IBU PULANGLAH
Suatu hari di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ada seorang lelaki yang ingin mengadu kepada beliau tentang istrinya yang cerewet dan suka marah-marah. Ketika lelaki itu sampai di pintu rumah Umar bin Khaththab betapa terkejutnya lelaki tersebut karena ternyata di saat yang sama Umar Sang Khalifah ternyata juga sedang dimarahi oleh istrinya. Maka lelaki itu pun beranjak pergi.
Tak disangka beberapa saat kemudian Umar keluar dari pintu rumahnya. Melihat ada seorang lelaki baru saja meninggalkan pintu rumahnya beliau pun memanggil si lelaki tersebut.
“Wahai saudaraku, sepertinya engkau ada perlu denganku?”
“Betul wahai khalifah. Saya datang kemari bermaksud untuk mengadukan istri saya yang cerewet dan suka marah-marah. Namun sesampainya di sini ternyata engkau pun sedang dimarahi pula oleh istrimu. Lalu apa gunanya saya mengadu, kalau kau pun memiliki masalah yang sama dengan aku?”
Apa jawaban Umar dalam hal ini? Sungguh menarik, anda para ibu dan kaum wanita pada umumnya harus mencatat kalimat ini. Kalimat yang diucapkan oleh Sang Khalifah sangat menarik untuk direnungkan. Kalimat yang ringkas, padat tetapi penuh hikmah. Berikut kalimat yang beliau sampaikan kepada lelaki tersebut:
“Wahai saudara, sesungguhnya dialah (istriku) yang telah memasak makananku, dialah yang membuatkan adonan roti untukku, dialah pula yang telah mencucikan baju-bajuku dan dialah yang menyusui anak-anakku.”
- Istri Umar telah memasakkan makanan untuk beliau.
- Istri Umar telah membuat adonan roti untuk beliau.
- Istri Umar telah mencucikan baju-baju beliau.
- Dan yang terakhir istri beliau telah menyusui anak-anak beliau.
Dalam bahasa sederhananya, point 1 & 2 adalah urusan dapur, point 3 adalah urusan sumur dan point 4 adalah urusan kasur. Subhânallâh….Ini bukan hal yang sederhana. Inilah sebuah kemuliaan para ibu. Bahwa sumur, dapur dan kasur adalah sesuatu yang sangat istimewa di mata Umar bin Khaththab. Oleh karena itulah beliau diam dan tidak membalas ketika mendapatkan perkataan yang kurang mengenakkan dari istri beliau sendiri. Betapa karena beliau sangat menghargai jerih payah istri beliau di rumah.
Di zaman sekarang ini, betapa kita saksikan sudah terjadi pergeseran yang luar biasa. Berapa banyak ibu yang mampu memasak makanan untuk keluarganya? Berapa banyak ibu yang mau mencucikan baju-baju anggota keluarga? Dan berapa banyak ibu yang rela dan sudi menyusui anak-anaknya? Semua pekerjaan itu di zaman ini sudah digantikan oleh pembantu rumah tangga. Meskipun seorang ibu berpendidikan S2 atau S3, tetapi anak-anak mereka dirawat dan didik oleh wanita yang tamatan SD. Meski dia mampu memberi ASI eksklusif, tetapi dia cukup puas memberikan susu sapi untuk anak-anaknya.
Dan perlu kita ingat kalimat penutup Umar yang beliau sampaikan kepada lelaki tersebut, sungguh luar biasa:
“Sabarlah saudaraku. Sesungguhnya itu (marah-marah dan cerewet) hanya sesaat dan pasti akan hilang.”
Artinya kemarahan istri biarkanlah diluapkan semua, setelah tumpah semua maka kemarahan itu akan pergi dan pasti akan menghilang. Inilah kesebaran tingkat tinggi yang dimiliki oleh seorang Umar. Seorang Shahabat Nabi yang gagah berani menghadapi musuh, seorang mantan preman yang sangat ditakuti, dan bahkan syetan pun takut berpapasan dengan beliau. Tetapi beliau teramat sangat sabar menghadapi istrinya.
Di zaman ini apa yang terjadi? Ketika seorang istri marah, justru seorang suami lebih marah lagi. Maka marah ketika dilawan dengan marah justru akan semakin mengobarkan api syetan. Api ditambah dengan api akan menjadikan api itu semakin besar. Api harus dilawan dengan air agar api itu padam. Demikianlah yang dilakukan oleh Umar, beliau bersabar dalam menghadapi kemarahan istrinya.
Kalau marah dilawan dengan marah dan berlangsung terus menerus maka tidak akan ada lagi kalimat baiti jannati (rumahku adalah surgaku) yang ada adalah rumahku adalah nerakaku. Naudzubillâhi min dzâlik. Kapal rumah tangga pun pada saat itu mulai retak dan akan karam jika tidak segera diselamatkan.
Ayat yang Ditolak Wanita
Ada satu ayat yang pada zaman ini banyak ditolak oleh para wanita, yaitu Surah al-Ahzab ayat 33:
وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى وأقمن الصلاة وآتين الزكاة وأطعن الله ورسوله إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 33)
Dalam sebuah bagian shirah diceritakan bahwa saat usai perang Jamal, dimana istri Nabi Muhammad SAW, ‘Aisyah r.a, turut serta dalam perang itu. Beliau menangis tersedu-sedu ketika membaca ayat ini. Beliau membaca ayat ini berulang ulang, terus menerus dan terus menerus. Setiap beliau mengulangi bacaan ayat ini di saat itulah ‘Aisyah menangis tersedu-sedu. Beliau menyesal, mengapa tidak menetap di rumah saja, mengapa harus ikut berperang.
Kalimat perintah Allâh di ayat ini sudah sangat teramat jelas, wa qarna fî buyûtikunna, menetaplah kalian para wanita di rumah-rumah kalian. Artinya bahwa wanita memang diperintahkan Allâh untuk di rumah. Bukan di pabrik-pabrik, di kantor-kantor, di mall-mall, di counter-counter dan seterusnya. Inilah yang pada zaman ini ditolak oleh para ibu dengan berbagai alasan. Sebuah survey menyebutkan bahwa 42 % wanita memilih untuk TIDAK tinggal di rumah mereka, MESKIPUN mereka tidak memiliki masalah keuangan. Subhânallâh…
Alasan ingin mengekspresikan ilmunya di masyarakat atau alasan bahwa wanita pun memilliki hak yang sama dengan lelaki untuk mengenal dunia luar, dan seterusnya. Padahal Allâh sudah jelas berfirman bahwa wa laisa dzakaru kal untsa, lelaki itu tidaklah sama dengan wanita. Maka dari itu hak dan kewajiban mereka pun tidak akan sama. Karena itulah Allâh meletakkan dan mengatur bahwa tugas para wanita adalah di rumah, manager rumah tangga yang bertanggungjawab terhadap kehidupan rumah tangga.
Marilah kita semua introspeksi, apakah karena melanggar aturan Allâh ini, kita dan keluarga kita bermasalah. Maka ibu….pulanglah. suamimu ingin mereguk minuman manis di telaga cintamu. Ibu….. pulanglah, karena di luar sana sangat tidak ramah untuk kelembutanmu. Ibu…..pulanglah, istanamu menunggu sentuhan surgawimu. Ibu…..pulanglah, calon orang besar sudah menunggu dengan duduk manisnya, siap belajar di madradah cintamu.
Ibu…..pulanglah, calon pemimpin masa depan ummat ini hanya ingin mendapatkan tatapan teduh matamu. Ibu…..pulanglah, karena Allâh yang memerintahkan para ibu untuk pulang. Ibu…..pulanglah, sebelum semuanya terlambat.
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar