• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

PAHLAWAN DI SEKITAR KITA

Kata pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari dua kata, bahasa sangsekerta, pahla dan wan. “Pahla” berarti buah, sedangkan “wan” bermakna sebutan bagi orangnya (bersangkutan). Dulu gelar pahlawan diberikan kepada siapa saja yang mati di medan pertempuran baik mati karena membela bangsa dan negaranya maupun agamanya. Namun di era modern ini gelar pahlawan menjadi lebih luas dan tidak ada batasan yang jelas. Misalnya para Tenaga Kerja Wanita (TKW) disebut sebagai para pahlawan devisa. 

Guru yang mengajar di sekolah diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan seorang pria ataupun wanita yang bekerja membanting tulang demi menghidupi keluarganya disebut sebagai pahlawan keluarga. Karena tidak adanya batasan dari makna pahlawan ini, sempat terjadi perdebatan di kalangan tokoh negeri ini tentang layak kah Soeharto, presiden kedua republik ini diberi gelar pahlawan nasional?

Namun secara umum dapatlah disimpulkan bahwa pahlawan adalah seseorang yang telah berjuang mengorbankan waktu, jiwa dan raganya demi kebaikan orang banyak.

Jika dinisbatkan kepada Islam “Pahlawan Islam” berarti seorang muslim yang berjuang mengorbankan waktu, jiwa dan raganya demi kebaikan (kemuliaan) Islam dan umatnya. Dalam terminologi Islam, seorang muslim atau muslimah yang mati karena membela kehormatan diri, harta, nyawa dan agamanya disebut syahid. Bahkan orang yang mati disebabkan tenggelam atau terkena penyakit dapat pula disebut syahid termasuk seorang ibu yang wafat dalam proses melahirkan.

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan:
“Menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, menceritakan kepada kami Malik dari Sumyyin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah r.a : bahwa Rasûlullâh s.a.w bersabda: Syuhada itu ada lima, yaitu Orang yang mati terkena cacar, orang yang mati karena diare, orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa runtuhan (longsor), dan orang yang syahid di jalan Allâh” (Al-Bukhari, Kitab As-Sayru Wal-Maghazi: 2617)

Sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan pula:
“Dari Abu Hurairah r.a, katanya, Rasûlullâh s.a.w bersabda: Apa yang kalian ketahui tentang syahid?” Sahabat menjawab: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allâh maka dia syahid” Lalu Rasûlullâh s.a.w bersabda: “Kalau begitu syahid di kalangan ummat ku sedikit”, Sahabat berkata lagi, kalau begitu siapakah mereka ya Rasûlullâh? Rasûlullâh s.a.w bersabda: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allâh maka dia syahid, barang siapa yang mati di jalan Allâh, maka dia syahid, barangsiapa yang mati karena cacar maka dia syahid, siapa yang mati terkena diare dia syahid ” (Shahih Muslim, Kitaabul Imaarah:3539)

Terkait dua hadits diatas, Imam Nawawi dalam syarah Muslim menjelaskan, Para ulama berkata: “Yang dimaksudkan syahid diatas adalah selain syahid Fie sabilillah (terbunuh ketika berperang di jalan Allâh), mereka itu di akhirat memperoleh pahala para syuhada. Adapun di dunia, mereka dimandikan dan dishalatkan. Dalam kitab Al-Iman telah dijelaskan masalah ini. Adapun syuhada, terbagi ke dalam Tiga jenis: Syahid dunia dan akhirat, yaitu yang terbunuh ketika berperang melawan kafir, dan syahid akhirat, hukum dunia terhadapnya tidak diperlakukan sebagaimana layaknya orang yang terbunuh di jalan Allâh, mereka inilah yang dimaksudkan syahid (secara umum) dalam hadits ini, dan syahid dunia, yaitu orang yang berperang karena mencari ghanimah dan berpaling dari peperangan”

Pahlawan di Sekitar Kita
Jika yang dimaksud pahlawan adalah ia yang memberikan manfaat bagi orang lain, mengorbankan harta, waktu, dan jiwanya bagi kebaikan orang banyak, maka setiap orang sejatinya bisa menjadi pahlawan. Atau, bahkan sudah menjadi pahlawan. Bisa jadi, seorang ayah kini menjadi pahlawan bagi anaknya. Seorang kakak sudah menjadi pahlawan bagi adiknya. Atau guru menjadi pahlawan bagi murid-muridnya.

Setiap orang diberikan potensi kebaikan. Allâh berfirman, “Maka Allâh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. asy-Syams [91]: 8). Oleh karena itu, setiap orang bisa menjadi pahlawan dengan mengikuti ketakwaan/kebaikan yang diilhamkan kepadanya. 
Melalui potensi kebaikan itu, manusia senantiasa ingin membantu orang lain atau anggota keluarganya. Seperti melakukan satu kebaikan kecil—layaknya yang dilakukan Abdul Rahim—namun berdampak besar. 

Abdul Rahim, seorang supir yang membersihkan paku-paku di jalan dan sering menjadi ranjau bagi pengendara motor/mobil. Bermodal magnet kecil dari mainan usang, tanpa pamrih ia menyisir jalan di Jakarta. Tindakan Abdul Rahim seringkali mendapat cacian dan makian dari pengendara yang merasa terganggu. Namun, dia tetap melakukannya.

Selang beberapa waktu, apa yang dilakukannya berdampak besar bagi para pengendara. Kini, Abdul Rahim dikenal sebagai pencetus Komunitas Sapu Bersih Ranjau. Itulah hal kecil yang mungkin dilihat sebelah mata oleh orang lain. Namun, dengan ketulusan dan rasa ingin menolong orang lain, akhirnya banyak orang merasakan manfaatnya.

Sebagai seorang muslim, tentunya kita mengikuti potensi kebaikan untuk memberikan kebaikan kepada orang di sekitar. Bukankah kita memiliki tugas sebagai khalifah? Wakil Allâh di muka bumi yang wajib memelihara dan menjaga segala kebaikan di alam ini.

Lebih dari Sekadar Pahlawan
Tujuan hidup seorang muslim adalah ridha Allâh. Bukan pujian atau sanjungan. Bukan pula plakat yang menggantung di rumah sebagai pengingat. Atau sebuah piagam penghargaan yang dipajang di ruang tamu agar orang lain bisa melihat.

Umat muslim adalah mereka yang mengejar hidup dan mati sebagai syahid. Menjadi sebaik-baiknya manusia dengan bermanfaat bagi orang banyak. Yakni mengikuti potensi kebaikan yang dimiliki dan menggunakan segala anugerah yang diberikan oleh-Nya. 

Menjadi lebih dari sekadar pahlawan bisa dimulai dengan memberikan cinta yang tulus kepada orangtua. Merekalah yang menjadi pahlawan kita sesungguhnya. Betapa beratnya perjuangan seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan. Kemudian berada di antara hidup dan mati ketika melahirkan. Belum lagi merawat bayi yang seringkali membuatnya tidak cukup tidur/istirahat.

Kita tentu tidak lupa dengan perjuangan ayah yang bekerja keras demi kehormatan keluarganya. Mengais rezeki siang dan malam demi biaya pendidikan anak-anaknya. Menjemput karunia Allâh demi menjaga perut keluarganya agar tetap kenyang. 

Begitu pula sosok yang tulus, yang tidak jarang kita temui saat di lampu merah. Seperti tukang becak yang membantu anak-anak SD menyeberang. Atau anak SD yang membantu nenek-nenek menyeberang jalan. 

Sekali lagi, setiap orang bisa menjadi pahlawan. Bahkan lebih dari sekadar pahlawan, yakni dengan melakukan kebaikan sekecil apa pun untuk orang di sekitarnya. Bagi seorang muslim, menjadi lebih dari sekadar pahlawan adalah dengan menujukkan segala kebaikan dan pengorbanan hanya untuk meraih rida Allâh.

Marilah jalani hidup ini dengan menjadi pahlawan sesuai kapasitasnya masing-masing. Semoga Allâh selalu meridai apa yang kita lakukan, sekecil apa pun nilainya di mata manusia. Wallâhu ’alam

Ditulis Oleh

Author
Muhsin Suny M
Pengisi Selayang Pandang Sinaran
Nantikan artikel berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar