• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

SHALATLAH DENGAN HATIMU

Shalat adalah tiang agama dan merupakan ketaatan yang paling utama, hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak hadits yang sudah sangat populer.

KEUTAMAAN KHUSYUK 
Diantara adab terbaik dalam shalat adalah khusyuk. Diriwayatkan dari sahabat Utsman bin Affan dari Nabi SAW bahwa beliau telah bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ


Tidaklah seorang muslim yang mendapati waktu shalat Fardhu, lalu dia membaguskan wudhu, khusyuk dan rukuknya maka shalat yang ia lakukan akan bisa menghapus dosa-dosa sebelumnya sepanjang masa kecuali dosa besar yang dilakukan” (HR. Muslim)

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa  yang berwudhu seperti wudhuku kemudian shalat dua rakaat dengan khusyuk maka dosa-dosanya  yang telah lalu akan diampuni oleh Allâh"  (HR. al-Bukhary)

Ketika Abdullah bin Zubair shalat maka beliau berdiri tegak dan tenang seperti tonggak kayu yang berdiri kokoh dikarenakan kekhusyukannya, ia sujud lalu burung-burung hinggap di punggungnya, karena menyangkanya sebuah dinding. Suatu saat beliau shalat di khijir Ismail lalu ada batu yang terlontar di depannya dan menyobek sebagian bajunya, tapi beliau sedikitpun tidak bergeming.

Maimun bin Mihran berkata, “aku tidak pernah melihat Muslim bin Yasar menengok dalam shalatnya sekalipun suatu ketika salah satu sudut masjid roboh, orang-orang yang ada di pasar panaik, namun dia yang shalat di masjid sama sekali tidak menengok.” 


Bila Ali bin Husain berwudhu maka wajahnya pucat, maka beliau ditanya, “mengapa anda selalu pucat setiap kali berwudhu?” tahukah kalian di depan siapa aku hendak berdiri? 

Ketahuilah, bahwa shalat mempunyai rukun-rukun, wajib-wajib dan sunah-sunah. Ruhnya adalah niat, ikhlas, khusyuk dan hadirnya hati ketika shalat. Di dalam shalat ada dzikir, munajat dan perbuatan-perbuatan. Tanpa hadirnya hati maksud dari dzikir dan munajat tidak akan terwujud. Karena jika kata-kata  tidak dipahami dan datang dari hati, maka ia ibarat orang yang mabuk tidak tahu apa yang telah dia ucapkan dan ia juga tidak bisa mewujudkan maksud dari perbuatan-perbuatan dalam shalat. Maka jika maksud berdiri dalam shalat adalah khidmat, maksud rukuk dan sujud adalah pengagungan dan kerendahan, lalu hati tidak hadir maka maksud dari gerakan-gerakan perbuatan tersebut tidak terwujud. Bila perbuatan menyimpang dari maksudnya maka ia sekedar tongkrongan yang tidak berarti. Allâh SWT berfirman, 

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allâh, akan tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS: al-Haj [22]: 37)

Intinya adalah bahwa yang sampai kepada Allâh adalah kriteria yang mendominasi hati, sehingga ia mendorong untuk melakukan perintah-perintah yang dituntut kepadanya. Jadi shalat dengan hadirnya hati adalah sebuah keharusan, walaupun syaraiat memaklumi jika terjadi sedikit kelalaian di dalam hati, karena hukum kehadiran hati pada awalnya berlaku untuk selanjutnya. 

HAL-HAL YANG MENJADIKAN SHALAT HIDUP
Yang pertama: hadirnya hati ketika shalat, pemicunya adalah keinginan yang kuat, karena jika seseorang memiliki keinginan terhadap sesuatu, niscaya hati akan hadir secara otomatis. Maka tidak ada cara menghadirkan hati selain memfokuskan konsentrasi untuk shalat. Fokusnya konsentrasi terkadang menguat dan terkadang melemah sesuai dengan sejauh mana keimanan seseorang terhadap hari akhir dan sejauh mana ia mampu memandang rendah dunia. Maka jika kamu merasa hatimu tidak mampu hadir dalam shalat, maka sadarilah bahwa sebabnya adalah lemahnya iman dan semangat dan ambisi yang kuat terhadap dunia. 

Yang kedua: memahami ucapan dalam shalat, karena itu adalah unsur yang penting untuk bisa menghadirkan hati. Karena bisa saja hati hadir bersama lafadz tapi bukan bersama makna, maka patut mengarahkan akal dalam  upaya memahami makna, dengan menepis segala ambisi dunia yang menyibukkan seseorang dari shalatnya. 

Sebab yang bisa menjadikan orang lalai dalam shalatnya bisa bersifat dhohir, yaitu sesuatu yang melenakan pendengaran dan penglihatan, dan juga bersifat batin dan ini yang lebih berat. Seperti orang yang sedang didera oleh tumpukan kesedihan dan harapan terhadap dunia, pikirannya tidak hanya disibukkan dengan satu masalah saja namun bisa banyak masalah yang sedang ia pikirkan, menundukkan pandangan tidak berguna baginya, karena apa yang ada dalam hatinya sudah cukup menyibukkan. 

Obatnya: jika masalah yang mengganggu bersifat lahir, maka dengan memutuskan apa yang menyibukkan pendengaran dan penglihatan. Maka hendaknya ketika shalat ia memandang ketempat sujud, mejauhi tempat-tempat yang penuh hiasan, tidak membiarkan sesuatu yang menyibukkan pandangannya, karena Nabi SAW ketika shalat menghadap sebuah kain yang bergambar maka beliau segera menyingkirkannya seraya mengatakan, “sesungguhnya kain tersebut menyibukkanku dari shalat”. 

Bila masalah yang mengganggu bersifat batin, maka jalan penanganannya adalah mengembalikan secara paksa pada apa yang sedang dibaca dalam shalat dan bertadabur maknanya sehingga bisa melupakan hal-hal yang lain di luar kepentingan shalat. Senantiasa menguatkan ingatannya tentang akhirat dan keabadiannya serta meningkatkan keyakinanya bahwasanya dunia yang gemerlap ini adalah sementara. Jika dengan hal tersebut pikiran belum juga tenang dan khusyuk, maka ketahuilah bahwa ia telah memiliki ambisi dunia yang menjadikan nafsunya senantiasa cenderung kepadanya, maka ia harus mampu segera memutuskannya.

Seseorang bertanya kepada Amir bin Abdul Qois, “apakah jiwamu membisikkanmu dengan perkara dunia kepadamu dalam shalat? Dia menjawab, “ujung anak panah menusukku lebih aku sukai daripada aku menemukan hal itu”. 

Yang ketiga: mengagungkan Allâh SWT dan merasakan keagungannya. Hal tersebut bisa terwujud dengan dua perkara, dengan mengetahui keagungan dan kebesaran Allâh dan mengetahui dan menyadari akan rendahnya diri kita di hadapan-Nya. Dari dua hal tersebut akan muncul sikap ketundukkan dan kekhusyukan. 

Demikian juga sikap roja’ (berharap) dan khouf (takut), dimana seorang ketika melakukan  shalat hendaknya ia senantiasa berharap agar mendapatkan pahala dan takut jika shalat tersebut tidak ada pahalanya.   

Ditulis Oleh

Author
Ust. H. Sigit Sulistyo, Lc
Mjelis Syuro MPAQ
Nantikan kajian Tazkiyatun Nafs berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar