يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 21)
Kata IBADAH dalam ayat ini terlalu sempit apabila dimaknai menyembah, karena kata menyembah lebih bermakna ibadah ta’aluh, yaitu ibadah yang ditujukan langsung kepada Allâh. Akan tetapi ayat ini mengandung pengertian IBADAH seperti yang terkandung dalam QS ADZ DZARIYAT : 56
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât [51]: 56)
Yaitu beribadah kepada Allâh Rabb yang telah menciptakan manusia dari yang tidak ada menjadi ada, serta memberikan kenikmatan dengan berbagai fasilitas hidup. Allâh yang telah menjadikan bumi yang terhampar, yang di bumi tersebut manusia bisa menanam aneka jenis tanam-tanaman. Kemudian Allâh menurunkan air hujan dari atas langit, yang dari air hujan tersebut bisa menjadikan tanam-tanaman tumbuh dengan subur serta menghasilkan buah dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia. Dengan pemahaman tersebut, maka sudah semestinya manusia menyadari bahwa dirinya diciptakan dengan tujuan pokok beribadah hanya kepada Allâh saja.
Maka pembahasan Ibadah dalam ayat ini bermakna Ibadah IKHTIARIYAH, ibadah yang mampu diupayakan oleh manusia. Yaitu kepatuhan manusia kepada semua aturan yang datangnya dari Allâh beserta Rasul-NYA. Bukan kepatuhan KAUNIYAH, semisal patuhnya sistem pencernaan, sistem peredaraan darah dalam tubuh kita. Atau kepatuhan matahari yang terbit dari barat, kemudian tenggelam dari timur, serta kepatuhan bulan yang harus bersinar pada malam hari.
Maka jumhur ulama mendifinisikan makna IBADAH adalah : “perbuatan, perkataan, dan gerak hati yang dilandasi motivasi ghaib, serta kepatuhan jiwa raga.” dan kedua makna ibadah tersebut harus ditujukan hanya kepada Allâh saja, tidak boleh kepada selain Allâh. Apabila ada perbuatan, perkataan, serta gerak hati yang didorong kepercayaan ghaib ditujukan kepada selain Allâh, maka itulah yang disebut dengan SYIRIK AKBAR. Sedangkan perbuatan yang didorong kebutuhan lahir yang ditujukan kepada selain Allâh ada dua akibat, bila perbuatan tersebut bertentangan dengan syari’at Allâh itupun termasuk syirik akbar, dan apabila tidak berlawanan dengan syari’at Allâh, maka diperbolehkan.
Demikianlah pembahasan tentang tauhid ULUHIYAH, mengesakan Allâh dalam beribadah, serta tidak mempersekutukan-NYA dengan dzat selain Allâh.
الذي جعل لكم الأرض فراشا والسماء بناء وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم فلا تجعلوا لله أندادا وأنتم تعلمون
“Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 22)
الذي جعل لكم الأرض مهدا وسلك لكم فيها سبلا وأنزل من السماء ماء فأخرجنا به أزواجا من نبات شتى
“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (QS. Thâha [20]: 53)
وجعلنا السماء سقفا محفوظا وهم عن آياتها معرضون
“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 32)
Allâh menjadikan hamparan bumi sebagai pijakan manusia, menciptakan langit sebagai atap, menurunkan hujan sebagai pembawa rezeki, semua diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia di dunia. Ini semua adalah sebagai bukti Maha Kuasa-NYA Allâh, dan tidak akan ada yang mampu menandingi kekuasaan Allâh. Maka mengapa tidak beribadah hanya kepada Allâh saja ?
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Allâh adalah Rabb yang maha Pencipta, Pengatur dan Pemelihara alam semesta beserta penghuninya, dan mempunyai kekuasaan yang tak terbatas. Dengan demikian hanya DIA-lah yang berhak mutlak diibadahi, dan tidak ada sekutu bagi-NYA.
Dalam kitab Shahiih al Bukhary dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Ibn Mas’ud RA, ia menceritakan:
“Aku pernah bertanya : “Wahai Rasûlullâh, dosa apakah yang paling besar di sisi Allâh ? Beliau menjawab : ‘Engkau menjadikan tandingan bagi Allâh, padahal DIA yang menciptakanmu.”
Kata NIDDUN dalam hadits tersebut artinya sekutu/ tandingan. Wujud nyata dari kata mensekutukan Allâh adalah menjadikan sekutu-sekutu/ tandingan-tandingan bagi Allâh. Para sahabat dengan sangat mudah memahami makna kata tersebut, karena dengan mata kepala menyaksikan praktek kemusyrikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir Qurays. Seperti yang dijelaskan Allâh dalam QS AL-FURQON : 68.
والذين لا يدعون مع الله إلها آخر ولا يقتلون النفس التي حرم الله إلا بالحق ولا يزنون ومن يفعل ذلك يلق أثاما
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)” (QS. Al-Furqân [25]: 68)
Berdo’a kepada selain Allâh, itulah yang dilakukan orang-orang kafir Qurays. Ketika butuh rezeki mereka datang kepada patung LATTA, dan berdoa agar dilancarkan rezekinya. Ketika terkait dengan kepentingan-kepantingan jabatan/ kekuasaan, orang-orang kafir Qurays mendatangi berhala UZZA dan berdo’a agar mendapatkan apa yang diinginkannya. Itulah kenyataan yang dimaksud dengan kata mempersekutukan dalam ayat tersebut di atas.
Maka Nabi dan Sahabat tidak pernah berhenti dakwah tauhid, terus memperjuangkan untuk memberantas kemusyrikan, serta mengkritisi budaya syirik yang sangat kuat mengakar di masyarakat. Dan akhirnya mampu membangun masyarakat Tauhid, yang dilanjutkan generasi Sahabat, Tabi’in serta Tabi’ut Tabi’in. Sampai kemudian terus beralih generasi, berkembanglah ajaran tasawwuf yang menyimpang dari Tauhid, karena lebih menyukai berdo’a kepada orang-orang (sholeh) yang mati. Dan puncaknya adalah munculnya agama baru, yang dipelopori oleh Abdullah bin Saba’, yaitu agama SYI’AH.
Kemusyrikan adalah prilaku manusia yang terjadi dari masa ke masa, pada setiap terjadi peralihan generasi selalu terjadi penyimpangan Tauhid, untuk kemudian Allâh mendatangkan seorang Rasul/ Nabi untuk meluruskannya dan kembali kepada Tauhid.
Adapun tokoh-tokoh yang dijadikan obyek kemusyrikan, kita ambil salah satu contoh adalah Syeikh Abdul Qodir Jaelani. Awalnya beliau adalah tokoh agama yang tauhidnya lurus, dalam perjalanan spiritualnya dia mengamalkan dzikir-dzikir yang juga kemudian diajarkan kepada murid-miridnya. Oleh murid-muridnya dari sosok Syaikh Abdul Qodir Jaelani dibuat cerita-cerita bohong tentang kemampuan menyingkap keghaiban yang dimilikinya. Dari situlah akhirnya Abdul Qodir Jaelani menjadi tokoh yang dikultuskan. Dan ketika beliau wafat dijadikan NIDDUN, yaitu ilah-ilah yang dimintai do’a, yang diibadahi selain dari Allâh. Maka dalam urusan Ibadah, sekecil apapun kita tidak boleh membuat-buat atau menambah-nambah dari apa yang telah dicontohkan Rasûlullâh SAW. Karena dari penyimpangan yang kecil, sangatlah mudah untuk menjadi peribadahan yang jauh dari petunjuk, dan akhirnya menjadi sesat.
Hal semacam ini sudah disinyalir oleh Umar bin Khaththob RA, dengan pernyataannya :
“Islam akan terurai sedikit demi sedikit, apabila seseorang tumbuh dalam (masyarakat) Islam, sedangkan mereka tidak tahu JAHILIYYAH.”
Jahiliyyah yang dimaksud oleh Umar bin Khoththob RA adalah kemusyrikan. Islam akan menjadi agama yang hancur berkeping-keping manakala umat Islam tidak lagi mengilmui tentang AQIDAH SHOHIHAH, sehingga ketika melakukan perbuatan-perbuatan kemusyrikan umat Islam tidak lagi mengetahui bahwa apa yang dilakukannya telah menyimpang jauh dari ajaran Tauhid. Dan apa yang disinyalir Umar bin Khoththob RA benar-benar menimpa kepada umat Islam saat ini. Sudah tidak lagi mempunyai kekuatan sebagaimana kejayaan yang telah dibangun oleh Rasûlullâh beserta generasi selanjutnya, yaitu SHALAFUSH SHOLEH.
Agar terhindar dari syirik-syirik kecil yang membawa kepada syirik akbar Rasûlullâh SAW menuntunkan sebuah do’a :
“ Ya Allâh lindungilah aku dari menyekutukan-MU, sedangkan aku mengetahui. Dan aku mohon ampun dari dosa yang tidak aku ketahui.”
Perlunya umat Islam memperhatikan dan tidak menganggap sepele masalah syirik kecil, karena :
- Syirik kecil lambat laun akan membawa kepada syirik akbar.
- Syirik akbar akan memastikan kita menjadi penghuni neraka, karena syirik akbar akan menghapus amal.
Allâhu a’lam........
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar