يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ
عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ
“Hai
orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Allâh dengan taubatan nashuha, semoga rabb kalian menghapuskan
keburukan-keburukan kalian dan memasukan kalian kedalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai” (QS. At-Tahrim [66]: 8).
Taubat nashuha
adalah taubat yang bersih dari segala noda, kekurangan dan kerusakan.
Hasan Al-Basri
bertutur, “taubat nashuha adalah ketika seorang hamba menyesali perbuatannya
dan bertekad untuk tidak
mengulanginya lagi ”.
Al-Kalbi
berpendapat, “yaitu beristighfar
dengan lisan, menyesal dengan hati, dan mencegah diri dari mengulang kembali
perbuatan dosa itu”.
Sa’id bin
Musayyid berkata, “Taubat nashuha adalah taubat yang selalu menasehatimu
dari perbuatan dosa.”
Ibnu Qoyyim
berkata, “Taubat nashuha itu meliputi tiga unsur”.
- Ia mencakup seluruh dosa, sehingga tidak ada satu dosapun yang tertinggal.
- Kebulatan tekad untuk itu, sehingga tidak ada lagi keragu-raguan dan kebimbangan.
- Memurnikan dari berbagai hal yang bisa merusak keikhlasan taubat itu. Juga agar tetap terjaga rasa takut kepada Allâh dan pengharapan terhadap balasan yang Allâh sediakan. Tidak seperti taubatnya seorang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan, kehormatan, pengaruh, dan kedudukannya. Tidak pula seperti taubatnya seseorang yang bertujuan terjaganya kekuatanya, hartanya, mengharapkan pujian orang lain, menghindari celaan mereka, atau agar tidak dikalahkan oleh orang-orang bodoh, atau hal-hal yang lain yang menodai keikhlasan taubat itu.
Unsur pertama
berkenaan dalam perkara yang dimohonkan ampunan-Nya. Unsur kedua berkenaan
dengan pelakunya, dan unsur yang ketiga berkenaan dengan dzat yang diminta
ampunan-Nya. Taubat nashuha adalah kesungguhan di dalamnya, keikhlasan, dan
ketercakupan seluruh dosa di dalamnya. Tidak diragukan lagi bahwa taubat
ini menuntut adanya istigfar. Taubat ini menghapus seluruh dosa dan ia adalah
sebaik-baiknya jenis taubat.
Taubat seorang
hamba kepada Allâh ada diantara dua taubat Allâh untuknya, sebelum
dan sesudah taubatnya.
Allâh
berfirman:
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ
الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ
وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ
إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ
التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Juga bagi tiga
orang yang tidak ikut berperang. Ketika bumi dengan segala kelapangannya terasa
sempit bagi mereka, dan sempit pula diri mereka bagi mereka sendiri. Dan ketika
mereka yakin bahwa tidak ada lagi tempat berlindung dari Allâh selainnya, maka Allâh
pun memberi taubat untuk mereka agar mereka bertaubat. Sesungguhnya Allâh maha
penerima taubat dan maha penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 118).
Allâh
memberitahukan bahwa taubat-Nya mendahului taubat mereka. Taubat dari Allâh lah
yang menjadikan mereka bertaubat. Taubat Allâh menjadi sebab yang mengharuskan adanya
taubat mereka. Inilah rahasia nama-Nya al-Awwal dan al-Akhir.
Dialah yang memberi dan menolong. Dialah sumber sebab-akibat.
Demikianlah
taubat hamba adalah kembalinya seseorang kepada Allâh. Sedangkan taubatnya Allâh
itu ada dua idzin dan taufiq, serta penerimaan dan pertolongan.
Taubat itu
memiliki ujung pangkal. Pangkalnya adalah kembali kepada Allâh dengan menempuh
jalan-Nya yang lurus, sesuai dengan perintah-Nya:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي
مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ
سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Sesungguhnya
inilah jalanku yang lurus. Maka ikutilah dan janganlah ikuti jalan-jalan
sehingga kalian bisa bercerai-berai dari jalannya.” (QS. Al-An’am [6]: 153).
Ujungnya adalah
kembali kepada-Nya di hari pembalasan, yaitu meniti jalan menuju surga-Nya.
Barang siapa kembali kepada Allâh di dunia pastilah ia akan kembali kepada Allâh
di akhirat dengan pahala dari-Nya. Allâh berfirman,
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ
صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
“ Barang siapa
bertaubat dan beramal sholih, maka sesungguhnya ia telah bertaubat kepada Allâh
dengan sebenarnya”. (QS. Al-Furqân [25]: 71).
Rahasia Taubat
Jika seorang
hamba yang berakal berbuat satu kesalahan, maka:
- Ia akan mengkaji perintah Allâh dan larangannya sehingga ia mengakui kekeliruannya.
- Ia akan merenungi janji dan ancaman yang disediakan oleh Allâh sehingga ia diliputi oleh rasa takut yang membawanya kepada taubat.
- Ia akan memperhatikan betapa Allâh telah membiarkan dan meninggalkannya melakukan perbuatan dosa. Padahal jika Allâh menghendaki, bisa saja ia menjaganya dari semua itu. Maka ia pun semakin mengerti tentang Allâh, sifat-sifat, nama-nama, hikmah, rahmat, kasih sayang, dan kemulian-Nya. Tentunya hal ini akan melahirkan sikap taqarrub kepada-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Ia akan mengerti tentang hubungan pencipta, perintah dan ancaman dari sela-sela nama dan sifat-sifat-Nya. Dan konsekuensinya dari bukti keberadaan-Nya. Keadaan ini menghantarkan seorang hamba pada ketinggian ma’rifah, keimanan, rahasia takdir dan hikmah yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
- Ia lebih mengerti akan ‘izzah Allâh dalam ketentuannya. Allâh adalah al-Aziz yang menentukan sekehendaknya. Dan bahwa dengan kesempurnaan izzahnya Dia memutuskan hukum atas hamba-Nya, dia memutuskan berbaliknya seorang hamba, dia memalingkannya dari sekehendaknya kepada apa saja yang dikehendaki-Nya, serta dia membatasi si hamba dengan hatinya.
Termasuk ma’rifatullâh
dalam ketentuannya adalah mengertinya seorang hamba terhadap dirinya sendiri,
bahwa dirinya adalah hamba yang diatur dan dikuasai, nyawanya ada di tangan-Nya.
Dirinya adalah hamba yang hina digenggaman yang maha perkasa.
Juga termasuk,
persaksiannya akan kesempurnaan pujian dan ‘izzah, semuanya hanya milik Allâh.
Dan bahwa seorang hamba dalam kesendiriannya lebih dekat kepada kelalaian,
hal-hal yang tercela, aib, kedhaliman dan kebutuhan.
Demikian, semakin ia menyaksikan kehinaan dirinya, kekurangannya, aibnya, dan
kefakirannya, akan semakin bertambahlah persaksiannya akan ‘izzah Allâh,
kesempurnaan dan ketidak butuhannya kepada sesuatupun.
Juga, ia
mengerti kebaikan Allâh sehubungan dengan kenyataan bahwa Allâh telah menutupi
keberadaannya ketika bermaksiat. Padahal jelas, Dia maha melihat. Jika Dia
menghendaki, bisa saja hal itu diperlihatkan di hadapan seluruh makhluk. Dan
jatuhlah ia dihadapan orang lain.
Juga
persaksiannya terhadap hilm, kelembutan Allâh. Adalah Dia tidak
bersegera untuk menghukum pelaku maksiat. Padahal jika Dia mau, Dia bisa
melakukannya. Disini seorang hamba berma’rifah terhadap Rabbnya, yang memiliki
nama al-Halim.
Ma’rifahnya terhadap
fadhilah dalam magfirahnya. Sungguh, magfiroh adalah anugrah dari-Nya. Kalaulah
Allâh menghukum kita semata-mata karena haknya, demikian Dia adil dan terpuji.
Hanya saja ampunanya adalah anugerahnya dan bukan karena kita berhak atasnya.
Maka mestinya hal itu akan melahirkan syukur, cinta, inabah,dan ma’rifah
terhadap Allâh SWT yang
memiliki sifat al-Ghoffar.
Termasuk juga,
hendaknya seorang hamba melengkapkan seluruh tingkatan Dzull (kehinaan),
khudlu (ketundukan), Inkisar (terbukanya hati), dan Iftiqor
(kebutuhan). Ada empat tingkat:
- Kehinaan karena kebutuhan karena kefakiran. Kehinaan ini umum dimiliki oleh seluruh makhluk.
- Kehinaan dalam rangka taat dan beribadat. Ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang taat kepada-Nya.
- Kehinaan karena cinta. Pecinta itu benar-benar hina secara dzatnya. Semakin ia cinta akan semakin hinalah dirinya.
- Kehinaan karena kemaksiatan dan melakukan dosa.
Jika ke-empat tingkatan ini
berkumpul, maka kehinaan dan ketundukan kepada Allâh lebih sempurna, lebih
lengkap.
Juga atas nama ar-Razzaq menunjukan adanya yang diberi rizqi. Nama as-Samî’ul Bashir menunjukan adanya yang didengar dan dilihat. Begitu pula
dengan nama al-Ghofur ul ‘Afuww ut Tawwab, ketiganya menunjukan adanya
yang diampuni dosanya, yang dimaafkan,dan diterima taubatnya. Mustahil jika
nama-nama itu tidak bermakna. Rasûlullâh sebagai orang yang paling tahu tentang
Allâh, bersabda:
“Rasûlullâh
bersabda, “Allâh benar-benar lebih senang kepada taubat hambanya kala ia
bertaubat kepadanya daripada senangnya seorang diantara kalian yang berada di negeri
asing, mengendarai hewan tunggangan lalu hewan itu terlepas, padahal makan dan
minuman ada padanya. Ia berputus asa dan bernaung di bawah pohon dan berbaring. Tiba-tiba hewan tunggangannya berdiri di dekatnya,
lalu ia memegang tali kendalinya seraya berkata,”Ya Allâh, Engkaulah hambaku,
dan Akulah Rabb-mu.” Ia keliru saking gembiranya”.
Semoga Allâh
SWT senantiasa membimbing hidup kita agar senantiasa berada pada jalan taubat
dan semoga kita diwafatkan oleh Allâh SWT dalam keadaan bertaubat. Amin ya Rabbal ‘âlamin.
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar