عَنْ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : خَطَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ، وَخَطَّ عَنْ يَمِينِ الْخَطِّ وَعَنْ شِمَالِهِ خُطَطًا ثُمَّ قَالَ : هَذَا صِرَاطُ اللهِ مُسْتَقِيمًا ، وَهَذِهِ السُّبُلُ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا}.
Dari Abdullah, ia berkata: Rasûlullâh pernah menggambar sebuah garis lurus. Lantas Nabi bersabda: “Inilah jalan Allâh yang lurus”. Lalu pada garis lurus itu, beliau menggambar garis yang menyimpang ke kiri dan ke kanan. Beliau katakan: “sedangkan dua garis yang menyimpang ini adalah sesat dan menyesatkan. Masing-masing darinya terdapat setan yang mengajak ke jalan menyimpang tersebut”. Lalu, beliau membaca ayat al-Quran: “wa anna hadza shirathiy mustaqiiman fattabi’uuhu wa laa tattabi’u as-subula fatafarraqa bikum ‘an sabiilihi.”
Sehingga dari sini setiap Muslim wajib memahami mana jalan yang lurus (asshirathal mustaqim) dan mana jalan yang sesat. Pada jalan yang sesat itulah terdapat setan yang senantiasa berusaha membujuk orang Muslim ke jalan setan, atau jalan sesat. Orang yang sesat ada dua jenis, yakni yang sesat secara sengaja dan yang sesat karena bodoh. “Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat; lalu mereka sangat tergesa-gesa mengikuti jalan hidup bapak-bapak mereka itu.” (QS ash-Shaffat [37]: 69-70). Kelak di akhirat, ada juga orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka, karena karena di dunia hanya ikut-ikutan secara membabi buta kepada para pemimpin mereka yang sesat.
Mereka taklid buta kepada pemimpin-pemimpin mereka yang sesat tanpa mau berpikir dan mencari kebenaran. Sebagaimana dalam QS al-Ahzab [33]: 67-68: ketika orang-orang sesat penghuni neraka berkata; “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” Sehingga orang-orang bodoh dan tidak mau menuntut ilmu, kemudian ia tersesat, senangnya hanya ikut-ikutan pada tradisi nenek moyangnya yang juga tersesat, enggan berpikir dan mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh, padahal mereka juga dikaruniai akal untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mereka itu kelak tidak bisa luput dari siksa Allâh Ta’ala. Ayat tersebut sangat jelas sekali menggambarkan abadi orang-orang bodoh atau orang yang membodohkan dirinya sendiri, yakni mereka yang dulu hanya ikut-ikutan paham sesat yang dianut pemimpinnya, tanpa mau melakukan kajian kritis.
Di era modern sekarang ini, tidak jarang masih ditemukan orang pintar ikut-ikutan suatu paham atau pemikiran seseorang tokoh tanpa mencermati dan memahami terlebih dahulu pemikirannya. Mereka hanya ikut arus opini. Mereka takut untuk melawan opini yang dikembangkan media massa. Atau mereka justru mungkin sengaja memanfaatkan arus opini untuk kepentingan peningkatan citra di tengah masyarakat. Bahkan seringkali malah kebencian ditanamkan terhadap para pemikir yang mengkritisi paham sesat yang dianut tokoh yang dia suka.
Bentuk kesesatan lain yang tidak kalah bahayanya adalah manusia yang tahu jalan yang benar, namun ia telah dikuasai oleh godaan hawa nafsu dan pintarnya tipu daya setan, maka mereka menolak jalan yang benar. Contoh yang jelas adalah kasus Iblis yang menolak perintah Allâh karena kesombongan. Iblis tahu benar bahwa yang dilakukannya (membangkang perintah Allâh) adalah salah. Tapi, karena api kedengkian membakar dirinya, maka ia memilih jalan sesat dengan sadar. Ia berani membangkang perintah Allâh karena kesombohan dan kedengkian, bukan karena ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Fenomena Iblis ini sangat bisa dijumpai dengan mudah pada era sekarang ini. Dan Iblis tentu sangat paham bagaimana cara menyesatkan manusia melalui jalan ini. Sangat banyak sekali jebakan-jebakan yang dipasang oleh Iblis untuk menjerumuskan umat manusia ke jalan sesat. Sehingga jalan satu-satunya untuk selamat dari jalan sesat tersebut adalah mengikuti petunjuk Allâh SWT. Sebagaimana dalam QS Thaha [20]: 123: “Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.”
Fenomena Liberalisme di Indonesia
Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim tidak lepas dari serangan kaum liberal Barat. Bahkan justru Indonesia dijadikan sebagai objek utama yang sangat empuk untuk dihancurkan tata nilai agama di dalamnya. Dengan didukung dana yang besar oleh salah satunya The Asia Foundation (TAF), mereka sangat ingin merusak akidah dan cara pandang umat Islam Indonesia dengan disusupi nilai-nilai liberal. Selain itu, USAID (US Agency for International Development) juga mempunyai program reformasi pendidikan di seluruh Indonesia baik pendidikan formal maupun informal, termasuk reformasi pendidikan di pesantren.
Sebenarnya liberalisme yang ada di Barat bermula dari liberalisme pada bidang sosial dan politik. Liberalisme sosial dan politik dalam peradaban Barat telah memarjilnalkan agama atau memisahkan agama dari urusan sosial dan politik secara perlahan-lahan. Kemudian agama dibawa tunduk di bawah kepentingan politik dan humanisme. Ketika pandangan Barat ini gencar diekspor ke negara-negara Islam dan tentunya dengan alokasi dana yang banyak, tak sedikit cendikiawan muslim yang mengimpor pemikiran Barat ini. Bahkan mereka dengan membabi buta menawarkan konsep tersebut ke semua elemen masyarakat. Akhirnya banyak dari mereka yang berfikir “agar maju, umat Islam harus meniru Barat”.
Bagaimana cara menentukan paham atau aliran sesat? Untuk kaum Muslim di Indonesia, ada 10 kriteria paham/aliran sesat yang dirumuskan Majlis Ulama Indonesia untuk bisa dijadikan sebagai pegangan:
- Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam,
- Meyakini/mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (al-Qur’an & as-Sunnah),
- Meyakini turunnya wahyu sesudah al-ur’an,
- Mengingkari autentitas dan kebenaran al-Qur’an,
- Menafsirkan al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir,
- Mengingkari kedudukan hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam,
- Menghina, melecehkan, atau merendahkan Nabi dan Rosul,
- Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terkahir,
- Mengubah, menambah dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syari’at,
- Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i.
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar