• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

ADAB-ADAB MENJADI SEORANG MURID DAN GURU YANG SUKSES

A. ADAB-ADAB MENJADI SEORANG MURID

  1. Seorang murid jika ingin sukses dalam mencari ilmu maka hendaknya membersihkan diri dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat yang tercela, dikarenakan belajar ilmu adalah ibadah hati, maka jika hatinya kotor dari sifat-sifat yang tercela maka sulit baginya untuk mendapatkan ilmu. Sebagaimana Imam Syafi’i pernah mengeluhkan kepada gurunya tentang buruknya hafalannya, maka dijawab oleh imam Malik sebagai gurunya, bahwa ilmu itu adalah cahaya Allah dan cahaya Allah tidak akan mungkin akan masuk ke dalam hati yang sedang bermaksiat. 
  2. Seorang murid harus mampu menghilangkan suatu aktivitas apapun yang  menjadikan ia sibuk dari belajar, dikarenakan kapasitas berfikir manusia itu sangatlah terbatas, maka jika ia sibuk dengan suatu perkara maka ia akan kehilangan konsentrasi yang menjadikan ia sulit mendapatkan ilmu. Demikian pula para ulama salaf mereka orang-orang yang sangat mementingkan ilmu di atas segala-galanya. Diriwayatkan imam Ahmad beliau sangat menyibukkan dirinya dalam mencari ilmu sehingga beliau tidak nikah melainkan setelah usia 40 th. Demikian pula dikisahkan ketika sahabat Abu Bakar sedang belajar, datang seorang budak dengan membawa kurma ambari kemudian dihidangkanlah kurma tersebut pada beliau, melihat kurma ambari tersebut menjadikan hilang konsentrasinya, maka beliau memerintahkan sang budak untuk mengambil kembali kurma tersebut. 
  3. Seorang murid harus memiliki ketergantungan lebih kepada seorang guru dalam masalah ilmu, seperti tergantungnya seorang pasien terhadap dokter. Seorang pasien akan sangat patuh terhadap nasehat-nasihat seorang dokter, tahap demi tahap ia akan jalankan semua perintahnya agar cepat sembuh, demikian pula seharusnya sikap seorang murid kepada gurunya ia harus patuh, tawaduk, serta berhidmah dan memuliakan seorang guru. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abas setiap kali melihat gurunya Zaid bin Sabit datang mengendarai onta maka ia bergegas mengambil dan menambatkan onta tersebut seraya berkata, “demikianlah kami diperintahkan untuk memuliakan ulama”.
  4. Ketika sorang murid merasa lebih mampu dan pintar dari gurunya maka disitulah awal dari kebodohan. Maka hendaknya seorang murid ketika berbeda pendapat dengan gurunya ia mampu meninggalkan pendapatnya dan menguatkan pendapat gurunya, dikarenakan salahnya guru menurut pandangan murid itu jauh lebih baik dari pada benarnya pendapat murid menurut pandangan murid itu sendiri.  Sahabat Ali telah berkata, “termasuk hak seorang ulama atas kamu, hendaknya kamu muliakan mereka dengan memberi salam secara kusus, hendaknya kamu duduk di depannya ketika belajar,  tidak boleh  merendahkan mereka dengan isyarat tangan dan mata, tidak mendesak mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang banyak, janganlah membantu menjawab pertanyaan ketika mereka sedang ditanya, jangan kamu paksa mereka untuk terus belajar ketika mereka merasa lelah, janganlah kamu meyebarkan kejelekannya kepada orang lain, jangan kamu menggibahi mereka, jika mereka salah maka mudahlah kalian memaafkan, janganlah kamu banding-bandingkan mereka dengan ulama yang lain, janganlah kamu bercerita di depan mereka tentang kepandaian dan kelebihan ulama lain, janganlah kamu bosan untuk berlama-lama belajar dengan mereka, janganlah kamu menolak untuk senantiasa membantu mereka, ketika kamu tahu mereka menginginkan sesuatu maka bersegeralah kamu untuk segera memenuhinya.” 
  5. Hendaknya seorang murid bersegera dalam mencari limu, karena sikap lambat dan malas hanya menjadikan seorang murid putus asa dalam belajar. 
  6. Hendaknya dalam belajar seorang murid harus mampu fokus dalam mencari ilmu, serta mengerahkan semua potensi dan energinya untuk mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat dan menjadikan  hidup mulia dikarenakan usia manusia sangatlah terbatas sehingga tidaklah mungkin untuk mempelajari semua disiplin ilmu yang ada. Dan ketahuilah bahwa ilmu yang bermanfaat dan menjadikan kamu mulia di hadapan Allâh SWT adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan akhirat, dimana akan menjadikan kamu seorang yang memiliki keyakinan yang baik dan kuat, sebagaimana yang dimiliki oleh sahabat Abu Bakar Sidiq. 

B. ADAB-ADAB MENJADI GURU YANG SUKSES

  1. Hendaknya seorang guru menyayangi murid-muridnya dengan sepenuh hati dan memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri. 
  2. Hendaknya seorang guru tidak mengharap upah dari ia mengajar, tidak mengharap pujian dan ucapan terimakasih dari murid-muridnya. Akan tetapi ia melakukan itu semua ikhlas karena Allâh SWT semata. 
  3. Hendaknya seorang guru melihat profesinya adalah sebuah pekerjaan yang mulia karena guru adalah orang yang senantiasa menyiapkan anak didiknya sebagai orang dekat kepada Allâh SWT dengan menanamkan ilmu di dalam hatinya. Sehingga seorang guru diibaratkan seperti orang yang memiliki tanah yang meminta seseorang untuk menanaminya sehingga tidaklah patut kalau ia meminta upah melainkan hanya kepada Allâh semata. 
  4. Hendaknya seorang guru senantiasa memberi nasehat kebaikan pada murid-muridnya dan tidak meluruskan akhlak buruknya dengan cara mempermalukan di khalayak ramai baik dengan cara sindiran maupun makian, karena sesungguhnya makian seorang guru pada muridnya hanya akan mengurangi kewibawaan seorang guru di hadapan murid-muridnya. 
  5. Hendaknya seorang guru memahami kapasitas dan kemampuan berfikir anak didiknya, sehingga tidak menyampaikan sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh muridnya. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “aku diperintahkan untuk mengajak bicara manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka” 
  6. Hendaknya seorang guru mengamalkan segala hal yang ia perintahkan kepada murid-muridnya dan tidak boleh ia menyelisihi perkataan dan perbuatannya sendiri. Allâh SWT berfirman, (apakah kamu memerintahkan manusia kebaikan dan kamu melupakan diri kamu sendiri sedang  kamu membaca kitab (al-Qur’an)  (QS: al-Baqarah [2]: 44)



Ditulis Oleh

Author
Ust. H. Sigit Sulistyo, Lc
Mjelis Syuro MPAQ
Nantikan kajian Tazkiyatun Nafs berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar