• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Al-Qur’an Kitab Suci Paling Porno, Benarkah?

Suatu ketika pernah ada sebuah diskusi yang disiarkan secara langsung oleh stasiun radio di daerah Ibu Kota Jakarta. Dalam acara tersebut tiba-tiba si pembicara mengeluarkan sebuah statemen yang aneh dan nyeleneh bahwasanya Al Qur’an adalah kitab suci paling porno. Sontak saja pernyataan ini mengejutkan para pendengar dan menjadi sebuah kontroversi di tengah-tengah umat Islam. Tidak hanya sampai disitu, pembicara tersebut juga menantang si pendengar yang merasa ragu dengan pernyataannya agar membandingan antara Al Qur’an dan Injil dalam hal kecabulan, sebab menurut sang pembicara Al Qur’an lebih cabul dan mengandung porno daripada Injil.

Al Qur’an yang selama ini dianggap oleh kaum muslimin sebagai kitab suci nan mulia serta mendapat jaminan penjagaan orisinalitasnya dari Allah ta’ala, tentu saja ketika ada pernyataan nyeleneh seperti di atas sangat menyakitkan sebagian besar dari mereka. Meskipun ternyata masih ada juga diantara beberapa kaum muslimin yang bersimpati dan mendukung pernyataan diatas, bahkan menganggap orang yang melawan pernyataan diatas sebagai orang bodoh yang telat mikir, serta sulit diajak bernalar kritis, dan terbelakang secara akademis. Disamping tentu saja dianggap sebagai orang yang eksklusif, radikal, dan hobi menyalahkan.

Pernyataan bahwa Al Qur’an adalah kitab porno dilatar-belakangi oleh sebuah pemahaman yang kurang utuh dan menyeluruh terhadap isi Al Qur’an, serta pikirannya tampaknya sering dipakai untuk memikirkan hal-hal yang kotor dan jorok. Seperti contohnya keika memahami ayat 233 dari surat al-Baqarah :

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ

dan para ibu menyusui anak-anak mereka”.

Ayat diatas digunakan oleh si pembicara yang nyeleneh untuk melegitimasi kepornoan Al Qur’an dengan menyatakan bahwa “menyusui” itu “mengeluarkan tetek” sehingga mengandung pemahaman yang berbau porno. Bahkan si pembicara menyuruh agar hal ini diperbandingkan dengan kandungan kitab Injil yang menurutnya tidak seporno ini.

Sebenarnya pernyataan ini sangatlah keterlaluan dan bahkan menunjukkan pemahaman yang jauh dari sikap bijaksana. Sebab ungkapan “ibu menyusui anak” adalah istilah yang biasa dipakai sehari-hari, sama sekali tidak berbau cabul atau porno, dan sifatnya memang naluriah-alamiah. Jika saumpama aktivitas ibu menyusui si anak dianggap sebagai hal jorok yang kotor pastinya harus ada solusi lain untuk bagaimana sang bayi bisa makan-minum tanpa melalui susu ibu demi kelangsungan hidupnya. Jadi, aktivitas tersebut adalah perkara yang sangat lumrah terjadi dan jauh dari aktivitas nafsu seksual, toh sang ibu yang menyusui dan sang anak yang disusui juga tidak terjadi hal-hal yang berbau cabul atau porno. Hal ini berbeda sekali ketika saumpama ada ungkapan (maaf) “sang wanita dewasa menyusui sang laki-laki dewasa”, maka tentu saja hal ini sangat berbau porno. Sebab aktivitas antara dua orang tersebut pasti bukan aktivitas naluriah-alamiah seperti antara ibu dan anaknya. Sehingga pernyataan bahwa Al Qur’an adalah kitab porno dengan dalih pemahaman terhadap ayat tersebut diatas adalah sangat keterlaluan dan cenderung berindikasi penghinaan terhadap Al Qur’an, baik disengaja maupun diluar kesengajaan.

Bahkan pada hakikatnya Al Qur’an sangatlah menjunjung tinggi nilai kesopanan adab dan etika ketika ingin mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas hubungan suami istri. Seperti terlihat dalam Al Qur’an surat al-Baqarah 223 :

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

“istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki”.

Menurut para ahli tafsir, penggalan ayat diatas mengandung keterangan tentang tatacara bersetubuh suami-istri, namun Al Qur’an tidak mengungkapkannya secara vulgar, tapi dengan bahasa perumpamaan. Berkenaan dengan ayat ini, Syaikh Abdurrahman Assa’di didalam tafsirnya “Taisîr al-Karîmi al-Rahmân Fî Tafsîr Kalâmi al-Mannân” menjelaskan bahwasanya suami berhak menggauli istri dari arah mana saja ia kehendaki depan atau belakang, asalkan tujuan aslinya adalah qubul, sebab qubul adalah tempat produksi anak yang dalam ayat tersebut diibaratkan sebagai tempat bercocok-tanam. Dengan catatan harus menjauhi bagian dubur
, sebab telah banyak hadits yang melarang bersetubuh pada bagian dubur, bahkan hal itu bisa mendatangkan laknat bagi si pelakunya.

Coba bandingkan dengan kitab Bible yang sangat vulgar sekali dalam menjelaskan aktivitas seks. Seperti terdapat dalam ayat Yehezkiel 23:3 ; “disana susunya dijamah-jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang”. Di Yehezkiel 23:8 ; “pada masa mudanya, orang sudah menidurinya dan mereka pegang-pegang dada keperawanannya, dan mencurahkan persundalan mereka kepadanya”. Juga di Yehezkiel 23:8 ; “orang yang hancur buah pelirnya atau terpotong kemaluannya, janganlah masuk jemaah Tuhan”. Dan masih banyak lagi ayat lain yang semakna.

Walhasil, Al Qur’an yang ditertawakan dan dituduh sebagai kitab suci paling porno di dunia justru tidak terbukti. Sementara kitab bible (alkitab) yang dibela dan diklaim tidak ada porno justru malah banyak sekali mengandung ayat-ayat porno nan cabul yang sangat vulgar. Pantas saja jika seorang pemikir dan dermawan inggris, George Bernard Shaw mengatakan “Bible merupakan kitab suci yang paling berbahaya di muka bumi ini. Jaga kitab tersebut dalam keadaan terkunci, dan larang anak anda membacanya”. Maka sangat tidak benar bahwa Al Qur’an adalah kitab suci paling porno. Wallahu a’lam bis-shawab.

Ditulis Oleh

Author
Ust. Heri Mahfudhi, Lc
Pengisi halaman Ghozwul Fikri
Nantikan Ghozwul Fikri berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar