• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Makan-makan, Pesta-Pesta, Santai-santai : Life Style Orang Kafir


Pada dasarnya  Allah menciptakan manusia di dunia ini adalah untuk BERIBADAH, setiap waktu setiap saat, dan nanti di akhirat maka setiap waktu setiap saat yang kita lalui akan diminta pertanggung jawabannya, benarkah untuk ibadah atau bukan ?


Maka kita melihat para salafus sholeh, mereka tidak ada waktu untuk mengikuti kesenangan dunia – mengikuti hawa nafsu yang haram, karena waktu di dunia  tidaklah  lama bagi setiap manusia, didunia hanya sebentar seperti jawaban Allah di dalam firman-Nya Q.S.  24 : 112 – 115 :  “ Dia ( Allah ) berfirman, berapa tahunkah lamanya kamu tinggal dibumi ? “, mereka menjawab  ‘ Kami tinggal dibumi SEHARI atau SETENGAH hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung “. Dia ( Allah ) berfirman  ‘ KAMU TINGGAL DIBUMI HANYA SEBENTAR, jika kamu benar-benar mengetahui ‘. Maka, apakah kamu mengira KAMI  ( Allah ) menciptakan kamu main-main ? ( tanpa ada maksud ) dan bahwa kamu TIDAK AKAN DIKEMBALIKAN kepada kami ? “

Sehingga ketika Imam Ahmad  ditanya muridnya ‘ wahai imam, mengapa engkau mesti berlari untuk mengejar kajian ilmu yang selanjutnya ? – karena ketika itu meskipun sebagai imam besar beliau masih mendalami ilmu-ilmu lainnya dan ditempuh dengan berlari ketika menuju sumber ilmu selanjutnya  ‘ Kapan anda akan beristirahat ? ‘, maka jawab imam Ahmad  ‘ Nanti kalau jempol kaki kita sudah sampai ke sorga ‘.

BENAR memang, orang di dunia ini di tuntut untuk terus bergerak dalam dinamika ibadah, dan itu sudah dimulai sejak kita lahir, betapa beratnya perjuangan hidup, ketika bayi baru lahir menangis keras mencari tetek ibunya, kemudian semakin besar latihan berjalan dengan seringkali jatuh, kemudian beranjak kanak-kanak harus mencari ilmu dengan susah payah, bahkan ketika mulai usia SMP orang tua telah menuntut untuk mencari ilmu yang TIDAK BERGUNA bagi akhirat kita dengan kita les ini itu, kemudian ketika menginjak dewasa kita harus mencari nafkah untuk kepentingan tanggung jawab bagi laki-laki, dengan berumah tangga, terus…………., kehidupan memang berat, sampai kemudian kita tua badan melemah, berat dan terus berat, sampai kemudian nyawa kita dicabut malaikat atas kehendak Allah, maka kitapun akan terus dibebani dengan masalah untuk bertanggung jawab di kehidupan kita, di alam kubur dengan siksaan yang keras apabila ternyata kita tidak membawa amal ibadah yang sesuai sunnah, kemudian ketika kiamat,  masih lagi kita akan bertanggung jawab dipadang mahsyar dengan kondisi matahari sejarak 1 mil, dengan peluh bercucuran dan rasa malu disaksikan orang sedunia kita berdiri dihadapan Allah dengan kaki tercancang dan mulut terkunci, kemudian masih harus melewati jembatan sirothol mustaqiem yang mengerikan karena adanya gantolan besi yang menyambar-nyambar, sampai kemudian ada keputusan, apakah kita akan masuk sorga ? , demikian jawab Imam Ahmad, kita akan ber istirahat kalau jempol kaki kita sudah berada di surga.

AL QURAN  90 : 4 dan 10 – 12,  “ Sungguh, kami ( Allah ) telah menciptakan manusia berada dalam SUSAH PAYAH “.  “ Dan Kami ( Allah) telah menunjukkan kepadanya dua jalan ( kebajikan dan kejahatan ), tetapi dia TIDAK MENEMPUH JALAN YANG MENDAKI DAN SUKAR, Dan tahukah kamu apakah jalan mendaki dan sukar itu ? “.

SANGAT KONTRAS, dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan sekuler, mereka seolah-olah  hidup ini bahagia jika dibuat-buat kehidupan serba mudah, serba glamour, serba mewah, serba wah ………, santai-santai , pesta-pesta dan makan-makan.

Dibuatlah settingan persoalan makan yang merupakan kegiatan sederhana untuk menguatkan tubuh agar betah dan kokoh beribadah, menjadi ajang kegiatan riya dengan segala pengolahan masakan dan penyajian yang wah, dengan beragam kulinernya. Saksikan disemua tayangan televisi, untuk URUSAN MAKAN saja dibuatlah bahasa-bahasa indah yang wah…., dibuatlah penyajian yang luar biasa, dengan komentar yang mempesona, seolah hidup urusan dan tujuannya hanya untuk makan, sehingga di Al-Quran menyebut SEPERTI BINATANG TERNAK, selain karena seperti tujuan hidupnya untuk makan, dan seolah makan adalah kegiatan satu-satunya yang mendasari kehidupan selainnya.

Di Q.S.  47 : 12, Allah berfirman  “ Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. DAN ORANG-ORANG KAFIR MENIKMATI KESENANGAN HIDUP DI DUNIA, DAN MEREKA MAKAN SEPERTI HEWAN TERNAK, dan kelak nerakalah tempat tinggal bagi mereka “. Ya…… memang orang kafir sebagai life style nya menjadikan PESTA-PESTA – Kesenangan hidup – sebagai bagian terbesar dari kehidupannya, lihatlah orang merayakan, dari mulai pesta pernikahan, kelahiran, ulang tahun, sampai pesta kematian, masih ditambah dengan pesta hari ini dan hari itu, dan orientasinya pada urusan MAKAN, sehingga dijuluki Allah layaknya seperti binatang ternak. Seluruh potensi hidup untuk dunia, dengan bekerja keras dan  kepayahan, hasilnya ? justru di akhirat mereka akan tertunduk terhina dan menyesal, karena ternyata apa yang diusahai di dunia dengan menghabiskan potensi hidup tidak menetas apa-apa di akhirat. Dan puncaknya adalah masuknya mereka ke api yang menyala-nyala,

Q.S. 88 : 2 sd 4 : “ Pada hari itu banyak wajah yang TERTUNDUK LAGI TERHINA ( 2), karena BEKERJA KERAS LAGI KEPAYAHAN ( 3), Mereka memasuki api yang sangat panas ( neraka-4) “
SANGAT BERBEDA dengan kehidupan Rasulullah, yang ketika haji wada’ berkurbannya saja dengan SERATUS ekor unta dimana 63 ekor disembelih dengan tangan beliau sendiri, namun di akhir hayatnya beliau masih menggadaikan baju besi kepada orang yahudi, tidak pernah beliau makan menjadi life style dan berlebihan, apalagi pesta-pesta – bahkan untuk WALIMAH saja disarankan memotong 1 ekor kambing.  demikian juga yang diikuti para sahabat. Pantas saja kehidupan mereka BAHAGIA karena pola hidup beliau dan para sahabat adalah pola hidup ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG,

Q.S.  24  : 51 – 52, “ Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka di ajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara diantara mereka, mereka berkata ‘ kami mendengar dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang YANG BERUNTUNG “.

“ Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang YANG BERUNTUNG “.

Jadi KEBERUNTUNGAN adalah karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan dengan ukuran dunia dengan pesta-perta, makan-makan dan hura-hura, karena memang nyata bagi mu’min bahwa  DUNIA ADALAH PENJARA  ( Hadits Shohih ).
Allahu a’lam bish-showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar