• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Yang Patut Hadir dalam Hati Pada Gerakan Shalat

Rincian Tentang Apa yang Patut Hadir dalam Hati Pada Setiap Rukun dan Syarat dari Bacaan serta Gerakan Shalat

Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam kitab Muhtasor Minhajul Qosidin, mengatakan: 
Orang yang shalat hendaklah berharap pahala dengan shalatnya, sebagaimana dia takut hukuman bila melalaikannya.

Orang yang shalat hendaklah menghadirkan hatinya pada segala sesuatu dari shalat. Bila mendengar  panggilan muadzin, hendaknya mengumpamakannya dengan panggilan Kiamat dan menyingsingkan lengan baju untuk segera memenuhinya. Merenungkan dengan apa dia menjawab dan dengan badan apa dia hadir. Bila dia menutup aurat (untuk segera menghadiri shalat), maka hendaknya dia mengetahui maksud darinya adalah menutupi aib-aib pada tubuhnya dari pandangan manusia, maka hendaknya dia mengingat  aib hati  yang tidak  diketahui kecuali oleh Allâh dan tidak ada yang bisa menutupinya dari-Nya, dan bahwa yang akan melebur aib-aib batin itu adalah penyesalan, rasa malu dan rasa takut. 

Bila dia menghadap kiblat, maka dia telah memalingkan wajahnya dari segala arah menuju arah Baitullâh, maka (hendaklah seseorang menyadari bahwa) memalingkan hatinya kepada Allâh adalah lebih patut dari itu. Sebagaimana seseorang tidak mungkin menghadap ke arah Ka’bah kecuali dengan meninggalkan arah-arah lain, maka demikian juga dengan hati, ia tidak menghadap kepada Allâh kecuali dengan meninggalkan selain Allâh.

Bila engkau bertakbir, wahai orang yang shalat, maka hatimu jangan mendustakan lidahmu, kecuali bila dalam hatimu terdapat sesuatu yang lebih besar daripada Allâh, maka saat itu kamu berdusta. Maka berhati-hatilah, jangan sampai hawa nafsumu lebih besar, dengan bukti bahwa kamu lebih mementingkan menurutinya di atas ketaatan kepada Allâh.

Bila kamu membaca ta’awwudz, maka sadarilah bahwa isti’adzah adalah berlindung kepada Allâh, bila kamu tidak berlindung dengan hatimu, maka ucapanmu itu sia-sia. Maka berusahalah memahami makna apa yang kamu baca, hadirkan hatimu dengan penuh pemahaman terhadap firman Allâh,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allâh, Tuhan semesta alam.” (Al-Fatihah : 2)
Resapilah kelembutan Allâh pada Firman-Nya,

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah : 3)
Renungkanlah keagungan-Nya pada Firman Allâh,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Yang menguasai Hari Pembalasan.” (Al-Fatihah : 4)

Demikian seterusnya dengan apa yang anda baca.
Kami meriwayatkan dari Zurarah bin Aufa bahwa dia membaca dalam shalatnya, Surat al-Muddatstsir, dan ketika sampai ayat فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ “apabila sangkakala telah ditiup”, maka dia tersungkur menjadi mayat. Hal ini tidak lain kecuali karena dia membayangkan kondisi tersebut, maka akibatnya dia pun meninggal saat itu juga.

Rasakanlah tawadhu’ dalam rukukmu, tambahan kehinaan dalam sujudmu, karena kamu telah meletakkan jiwa pada tempatnya, kamu mengembalikan cabang pada asalnya dengan bersujud di atas tanah di mana darinya kamu tercipta. Pahamilah makna dzikir-dzikirnya dengan penuh perasaan dan penghayatan.

Ketahuilah, bahwa menunaikan shalat seperti  ini merupakan sebab bersihnya hati dari karat dan noda, dan terciptanya cahaya-cahaya padanya yang dengannya seorang hamba dapat menyingkap keagungan Allâh SWT  yang disembahnya dan membuka rahasia-rahasia-Nya,

وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ

Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-Ankabut : 43)
Adapun orang yang menunaikan shalat secara lahir tanpa makna-maknanya, maka dia tidak akan melihat apapun darinya, sebaliknya dia mengingkari keberadaannya.

Adab-adab yang Berkaitan Dengan Shalat Jum’at dan Hari Jum’at
Adab-adab tersebut berjumlah kurang lebih lima belas:
  1. Pertama: Hendaknya bersiap-siap sejak dari hari Kamis dan malam Jum’at dengan membersihkan diri, mencuci baju dan menyiapkan segala kebutuhannya.
  2. Kedua: Mandi di hari itu, sebagaimana yang diajarkan beberapa hadits dalam ash-Shahihain dan lainnya. Waktu yang paling utama untuk mandi adalah sesaat sebelum berangkat ke Shalat Jum’at.
  3. Ketiga: Menghias diri dengan membersihkan tubuh, memotong kuku, bersiwak, dan lain-lainnya sebagaimana yang sudah disebutkkan dalam bagian menghilangkan kotoran, memakai wewangian dan menggunakan pakaian terbaik yang dimiliki seseorang.
  4. Keempat: Berangkat di awal waktu kepadanya dengan berjalan kaki. Orang yang berangkat ke masjid, hendaknya berjalan dengan tenang dan khusyu’, berniat i’tikaf di sana sampai dia keluar darinya.
  5. Kelima: Hendaknya tidak melangkahi pundak orang-orang, tidak memisahkan dua orang kecuali bila ada celah yang kosong dan melangkah di antara dua orang untuk mengisi tempat yang kosong tersebut.
  6. Keenam: Hendaknya tidak lewat di depan orang yang sedang shalat.
  7. Ketujuh: Berusaha mendapatkan shaf pertama, kecuali bila melihat suatu kemungkaran atau mendengarnya, maka memilih tempat di belakang memiliki alasan yang dibenarkan.
  8. Kedelapan: Hendaknya menghentikan shalat dan dzikir manakala imam telah keluar menuju mimbar, menyibukkan diri dengan menjawab muadzin kemudian menyimak khutbah.
  9. Kesembilan: Hendaknya melaksanakan shalat sunnah ba’diyah Jum’at, bisa dua rakaat, bisa juga empat rakaat, bisa pula enam rakaat.
  10. Kesepuluh: Berusaha tetap tinggal di masjid sampai Ashar, bila sampai Maghrib, maka tentu lebih utama.
  11. Kesebelas: Mencari saat yang mulia yang ada di Hari Jum’at dengan menghadirkan hati dan selalu berdzikir.

Mengenai saat tersebut, ada perbedaan pendapat. Dengan hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Muslim dari Abu Musa disebutkan bahwa saat tersebut adalah antara duduknya imam sampai selesai shalat.

Hadits lain menunjukkan bahwa saat tersebut diantara selesainya imam dari khutbah sampai sholat dirampungkan.

Hadits lain menunjukkan bahwa saat tersebut adalah saat-saat terakhir (menjelang Maghrib) ba’da Ashar.

Dalam hadits Anas, Nabi bersabda,
اِلْتَمِسُوْهَا مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى غُرُوْبِ الشَّمْسِ


Carilah ia (saat mulia dan mustajab tersebut) antara shalat ashar sampai terbenam matahari

Abu Bakar al-Atsram berkata: ”Hadits-hadits (tentang waktu mulia dan terkabulnya doa di Hari Jum’at) ini tidak terlepas dari dua sisi: ada kemungkinan sebagian darinya lebih shahih dari sebagian yang lain. Ada kemungkinan saat tersebut berpindah-pindah pada waktu-waktu seperti berpindahnya malam lailatul qadar di sepuluh malam akhir.

Kedua belas: Memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW di Hari Jum’at. Diriwayatkan dari beliau bahwa beliau bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً

Barangsiapa bershalawat kepadaku di Hari Jum’at sebanyak 80 kali, maka Allâh mengampuni dosanya selama 80 tahun.
Bila ingin maka shalawat kepada Beliau bisa ditambah dengan do’a untuk Beliau, seperti dengan mengucapkan,

اللَّهُمَّ آتِ مُحَمَّداً الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ، وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُوْدَ الَّذِيْ وَعَدْتَهُ، اللَّهُمَّ اجْزِ نَبِيَّنَا عَنَّا مَا هُوَ أَهْلُهُ
Ya Allâh berikanlah kepada Muhammad al-wasilah, keutamaan, dan derajat yang tinggi dan bangkitkanlah Dia kepada maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) yang Engkau janjikan kepadanya. Ya Allâh, balaslah jasa baik Nabi kami dengan balasan yang pantas baginya” 

Hendaknya pula menambahkan istighfar disamping shalawat, karena ia dianjurkan pada hari itu. Ketiga belas: Hendaknya membaca surat al-Kahfi. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah bahwa dia berkata, Rasûlullâh SAW bersabda, “Maukah kalian aku sampaikan sebuah surat yang keagungannya memenuhi antara langit dan bumi dan bagi penulisnya pahala seperti itu. Barangsiapa membacanya di Hari Jum’at, maka diampuni dosanya antara Jum’at tersebut dengan Jum’at yang lainnya ditambah tiga hari. Barangsiapa membaca lima ayat terakhir darinya saat hendak tidur, maka Allâh membangkitkannya di bagian malam manapun yang dia ingin.” Mereka menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “surat al-Kahfi.” 

 Diriwayatkan dalam hadits lain bahwa barangsiapa membacanya di hari atau malam jum’at, maka dia dijaga dari fitnah. Dianjurkan memperbanyak membaca al-Qur’an di Hari Jum’at atau malam Jum’at bila memungkinkan. Keempat belas: Hendaknya bersedekah di Hari Jum’at dengan apa yang mungkin, dan hendaknya sedekahnya di luar masjid. Dan dianjurkan pula shalat tasbih di Hari Jum’at. Kelima belas: Hendaknya menjadikan Hari Jum’at untuk amal-amal akhirat dan menahan diri dari kesibukan-kesibukan dunia

Ditulis Oleh

Author
Ust. H. Sigit Sulistyo, Lc
Mjelis Syuro MPAQ
Nantikan kajian Tazkiyatun Nafs berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar