• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

DZIKIR KITA

Dzikir ( yang lisan ) adalah ibadah, maka harus sama persis dengan yang dituntunkan oleh Rasulullah saw, berbeda dengan doa ( permohonan ) dan dzikir yang sifatnya dzikir pribadi, maka kita bebas dalam hal itu. Membuat-buat sesuatu hal yang baru dalam agama adalah bid’ah.

Majalah Sinaran Ed.17
Hal. 2 -4
Tergelitik, ketika di acara MUNAS MPAQ beberapa waktu yang lalu, seorang peserta bertanya kepada Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim “ Kalau kita dzikir mengikuti Rasulullah saw, apakah tidak bertentangan dengan Al-Qur’an yang memerintahkan kita DZIKIR YANG BANYAK ? “. Maklum pemahaman dzikirnya sebatas dzikir habis sholat dan dzikir populer lainnya yang seolah sedikit. Dengan tersenyum, pak Kyai menjawab “ Siapa orang sekarang yang kuat dzikir seperti Rasulullah saw? “ , sambil memerintahkan murid ngaji untuk memerinci, yang hasilnya mulai bangun tidur :

  1. Rasulullah saw bangun tidur berdzikir dan berdoa,
  2. Masuk kamar mandi berdzikir,
  3. Akan wudlu berdzikir,
  4. Keluar kamar mandi berdzikir,
  5. Berpakaian berdzikir,
  6. Sholat ( karena sholat sepenuhnya berisi dzikir kepada Allah ), bahkan diriwayatkan kalau sholat lail ( sholat malam ) sampai kaki beliau bengkak ( karena bacaan Al-Qur’annya kadang surat Al-Baqarah, disambung Ali Imron, disambung An-Nisa ),
  7. Usai sholat berdzikir, kemudian berbaring sebentar,
  8. Adzan bergema beliau berdzikir ( menirukan adzan ), dilanjutkan dzikir seusai adzan,
  9. Sholat fajar dirumah adalah sepenuhnya dzikir,
  10. Keluar rumah sambil pamit istri ( banyak riwayat menyebut menciumnya ) sambil berdzikir bismillahi tawakaltu ‘alallaah la chawla wala quwwata illa billaah,
  11. Berjalan ke masjid berdzikir “ Allahumma adzilla au udzlama ……
  12. Mendekati ke masjid berdzikir “Allahummaj’al fii qolbiy nuuron wa fii lisaaniy nuuron waj’al fi sam’iy nuuron waj’al fii bashoriy nuuron waj’al min kholfiy nuuron wa min amamaamiy nuuron, waj’al min fawqiy nuuron wa min tahtii nuuron. Allahumma a’thiniy nuuron. [Ya Allah, berikanlah cahaya di hatiku, pendengaranku, penglihatanku, di belakangku, di hadapanku, di atasku dan di bawahku. Ya Allah berikanlah aku cahaya]” (HR. Muslim no. 763 dan Abu Dawud no. 1340, dari Ibnu Abbas radhiyallaHu ‘anHu)
  13. Masuk mesjid berdoa dan berdzikir,
  14. Sholat tahiyatal masjid,
  15. Nunggu iqomat dipenuhi dzikir,
  16. Sholat subuh sampai selesai,
  17. Kemudian menunggu SYURUQ ( waktu terbitnya matahari ) dengan sepenuhnya berdzikir kepada Allah swt ( sekitar ¾ jam ),
  18. Keluar masjid berdzikir,
  19. Berkeliling mengunjungi istri-istri beliau dan mendoakan adalah dzikir, kemudian
  20. Dzikir masuk rumah.

Sampai disini, jam menunjukan angka pukul 06.00 pagi. Disambung DZIKIR PAGI yang jika dilakoni penulis membutuhkan waktu setengah jam. Baru melakukan aktifitas muamalah selanjutnya.

Maka pertanyaanya, apakah ada ummat Islam yang kuat menjalankan dzikir seperti Rasulullah saw yang sifatnya dzikir lisan, belum lagi ditambah naik kendaraan, dan jika jalan menanjak berdzikir, jalan menurun berdzikir, melihat perubahan fenomena alam dari terang ke mendung berdzikir, turun hujan berdzikir dan seterusnya, apakah ada ummat Islam yang kuat dan lengkap berdzikirnya seperti dzikirnya Rasulullah ?

Salah jalan yang dilakukan mayoritas ummat adalah dengan menafsirkan dzikir yang banyak dari Al-Qur’an berdasarkan akal sendiri ( ro’yu ), sehingga tercipta banyak dzikir yang bermacam-macam dengan diberi fariasi yang bermacam-macam pula, dengan DZIKIRAN, misalnya membaca takbir seribu kali, mengucapkan tahlil lima ribu kali, bahkan ada yang meresepkan hanya kata-kata Allah sebanyak-banyaknya. Bayangkan kalau hal demikian terjadi di masa sahabat, seperti yang pernah diceritakan oleh sahabat Abu Musa Al-Asy’ari di Iran / Kuffah, ketika suatu hari di masjid kedapatan orang orang berkelompok menunggu subuh, dengan dipimpin seseorang maka sang pemimpin meminta anggota kelompoknya untuk mengucapkan “ Takbir 100 kali ! “, maka anggota kelompoknya bertakbir 100 kali, “ Tahlil 100 kali ! “, maka anggota kelompok bertahlil 100 kali, demikian juga ucapan dzikir yang lain DIPIMPIN oleh seseorang dengan dzikir jama’i.

Ketika hal itu dilaporkan kepada Abdullah bin Mas’ud, yang merupakan ulama zaman itu ( zaman akhir sahabat ), maka setelah melihat keadaannya Ibnu Mas’ud marah “ Bagaimana mungkin kalian MEMBUAT AGAMA BARU, sedang baju Rasulullah belum kering ( belum lama melinggal dunia ), para sahabat juga masih banyak yang hidup “, Mereka pun menjawab : “ Kami tidak lain adalah DEMI KEBAIKAN “, dan sampai sekarang pun ketika orang membuat-buat bid’ah agama ini, alasannya juga sama “ untuk membuat kebaikan “,

Bayangkan, untuk hal yang dianggap sepele saja / dzikir jama’I sahabat Ibnu Mas’ud marah sekali dengan pembuat bid’ah, apalagi kalau beliau atau bahkan Rasulullah saw melihat bid’ah yang dilakukan zaman sekarang, dengan 1001 aneka kreasi agama yang bermacam-mcam, apalagi karena pengaruh Thoriqot, dan dengan akal membuat alasanpun sama “ semua untuk kebaikan “.

Maka Allah swt MENGUSIR kebanyakan orang yang ada tanda sama ketika di padang makhsyar sebagai ummat Muhammad saw kelak, dan mau mendatangi telaga Haud / telaga yang jika meminumnya orang sudah tidak akan kehausan lagi setelah bertahun-tahun menunggu pemeriksaan selesai dipadang makhsyar yang sangat terik dan panas, ketika Rasulullah saw menggiring ummatnya untuk bersiap minum telaga haud, maka firman Allah SWT “ Kalian tidak tahu BID’AH yang di ada-adakan oleh mereka sepeninggalmu “, jadi bid’ah akan menjadikan orangnya terusir dari mendekat ke telaga haud di padang makhsyar kelak.

Maka silahkan dzikir sesuai sunah Rasulullah saw saja yang diikuti. Sudah banyak dan sangat menyita waktu tidak sedikit kalau yang dicontohkan hanya bangun tidur sampai dengan jam 06.00 pagi, puluhan dzikir resmi ( dzikir yang sesuai tuntunan Rasulullah saw ) sudah terpampang dengan mudah untuk kita amalkan, tidak perlu membuat-buat sendiri. Sehingga apakah dzikir Rasulullah saw, bertentangan dengan Al-Qur’an yang memerintahkan dzikir yang banyak ? Bagaimana dengan anda ?


Ditulis Oleh

Author
HM. Jatmiko, Ch
Pimpinan BIAS Jogja & YAUMMI Pati
Nantikan tulisan Pak Jat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar