• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

WASPADA LGBT

Akhir-akhir ini ramai dibicarakan dimana-mana perihal LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual dan Transgender). Inilah penyakit akhir zaman, barangkali. Marilah kita bentengi keluarga kita dan orang-orang yang kita sayangi, agar terhindar dari penyakit menular LGBT ini. Tidak seperti dulu, orang-orang pengidap penyakit LGBT ini sudah mulai berani menampakkan diri. Kunci yang bisa kita petik adalah karena mereka teroganisir secara rapi. Ada pepatah indah yang harus selalu kita ingat, “kejahatan yang terorganisir secara rapi akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.”
Petuah kedua yang perlu juga kita ingat adalah, “kejahatan akan merajalela manakala orang-orang baik tidak mau bersuara.” Penyakit zaman kita saat ini adalah fenomena adanya orang-orang yang baik namun diam saja melihat kemungkaran. Maka, si pembuat kemungkaran pun merajalela dan bebas sebebas-bebasnya berbuat kemungkaran. Padahal jaminan Allâh,

وقل جاء الحق وزهق الباطل إن الباطل كان زهوقا

Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 81)

Maka kita harus bertindak, kita harus bersuara. Karena kita di fihak yang benar. Perhatikanlah saudara-saudara kita orang-orang nashrani begitu bersemangatnya mengajak masyarakat masuk neraka. Masak kita kalah dengan mereka. Padahal jalan kita jelas menuju Surga. Sekecil apapun tindakan atau suara kita, pasti akan mendapatkan pahala dari Allâh SWT. Jangan sampai muncul kejahatan yang merajalela akibat sikap diam kita.

Propaganda Massif
Kalau berperilaku LBGT dan dinikmati sendiri oleh pelakunya barangkali tidak membuat resah masyarakat. Akan tetapi yang terjadi saat ini adalah propaganda alias kampanye massif tentang LGBT ini, yang goalnya, kata Fahira Idris (Anggota DPD RI), adalah dilegalkannya kawin sejenis di Indonesia sebagaimana yang sudah terjadi di Amerika dan 20 negara lain. Para pegiat LBGT ini menyebarkan propaganda bahwa LGBT itu biasa, LGBT itu pilihan, LGBT bukan penyakit dan seterusnya. Dan masya Allâh, menteri sosial Khofifah Indar Parawansa bahkan mengatakan bahwa ada semacam proyek rekayasa sosial dengan menciptakan manusia-manusia LGBT baru secara cepat. Astaghfirullâh. Inilah yang harus kita sadari dan kita lawan, jika kita tidak ingin musnah karena adzab dari Allâh.

Puluhan tahun yang lalu Amerika sama dengan kita sekarang, gigih menolak LGBT. Namun lihatlah sekarang, mereka pun akhirnya menyerah dan mensahkan alias melegalkan kawin sejenis ini. Sebuah perbuatan keji yang bahkan hewan pun tidak mau melakukannya. Kata Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, “Anjing yang paling bodoh sekalipun tidak mau kawin sesama jenis, lha kok ada manusia yang mau kawin sesama jenis. Artinya manusia ini lebih bodoh dari anjing yang bodoh.”

Bertahun-tahun para pengidap LGBT ini berjuang tak kenal lelah. Dan perjuangan mereka mendapatkan secercah harapan pada tahun 2006 dimana terjadi pertemuan para pegiat HAM di Yogyakarta (The Yogyakarta Principles: on the Application of International Human Rights Law in relation to Sexual Orientation dan Gender Identity). Piagam Yogyakarta inilah yang selalu menjadi kitab suci para pengidap LGBT untuk melakukan kampanye dan propaganda. Piagam ini menjadi pegangan para pengidap LGBT di seluruh dunia. Sebuah kecelakaan sejarah yang membuat kita prihatin.

Tahun 2005, sekelompok mahasiswa di Semarang menerbitkan buku berjudul “Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-Hak Kaum Homoseksual (Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama/elSA, 2005). Buku ini bahkan secara terperinci memaparkan strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia, yaitu (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh Negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah, sehingga masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual untuk merebut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No. 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita. (Hal. 15)

Dan rupanya langkah serta strategi di atas sudah mulai tampak berjalan dan terorganisir secara rapi. Komunitas-komunitas LGBT sudah terbentuk dimana-mana, kampanye ke masyarakat agar tidak lagi jijik terhadap homoseksual massif dilakukan, tafsiran ulang kisah kaum Sodom juga sudah dilakukan, dan usulan perubahan UU Perkawinan juga sudah pernah disampaikan. Sekarang tinggal kita, apakah mau tinggal diam, ataukah ikut berpartisipasi menentang LGBT ini. Kita harus sampaikan di media sosial, saat pertemuan RT, atau dimana pun dan kapan pun ada kesempatan harus kita sampaikan. Demi anak keturunan kita, dan demi mencegah murka Allâh berupa adzab yang sangat pedih. 

Belajar dari Kaum Sodom
Ada yang harus selalu kita ingat tentang adzab-adzab yang pernah Allâh turunkan kepada ummat manusia agar kita tidak mengalami hal yang serupa. Jangan seperti orang-orang Liberal yang justru mengulang perkataan-perkataan orang-orang kafir zaman dahulu, yaitu menantang Allâh agar segera menurunkan adzab. Na’udzubillâhi min dzâlik.

Pernyataan Ulil Abshar Abdalla, yang menantang Allâh agar menurunkan adzab, sama dengan pernyataan kaum-kaum penentang kebenaran yang diceritakan Allâh dalam al-Qur’an. Berikut ini salah satunya:
وإذ قالوا اللهم إن كان هذا هو الحق من عندك فأمطر علينا حجارة من السماء أو ائتنا بعذاب أليم

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih". (QS. Al-Anfâl [8]: 32)

Kaum Sodom adalah ‘pencetus’ perilaku keji homo dan lesbi. Disebutkan dalam al-Qur’an bahwa perilaku ini sama sekali belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum mereka. Mari kita simak bersama:
ولوطا إذ قال لقومه أتأتون الفاحشة ما سبقكم بها من أحد من العالمين

Dan (Kami juga telah mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?" (QS. Al-A’râf [7]: 80)

Nabi Luth sudah memperingatkan kaumnya agar berhenti berbuat homo dan lesbi namun kaumnya menolak dengan kasar, bahkan mengancam akan mengusir Luth dari kota itu. Akhirnya datanglah adzab Allâh sebelum fajar menyingsing. Luth dan pengikutnya diselamatkan Allâh, sedang istrinya ikut mati terkena adzab dikarenakan dia termasuk orang yang menentang dakwah suaminya. Inilah cerita yang benar tentang adzab yang menimpa kaum Sodom. Yaitu dikarenakan mereka melakukan perbuatan keji yaitu berhubungan seks sesama jenis (LBGT). 

Namun, namanya syetan, selalu saja berbuat onar dengan merusak pemahaman manusia tentang ayat Allâh. Inilah yang menimpa orang-orang Liberal. Kasihan sekali mereka diperbudak oleh nafsu syetan. Mereka mengatakan bahwa adzab yang turun kepada kaum Sodom bukanlah karena perbuatan homo dan lesbi mereka, tetapi karena mereka tidak mau menikahi putri Nabi Luth yang ditawarkan Luth kepada mereka. Astaghfirullâh. Padahal kalau kita membaca sekian banyak ayat (di berbagai surah di al-Qur’an) yang menceritakan tentang peristiwa ini pasti kita bisa menangkap kisah tersebut secara jelas dan gamblang. Catatannya hanya satu, di hati kita tidak ada penyakit.

Kalau di hati kita ada penyakit, maka pesan kebenaran apapun yang disampaikan Allâh dalam al-Qur’an akan tertolak oleh nafsu. Mereka yang diperbudak oleh nafsu syetan tidak akan menerima tafsiran yang akan mengebiri nafsu mereka. Semua ayat harus dipelintir agar nafsu mereka bisa terakomodir. Bahkan para ulama tafsir pun tidak mereka pakai tafsirannya.

Hal ini mengingatkan kita agar hati-hati memilih kawan dan komunitas. Agar kita tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang ayat al-Qur’an dan nash al-Hadits. Sekali lagi mari berbuat agar Allâh melihat perbuatan kita. Bahwa kita sudah berusaha mencegah penyakit ini. 

Sebagai penutup. Ada kisah menarik yang perlu kita renungkan. Saat Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud, ada seekor semut yang membawa sebutir air mendekati perapian Nabi Ibrahim. Seekor burung yang melihatnya bertanya, “untuk apa kamu bawa sebutir air itu?”
“Ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar kekasih Allâh, Ibrahim, “ jawab sang semut.
“Hahaha… tak akan ada gunanya air yang kamu bawa itu,” kata burung.
“Aku tahu. Tetapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku berada.”
Wallâhu a’lam bis showab. Di pihak manakah anda? Jangan hanya diam!


Ditulis Oleh

Author
Muhsin Suny M
Pengisi Selayang Pandang Sinaran
Nantikan artikel berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar