• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Penyimpangan Aqidah SYI’AH : 2

Pendahuluan
Segala puji bagi Allah swt yang selalu mencurahkan nikmat dan karunia serta hidayah dan inayahnya kepada kita semua sehingga sampai pada saat sekarang ini kita masih berjalan di atas jalannya. Mudah – mudahan kita bisa mempertahankan , merawat , menjaga serta menumbuh kembangkan iman di dalam dada hingga kita tidak menghadap kepada-Nya melainkan dalam keadaan iman dan taqwa. Amin.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw , keluarganya , para sahabat sahabatnya , serta para pengikut , pecinta dan pembela sunnah – sunnahnya sampai akhir zaman.

Pada edisi sebelumnya sudah kita paparkan tentang awal mula munculnya Syi’ah dan tokoh – tokoh yang berperan meletakkan dasar aqidah Syiah serta sekilas tentang firqoh – firqoh yang ada dalam kelompok Syiah. 

Maka pada edisi kali ini akan kita bahas secara ringkas tentang firqoh – firqoh /sekte/golongan  / aliran – aliran dalam Syiah. Masing masing memiliki kesamaan dasar aqidah dan juga memiliki perbedaan – perbedaan ajaran sesuai pemikiran para pendiri masing – masing.


Di antara golongan-golongan dan gerakan - gerakan Syiah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Syiah Sabaiyyah :

Adalah pengikut Abdullah bin Saba`, mereka melampau batas dan keterlaluan serta berlebih-lebihan mempercayai bahwa Nabi Muhammad saw akan kembali ke dunia seperti Nabi Isa as. Kemudian mereka juga meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib ra belum meninggal tetapi beliau bersembunyi dan akan lahir kembali sebagai Imam Mahdi. Dan mereka juga meyakini bahwa Jibril as keliru dalam menyampaikan wahyu, mestinya Jibril as menurunkan wahyu kepada Ali bin Abi Thalib ra bukan kepada Nabi Muhammad saw. Dan  mereka juga meyakini bahwa ruh Tuhan turun kepada Ali .

2. Syiah Kaisaniyyah :

Adalah Syiah pengikut Mukhtar bin Abi Ubadi ats Tsaqafi. Golongan inipun digolongkan sebagai Syiah yang ekstrem (Ghulat). Pendiri kelompok Kaissaniyah adalah Kisan, seorang mantan pelayan Ali bin Abi Thalib ra. Kisan disebutkan pernah belajar kepada Muhammad bin Hanafiyyah, karena itu ilmu pengetahuannya mencakup segala macam pengetahuan, baik pengetahuan takwil (tafsir) maupun pengetahuan batin, baik pengetahuan yang fisik maupun pengetahuan non-fisik. Mereka sependapat bahwa agama merupakan ketaatan kepada pemimpin (Imam), karena para Imam dapat menafsirkan ajaran-ajaran pokok agama seperti shalat, puasa, dan haji. Bahkan sebahagian dari mereka ada yang meninggalkan perintah agama dan merasa cukup hanya dengan menaati para Imam. Sebagian lagi kelihatannya lemah dalam hal keyakinannya terhadap adanya hari kiamat dan sebagian yang lain menganut aliran hulul (roh ketuhanan masuk ke dalam tubuh manusia), tanasukh (roh berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain). Dan Raj’ah (hidup kembali di dunia juga setelah mati), sebagian lagi berpendapat imam tertentu tidak mati (ghaib) dan dia akan kembali lagi ke dunia sebagai imam Mahdi, baru mati setelah itu. Kendatipun demikian, mereka sepakat bahwa agama merupakan ketaatan kepada Imam, dan barang siapa yang tidak taat kepada Imam berarti dia bukanlah orang yang beragama . Ada beberapa pengikut Kaisaniyyah berpendapat lain bahwa justru Abdullah bin Mu’awiah bin Ja’far bin Abi Talib yang menjadi imam Mahdi.


3. Syiah Mukhtariyyah.

Adalah kelompok Syiah yang mengikuti ajaran Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi. Pada mulanya Mukhtar sebagai seorang Khawarij, kemudian berubah menjadi pengikut Al- Zubairiyyah dan akhirnya menjadi pengikut Syiah dan Al Kaisaniyyah. Dia mengakui kepimpinan (Imamah) Muhammad bin Hanafiyyah sesudah Ali bin Abi Thalib, bahkan sebelum Muhammad adalah Hasan dan Husain. Mukhtar mengajak masyarakat agar menerima pendapatnya, dan mengakui bahwa dirinya memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Ketika berita tentang dirinya dan ajarannya tersebar, Muhammad bin Hanafiyyah tidak mengakui semua yang telah dia katakan dan ajarkan, namun banyak juga orang awam yang tertarik menjadi pengikutnya.


Dasar-dasar ajarannya terdiri dari dua hal : 

 1. Menyandarkan ilmu dan dakwahnya kepada Muhammad ibn Hanafiyyah. 

 2. Balas dendam atas kematian Husain ibn Ali ra.

Karena itu dia dan para pengikutnya siang dan malam berjuang memerangi orang yang menurut mereka ikut terlibat dalam pembunuhan Husain ibn Ali ra. Di antara ajaran Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi, bahwa Allah swt bersifat Al-Bada’ atau dengan kata lain bahwa Allah swt telah memperbarui satu ketentuan baru setelah ketentuan lama gagal dilaksanakan. Oleh karena itu di sini ada kesan bahwa ilmu Allah swt didahului dengan sifat jahil dan berlaku perkara baru dalam ilmu-Nya (Keyakinan ini juga terdapat dalam syiah Imamiah Itsna ‘Asyariah  . Menurut para pengikutnya, Mukhtar mempunyai kursi kuno yang ditutup dengan kain sutera dan dihiasi dengan berbagai macam hiasan. Katanya, kursi itu adalah di antara peninggalan Ali bin Abi Thalib ra dan kedudukannya sama dengan Tabut bagi Bani Israil. Apabila Bani Israil berperang, tabut itu diletakkan di depan barisan seraya dengan teriakan: serbu, kita akan memperoleh kemenangan, Kursi ini sama dengan tabut milik Bani Israil yang di dalamnya terdapat ketenangan dan kekekalan , para Malaikat berada di atasnya  dan akan membantu . Cerita lain tentang keramatnya adalah seekor burung dara yang bertelur di udara, yang katanya barang dara itu adalah malaikat yang turun dalam rupa burung dan bertelur. Salah seorang pengikutnya yang setia, Al-Asyja, telah menulis sebuah buku tentang keramat Mukhtar. Mukhtar sengaja menyandarkan ajarannya kepada Muhammad ibn Hanafiyyah agar banyak orang  yang tertarik. Karena Muhammad ibn Hanafiyyah adalah orang yang sangat dikagumi dan dicintai masyarakat disebabkan oleh ilmu pengetahuannya yang luas, ketinggian ma’rifahnya terhadap Allah, mempunyai pemikiran-pemikiran yang cemerlang, dan tahu tentang kelebihan ilmu pengetahuannya. Namun ia sendiri lebih senang menyendiri dan tidak senang disanjung dan dipuji. Menurut sebagian orang, Muhammad Hanafiyyah memiliki ilmu pengetahuan tentang imamah, karenanya dia tidak akan menyerahkan amanat itu terkecuali kepada orang yang berhak. Dia tidak diwafatkan melainkan di tempat yang layak  . Mereka mempercayai bahwa Muhammad Hanafiyyah merupakan imam Mahdi yang akan turun di akhir zaman untuk membunuh Dajjal dan memberi hidayah dan meluruskan kesesatan-kesesatan seluruh umat manusia serta membetulkan bumi yang rusak. 

 4. Syiah Hashimiyyah 
Adalah pengikut Abu Hasyim ibn Muhammad ibn Hanafiyyah. Menurut kelompok ini, kepimpinan berpindah dari Muhammad ibn Hanafiyyah kepada putranya yang bernama Abu Hasyim. Menurut mereka, Abu Hasyim telah menerima pelimpahan ilmu rahasia; dia mengetahui bukan saja kepada zahir, tetapi juga yang batin. Dia mengetahui tafsir dan takwil ayat-ayat Al Quran, sehingga maknanya dapat disesuaikan antara yang lahir dan batin. Mereka berpendapat, setiap yang lahir ada batinnya, setiap orang yang mempunyai roh, setiap ayat ada takwilnya, setiap apa yang ada di alam semesta ini ada hakikatnya pada alam lain. Hukum tersebar di seluruh penjuru, rahasia semuanya ada pada diri seseorang, yaitu ilmu yang dimiliki oleh imam Ali bin Abi Thalib ra dan keturunannya, Muhammad Hanafiyyah. Dari dia ilmu itu dilimpahkan kepada putranya Abu Hasyim, dan barang siapa yang memiliki ilmu itu maka dia adalah Imam yang benar.

Sepeninggal Abu Hasyim, para pengikutnya berbeda pendapat, akibatnya muncul lima kelompok kecil:
Kelompok Pertama: 
Mengatakan bahwa Abu Hasyim memang meninggal dalam perjalanan dari negeri Syam di sebuah desa yang bernama Al Syarrah. Abu Hasyim telah memberikan wasiat tentang kepimpinan (Imamah) kepada putranya, Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dan keturunannya, bahwa kekhalifahan berpindah kepada Bani Abbasiah. Menurut kelompok ini, kekhalifahan di tangan mereka karena mereka berasal dari satu keturunan. Rasulullah wafat (tidak meninggalkan anak laki-laki), maka yang menjadi ahli warisnya adalah pamannya Abbas.

Kelompok Kedua:
Mengatakan bahwa Imamah sesudah Abu Hasyim berpindah kepada keponakannya yang bernama Al Hasan ibn Ali ibn Muhammad Hanafiyyah.

Kelompok Ketiga: 
Mengatakan bahwa kepimpinan (Imamah) tidak berpindah kepada keponakannya Al Hasan, tetapi diwasiatkan kepada saudaranya yang bernama Ali bin Muhammad, kemudian Ali mewasiatkan lagi kepada putranya Al Hasan. Menurut kelompok ini, Imamah hanya pada keturunan Bani Hanafiyyah tidak boleh orang lain.

Kelompok Keempat: 
Mengatakan bahwa Abu Hasyim mewasiatkan imamah kepada Abdullah bin Amr bin Al Kindi. Imamah berpindah dari keturunan Abu Hasyim kepada keturunan Abdullah, karena roh Abu Hasyim berpindah kepadanya.  Abdullah adalah seorang yang tidak dikenal wawasan ilmunya, dan pengamalan ajaran agamanya, karena sebahagian orang menuduhnya telah berkhianat dan berdusta. Orang banyak berpaling darinya, dan mengatakan imamah berada di tangan Abdullah bin Mua’wiyah bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.

Menurut Abdullah roh dapat berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya (tanasukh), dosa dan pahala berada dalam tubuh orang yang berbuat,  apakah tubuh tersebut dalam bentuk tubuh manusia atau binatang. Ia berkata: roh Tuhan berpindah-pindah sehingga sampai kepadanya dan masuk ke dalam tubuhnya (hulul). Ia mengaku dirinya mempunyai sifat ketuhanan dan kenabian dan mengetahui yang ghaib. Sehingga para pengikutnya menyembahnya. Mereka mengingkari adanya hari kiamat disebabkan oleh adanya teori bahwa roh berpindah-pindah dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya di dunia, dan pahala serta dosa menjadi tanggung jawab tubuh-tubuh itu.

Dari kelompok ini lahir lagi kelompok-kelompok kecil Al-Khurramiyah dan Al Muzdakiyyah di Irak. Dan ketika Abdullah tewas di Khurasan, para pengikutnya berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa ia masih hidup (ghaib) dan akan kembali sebagai imam Mahdi, ada pula yang mengatakan ia memang meninggal, namun rohnya berpindah kepada tubuh Ishak bin Zaid Al-Harits Al-Anshari. Kelompok ini dikenal dengan nama Al-Harithiyyah, yang menghalalkan semua yang diharamkan (Islam), dan dalam kehidupan ini tidak ada kewajiban (ibadah). Antara pengikut Abdullah bin Muawiyah dan pengikut Muhammad bin Ali terjadi perselisihan yang sangat tajam tentang Imamah.  Meskipun kedua kelompok masing-masing mengaku telah menerima wasiat dari Abu Hasyim namun wasiat dimaksud ditolak oleh kelompok lainnya  .

 5. Syiah Zaidiyah 
Salah seorang ulama Syiah Zaidiyah Imam Yahya bin Hamzah ‘Alawi (wafat 749 H) mendefinisikan Syiah Zaidiyah adalah setiap golongan yang memiliki doktrin yang dibawa oleh pemimpin masing - masing. Adapun istilah Zaidiyah muncul setelah era Imam Zaid bin Ali bin al Husain. Semenjak itulah Zaidiyah dikenal sebagai salah satu aliran Syiah yang mengatasnamakan nama pemimpinnya. 

Jelas dari teks di atas penamaan Syiah Zaidiyah dikaitkan dengan Imam Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan Zaidiyah merupakan salah satu kelompok Syiah terbesar selain Syiah Imamiyah dan Syiah Isma’iliyah yang masih eksis sampai saat ini. Imam Ahmad bin Yahya al Murtadha (wafat 840 H) dalam kitabnya yang terkenal al Bahru az Zahhar menegaskan, bahwa ada tiga golongan besar Syiah, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Isma’ilyah (di kenal dengan Syiah Bathiniyah). Sumber-sumber sejarah dan kitab-kitab klasik yang membahas tentang aliran-aliran Islam menjelaskan bahwa sebenarnya sejarah kemunculan Zaidiyah ditandai ketika Imam Zaid melancarkan revolusi melawan pemerintahan Bani Umayyah, yang didukung oleh lima belas ribu pasukan berasal dari penduduk Kufah di Iraq, di mana hal serupa dilakukan sebelumnya oleh kakek Imam Zaid yaitu imam Hussein bin Ali bin Abi Talib, dan mengalami kegagalan fatal dalam pertempuran di kota Karbala, dengan menewaskan 61 tentara Imam Hussein bin Ali. Namun selanjutnya Imam Zaid tidak menerima kegagalan tersebut, justru ia bersikeras untuk meneruskan revolusi kakeknya dan terus menerus memerangi Bani Umayyah sampai titik darah penghabisan. Maka ia dan bala tentaranya meninggalkan kota Kufah menuju tempat kekuasaan gubernur (Yusuf bin Umar Al Tsaqafi) yang merupakan agen kepala negara ketika itu (Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan) yang berkuasa dari tahun 105 sampai tahun 125 Hijriyah.

Syiah Zaidiyah sepakat bahwa, imam Mahdi akan datang dan muncul untuk menghilangkan kezaliman - kezaliman dan segala bentuk penindasan yang terjadi di dunia di saat-saat akhir zaman, oleh karena itu ia bukan mitos tetapi sebuah hakikat yang akan dilalui sebelum terjadi hari kiamat kelak, sama dengan pandangan Ahli Sunnah bahwa Rasulullah saw tidak pernah menentukan siapakah yang akan menjadi imam Mahdi, sebab Rasulullah saw hanya menggambarkan bahwa imam Mahdi berasal dari keturunan putri tercinta Rasulullah saw yaitu Fatimah al Zahra, sama halnya dari garis Hasan ataupun Husein, nama imam Mahdi sama dengan nama Rasulullah saw, begitupun nama ayahnya sama dengan nama ayah Nabi saw, jadi nama lengkapnya imam Mahdi adalah Muhammad bin Abdullah. Oleh karena itu bagi syiah Zaidiyah imam Mahdi bukanlah seorang yang menghilang dan ditunggu-tunggu datang kembali Al Ghaib al Muntadhar sebagaimana kepercayaan syiah Imamiah, dalam sebuah kitab syiah Zaidiyah al Amaali al Khumaisiyyah dinukilkan ucapan imam Zaid  ;

اَلْمَهْدِيُّ حَقٌ، وَهُوَ كَائِنٌ مِنَّا أَهْلُ الْبَيْتِ … إِمَامٌ لَكُمْ وَحُجَّةٌ عَلَيْكُمْ فَاتَّبِعُوْهُ تَهتَدُوْا
.

Imam Mahdi adalah benar kedatangannya, ia berasal dari kalangan Ahlul Bait. Dia adalah pemimpin dan panutan kalian, oleh karena itu ikutilah dia niscaya kalian akan mendapat petunjuk .

Ada sebuah kisah percakapan antara Abu Khalid Al Wasithiy dengan imam Zaid  ; 

قَالَ أبوْ خَالدِ الْوَاسِطِيِّ سَأَلْنَا زَيْدَ بْنِ عَلِيٍّ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ عَنِ الْمَهْدِي أَكَائِنٌ هُوَ؟ فقَال: نَعَمْ، فَقِيْلَ لَهُ: أمِنْ ولَدِ الْحَسَنِ أَمْ مِنْ وَلَدِ الْحُسَيْن؟ فَقَالَ زَيْدٌ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: أَمَّا أَنَّهُ مِنْ ولَدِ فَاطِمَة صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهَا، وَهُوَ كَائِنٌ مِمَّنْ شَاءَ اللهُ مِنْ وَلَدِ الحَسَنِ، أَمْ مِنْ وَلَدِ الحُسَيْنِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ


Abu Khalid Al Wasithiy berkata kami bertanya kepada imam Zaid bin Ali as tentang Imam Mahdi dan siapakah ia sebenarnya?, imam Zaid menjawab : betul Imam Mahdi akan muncul, ditanya kembali : apakah berasal dari keturunan Hasan atau Husein?, imam Zaid berkata: Imam Mahdi berasal dari keturunan Fatimah sama saja dari keturunan anak Hasan atau  Husein  . 

Di tempat lain, dijelaskan dalam kitab Al Iqdu Ats Tsamin ;

قَالَ الإِمَامُ اَلْمَنْصُوْرْ بِاللهِ عَبْدُاللهِ بْنْ حَمْزَة: قَالَ الإِمَامُ عَبْدُ اللهِ بِنْ حَمْزَة، لَمَّا تَظَاهَرَتِ الرِّوَايَاتُ فيِ هَلْ هُوَ مِنْ أَبْنَاءِ الْحَسَن أَوِ الْحُسَيْن :”وَقَدْ أَجْمَلَ كَثِيْرٌ مِنَ الأَئِمَّةِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ فيِ هَذَا الْبَابِ، وَذَكَرُوْا أَنَّ الْمَهْدِي مِنْ وَلَدِ فَاطِمَة عَلَيْهَا السَّلاَمُ، وَلَمْ يَعْنَوْا بِمَا وَرَاءَ ذَلِكَ، وَهَلْ هُوَ مِنْ وَلَدِ الْحَسَن أَوْ مِنْ وَلَدِ الْحُسَيْن عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ، لِأَنَّ الْكُلَّ مَعْدَنُ الإِمَامَةِ وَمَحَلُّ الرِئَاسَةِ وَالزّعَامَةِ


Imam Al Manshur billah mengatakan bahwa Abdullah bin Hamzah menjelaskan tentang kontroversi hakikat Imam Mahdi apakah ia berasal dari keturunan Hasan atau dari keturunan Husein. Pada pandangan benar adalah para imam - imam Syiah Zaidiyah menyebutkan bahwa imam Mahdi adalah berasal dari anak keturunan Fatimah as, dan tidak dinyatakan jelas apakah dari keturunan Hasan ataupun Husein, sebab kedua - duanya adalah sumber kepimpinan Imamah dan tempat lahirnya kepemimpinan dan para pemimpin. 

Dari ketiga riwayat di atas, dapat disimpulkan bahwa syiah Zaidiyah berpendapat sama dengan Ahli Sunah wal Jamaah bahwa Imam Mahdi tidak ghaib, berasal dari keturunan Fatimah, tidak ditentukan seseorang salah satu dari keturunan keduanya , sama saja apakah dari anak keturunan Hasan ataupun Husein.

Di samping itu perlu disebutkan di sini bahwa salah satu pecahan syiah Zaidiyah yaitu syiah Al-Jarudiyah (dikenal sebagai syiah Zaidiyah ekstrem), berpendapat lain, mereka meyakini bahwa Imam Mahdi telah ditentukan yaitu Muhammad bin Abdullah An Nafs Az Zakiyah, yang terbunuh pada tahun 45 H.

6. Syiah Ismailiyah 
Golongan ini merupakan Syiah yang ekstrem, sehingga semua golongan Sunni ( Asy’ariyah, Maturidiyah ), Mu’tazilah dan Ibadhiyah mengkafirkan mereka, bahkan sesama Syiah sendiri, Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah ikut mengharamkan dan mengkafirkan golongan tersebut. Pengikutnya diperkirakan berjumlah sekitar 2 juta orang dan berpusat di India. Juga pengikutnya bisa di dapati di sekitar Asia Tengah, Iran, Suriah, Pakistan, Suriah, Lebanon, timur Afrika dan Afrika Selatan. Ismailiyah pernah menjadi kelompok Syiah yang paling berpengaruh di antara firqoh – firqoh Syiah, dan pernah mencapai puncak kekuasaan politiknya pada masa kekuasaan Kerajaan Fathimiyah pada abad ke 10 hingga ke 12 Masihi.  Penamaan sebagai Syiah Ismailiyah diperoleh karena pengikut - pengikutnya memilih Ismail bin Ja’far (101-159 H) sebagai  Imam Ketujuh  dan  terakhir. Itulah sebab kenapa ajaran Ismailiyah dikenali juga sebagai madzhab Saba’iyyah atau Tujuh Imam.

Ismail meninggal dunia ketika ayahnya Imam Ja’far Ash Shadiq masih hidup. Imam Ja’far mempersaksikan kepada pengikutnya bahwa putranya yang bernama Ismail telah meninggal dunia. Meskipun demikian, sebahagian orang Syiah meyakini bahwa Ismail tidak meninggal dunia, sebab ayahnya hanya coba mengelabuhi Khalifah Al Abbasiyah Manshur Dawaniqi karena khawatir akan membunuh anaknya. Mereka yakin Imam Ismail ghaib dan akan muncul sebagai Imam Mahdi. Ini menyebabkan Imam Ja’far berulang kali menerangkan kepada mereka agar tidak menduga - duga Imam Ismail akan muncul kembali. Ini menyebabkan wujudnya perbedaan pandangan di kalangan kelompok Ismailliyah, yaitu antara mereka yang tidak dapat menerima kenyataan dan terlalu fanatik  kepada Imam Ismail dan mereka tetap dengan pendirian bahwa Imam Ismail tidak mati (ghaib) dan akan muncul semula sebagai Imam Mahdi. 

Mereka yang percaya kepada wafatnya Imam Ismail mendapatkan pewaris yang menggantikan Imam Ismail, yaitu Muhammad bin Ismail (141-192 H) putranya. Lalu diangkat menjadi Imam yang baru ( ke 7), juga dianggap sebagai Imam Mahdi. Pengikut madzhab Itsna ‘Asyariah, juga tak mau ketinggalan. Mengangkat adik Ismail yaitu, Musa al Kadhim sebagai Imam Ketujuh  mereka. Semenjak itulah pecah antara Syiah Isma’iliyah dengan Itsna Asyariah.

Ditulis Oleh

Author
Muhammad Suparman al Jawi, S.Pd.I
Mjelis Syuro MPAQ
Baca terus kajian aQidah ini hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar