [63]: 10)

Kenapa dia tidak mengatakan, "Maka aku dapat melaksanakan umroh", atau "Maka aku dapat melakukan shalat atau puasa" atau harapan yang lain-lain?
Berkata para ulama, “tidaklah seorang mayit menyebutkan "sedekah" kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal...”
Perkara yang paling menyelamatkan orang di akhirat adalah iman. Dan sedekah adalah bukti kebenaran iman. Rasûlullâh  Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
والصدقة برهان
“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi Râhimahullâh menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya).”
Sedekah dapat juga membebaskan pelakunya dari siksa kubur. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

‏إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور
“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al-Albani dalam Shahih At Targhib, 873)
Pahala sedekah yang dikeluarkan seseorang akan terus mengalir kepadanya, walau ia sudah berada di liang kuburnya.

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga perkara; salah satunya, shadaqah jâriyah.” (HR. Muslim)
Sedekah juga bisa menyelamatkan pelakunya dari jilatan api neraka. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabada,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Hindarkan dirimu dari neraka walaupun hanya dengan separoh butir kurma, jika tidak ada maka dengan tutur kata yang baik.” (Muttafaq 'alaih)

Sedekahlah Meskipun Sedikit
Keluarkanlah sedekah, walaupun hanya sedikit. Sedekah, berapapun nilainya, memiliki andil untuk menjauhkan kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya. 

Sedekah yang dikeluarkan seseorang akan menaunginya di akhirat. Rasûlullâh  Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di hari kiamat yang tidak ada naungan lain selain dari Allâh di hari itu. Salah satunya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadits lain,
كل امرء في ظل صدقته حتى يقضى بين الناس
“Setiap orang dibawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum diantara manusia.” (HR Ahmad dan Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Maka perbanyaklah bersedekah. Karena sedekah menjadi salah satu sebab utama yang bisa menyelamatkan kita di akhirat. Mumpung kita masih hidup, kesempatan untuk bersedekah terbuka lebar, manfaatkan sebaik-baiknya demi akherat kita. Dan, bersedekah-lah atas nama orang yang sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mereka. Wallahu a’lam

Ditulis Oleh

Author
Muhsin Suny M
Pengisi Selayang Pandang Sinaran
Nantikan artikel berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

PAHLAWAN DI SEKITAR KITA

Kata pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari dua kata, bahasa sangsekerta, pahla dan wan. “Pahla” berarti buah, sedangkan “wan” bermakna sebutan bagi orangnya (bersangkutan). Dulu gelar pahlawan diberikan kepada siapa saja yang mati di medan pertempuran baik mati karena membela bangsa dan negaranya maupun agamanya. Namun di era modern ini gelar pahlawan menjadi lebih luas dan tidak ada batasan yang jelas. Misalnya para Tenaga Kerja Wanita (TKW) disebut sebagai para pahlawan devisa. 

Guru yang mengajar di sekolah diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan seorang pria ataupun wanita yang bekerja membanting tulang demi menghidupi keluarganya disebut sebagai pahlawan keluarga. Karena tidak adanya batasan dari makna pahlawan ini, sempat terjadi perdebatan di kalangan tokoh negeri ini tentang layak kah Soeharto, presiden kedua republik ini diberi gelar pahlawan nasional?

Namun secara umum dapatlah disimpulkan bahwa pahlawan adalah seseorang yang telah berjuang mengorbankan waktu, jiwa dan raganya demi kebaikan orang banyak.

Jika dinisbatkan kepada Islam “Pahlawan Islam” berarti seorang muslim yang berjuang mengorbankan waktu, jiwa dan raganya demi kebaikan (kemuliaan) Islam dan umatnya. Dalam terminologi Islam, seorang muslim atau muslimah yang mati karena membela kehormatan diri, harta, nyawa dan agamanya disebut syahid. Bahkan orang yang mati disebabkan tenggelam atau terkena penyakit dapat pula disebut syahid termasuk seorang ibu yang wafat dalam proses melahirkan.

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan:
“Menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, menceritakan kepada kami Malik dari Sumyyin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah r.a : bahwa Rasûlullâh s.a.w bersabda: Syuhada itu ada lima, yaitu Orang yang mati terkena cacar, orang yang mati karena diare, orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa runtuhan (longsor), dan orang yang syahid di jalan Allâh” (Al-Bukhari, Kitab As-Sayru Wal-Maghazi: 2617)

Sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan pula:
“Dari Abu Hurairah r.a, katanya, Rasûlullâh s.a.w bersabda: Apa yang kalian ketahui tentang syahid?” Sahabat menjawab: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allâh maka dia syahid” Lalu Rasûlullâh s.a.w bersabda: “Kalau begitu syahid di kalangan ummat ku sedikit”, Sahabat berkata lagi, kalau begitu siapakah mereka ya Rasûlullâh? Rasûlullâh s.a.w bersabda: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allâh maka dia syahid, barang siapa yang mati di jalan Allâh, maka dia syahid, barangsiapa yang mati karena cacar maka dia syahid, siapa yang mati terkena diare dia syahid ” (Shahih Muslim, Kitaabul Imaarah:3539)

Terkait dua hadits diatas, Imam Nawawi dalam syarah Muslim menjelaskan, Para ulama berkata: “Yang dimaksudkan syahid diatas adalah selain syahid Fie sabilillah (terbunuh ketika berperang di jalan Allâh), mereka itu di akhirat memperoleh pahala para syuhada. Adapun di dunia, mereka dimandikan dan dishalatkan. Dalam kitab Al-Iman telah dijelaskan masalah ini. Adapun syuhada, terbagi ke dalam Tiga jenis: Syahid dunia dan akhirat, yaitu yang terbunuh ketika berperang melawan kafir, dan syahid akhirat, hukum dunia terhadapnya tidak diperlakukan sebagaimana layaknya orang yang terbunuh di jalan Allâh, mereka inilah yang dimaksudkan syahid (secara umum) dalam hadits ini, dan syahid dunia, yaitu orang yang berperang karena mencari ghanimah dan berpaling dari peperangan”

Pahlawan di Sekitar Kita
Jika yang dimaksud pahlawan adalah ia yang memberikan manfaat bagi orang lain, mengorbankan harta, waktu, dan jiwanya bagi kebaikan orang banyak, maka setiap orang sejatinya bisa menjadi pahlawan. Atau, bahkan sudah menjadi pahlawan. Bisa jadi, seorang ayah kini menjadi pahlawan bagi anaknya. Seorang kakak sudah menjadi pahlawan bagi adiknya. Atau guru menjadi pahlawan bagi murid-muridnya.

Setiap orang diberikan potensi kebaikan. Allâh berfirman, “Maka Allâh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. asy-Syams [91]: 8). Oleh karena itu, setiap orang bisa menjadi pahlawan dengan mengikuti ketakwaan/kebaikan yang diilhamkan kepadanya. 
Melalui potensi kebaikan itu, manusia senantiasa ingin membantu orang lain atau anggota keluarganya. Seperti melakukan satu kebaikan kecil—layaknya yang dilakukan Abdul Rahim—namun berdampak besar. 

Abdul Rahim, seorang supir yang membersihkan paku-paku di jalan dan sering menjadi ranjau bagi pengendara motor/mobil. Bermodal magnet kecil dari mainan usang, tanpa pamrih ia menyisir jalan di Jakarta. Tindakan Abdul Rahim seringkali mendapat cacian dan makian dari pengendara yang merasa terganggu. Namun, dia tetap melakukannya.

Selang beberapa waktu, apa yang dilakukannya berdampak besar bagi para pengendara. Kini, Abdul Rahim dikenal sebagai pencetus Komunitas Sapu Bersih Ranjau. Itulah hal kecil yang mungkin dilihat sebelah mata oleh orang lain. Namun, dengan ketulusan dan rasa ingin menolong orang lain, akhirnya banyak orang merasakan manfaatnya.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita mengikuti potensi kebaikan untuk memberikan kebaikan kepada orang di sekitar. Bukankah kita memiliki tugas sebagai khalifah? Wakil Allâh di muka bumi yang wajib memelihara dan menjaga segala kebaikan di alam ini.

Lebih dari Sekadar Pahlawan
Tujuan hidup seorang muslim adalah ridha Allâh. Bukan pujian atau sanjungan. Bukan pula plakat yang menggantung di rumah sebagai pengingat. Atau sebuah piagam penghargaan yang dipajang di ruang tamu agar orang lain bisa melihat.

Umat muslim adalah mereka yang mengejar hidup dan mati sebagai syahid. Menjadi sebaik-baiknya manusia dengan bermanfaat bagi orang banyak. Yakni mengikuti potensi kebaikan yang dimiliki dan menggunakan segala anugerah yang diberikan oleh-Nya. 

Menjadi lebih dari sekadar pahlawan bisa dimulai dengan memberikan cinta yang tulus kepada orangtua. Merekalah yang menjadi pahlawan kita sesungguhnya. Betapa beratnya perjuangan seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan. Kemudian berada di antara hidup dan mati ketika melahirkan. Belum lagi merawat bayi yang seringkali membuatnya tidak cukup tidur/istirahat.

Kita tentu tidak lupa dengan perjuangan ayah yang bekerja keras demi kehormatan keluarganya. Mengais rezeki siang dan malam demi biaya pendidikan anak-anaknya. Menjemput karunia Allâh demi menjaga perut keluarganya agar tetap kenyang. 

Begitu pula sosok yang tulus, yang tidak jarang kita temui saat di lampu merah. Seperti tukang becak yang membantu anak-anak SD menyeberang. Atau anak SD yang membantu nenek-nenek menyeberang jalan. 

Sekali lagi, setiap orang bisa menjadi pahlawan. Bahkan lebih dari sekadar pahlawan, yakni dengan melakukan kebaikan sekecil apa pun untuk orang di sekitarnya. Bagi seorang muslim, menjadi lebih dari sekadar pahlawan adalah dengan menujukkan segala kebaikan dan pengorbanan hanya untuk meraih rida Allâh.

Marilah jalani hidup ini dengan menjadi pahlawan sesuai kapasitasnya masing-masing. Semoga Allâh selalu meridai apa yang kita lakukan, sekecil apa pun nilainya di mata manusia. Wallâhu ’alam

Ditulis Oleh

Author
Muhsin Suny M
Pengisi Selayang Pandang Sinaran
Nantikan artikel berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Hadapi Istri Yang Cerewet Dan Suka Marah

IBU PULANGLAH

Suatu hari di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ada seorang lelaki yang ingin mengadu kepada beliau tentang istrinya yang cerewet dan suka marah-marah. Ketika lelaki itu sampai di pintu rumah Umar bin Khaththab betapa terkejutnya lelaki tersebut karena ternyata di saat yang sama Umar Sang Khalifah ternyata juga sedang dimarahi oleh istrinya. Maka lelaki itu pun beranjak pergi.

Tak disangka beberapa saat kemudian Umar keluar dari pintu rumahnya. Melihat ada seorang lelaki baru saja meninggalkan pintu rumahnya beliau pun memanggil si lelaki tersebut.
“Wahai saudaraku, sepertinya engkau ada perlu denganku?”
“Betul wahai khalifah. Saya datang kemari bermaksud untuk mengadukan istri saya yang cerewet dan suka marah-marah. Namun sesampainya di sini ternyata engkau pun sedang dimarahi pula oleh istrimu. Lalu apa gunanya saya mengadu, kalau kau pun memiliki masalah yang sama dengan aku?”
Apa jawaban Umar dalam hal ini? Sungguh menarik, anda para ibu dan kaum wanita pada umumnya harus mencatat kalimat ini. Kalimat yang diucapkan oleh Sang Khalifah sangat menarik untuk direnungkan. Kalimat yang ringkas, padat tetapi penuh hikmah. Berikut kalimat yang beliau sampaikan kepada lelaki tersebut:

“Wahai saudara, sesungguhnya dialah (istriku) yang telah memasak makananku, dialah yang membuatkan adonan roti untukku, dialah pula yang telah mencucikan baju-bajuku dan dialah yang menyusui anak-anakku.”

Mari kita ingat dan kita catat, ada 4 hal yang disampaikan Umar:

  1. Istri Umar telah memasakkan makanan untuk beliau.
  2. Istri Umar telah membuat adonan roti untuk beliau.
  3. Istri Umar telah mencucikan baju-baju beliau.
  4. Dan yang terakhir istri beliau telah menyusui anak-anak beliau.

Dalam bahasa sederhananya, point 1 & 2 adalah urusan dapur, point 3 adalah urusan sumur dan point 4 adalah urusan kasur. Subhânallâh….Ini bukan hal yang sederhana. Inilah sebuah kemuliaan para ibu. Bahwa sumur, dapur dan kasur adalah sesuatu yang sangat istimewa di mata Umar bin Khaththab. Oleh karena itulah beliau diam dan tidak membalas ketika mendapatkan perkataan yang kurang mengenakkan dari istri beliau sendiri. Betapa karena beliau sangat menghargai jerih payah istri beliau di rumah. 

Di zaman sekarang ini, betapa kita saksikan sudah terjadi pergeseran yang luar biasa. Berapa banyak ibu yang mampu memasak makanan untuk keluarganya? Berapa banyak ibu yang mau mencucikan baju-baju anggota keluarga? Dan berapa banyak ibu yang rela dan sudi menyusui anak-anaknya? Semua pekerjaan itu di zaman ini sudah digantikan oleh pembantu rumah tangga. Meskipun seorang ibu berpendidikan S2 atau S3, tetapi anak-anak mereka dirawat dan didik oleh wanita yang tamatan SD. Meski dia mampu memberi ASI eksklusif, tetapi dia cukup puas memberikan susu sapi untuk anak-anaknya.

Dan perlu kita ingat kalimat penutup Umar yang beliau sampaikan kepada lelaki tersebut, sungguh luar biasa:
“Sabarlah saudaraku. Sesungguhnya itu (marah-marah dan cerewet) hanya sesaat dan pasti akan hilang.”
Artinya kemarahan istri biarkanlah diluapkan semua, setelah tumpah semua maka kemarahan itu akan pergi dan pasti akan menghilang. Inilah kesebaran tingkat tinggi yang dimiliki oleh seorang Umar. Seorang Shahabat Nabi yang gagah berani menghadapi musuh, seorang mantan preman yang sangat ditakuti, dan bahkan syetan pun takut berpapasan dengan beliau. Tetapi beliau teramat sangat sabar menghadapi istrinya.

Di zaman ini apa yang terjadi? Ketika seorang istri marah, justru seorang suami lebih marah lagi. Maka marah ketika dilawan dengan marah justru akan semakin mengobarkan api syetan. Api ditambah dengan api akan menjadikan api itu semakin besar. Api harus dilawan dengan air agar api itu padam. Demikianlah yang dilakukan oleh Umar, beliau bersabar dalam menghadapi kemarahan istrinya. 

Kalau marah dilawan dengan marah dan berlangsung terus menerus maka tidak akan ada lagi kalimat baiti jannati (rumahku adalah surgaku) yang ada adalah rumahku adalah nerakaku. Naudzubillâhi min dzâlik. Kapal rumah tangga pun pada saat itu mulai retak dan akan karam jika tidak segera diselamatkan. 

Ayat yang Ditolak Wanita
Ada satu ayat yang pada zaman ini banyak ditolak oleh para wanita, yaitu Surah al-Ahzab ayat 33:
وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى وأقمن الصلاة وآتين الزكاة وأطعن الله ورسوله إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 33)

Dalam sebuah bagian shirah diceritakan bahwa saat usai perang Jamal, dimana istri Nabi Muhammad SAW, ‘Aisyah r.a, turut serta dalam perang itu. Beliau menangis tersedu-sedu ketika membaca ayat ini. Beliau membaca ayat ini berulang ulang, terus menerus dan terus menerus. Setiap beliau mengulangi bacaan ayat ini di saat itulah ‘Aisyah menangis tersedu-sedu. Beliau menyesal, mengapa tidak menetap di rumah saja, mengapa harus ikut berperang.

Kalimat perintah Allâh di ayat ini sudah sangat teramat jelas, wa qarna fî buyûtikunna, menetaplah kalian para wanita di rumah-rumah kalian. Artinya bahwa wanita memang diperintahkan Allâh untuk di rumah. Bukan di pabrik-pabrik, di kantor-kantor, di mall-mall, di counter-counter dan seterusnya. Inilah yang pada zaman ini ditolak oleh para ibu dengan berbagai alasan. Sebuah survey menyebutkan bahwa 42 % wanita memilih untuk TIDAK tinggal di rumah mereka, MESKIPUN mereka tidak memiliki masalah keuangan. Subhânallâh…

Alasan ingin mengekspresikan ilmunya di masyarakat atau alasan bahwa wanita pun memilliki hak yang sama dengan lelaki untuk mengenal dunia luar, dan seterusnya. Padahal Allâh sudah jelas berfirman bahwa wa laisa dzakaru kal untsa, lelaki itu tidaklah sama dengan wanita. Maka dari itu hak dan kewajiban mereka pun tidak akan sama. Karena itulah Allâh meletakkan dan mengatur bahwa tugas para wanita adalah di rumah, manager rumah tangga yang bertanggungjawab terhadap kehidupan rumah tangga.

Marilah kita semua introspeksi, apakah karena melanggar aturan Allâh ini, kita dan keluarga kita bermasalah. Maka ibu….pulanglah. suamimu ingin mereguk minuman manis di telaga cintamu. Ibu….. pulanglah, karena di luar sana sangat tidak ramah untuk kelembutanmu. Ibu…..pulanglah, istanamu menunggu sentuhan surgawimu. Ibu…..pulanglah, calon orang besar sudah menunggu dengan duduk manisnya, siap belajar di madradah cintamu.
Ibu…..pulanglah, calon pemimpin masa depan ummat ini hanya ingin mendapatkan tatapan teduh matamu. Ibu…..pulanglah, karena Allâh yang memerintahkan para ibu untuk pulang. Ibu…..pulanglah, sebelum semuanya terlambat.

Ditulis Oleh

Author
Muhsin Suny M
Pengisi Selayang Pandang Sinaran
Nantikan artikel berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

WASPADA LGBT

Akhir-akhir ini ramai dibicarakan dimana-mana perihal LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender). Inilah penyakit akhir zaman, barangkali. Marilah kita bentengi keluarga kita dan orang-orang yang kita sayangi, agar terhindar dari penyakit menular LGBT ini. Tidak seperti dulu, orang-orang pengidap penyakit LGBT ini sudah mulai berani menampakkan diri. Kunci yang bisa kita petik adalah karena mereka teroganisir secara rapi. Ada pepatah indah yang harus selalu kita ingat, “kejahatan yang terorganisir secara rapi akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.”
Petuah kedua yang perlu juga kita ingat adalah, “kejahatan akan merajalela manakala orang-orang baik tidak mau bersuara.” Penyakit zaman kita saat ini adalah fenomena adanya orang-orang yang baik namun diam saja melihat kemungkaran. Maka, si pembuat kemungkaran pun merajalela dan bebas sebebas-bebasnya berbuat kemungkaran. Padahal jaminan Allâh,

وقل جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا

“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 81)

Maka kita harus bertindak, kita harus bersuara. Karena kita di fihak yang benar. Perhatikanlah saudara-saudara kita orang-orang nashrani begitu bersemangatnya mengajak masyarakat masuk neraka. Masak kita kalah dengan mereka. Padahal jalan kita jelas menuju Surga. Sekecil apapun tindakan atau suara kita, pasti akan mendapatkan pahala dari Allâh SWT. Jangan sampai muncul kejahatan yang merajalela akibat sikap diam kita.

Propaganda Massif
Kalau berperilaku LBGT dan dinikmati sendiri oleh pelakunya barangkali tidak membuat resah masyarakat. Akan tetapi yang terjadi saat ini adalah propaganda alias kampanye massif tentang LGBT ini, yang goalnya, kata Fahira Idris (Anggota DPD RI), adalah dilegalkannya kawin sejenis di Indonesia sebagaimana yang sudah terjadi di Amerika dan 20 negara lain. Para pegiat LBGT ini menyebarkan propaganda bahwa LGBT itu biasa, LGBT itu pilihan, LGBT bukan penyakit dan seterusnya. Dan masya Allâh, menteri sosial Khofifah Indar Parawansa bahkan mengatakan bahwa ada semacam proyek rekayasa sosial dengan menciptakan manusia-manusia LGBT baru secara cepat. Astaghfirullâh. Inilah yang harus kita sadari dan kita lawan, jika kita tidak ingin musnah karena adzab dari Allâh.

Puluhan tahun yang lalu Amerika sama dengan kita sekarang, gigih menolak LGBT. Namun lihatlah sekarang, mereka pun akhirnya menyerah dan mensahkan alias melegalkan kawin sejenis ini. Sebuah perbuatan keji yang bahkan hewan pun tidak mau melakukannya. Kata Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, “Anjing yang paling bodoh sekalipun tidak mau kawin sesama jenis, lha kok ada manusia yang mau kawin sesama jenis. Artinya manusia ini lebih bodoh dari anjing yang bodoh.”

Bertahun-tahun para pengidap LGBT ini berjuang tak kenal lelah. Dan perjuangan mereka mendapatkan secercah harapan pada tahun 2006 dimana terjadi pertemuan para pegiat HAM di Yogyakarta (The Yogyakarta Principles: on the Application of International Human Rights Law in relation to Sexual Orientation dan Gender Identity). Piagam Yogyakarta inilah yang selalu menjadi kitab suci para pengidap LGBT untuk melakukan kampanye dan propaganda. Piagam ini menjadi pegangan para pengidap LGBT di seluruh dunia. Sebuah kecelakaan sejarah yang membuat kita prihatin.

Tahun 2005, sekelompok mahasiswa di Semarang menerbitkan buku berjudul “Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-Hak Kaum Homoseksual (Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama/elSA, 2005). Buku ini bahkan secara terperinci memaparkan strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia, yaitu (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh Negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah, sehingga masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual untuk merebut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No. 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita. (Hal. 15)

Dan rupanya langkah serta strategi di atas sudah mulai tampak berjalan dan terorganisir secara rapi. Komunitas-komunitas LGBT sudah terbentuk dimana-mana, kampanye ke masyarakat agar tidak lagi jijik terhadap homoseksual massif dilakukan, tafsiran ulang kisah kaum Sodom juga sudah dilakukan, dan usulan perubahan UU Perkawinan juga sudah pernah disampaikan. Sekarang tinggal kita, apakah mau tinggal diam, ataukah ikut berpartisipasi menentang LGBT ini. Kita harus sampaikan di media sosial, saat pertemuan RT, atau dimana pun dan kapan pun ada kesempatan harus kita sampaikan. Demi anak keturunan kita, dan demi mencegah murka Allâh berupa adzab yang sangat pedih. 

Belajar dari Kaum Sodom
Ada yang harus selalu kita ingat tentang adzab-adzab yang pernah Allâh turunkan kepada ummat manusia agar kita tidak mengalami hal yang serupa. Jangan seperti orang-orang Liberal yang justru mengulang perkataan-perkataan orang-orang kafir zaman dahulu, yaitu menantang Allâh agar segera menurunkan adzab. Na’udzubillâhi min dzâlik.

Pernyataan Ulil Abshar Abdalla, yang menantang Allâh agar menurunkan adzab, sama dengan pernyataan kaum-kaum penentang kebenaran yang diceritakan Allâh dalam al-Qur’an. Berikut ini salah satunya:
وإذ قالوا اللهم إن كان هذا هو الحق من عندك فأمطر علينا حجارة من السماء أو ائتنا بعذاب أليم

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih". (QS. Al-Anfâl [8]: 32)

Kaum Sodom adalah ‘pencetus’ perilaku keji homo dan lesbi. Disebutkan dalam al-Qur’an bahwa perilaku ini sama sekali belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum mereka. Mari kita simak bersama:
ولوطا إذ قال لقومه أتأتون الفاحشة ما سبقكم بها من أحد من العالمين

“Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" (QS. Al-A’râf [7]: 80)

Nabi Luth sudah memperingatkan kaumnya agar berhenti berbuat homo dan lesbi namun kaumnya menolak dengan kasar, bahkan mengancam akan mengusir Luth dari kota itu. Akhirnya datanglah adzab Allâh sebelum fajar menyingsing. Luth dan pengikutnya diselamatkan Allâh, sedang istrinya ikut mati terkena adzab dikarenakan dia termasuk orang yang menentang dakwah suaminya. Inilah cerita yang benar tentang adzab yang menimpa kaum Sodom. Yaitu dikarenakan mereka melakukan perbuatan keji yaitu berhubungan seks sesama jenis (LBGT). 

Namun, namanya syetan, selalu saja berbuat onar dengan merusak pemahaman manusia tentang ayat Allâh. Inilah yang menimpa orang-orang Liberal. Kasihan sekali mereka diperbudak oleh nafsu syetan. Mereka mengatakan bahwa adzab yang turun kepada kaum Sodom bukanlah karena perbuatan homo dan lesbi mereka, tetapi karena mereka tidak mau menikahi putri Nabi Luth yang ditawarkan Luth kepada mereka. Astaghfirullâh. Padahal kalau kita membaca sekian banyak ayat (di berbagai surah di al-Qur’an) yang menceritakan tentang peristiwa ini pasti kita bisa menangkap kisah tersebut secara jelas dan gamblang. Catatannya hanya satu, di hati kita tidak ada penyakit.

Kalau di hati kita ada penyakit, maka pesan kebenaran apapun yang disampaikan Allâh dalam al-Qur’an akan tertolak oleh nafsu. Mereka yang diperbudak oleh nafsu syetan tidak akan menerima tafsiran yang akan mengebiri nafsu mereka. Semua ayat harus dipelintir agar nafsu mereka bisa terakomodir. Bahkan para ulama tafsir pun tidak mereka pakai tafsirannya.

Hal ini mengingatkan kita agar hati-hati memilih kawan dan komunitas. Agar kita tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang ayat al-Qur’an dan nash al-Hadits. Sekali lagi mari berbuat agar Allâh melihat perbuatan kita. Bahwa kita sudah berusaha mencegah penyakit ini. 

Sebagai penutup. Ada kisah menarik yang perlu kita renungkan. Saat Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud, ada seekor semut yang membawa sebutir air mendekati perapian Nabi Ibrahim. Seekor burung yang melihatnya bertanya, “untuk apa kamu bawa sebutir air itu?”
“Ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar kekasih Allâh, Ibrahim, “ jawab sang semut.
“Hahaha… tak akan ada gunanya air yang kamu bawa itu,” kata burung.
“Aku tahu. Tetapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku berada.”
Wallâhu a’lam bis showab. Di pihak manakah anda? Jangan hanya diam!


Ditulis Oleh

Author
Muhsin Suny M
Pengisi Selayang Pandang Sinaran
Nantikan artikel berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Jangan Lagi Berdebat Tentang Qunut

Bahaya tentang sekte Syiah sudah di depan mata kita. Menurut sumber yang terpercaya, saat ini Syiah di Indonesia sudah menulis 100 nama tokoh (salah satunya adalah Ust. Farid Achmad Okbah) yang akan dibantai sebelum mereka melakukan revolusi di Indonesia. 

Mari rapatkan barisan. Jangan lagi berdebat tentang qunut atau tidak qunut, bismillah jahr atau sirr, tahlil atau tidak tahlil, maulid atau tidak maulid.Sudah bukan masanya ummat Islam berdebat tentang hal yang sejak zaman dahulu dan sampai kapan pun tidak mungkin terselesaikan.Ingat di depan kita ada musuh yang teramat sangat berbahaya, yaitu Syiah.

Musuh Bersama
Mari kita jadikan Syiah sebagai musuh bersama ummat Islam.Jangan sampai genosida yang mereka lakukan di Suriah mereka lakukan juga di negeri ini.Dulu ummat Islam di Suriah tidak begitu menggubris peringatan tentang bahaya Syiah, sehingga sekarang mereka baru merasakan bahwa Syiah itu aliran agama yang sangat kejam dan tidak manusiawi alias sangat biadab.Bahkan kalau dibandingkan dengan kebiadaban Yahudi sekalipun, Syiah ini lebih kejam dan biadab.Saat terjadi perang di Irak orang-orang Syiah melakukan pembantaian. Siapapun warga Irak yang memiliki nama Abu Bakar, Umar, Utsman atau Aisyah langsung mereka penggal kepalanya. Hal yang tidak dilakukan oleh orang Yahudi saat bertemu dengan orang yang memiliki nama Hitler.

Mengapa kita harus menjadikan Syiah sebagai musuh bersama ummat Islam?Karena Syiah sendiri sudah menyatakn anti-Islam. Emilia Renita, istri dari dedengkot Syiah di Indonesia Jalaludin Rahmat, sudah menyatakn dengan terang benderang di status fesbuknya bahwa Syiah bukan Islam. Tuhan Syiah juga tidak sama dengan Tuhan agama Islam. Artinya Syiah ini bukan bagian dari Islam.Dan yang terpenting adalah kita harus belajar dari sejarah tentang bagaimana bencinya Syiah kepada Islam.Maka sudah seharusnya kita menjadikan Syiah sebagai musuh bersama.

Jebakan Syiah
Kita harus waspada dengan agenda Syiah yang berusaha memperbanyak anggotanya di negeri ini.Cara pertama yang mereka pakai tentu saja dengan ber-taqiyah, yaitu berpura-pura menjadi penganut Ahlus Sunnah.Mereka tidak menampakkan ke-Syiah-an mereka.Sebagaimana yang terjadi di Ponpes YAPI Bangil Jawa Timur. Bertahun-tahun ummat Islam tertipu dengan pesantren ini yang bertaqiyah sebagai pesantren Ahlus Sunnah. Dan syukurlah kebohongan itu pun akhirnya terbongkar, bahwa ponpes YAPI Bangil adalah ponpes Syiah.

Setelah mereka bertaqiyah, mereka akan merekrut anggota dengan cara memberikan materi ajar tentang kecintaan kepada Nabi secara berlebihan. Kecintaan kepada Ahlul bait secara berlebihan. Dan jika materi ini berhasil, maka mereka akan sampaikan riwayat-riwayat palsu, hadits-hadits palsu yang mendeskreditkan para shahabat. Dari sini mereka akan menanamkan kebencian kepada para shahabat nabi terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Cara jitu lainnya yang dipakai oleh Syiah dalam merekrut banyak anggota adalah zina mut’ah. Bahkan dikatakan bahwa mereka yang mau melakukan zina mut’ah maka akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Dari jebakan ini, banyak sekali lelaki yang tergiur untuk masuk ke dalam agama Syiah.Syiah tahu bahwa zaman akhir adalah zaman dimana manusia semakin suka untuk memperturutkan nafsu mereka. Ironisnya di saat yang sama, kaum muslimin ahlus sunnah dicemooh ketika melakukan sunnah poligami. Padahal poligami adalah sunnah thoyyibah yang dicontohkan oleh Nabi (bahkan kekasih Allâh, Nabi Ibrahim as juga berpoligami), dan lazim dilakukan oleh para shahabat.

Kebrutalan Syiah
Tidak dapat disangsikan agama Syiah adalah agama penjagal, agama pembasmi manusia.Selain di Irak, fakta-fakta kebrutalan Syiah di Suriah yang dipimpin oleh rezim Assad juga terjadi. Ada banyak bukti yang bisa kita saksikan di internet.Bagaimana seorang wanita dilempar ke jalan setelah ditelanjangi dan diperkosa oleh tentara-tentara setan Assad.Padahal ia adalah gadis muslimah yang selalu menjaga auratnya. Kaum muslimin tidak berani mendekat, hanya meratap dari balik tembok rumah mereka.Ketika datang seorang pemuda memberanikan diri hendak menyelamatkannya, ia diberondong peluru hingga tewas. 

Ada pula seorang pemuda yang dipaksa untuk mengucapkan “Laa ilaaha illa Bashar” (Tiada Tuhan selain Bashar al-Assad). Namun ia bergeming dan diam seribu bahasa. Ia masih memegang tauhid bahwa Tuhannya hanyalah Allâh, bukan yang lain, apalagi manusia. Maka ia pun dikubur hidup-hidup oleh tentara jahat Syiah Bashar al-Assad. 

Anak-anak usia 2 sampai 3 tahun dikumpulkan di satu tempat, lalu satu per satu mereka digorok dengan pisau dan tewaslah anak-anak tak berdosa itu di tangan tentara Syiah Assad. Para wanita diperkosa di depan anak-anak dan suami mereka. Pria disembelih dan dipotong-potong di depan istri dan anak-anak mereka. 

Masjid-masjid kaum muslimin dihancurkan, diratakan dengan tanah.Lalu disana dikibarkan bendera bertuliskan “Yaa Hussein”.

Di tanah Syam, dimana shahabat Khalid bin Walid dimakamkan. Syam bumi yang diberkahi.Di sanalah kelak seluruh manusia dikumpulkan pada Hari Kiamat.Mereka anak-anak kita disembelih secara brutal.Mereka saudara-saudara kita dibantai dengan kejam tanpa ampun. Sungguh kita tidak boleh tinggal diam. Jangan sampai Syiah juga melakukan hal yang sama di negeri ini Indonesia. 

Mengapa Hanya Husein?
Kita harus tahu, mengapa Syiah senantiasa memuja dan menyembah Husein saja dan tidak mencintai anak-anak Fatimah yang lain? Berikut daftar nama anak kandung laki-laki dari Ali bin Abi Thalib r.a:

  1. Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
  2. Husein bin Ali bin Abi Thalib.
  3. Muhsin bin Ali bin Abi Thalib.
  4. Abbas bin Ali bin Abi Thalib.
  5. Hilal bin Ali bin Abi Thalib.
  6. Abdullah bin Ali bin Abi Thalib.
  7. Jakfar bin Ali bin Abi Thalib.
  8. Usman bin Ali bin Abi Thalib.
  9. Ubaidillah bin Ali bin Abi Thalib.
  10. Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib.
  11. Umar bin Ali bin Abi Thalib.

Dan selama ini kita tidak pernah melihat bendera bertuliskan “Ya Hasan”, “Ya Muhsin”, atau putra-putra Ali yang lain. Kita hanya mendapati bendera Ya Husein. Padahal Hasan bin Ali bin Abi Thalib lahir juga dari rahim Fatimah. Mengapa hanya Husein yang disembah?

Dan, tahukah anda bahwa 12 imam Syiah itu seluruhnya berasal dari keturunan Husein saja? Syiah hanya mensakralkan Husein saja, dan tidak mensakralkan Hasan atau anak-anak Ali bin Abi Thalib yang lain. Jawabannya adalah karena Husein menikahi wanita Persia Iran, putri dari Raja Yazdegerd yang bernama Shahrbanu atau yang dikenal dengan namaSyahzinan. Ketika itu Persia ditaklukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, putra-putri raja Persia ditawan. 

Saat itu Umar menghadiahkan putri sang Kaisar yang bernama Syahzinan kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib. Dan Husein pun menikahi wanita ini.Oleh karena itulah Syiah begitu mensakralkan Husein dan para imam Syiah yang terlahir dari Syahzinan berdarah Persia. Artinya mereka mencintai keturunan raja mereka yang berdarah Persia, bukan mencintai ahlul bait atau keturunan Nabi. Jadi jika mereka mengaku mencintai ahlul bait, ini adalah omong kosong belaka.

Hakekatnya, mereka sangat mencintai ahlul bait kaisar Persia yang menjadi moyang 12 imam yang kesemuanya berasal dari ibu berdarah Persia. Mereka sangat fanatik dalam mencintai dan memuja kakek anak-anak Husein, bukan sang Nabi saw yang berasal dari Arab. Imam-imam yang mereka sakralkan dan mereka anggap maksum satu level dengan nabi itu hanyalah imam-imam yang berasal dari keturunan raja Persia, tidak ada satupun yang berasal dari Arab. Dan sejarah pun telah membuktikan betapa sekte Syiah ini teramat sangat benci kepada Arab.

Pernah dalam sejarah, selama setahun lamanya tidak ada orang yang mengunjungi Ka’bah, baik untuk menunaikan Haji maupun Umroh.Pada masa itu, orang Syiah di bawah pimpinan Abu Thohir.Meskipun namanya Thohir yang berarti suci, tapi di bawah pimpinannya justru dialah yang mengotori Makkah.Air zamzam pada zaman itu berubah warnanya menjadi warna darah, akibat tindakan Syiah ini.Sekte Syiah ini menguasai Makkah dan menyatakan bahwa ibadah Haji adalah suatu amalan yang menyesatkan.Sehingga siapapun orang yang berhaji dibunuh oleh orang Syiah pada zaman itu.Mereka berdiri di perbatasan Makkah untuk membunuh siapapun yang datang ke Makkah dalam rangka ibadah Haji.

Dan orang yang sudah berada di Makkah, mereka bantai lalu mayatnya dilemparkan ke sumur zamzam.Dan bahkan mereka merusak pintu Ka’bah, melepeaskan kiswahnya lalu merobek-robek dan mencuri Hajar Aswad.Mereka mencongkel Hajar Aswad hingga pecah, membawa Hajar Aswad ke negeri mereka. Lama sekali Ka’bah tidak memiliki Hajar Aswad akibat perbuatan mereka ini. Dan sungguh luarbiasa, di pinggir Ka’bah, mereka orang-orang Syiah ini, menantang: “Mana nih burung ababil! Ayo turun kalian.”Itulah kebiadaban Syiah, sejarah demi sejarah telah membuktikan.Ini bukan fiksi, tapi fakta.Inilah agama yang paling kejam saat ini.Musuh nyata ummat Islam.

Selamanya Syiah akan benci kepada Arab, dimana Rasul dan para shahabat dilahirkan. Bohong besar, kalau mereka mencintai ahlul bait.Bahkan meskipun mereka pergi untuk “haji”, namun bukan untuk beribadah.Yang mereka lakukan di tanah suci adalah untuk membuat kekacauan. Lafal yang mereka lantunkan pun bukan “labbaikallahumma labbaik”, akan tetapi yang mereka ucapkan adalah “labbaika ya husein, labbaika ya husein.”Pada hari ini, siapa saja yang benci kepada segala hal yang berbau Arab, jangan-jangan mereka adalah bagian dari sekte Syiah.Padahal Islam diturunkan di tanah Arab, al-Qur’an berbahasa Arab, ibadah sholat dianggap sah jika dilafalkan dengan bahasa Arab. Waspadalah! @muhsinsuny.

Madrasah Ramadhan

Alhamdulillah kita berjumpa kembali dengan Ramadhan. Saatnya kita meminimalkan emosi kita dan memaksimalkan ibadah kita. Inilah bulan yang penuh berkah, sungguh teramat rugi bagi mereka yang melewatkannya begitu saja. Apa lagi malah justru berfoya-foya di tempat keramaian sementara kaum muslimin lainnya sibuk melaksanakan sholat Tarawih berjama’ah. Puasa mestinya tidak sekedar menahan lapar – haus dan nafsu di siang hari lalu mengumbar nafsu di malam harinya, tetapi mestinya kita menjalani bulan Ramadhan sebagai syahruttarbiyah sebulan penuh, tahan lapar - hausnya, tahan nafsu hewaninya, dan optimalkan ibadah kita.

Mengapa Qomariyah?
Sebagaimana kita ketahui bahwa kewajiban puasa ini dilaksanakan pada bulan Ramadhan yang merupakan bulan Qomariyah, bukan bulan Syamsiyah. Bulan Qomariyah lebih sedikit 10 hari daripada bulan-bulan Syamsiyah. Sesuai dengan ini maka dalam waktu 36 tahun berarti tidak ada hari sepanjang tahun yang tidak dipuasai oleh seorang muslim. Hari pendek, hari panjang, hari panas, dan hari dingin dalam tahun tersebut. Dengan demikian, seluruh kaum muslimin berbagi sama di setiap negerinya dalam kadar puasa dan kelelahannya. Seandainya tidak seperti itu, maka bagian penduduk daerah panas akan lebih berat daripada penduduk daerah dingin, kalau menggunakan bulan Syamsiyah yang tak pernah berubah. Begitu juga akan ada sebagian penduduk yang berpuasa pada siang yang panjang sepanjang masa, sementara yang lainnya sangat pendek. Tetapi dengan bulan Qomariyah setiap muslim dalam satu putaran telah mengalami beratnya puasa sebagaimana orang lain (di wilayah lain) pernah mengalaminya. Buah-buahan dan berbagai jenis makanan ada musim-musimnya. Dengan puasa di Bulan Ramadhan orang akan kembali menikmati, dalam waktu tertentu, setiap jenis buah-buahan dan makanan tersebut selama putaran waktu yang sempurna. Sebaliknya, orang tidak akan terhalang, di sepanjang masa, dari menikmati satu macam buah-buahan atau makanan di bulan puasa.

Syahwat Perut dan Syahwat Bawah Perut Dua hal inilah yang paling susah dikendalikan oleh manusia. Maka Alloh melatih kita untuk mengendalikannya di bulan Ramadhan. Kita dilarang makan dan minum serta melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan. Sesuatu yang biasanya halal di bulan lain ini menjadi haram di bulan Ramadhan. Sesuatu yang awalnya halal saja diharamkan, apalagi yang sudah jelas-jelas haram? Maka amatlah sangat wajar jika banyak bermunculan wacana di beberapa pemerintah daerah yang memerintahkan agar tempat-tempat hiburan ditutup selama bulan Ramadhan. Orang yang selalu dalam keadaan kenyang akan mengakibatkan seluruh organnya dalam kondisi sarat potensi dan nafsu. Menahan jiwa dari nafsu makan akan mengurangi potensi hewaninya dan berlatih untuk disiplin di jalan yang benar. Rasulullah bersabda, tidak ada tempat yang paling buruk, selain perut yang selalu penuh dengan makanan. Sebagaimana mesin yang butuh di-tune up, demikianlah pula tubuh manusia butuh istirahat.

Berlatih Sabar Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar, demikian firman-Nya di dalam al-Qur’an. Di bulan inilah saatnya kita melatih diri untuk bersabar atas apapun yang menimpa diri kita. Di sebagian wilayah di bumi ini ada saat kaum muslimin yang berpuasa sampai 23 jam. Kita bisa membayangkan bagaimana susahnya mereka menahan nafsu dan selalu bersabar dengannya. Ada pula kaum muslimin yang mengalami siang hanya 1 jam dan malam 23 jam. Dia pun harus bersabar untuk melihat matahari pagi.

Terkadang ada orang yang mengatakan, ‘sabar kan ada batasnya’. Jika ada orang yang mengatakan seperti ini, menurut saya dia belum berhasil bersabar. Sabar itu tidak terbatas. Kalau ada anggapan sabar itu terbatas, berarti kemampuan kesabaran orang itu hanya sampai batas itu saja. Di al-Qur’an sendiri diungkapkan sampai 3 ( tiga ) perintah : ishbiru, washobiru, warobithu. Artinya perintah sabar ini bukan main-main. Maka benar jika Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.

Madrasah bernama Ramadhan
Pada hakikatnya Ramadhan merupakan madrasah, jika orang yang berpuasa pandai memanfaatkannya. Mereka akan menjadi manusia baru, tidak seperti sebelumnya. Ramadhan adalah madrasah tempat seorang muslim memperbarui ikatan-ikatan Islam pada dirinya dan mengambil bekal yang dapat menutupi segala kekurangan sebelumnya. Ramadhan adalah sebuah latihan bagi kaum muslimin untuk menyambut dunia baru dan meninggalkan dunia lama. Dunia yang penuh dengan semangat baru dan ruh baru. Dan hal itu hanya dapat kita raih dengan cara beribadah secara maksimal di bulan ini : berpuasa secara benar, qiyamullail, zikir, doa, tilawah al-Qur’an, infaq, sabar, dan istighfar.

Tidak seperti di bulan lain, di bulan ini kita ‘dipaksa’ untuk bangun dini hari untuk menyiapkan acara sahur. Inna fissahuuri barokah, di dalam sahur terdapat berkah. Setelah itu kita bersegera untuk ke masjid tilawah al-Qur’an lalu melaksanakan dua rakaat sunnah fajar, sholat subuh berjama’ah dan diakhiri dengan dzikir al-ma’tsurat. Sungguh indahnya. Maka marilah kita bersama meningkatkan ibadah kita di bulan Ramadhan yang mulia ini, sehingga kita bisa menjadi manusia baru. Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan bulan ini secara maksimal untuk bekal akhirat kita kelak. Aamiiin.

Marhaban Yâ Ramadhan, marilah kita persiapkan baik-baik akherat kita, karena “buat apa rumah megah di dunia, kalau di surge tanah kaplingnya saja kita belum punya.....”Allahumma taqobbal minna. Aamiiin…
@muhsinsuny