وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Ini adalah Maqom (kedudukan) di mana Allâh menceritakan Adam dan memuliakannya atas malaikat, karena Allâh telah mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan kepada malaikat. Yaitu menyebutkan nama segala macam benda, nama makhluk baik dzat, sifat maupun perbuatannya, baik yang besar maupun yang kecil. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasûlullâh dalam hadistnya :
“Lalu mereka datang kepada Adam seraya berkata ,’Engkau adalah bapak manusia, Allâh telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-NYA, dan DIA mengajarimu nama-nama seluruh perkara. “ (HR. al-Bukhary).
Hadits tersebut menunjukan bahwa Allâh telah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruh makhluk. Kemudian mengemukakan kepada para malaikat, dengan menyodorkan benda-benda itu kepada malaikat untuk menyebutkan nama-namanya. “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui kecuali yang Engkau ajarkan kepada kami,” demikian jawaban para malaikat.
Ayat ini semacam menjawab praduga para malaikat yang mempertanyaakan kepada Allâh ketika hendak diciptakannya manusia, “apakah Engkau akan menjadikan di bumi ini manusia.....” para malaikat menduga bahwa semua manusia akan saling menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi. Malaikat tidak mengetahui bahwa diantara mereka ada yang menjadi Nabi, orang-orang sholeh, dan para wali yang senantiasa memperjuangkan dan membela agama Allâh. Allâh lebih tahu atas segalanya daripada praduga malaikat.
Itulah kelebihan yang diberikan Allâh kepada Adam atas malaikat. Adam diberi ilmu untuk menyebutkan nama-nama semua makhluk hidup atau mati, sedangkan malaikat tidak diberi ilmu tentangnya. Demikianlah maha kuasa-Nya Allâh.
Ayat 32
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Demikianlah jawaban malaikat, tidak mengetahui apapun kecuali yang telah diberitahukan Allâh kepadanya. Allâh Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Mengetahui atas segala sesuatu dan Maha Bijaksana dalam penciptaan-NYA. Tiada satupun penciptaan Allâh yang tanpa terencana dan tujuan yang nantinya akan membawa kemaslahatan hidup, dunia dan akhirat.
“Maha Suci Allâh” maksudnya membersihkan Dzat Allâh dari segala keburukan, dan itu merupakan ungkapan yang disukai Allâh. Ulama lain yaitu Maimun bin Mihran ketika ditanya tentang kalimat “Maha Suci Allâh” maka beliau menjawab itu adalah pernyataan yang dengannya Allâh diagungkan karena Maha Besar-Nya, dan tidak ada yang ditakuti selain daripada-Nya. Maka para malaikat menyerahkan ilmu pengetahuan tentang nama benda-benda kepada Allâh yang Maha Ilmu dengan menyertakan pernyataan “maha suci Allâh”
Ayat 33
قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ
“Allâh berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allâh berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Maka Allâh memperintah Adam untuk menyebutkan nama-nama makhluk yang berada di sekelilingnya, tentang ayat ini Zaid bin Aslam berkata, “Adam menyebutkan nama malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan nama-nama lainnya. Sedangkan malaikat mendengarkan apa-apa yang disebutkan Adam.
Setelah tampak kelebihan Adam atas malaikat melalui penyebutan nama-nama yang telah diajarkan Allâh kepadanya, maka Allâh berfirman : “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu sesungguhnya Aku mengetahui keghaiban langit dan bumi serta mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”
Allâh mengetahui apa-apa yang ditampakkan, yaitu pernyataan malaikat yang mempertanyakan penciptaan manusia yang nantinya akan menumpahkan darah dan membuat kerusakan. Allâh lebih tahu maksud dan tujuan diciptakan-Nya manusia, sedangkan malaikat tidak tahu. Maka sudah seharusnya malaikat tunduk dan patuh kepada Allâh.
Allâh juga Maha Tahu atas apa yang tersembunyi, yaitu perbuatan yang menyalahi perintah Allâh dan kesombongan untuk mentaati-Nya yang telah dipersiapkan Iblis.
Dengan ayat-ayat semacam ini mestinya sudah cukup memberi penjelasan kepada manusia bahwa hanya Allâh yang Maha tahu atas perkara-perkara yang ghaib. Bahkan malaikat makhluk yang selalu dekat dan siap dengan perintah Allâh saja tidak diberi ilmu-ilmu keghaiban, apalagi manusia! Hanya Allâh yang mengetahui hal-hal yang Ghaib dan tidak diberitakan kepada sembarang orang. Allâh hanya mewahyukan kepada manusia pilihan-Nya, yaitu para Rasûl-Nya. Allâh telah berfirman dalam surat JIN ayat 26-27 :
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا(26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا(27)
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu (26). Kecuali kepada Rasûl yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya (27).
Hanya Allâh yang mengetahui hal-hal yang Ghaib, maka segala bentuk dan cara-cara pengabdian dan peribadatan yang didorong dengan kepercayaan Ghaib harus ada petunjuk Allâh. Bila ada satu bentuk kepercayaan Ghaib yang tidak berdasarkan petunjuk Allâh sudah pasti itu adalah sesat dan menyesatkan.
Bagi orang-orang yang ingin mendapat petunjuk Allâh agar kehidupannya selamat di dunia dan akhirat hanya ada satu jalan, yaitu mengikuti petunjuk Allâh dalam al-Qur’an dan sunnah Rasûl-Nya. Allâh berfirman dalam QS THAHAA : 123-124
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ(123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ(124)
“Allâh berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka(123). Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (124).
Allâhu ‘alam bish-showwab
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar