• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Muawiyah Memusuhi Ahlul Bayt?

Diskursus tentang pertentangan antara sunni-syiah tidak bisa dilepaskan dari sejarah perang yang terjadi antara sahabat Ali bin Abi Thalib yang notabene Ahlul Bayt dengan Muawiyah bin Abi Sufyan. Pertentangan dalam format perang antara dua sahabat tersebut pada selanjutnya menjadi sebuah sesuatu yang digunakan sebagai alat untuk memojokkan salah satu sahabat, yakni Muawiyah bin Abi Sufyan. Seringkali Muawiyah diasumsikan sebagai seorang dzalim yang merebut kepemimpinan khilafah dari sahabat Ali bin Abi Thalib.

Penggiringan opini bahwa Muawiyah sebagai pihak yang salah ini bukan hal yang baru. Selama ini, di buku-buku sejarah Islam yang disuguhkan buat murid-murid sekolah pun tidak jarang terjadi unsur marginalisasi terhadap Muawiyah yang merupakan salah satu sahabat Nabi, yang semestinya diyakini sebagai generasi Islam terbaik. Sehingga tidak sedikit umat Islam yang berasumsi salah terhadap sahabat Muawiyah ini. Yang menjadi pertanyaan disini adalah benarkah sahabat Muawiyah adalah seseorang yang memusuhi sahabat Ali bin Abi Thalib? Apakah sahabat Ali tidak mengakui kepemimpinan khilafah yang beralih kepada sahabat Muawiyah?

Mengenal Muawiyah

Mua’wiyyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abd asy ­Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. Nama panggilannya Abu Abdur Rahman al-Umawi. Dia dan ayahnya masuk Islam pada saat pembukaan kota Makkah (Fathu Makkah), ikut dalam perang Hunain, termasuk orang-­orang muallaf yang ditarik hatinya untuk masuk Islam, dan keislaman­nya baik, serta menjadi salah seorang penulis wahyu. Saudarinya sendiri yang bernama Ummu Habibah binti Abi Sufyan adalah merupakan istri Rasûlullâh, dan beliau terkenal dengan gelar “Khoolu al-Mukminiin”, yang berarti “Paman kaum mukminin”.

Dia meriwayatkan hadits dari Rasûlullâh sebanyak seratus enam puluh tiga hadits. Beberapa sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits darinya antara lain: Abdullah bin Abbas, Abdulah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Darda’, Jarir aI-Bajali, Nu’man bin Basyir dan yang lain. Sedangkan dari kalangan tabi’in antara lain: Sa’id bin al-­Musayyib, Hamid bin Abdur Rahman dan lain-lain.

Pujian Nabi dan Sahabat terhadap Muawiyah

Dia termasuk salah seorang yang memiliki kejeniusan, kepintaran, dan kesabaran. Cukup banyak hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan pribadinya. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan (dengan mengatakan bahwa hadits ini hasan) dari Abdur Rahman bin Abi Umairah (seorang sahabat Ra­sûlullâh) dari Rasûlullâh bahwa dia bersabda kepada Mu’awiyah, “Ya Allâh, jadikanlah dia orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.”

Kemudian Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dari al-Mirbadh bin Sariyyah dia berkata: Saya mendengar Rasûlullâh bersabda, “Ya Allâh ajarilah Mu’awiyah al-Qur’an dan hisab serta lindungilah dia dari adzab.” 

Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dan Imam ath-Thabarani dalam kitabnya al-Kabir meriwayatkan dari Abdul Malik bin Umair dia berkata: Mu’awiyyah berkata: Sejak Rasûlullâh bersabda kepada saya. “Wahai Mu’awiyah, jika kamu menjadi raja, maka berbuat baiklah!” saya selalu menginginkan jabatan kekhilafahan. Mua’wiyyah adalah seorang lelaki yang bertubuh tinggi berkulit putih dan tampan serta karismatik. Suatu ketika Umar bin Khaththab melihat kepadanya dan berkata, “Dia adalah kaisar Arab.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib dia berkata, “Janganlah kalian membenci pemerintahan Mu’awiyah. Sebab andai kalian kehilangan dia, niscaya akan kalian lihat beberapa kepala lepas dari lehernya, seperti buah handzal”. Ada pula riwayat dari Ibnu Abbas berkomentar tentang sosok Muawiyah :”Saya belum pernah melihat ada orang yang lebih bagus akhlaknya ketika menjadi raja melebihi Muawiyah.” (H.R. Abdurrozaq, sanadnya Shohih). Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat yang lainnya.

Melacak Otak dari Perang Shiffin

Sebenarnya dalam perang shiffin, tidak ada perselisihan antara Ali bin Abi Tholib dan Muawiyah, akan tetapi yang ada sebenarnya adalah perselisihan antara pengikut Abdullah bin Saba’ dan Muawiyah, sebab Muawiyah adalah yang paling getol menyuarakan diberlakukannya hukuman hadd kepada mereka atas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, dan Muawiyah lah yang berhasil mengungkap kedok kelompok munafiq pembuat makar tersebut. Dan kelompok pengikut Abdullah bin Saba’ ini sudah merasuk ke dalam barisan Ali bin Abi Thalib. Sehingga Dr. Hamid Muhammad Kholifah dalam bukunya “al-Inshof” hal. 418 menyebutkan : ”Sesungguhnya faktor utama yang melatarbelakangi meruncingnya hubungan Ali dan Muawiyah adalah adanya para “provokator” dalam barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang ingin memerangi Muawiyah”. Sehingga di balik pecahnya perang shifin tersebut tidak bisa dilepaskan dari kiprah kaum munafiqun binaan Abdullah bin Saba’.


Hubungan baik antara Muawiyah dengan Ahlul Bayt

Secara kekeluargaan dengan Rasûlullâh, sebenarnya Muawiyah cukup dekat hubungannya dengan Rasûlullâh. Sebab saudarinya Muawiyah yang bernama Ummu Habibah binti Abi Sufyan sendiri adalah istri Rasûlullâh, sehingga saudarinya adalah termasuk Ahlul Bayt, dan Muawiyah sendiri adalah saudara iparnya Rasûlullâh.

Muawiyah pun juga menjaga kedekatan dan kebaikan hubungan dengan ahlul bayt lainnya, seperti keluarga besar Ali bin Abi Thalib, baik sebelum menjadi khalifah maupun setelahnya, sebagaimana hal ini cukup masyhur dalam kitab-kitab sirah. Diantara bentuk kedekatan itu, Hasan dan Husain pernah bertamu ke rumah Muawiyah, dan beliau memberi uang sebesar 200 ribu dirham (atau senilai 20 rb dinar. Setara dengan 4700 gr emas). Muawiyah mengatakan, ’Belum pernah dua sahabat ini diberi harta seperti itu sebelumku.’ Husain berkomentar, ’Tidak ada seorangpun yang diberi harta lebih banyak dari pada kami.’(al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 8/139). Ali bin Abu Thalib berkata, “Janganlah kalian membenci pemerintahan Mu’awiyah. Sebab andai kalian kehilangan dia, niscaya akan kalian lihat beberapa kepala lepas dari lehernya, seperti buah handzal”.

Ditulis Oleh

Author
Ust. Heri Mahfudhi, Lc
Ghozwul Fikri
Nantikan Ghozwul Fikri berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar