• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Peran Ayah

Dengan bersungut-sungut lantaran frustasi, pak Nido seorang karyawan karir yang sukses menumpahkan kegundahan hatinya  “ Buat apa aku membanting tulang, kalau hasilnya hanya begini ? “,  setelah mengetahui anak laki-laki semata wayangnya telah kecanduan narkoba.

Penyesalan MEMANG sering datang terlambat.
Keluarga sering menumpahkan urusan pendidikan anak kepada ibu, sehingga seluruh masalah hanya menjadi beban seorang ibu, sedang ayah cukup menjadi pencari uang dan urusan luar rumah. Meskipun ada saja rumah tangga yang membebani ibu mencari uang, namun tetap saja pendidikan anak lebih tertumpu kepada ibu. 

Sangat mencolok perbedaannya dengan cara Islam, bagaimana pendidikan anak-anak adalah PERAN AYAH, sehingga kalau kita amati :
“ Quu anfusakum wa ahliikum naaro – jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka “ adalah menjadi beban tanggung jawab seorang ayah kepada keluarganya, demikian juga hadits  “ barang siapa memiliki 3 orang putri,  kemudian  MENDIDIK nya dan menikahkannya, maka baginya surga “, adalah merupakan beban tanggung jawab seorang ayah.

Tengoklah di penjara, 70 % yang dihukum seumur hidup adalah orang-orang yang gagal berhubungan dengan ayahnya – mereka yang cidera berkomunikasi bahkan pendidikan dengan sang ayah. Sehingga bagi seorang anak yang tidak tersentuh dengan pendidikan ayah maka dia akan mudah menjadi frustasi  dan kriminal.

Benarlah apa yang diabadikan di Al-Qur’an surat Luqman ayat 13,  “ Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia MEMBERI PELAJARAN kepadanya  ‘ wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. “

Ayat  16,  “Wahai anakku sungguh jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau dilangit atau dibumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah maha halus dan maha telliti “.

Dan jika diteliti lebih lanjut mulai dari ayat 12 sampai dengan ayat 19 adalah prinsip-prinsip pendidikan Luqman sebagai seorang AYAH,  berdasar bimbingan wahyu :
  1. KETAUHIDAN, kesempurnaan ibadah hanya kepada Allah, tunduk patuh hanya kepada Allah, sebagai konsekwensi dari syahadat  Laa ilaaha illallah.
  2. AMAL SHOLEH, adalah sebagai perwujudan dari benarnya beraqidah.
  3. AKHLAQ MULIA.

DIBANDING orang sekarang, kita akan sedih menyaksikan kocar kacirnya pendidikan keluarga, khususnya dari hal PERAN AYAH. Sistem sekuler yang mendasari sistem pendidikan putra putri  kita hanya berkonsentrasi dan berkonstribusi terpacunya anak mendapat prospek rezeki yang baik. Sehingga kita dapati orang semakin tinggi pendidikannya maka akan semakin kelihatan bodohnya, menjadi semakin tergantung dan semakin bingung.

Secara massal orang semakin dijauhkan dari urusan agama, dan urusan agama hanya menempati pojok kecil dari urusan kehidupan kita, dan TANPA PERAN AYAH, lebih membingungkan lagi ketika negara demikian massiv memberi kebebasan kepada :
  1. KOMUNIS, sejarah kelam tidaklah omong kosong, berbicaralah kepada orang tua  kita generasi angkatan 65 yang ketika itu sudah dewasa, maka dimana-mana pembantaian khususnya kepada ummat Islam tidaklah omong kosong.
  2. SYI’AH, yang karena tidak yakinnya dengan Al-Qur’an yang sekarang, mencaci maki sahabat utama, menyalahkan jibril, mema’shumkan imam-imamnya, maka kita menganggap mereka BUKAN ISLAM,  terutama kalau dilihat cita-cita mereka akan MEMBANTAI ahlus sunah tertera di kitab-kitab mereka, hal ini sangat mengerikan. Seperti yang terjadi di Suriah.
  3. RRC, yang semakin serakah mau meraup seluruh potensi negara, setelah mereka menguasai  80 % kekayaan Indonesia,  sekarang ke urusan politik sampai tenaga kerja dan kekuasaan.
Dan ketiga potensi diatas sudah mulai menguasai parlemen dan jajaran pejabat tinggi, tengoklah misalnya komunis sudah berhasil menghilangkan diri dari jejak sejarah, dan yang memprihatinkan ke tiga potensi diatas bisa bersatu, demi menghancurkan sendi sendi kehidupan ummat Islam, pemilik sah negeri ini.

Tentu kita sadar dan bingung dengan masa depan pendidikan putra-putri kita, bagaimana menghadapi masalah yang sangat krusial ini ?,  maka arahan yang sangat penting dari contoh Luqman adalah yang paling tepat, yaitu menjadikan sosok AYAH sebagai panutan pendidikan putra-putri kita, untuk kepentingan :
  1. SURVIVAL, melalui tangan kokoh sang ayah maka kecerdasan survivalnya, dan melalui kebijaksanaan sang ayah maka survival , tangguh seperti sang ayah.
  2. JENJANG KARIR, melalui pengalaman yang luas dari sang ayah maka putra-putri kita akan mendapat sorotan tajam menempatkan potensi karirnya sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Insya Allah, dengan cara Islam dan terdidik secara Islami yang akan mengarahkan sistem pendidikan putra – putri kita dengan PERAN AYAH.
Bagaimana dengan anda ?

Ditulis Oleh

Author
HM. Jatmiko, Ch
Pimpinan BIAS Jogja & YAUMMI Pati
Nantikan tulisan Pak Jat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar