• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Penyimpangan Aqidah Syi‘ah

Pendahuluan
Segala puji bagi Allâh  swt yang selalu mencurahkan nikmat dan karunia serta hidayah dan inayahnya kepada kita semua sehingga sampai pada saat sekarang ini kita masih berjalan di atas jalannya. Mudah–mudahan kita bisa mempertahankan, merawat, menjaga serta menumbuh kembangkan iman di dalam dada hingga kita tidak menghadap kepada-Nya melainkan dalam keadaan iman dan taqwa. Amin.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Rasûlullâh Muhammad saw, keluarganya, para sahabat sahabatnya, serta para pengikut, pecinta dan pembela sunnah–sunnahnya sampai akhir zaman.

Tahun–tahun terakhir ini Dunia Islam sedang berduka. Di mana–mana kaum muslimin ditindas bahkan dibantai oleh musuh–musuh Allâh swt. Dan yang paling sadis adalah pembantaian yang dilakukan oleh Kaum Rafidhah (Syi’ah) yang digerakkan dan dibiayai oleh negara Republik Iran yang mengaku menjadi bagian Umat Islam. Aktivitas gerakan Syi’ah ini semakin lama semakin gencar dalam mendakwahkan dan melakukan propaganda berskala Internasional ke Dunia Islam termasuk kita rasakan di negeri tercinta Indonesia. 

Ribuan kader–kader Syi’ah disinyalir telah lulus menempuh sekolah dan pelatihan dakwah dan pulang ke Indonesia siap menebarkan ajaran Syi’ah, penyimpangan dan kesyirikan yang dibalut agama serta pengkultusan para imam mereka. Sementara kaum muslimin mayoritas adalah orang–orang awam yang tidak memahami aqidah Islam, tidak mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, sehingga akan menjadi mangsa yang sangat empuk bagi propaganda Syi’ah.

Sejarah Lahirnya Syi’ah
Syi’ah atau Rafidhah lahir ke tengah–tengah umat Islam ketika seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ mengaku masuk Islam, menggunakan Ahli Bait Rasûlullâh saw sebagai kedok, menyanjung sahabat Ali bin Abi Thalib RA secara berlebihan dan mempropagandakan adanya wasiat kekhalifahan dari Rasûlullâh SAW kepadanya hingga pada akhirnya dia mengangkat Ali pada kedudukan ketuhanan. Aqidah inilah yang kemudian diyakini oleh penganut Syiah hingga sekarang, termasuk pada keturunannya dari jalur istrinya, Syahrubanu, seorang bangsawan Persia.

Al Qummi, penulis kitab Maqalaat wal Firaq mengakui dan menetapkan adanya Abdullah bin Saba’ dan menganggapnya sebagai orang yang pertama kali menobatkan Ali bin Abi Thalib RA sebagai imam mereka serta meyakini beliau akan muncul di akhir zaman sebelum Hari Kiamat untuk menyelamatkan manusia. Di samping itu, Abdullah bin Saba’ inilah orang yang pertama tama mencela Abu Bakar ash Shiddiq RA, Umar bin al Khaththab RA dan Utsman bin Affan RA karena dianggap merampas kekhilafahan dari Ali bin Abi Thalib RA, serta mencela sahabat–sahabat lain yang tidak berfihak pada mereka. 

Begitu juga an Naubakhti dalam kitabnya Firaqusy Syi’ah , al Kasyi dalam kitabnya Rijal al Kasyi , keduanya mengakui kiprah Abdullah bin Saba’ bahkan meriwayatkan beberapa riwayat tentang Ibnu Saba’ serta aqidahnya. Pengakuan para pembesar dan ulama Syi’ah ini merupakan bukti paling kuat yang tak bisa diingkari oleh pihak manapun. 

Al Baghdadi berkata bahwa As Sabaiyah adalah sebutan untuk para pengikut Abdullah bin Saba’ yang ditandai sikap berlebih–lebihan dalam mengagungkan Ali bin Abi Thalib RA sehingga mereka menganggapnya sebagai seorang nabi hingga pengakuan bahwa Ali adalah Tuhan. 

Masih menurut Al Baghdadi, seorang peranakan orang hitam dalam literatur awal maksudnya adalah Abdullah bin Saba’, sebenarnya adalah seorang Yahudi dari penduduk Hirrah, berupaya menampakkan keislamannya, dengan demikian maka ia bisa menempati suatu kedudukan dan kepemimpinan pada Ahli Kufah. Karenanya ia berkata kepada penduduk Kufah, ia mendapatkan dalam Kitab Taurat, bahwa setiap nabi memiliki washi ( seorang yang diwasiati menjadi khalifah atau imam ). Dan Ali bin Abi Thalib lah orang yang mendapatkan wasiat langsung dari Rasûlullâh SAW. 
Asy Syahrastani râhimahullâh menyebutkan tentang Abdullah bin Saba’ bahwa dia adalah orang yang pertama kali memunculkan pernyataan pengakuan keimaman kepada Ali bin Abi Thalib RA karena adanya wasiat. Beliau juga menyebutkan bahwa As Sabaiyah, yaitu pengikut Abdullah bin Saba’, merupakan firqah pertama yang menyatakan tentang hilangnya imam mereka yang ke dua belas dan nanti akan muncul kembali. 

Pada masa–masa berikutnya ideologi seperti ini diwarisi oleh orang–orang Syi’ah meskipun mereka terbagi menjadi beberapa macam firqah (sekte). Maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan keimaman Ali bin Abi Thalib RA dan kekhalifahannya dengan adanya wasiat langsung dari Rasûlullâh SAW adalah peninggalan yang diwariskan oleh Abdullah bin Saba’.

Setelah itu Syiah berkembang biak menjadi beberapa firqah dengan berbagai macam ideologi yang bermacam–macam. Dengan demikian jelaslah bahwa Syi’ah membuat ideologi–ideologi baru seperti adanya wasiat kekhilafahan Ali bin Abi Thalib RA dan munculnya kembali Imam ke Dua Belas di akhir zaman. Hilangnya Imam ke Dua Belas, mengagungkan mereka hingga derajat ketuhanan adalah sebagai bukti bahwa mereka mengikuti Ibnu Saba’ yang sebenarnya adalah orang Yahudi yang bermaksud menghancurkan Islam dari dalam. 

Awal Mula Penamaan Syi’ah
Syi’ah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut fanatik seseorang. Selain itu kata Syi’ah juga bermakna setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.  Maka orang–orang yang membela Ali bin Abi Thalib RA atau yang mengikuti beliau secara fanatik disebut Syi’atu Ali. 
Sementara menurut terminologi syariat, Syi’ah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib RA lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau. 

Golongan ini mulai muncul setelah pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan RA akibat dari beberapa peristiwa yang menimbulkan perpecahan yang disebabkan oleh kelompok pembuat fitnah untuk memecah–belah umat. Puncaknya adalah mereka membunuh Utsman. 

Pada masa fitnah ini ada tiga golongan menyimpang: 
  1. Golongan yang mempertuhankan Ali bin Abi Thalib RA. Awalnya golongan ini tidak berani menampakkan diri karena takut kepada Ali. Ketika beliau mengetahui golongan ini maka beliau membakar mereka hidup–hidup dengan membuat parit di depan pintu Masjid Bani Kandah. 
  2. Golongan yang mencela para sahabat RA. Ali bin Abi Thalib RA mendengar ada seorang bernama Abdullah bin Saba’ yang mengajarkan mencela Abu Bakar ash Shiddiq RA, Umar bin Al Khaththab RA dan sahabat lain. Maka beliau mencarinya dan akan membunuhnya. Namun Ibnu Saba’ melarikan diri.
  3. Golongan Mufadhdholah, yaitu golongan yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar, Umar dan Utsman RA. Terhadap golongan ini perlu didakwahi.

Awal Mula Penamaan Rafidhah
Penamaan Syi’ah dengan Rafidhah dinyatakan sendiri oleh pembesar mereka yang bernama Al Majlisi dalam kitabnya Al Bihar, ia menyebutkan empat hadits dari hadits mereka sendiri.

 وسموا بذلك لأنهم رفضوا زيد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب حين سألوه: " ما تقول في أبي بكر وعمر؟ فأثنى عليهما، وقال: هما وزيرا جدي ". فرفضوه وتركوه، وكانوا في السابق معه، لكن لما قال الحق المخالف لأهوائهم; نفروا منه فسموا رافضة

Mereka diberi nama Rafidhah disebabkan mereka menolak Zaid bin Ali bin Al Hussain bin Ali bin Abi Thalib ketika mereka bertanya: “Apa pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar ?” Maka Zaid memuji keduanya dan mengatakan : “Keduanya adalah Wazir dari kakekku.” Maka mereka menolak Zaid dan meninggalkanya, padahal sebelumnya mereka bersama Zaid. Tetapi ketika Zaid mengatakan kebenaran yang berlawanan dengan hawa nafsu mereka maka mereka meninggalkannya. Maka mereka dinamakan Rafidhah.  

Dalam riwayat yang lain, mereka diberi nama Rafidhah disebabkan mereka mendatangi Zaid bin Ali bin Al Hussain seraya berkata, “Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar, dengan demikian kami akan bergabung dengan kamu.” 

Maka Zaid menjawab, “Keduanya adalah sahabat kakek saya, saya tak akan berlepas diri dari keduanya, dan tetap berwala’ kepada keduanya.”

Lalu mereka berkata, “Jika demikian kami menolakmu.” Maka mereka disebut Rafidhah yang artinya golongan penolak. 

Dalam pendapat lain mereka dinamakan Rafidhah karena menolak keimaman Abu Bakar dan Umar RA dan dalam pendapat yang lain lagi karena penolakan mereka pada agama. 

Ditulis Oleh

Author
Muhammad Suparman al Jawi, S.Pd.I
Mjelis Syuro MPAQ
Baca terus kajian aQidah ini hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar