Terkait krisis ulama, pengamat pendidikan Islam di Indonesia, Tuty Alawiyah menyatakan bahwa saat ini Indonesia sedang dilanda krisis ulama, da’i (pendakwah laki-laki) dan da’iyah (pendakwah perempuan). Padahal tiga unsur tersebut merupakan bagian penting dari perkembangan Islam di Indonesia. Sebaliknya, ketidakhadiran tiga unsur tersebut dapat berdampak pada kemunduran Islam di Indonesia. Dia pun mendorong semua pemangku kepentingan untuk melahirkan program pengkaderan ulama untuk menyampaikan risalah keislaman yang dibawa dan diperjuangkan oleh Rasulullah dan sahabat.
Diantara faktor utama dari terjadinya krisis keulamaan tersebut adalah semakin menurunnya minat masyarakat memasukkan anak-anaknya ke pondok pesantren (ponpes) untuk dididik ilmu agama. Kalaupun ada yang berminat tafaqquh fiddiin, namun mengalami kendala dalam hal biaya atau dana. Disamping itu, virus materialisme yang semakin menggurita di masyarakat menjadikan mereka lebih memilih belajar ilmu yang menunjang aspek dunia daripada mendalami ilmu yang menjadi bekal ke alam akhirat yang abadi.
Belum lagi kampanye anti ulama, atau propaganda pemojokan peran ulama yang gencar dihembuskan oleh kaum liberal, turut menyumbangkan faktor yang cukup dominan dalam terjadinya krisis keulamaan. Mungkin sering kita dengar tatkala MUI mengeluarkan fatwa himbauan kepada umat Islam, namun fatwa tersebut mendapat sambutan sinis dari antek Barat dan Yahudi tersebut sebab dianggap mengganggu proses liberalisasi pemikiran paradigma di tanah air tercinta ini.
Dampak Krisis Ulama
Akhirnya, krisis ulama ini pun berdampak pada beberapa hal yang mesti harus menjadi fokus perhatian segenap umat Islam. Diantara dampak dari krisis ulama yang bisa dilihat dalam realita kondisi di Indonesia adalah sebagai berikut :
Pertama; Krisis Iman dan Aqidah.
Saat ini umat Islam di Indonesia sedang mengalami musibah dengan munculnya berbagai aliran sesat serta paham-paham yang menyeleweng dari aqidah Islam. Kemunculan faham tersebut disebabkan oleh masih minimnya benteng tauhid pada umat Islam, sehingga sangat mudah bagi faham-faham sesat untuk masuk ke dalamnya.
Pada sekitar tahun 2001 umat Islam Indonesia dibuat heboh dan geger dengan munculnya sebuah kelompok yang menamakan dirinya “Jaringan Islam Liberal (JIL)”. Kelompok tersebut sering memberikan pemaknaan dan pemahaman baru terhadap al-Qur’an maupun Hadits yang sangat menyeleweng dari pondasi aqidah umat Islam. Senantiasa berupaya mengkontekstualisasikan semua nash yang ada, baik dari al-Qur’an maupun Hadits.
Pada tahun 2003 umat Islam Indonesia dihebohkan lagi dengan munculnya sebuah paham yang menamakan dirinya “Agama Salamullah” yang didirikan oleh seorang wanita bernama Lia Aminuddin yang mengaku bahwa dirinya adalah Imam Mahdi, kemudian ia juga mengaku bahwa ia telah mendapat wahyu, dan pada akhirnya dia juga mengklaim bahwa ia adalah sosok jelmaan Jibril.
Pada awal tahun 2006, umat Islam juga dibuat heboh dengan pengakuan seorang yang bernama Mushaddeq yang mengaku sebagai Rasul. Di sisi lain juga terjadi konflik di Cikesik Jawa Barat antara pengikut Ahmadiyah dengan umat Islam. Dan yang lebih berbahaya lagi adalah gerakan syi’ahisasi yang saat-saat ini juga menjadi tantangan yang tidak ringan bagi umat Islam. Dan masih sangat banyak sekali aliran-aliran serta paham-paham menyimpang yang bermunculan di Negri ini.
Kedua; Degradasi (Kemerosotan) Moral
Dampak lain krisis ulama ini adalah degradasi moral. Hal ini tentu menjadi sesuatu yang sangat pasti terjadi tatkala krisis ulama sudah melanda. Masyarakat sudah kehilangan pegangan dalam menjalani hidup mereka. Belum lagi pengaruh media massa yang semakin tak terkendali, yang menyumbangkan begitu banyak pengaruh negatif kepada anak-anak bangsa. Hiburan-hiburan yang mengumbar aurat wanita, konser-konser musik, sinetron, infotainment, dan masih banyak lagi program-program media massa lainnya yang memberikan pengaruh negatif yang sangat luar biasa terhadap moral generasi bangsa kita.
Ketiga, Krisis Ekonomi, Sosial, dan Politik.
Kesulitan ekonomi yang melanda umat Islam di Indonesia sebenarnya tidak lain disebabkan oleh semakin jauhnya mereka dari para ulama. Hal ini sangat jauh beda dengan negara Arab Saudi yang sampai saat ini masih menjadikan ulama sebagai partner pemerintah dalam mengelola rakyat. Sehingga derajat kesejahteraan umat Islam di Indonesia masih jauh dengan umat Islam di Arab Saudi. Padahal dari kekayaan bumi, Indonesia tentu lebih subur daripada Arab Saudi yang terkenal gersang dan tandus dengan didominasi wilayah padang pasir. Belum lagi tambang dalam bumi Indonesia yang berupa minyak, emas, timah, dan lain sebagainya yang sangat banyak ragamnya.
Dalam ranah sosial, gaya hedonisme semakin merajalela di masyarakat. Virus individualisme yang membuat umat Islam semakin kehilangan kepekaan sosial yang diajarkan oleh Rasûlullâh. Belum lagi dalam bidang politik yang sering ditemukan kecurangan dalam pesta demokrasi yang diselenggarakan KPU. Yang paling menonjol adalah maraknya money politic (politik uang) yang senantiasa menghiasi setiap even pemilihan pemimpin, dari tingkat pusat sampai tingkat kelurahan. Hal ini tentu menjadi problem yang sangat penting untuk menjadi titik perhatian seluruh komponen umat Islam.
Kebutuhan Umat kepada Ulama di Era Modern
Tantangan umat Islam ke depan semakin berat di tengah suburnya arus pemikiran Barat. Sedangkan dalam diri umat Islam sendiri juga terjadi problem, salah satunya adalah regenerasi ulama yang lambat atau bahkan terhenti. Umat Islam saat ini sedang mengalami krisis ulama, dimana banyak ulama besar meninggal dunia namun yang sekaliber dengannya belum ada lagi.
Sementara di satu sisi, begitu banyak kalangan cendikiawan Muslim atau para ulama yang tidak dapat melakukan respon yang tepat, atau melakukan semacam counter terhadap paham sesat tersebut. Hal itu disebabkan karena tidak paham dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Dalam era globalisasi dan hegemoni peradaban Barat saat ini, seyogyanya para ulama dan cendikiawan Muslim juga memahami paham-paham yang berasal dari Barat yang menggerogoti aqidah umat. Paham dan pemikiran seperti pluralisme agama, sekularisme, liberalisme dan hermeneutika kini telah diajarkan dan disebarluaskan serta diajarkan lewat lembaga-lembaga pendidikan berlabel Islam.
Maka sangat wajib untuk muncul kembali di Indonesia ulama-ulama warotsatul anbiya’ yang yang faqih fid din, serta bersungguh-sungguh memikirkan dan menyelesaikan problematika umat seperti sekarang ini. Dan pesantren serta lembaga pendidikan Islam diharapkan untuk benar-benar menjadi pusat keilmuan (imtaq dan iptek) dan kaderisasi ulama yang tangguh, shaleh dan beraqidah lurus. Wallohu A’lam. @yusma@.
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar