• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Taubatan Nashuha

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Allâh dengan taubatan nashuha, semoga rabb kalian menghapuskan keburukan-keburukan kalian dan memasukan kalian kedalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai”    (QS. At-Tahrim [66]: 8).

Taubat nashuha adalah taubat yang bersih dari segala noda, kekurangan dan kerusakan.
Hasan Al-Basri bertutur, “taubat nashuha adalah ketika seorang hamba menyesali perbuatannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi ”.
Al-Kalbi berpendapat, “yaitu beristighfar dengan lisan, menyesal dengan hati, dan mencegah diri dari mengulang kembali perbuatan dosa itu”.
Sa’id bin Musayyid berkata, “Taubat nashuha adalah taubat yang selalu menasehatimu dari perbuatan dosa.”
Ibnu Qoyyim berkata, “Taubat nashuha itu meliputi tiga unsur”.
  1.    Ia mencakup seluruh dosa, sehingga tidak ada satu dosapun yang tertinggal.
  2.  Kebulatan tekad untuk itu, sehingga tidak ada lagi keragu-raguan  dan kebimbangan.
  3.  Memurnikan dari berbagai hal yang bisa merusak keikhlasan taubat itu. Juga agar tetap terjaga rasa takut kepada Allâh dan pengharapan terhadap balasan yang Allâh sediakan. Tidak seperti taubatnya seorang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan, kehormatan, pengaruh, dan kedudukannya. Tidak pula seperti taubatnya seseorang yang bertujuan terjaganya kekuatanya, hartanya, mengharapkan pujian orang lain, menghindari celaan mereka, atau agar tidak dikalahkan oleh orang-orang bodoh, atau hal-hal yang lain yang menodai keikhlasan taubat itu.
Unsur pertama berkenaan dalam perkara yang dimohonkan ampunan-Nya. Unsur kedua berkenaan dengan pelakunya, dan unsur yang ketiga berkenaan dengan dzat yang diminta ampunan-Nya. Taubat nashuha adalah kesungguhan di dalamnya, keikhlasan, dan ketercakupan seluruh dosa di dalamnya. Tidak diragukan lagi bahwa taubat ini menuntut adanya istigfar. Taubat ini menghapus seluruh dosa dan ia adalah sebaik-baiknya jenis taubat.
Taubat seorang hamba kepada Allâh ada diantara dua taubat Allâh untuknya, sebelum dan sesudah taubatnya.
Allâh berfirman:
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Juga bagi tiga orang yang tidak ikut berperang. Ketika bumi dengan segala kelapangannya terasa sempit bagi mereka, dan sempit pula diri mereka bagi mereka sendiri. Dan ketika mereka yakin bahwa tidak ada lagi tempat berlindung dari Allâh selainnya, maka Allâh pun memberi taubat untuk mereka agar mereka bertaubat. Sesungguhnya Allâh maha penerima taubat dan maha penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 118).
Allâh memberitahukan bahwa taubat-Nya mendahului taubat mereka. Taubat dari Allâh lah yang menjadikan mereka bertaubat. Taubat Allâh menjadi sebab yang mengharuskan adanya taubat mereka. Inilah rahasia nama-Nya al-Awwal dan al-Akhir. Dialah yang memberi dan menolong. Dialah sumber sebab-akibat.

Demikianlah taubat hamba adalah kembalinya seseorang kepada Allâh. Sedangkan taubatnya Allâh itu ada dua idzin dan taufiq, serta penerimaan dan pertolongan.
Taubat itu memiliki ujung pangkal. Pangkalnya adalah kembali kepada Allâh dengan menempuh jalan-Nya yang lurus, sesuai dengan perintah-Nya:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus. Maka ikutilah dan janganlah ikuti jalan-jalan sehingga kalian bisa bercerai-berai dari jalannya.” (QS. Al-An’am [6]: 153).
Ujungnya adalah kembali kepada-Nya di hari pembalasan, yaitu meniti jalan menuju surga-Nya. Barang siapa kembali kepada Allâh di dunia pastilah ia akan kembali kepada Allâh di akhirat dengan pahala dari-Nya. Allâh berfirman,
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
“ Barang siapa bertaubat dan beramal sholih, maka sesungguhnya ia telah bertaubat kepada Allâh dengan sebenarnya”. (QS. Al-Furqân [25]: 71).
Rahasia Taubat
Jika seorang hamba yang berakal berbuat satu kesalahan, maka:
  1.  Ia akan mengkaji perintah Allâh dan larangannya sehingga ia mengakui kekeliruannya.
  2.  Ia akan merenungi janji dan ancaman yang disediakan oleh Allâh sehingga ia diliputi oleh rasa takut yang membawanya kepada taubat.
  3.  Ia akan memperhatikan betapa Allâh telah membiarkan dan meninggalkannya melakukan perbuatan dosa. Padahal jika Allâh menghendaki, bisa saja ia menjaganya dari semua itu. Maka ia pun semakin mengerti tentang Allâh, sifat-sifat, nama-nama, hikmah, rahmat, kasih sayang, dan kemulian-Nya. Tentunya hal ini akan melahirkan sikap taqarrub kepada-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Ia akan mengerti tentang hubungan pencipta, perintah dan ancaman dari sela-sela nama dan sifat-sifat-Nya. Dan  konsekuensinya dari bukti keberadaan-Nya. Keadaan ini menghantarkan seorang hamba pada ketinggian ma’rifah, keimanan, rahasia takdir dan hikmah yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
  4. Ia lebih mengerti akan ‘izzah Allâh dalam ketentuannya. Allâh adalah al-Aziz yang menentukan sekehendaknya. Dan bahwa dengan kesempurnaan izzahnya Dia memutuskan hukum atas hamba-Nya, dia memutuskan berbaliknya seorang hamba, dia memalingkannya dari sekehendaknya kepada apa saja yang dikehendaki-Nya, serta dia membatasi si hamba dengan hatinya.

Termasuk ma’rifatullâh dalam ketentuannya adalah mengertinya seorang hamba terhadap dirinya sendiri, bahwa dirinya adalah hamba yang diatur dan dikuasai, nyawanya ada di tangan-Nya. Dirinya adalah hamba yang hina digenggaman yang maha perkasa.

Juga termasuk, persaksiannya akan kesempurnaan pujian dan ‘izzah, semuanya hanya milik Allâh. Dan bahwa seorang hamba dalam kesendiriannya lebih dekat kepada kelalaian, hal-hal yang tercela, aib, kedhaliman dan kebutuhan. Demikian, semakin ia menyaksikan kehinaan dirinya, kekurangannya, aibnya, dan kefakirannya, akan semakin bertambahlah persaksiannya akan ‘izzah Allâh, kesempurnaan dan ketidak butuhannya kepada sesuatupun.

Juga, ia mengerti kebaikan Allâh sehubungan dengan kenyataan bahwa Allâh telah menutupi keberadaannya ketika bermaksiat. Padahal jelas, Dia maha melihat. Jika Dia menghendaki, bisa saja hal itu diperlihatkan di hadapan seluruh makhluk. Dan jatuhlah ia dihadapan orang lain.
Juga persaksiannya terhadap hilm, kelembutan Allâh. Adalah Dia tidak bersegera untuk menghukum pelaku maksiat. Padahal jika Dia mau, Dia bisa melakukannya. Disini seorang hamba berma’rifah terhadap Rabbnya, yang memiliki nama al-Halim.

Ma’rifahnya terhadap fadhilah dalam magfirahnya. Sungguh, magfiroh adalah anugrah dari-Nya. Kalaulah Allâh menghukum kita semata-mata karena haknya, demikian Dia adil dan terpuji. Hanya saja ampunanya adalah anugerahnya dan bukan karena kita berhak atasnya. Maka mestinya hal itu akan melahirkan syukur, cinta, inabah,dan ma’rifah terhadap Allâh SWT yang memiliki sifat al-Ghoffar.

Termasuk juga, hendaknya seorang hamba melengkapkan seluruh tingkatan Dzull (kehinaan), khudlu (ketundukan), Inkisar (terbukanya hati), dan Iftiqor (kebutuhan). Ada empat tingkat:
  1. Kehinaan karena kebutuhan karena kefakiran. Kehinaan ini umum dimiliki oleh seluruh makhluk.
  2.  Kehinaan dalam rangka taat dan beribadat. Ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang taat kepada-Nya.
  3.  Kehinaan karena cinta. Pecinta itu benar-benar hina secara dzatnya. Semakin ia cinta akan semakin hinalah dirinya.
  4. Kehinaan karena kemaksiatan dan melakukan dosa.

Jika ke-empat tingkatan ini berkumpul, maka kehinaan dan ketundukan kepada Allâh lebih sempurna, lebih lengkap.
Juga atas nama ar-Razzaq menunjukan adanya yang diberi rizqi. Nama as-Samî’ul Bashir menunjukan adanya yang didengar dan dilihat. Begitu pula dengan nama al-Ghofur ul ‘Afuww ut Tawwab, ketiganya menunjukan adanya yang diampuni dosanya, yang dimaafkan,dan diterima taubatnya. Mustahil jika nama-nama itu tidak bermakna. Rasûlullâh sebagai orang yang paling tahu tentang Allâh, bersabda:

“Rasûlullâh bersabda, “Allâh benar-benar lebih senang kepada taubat hambanya kala ia bertaubat kepadanya daripada senangnya seorang diantara kalian yang berada di negeri asing, mengendarai hewan tunggangan lalu hewan itu terlepas, padahal makan dan minuman ada padanya. Ia berputus asa dan bernaung di bawah pohon dan berbaring. Tiba-tiba hewan tunggangannya berdiri di dekatnya, lalu ia memegang tali kendalinya seraya berkata,”Ya Allâh, Engkaulah hambaku, dan Akulah Rabb-mu.” Ia keliru saking gembiranya”.

Semoga Allâh SWT senantiasa membimbing hidup kita agar senantiasa berada pada jalan taubat dan semoga kita diwafatkan oleh Allâh SWT dalam keadaan bertaubat. Amin ya Rabbal ‘âlamin.

Ditulis Oleh

Author
Ust. H. Sigit Sulistyo, Lc
Mjelis Syuro MPAQ
Nantikan kajian Tazkiyatun Nafs berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar