Ibnu Qudamah dalam kitab Muhtasor Minhajul Qosidin dalam bab Thaharah dan Rahasianya mengatakan,
Ketahuilah bahwa thaharah mempunyai empat tahapan:
- Mensucikan lahir dari hadats, najis-najis, dan kotoran-kotoran.
- Mensucikan anggota tubuh dari dosa-dosa dan kemaksiatan.
- Mensucikan hati dari akhlak tercela dan sifat buruk.
- Membersihkan hati (niat) dari noda syirik.
Yang terakhir inilah sebagai tujuan tertinggi. Barangsiapa memiliki basyiroh yang kuat, niscaya ia dapat mencapai tujuan tertinggi tersebut. Dan barangsiapa basyiroh-nya lemah maka dia hanya memahami tahapan thaharah yang pertama saja. Anda bisa melihat mereka hanya menghabiskan waktu yang sangat berharga ini hanya untuk beristinja dan mencuci baju secara berlebih-lebihan, padahal itu hanyalah was-was dan kurangnya ilmu yang berkaitan dengan permasalahan thaharah. Mereka tidak mengetahui sejarah orang-orang shaleh terdahulu, dimana mereka menghabiskan dari banyak waktunya untuk membersihkan hati dari noda-noda dosa dan maksiat, serta mereka bersikap gampang dalam urusan lahir. Sebagaimana telah diriwayatkan dari sahabat Umar bahwa beliau pernah berwudhu dari bejana milik wanita nasrani. Mereka hampir tidak mencuci tangan mereka dari sisa makanan, mereka shalat di atas tanah, berjalan tanpa alas kaki dan bersuci dengan batu setelah buang hajat mereka.
Kondisi saat ini sudah sampai pada suatu kaum dimana mereka menamakan kedunguan dengan kebersihan. Anda melihat kebanyakan waktu mereka habis dalam rangka memperhias lahir, sedang batin mereka lapuk berlumut kesombongan, sifat ujub, riya’, kebodohan dan kemunafikan yang semakin membusuk di dalam hati. Dan ketika mereka melihat orang-orang yang hanya bersuci dengan batu, berjalan tanpa alas kaki, shalat di atas tanah tanpa alas atau berwudhu dari bejana orang nasrani, niscaya mereka akan menolak dan mengingkari dengan keras, menyebut mereka adalah orang-orang yang jorok, tidak tahu aturan dan menolak untuk makan bersamanya. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan kesederhanaan yang merupakan bagian dari keimanan sebagai bentuk kebodohan, memutar balik perkara, yang mungkar menjadi makruf dan yang makruf menjadi mungkar. Maka barangsiapa tidak boros dalam menggunakan air ketika bersuci hal tersebut tidaklah perbuatan yang tercela justru merupakan perbuatan yang terpuji, hal tersebut bisa kita baca dalam kitab-kitab fikih karya para ulama.
MENGANGKAT KOTORAN
Menghilangkan kotoran terbagi menjadi dua:
Pertama: Kotoran yang patut dibersihkan, seperti kotoran dan noda yang berkumpul di kepala, dianjurkan dibersihkan dengan mandi, menyisir dan memakai krim pembersih untuk menghilangkan kusut, demikian juga kotoran yang terkumpul pada telinga dan hidung, semua itu patut dihilangkan.
Dianjurkan pula bersiwak dan berkumur untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada lidah dan gigi, demikian juga di sela-sela lipatan jari tangan, kotoran yang mengumpul di seluruh badan akibat keringat dan debu jalanan; mandi bisa menghilangkan semuanya.
Boleh masuk tempat pemandian, karena ia bisa menghilangkan kotoran sebersih- bersihnya, karena para sahabat Rasûlullâh saw juga memasukinya, akan tetapi siapa yang masuk, hendaknya menjaga auratnya agar tidak dilihat oleh orang lain dan tersentuh olehnya. Orang yang masuk patut mengingat panasnya api neraka saat merasakan kehangatanya, karena pemikiran seorang Mukmin selalu berkelana menjelajah segala sesuatu dari perkara dunia, lalu dengannya ia mengingat akhirat, sebab yang mendominasi seorang Mukmin adalah perkara akhirat, seumpama rembesan setiap bejana menunjukkan isinya. Perhatikanlah seandainya sebuah tempat yang ramai dimasuki oleh tukang kain, tukang kayu, tukang bangunan dan tukang tenun, kamu melihat tukang kain melihat kepada kain-kain, memperhatikan harganya, tukang tenun melihat kepadanya tenun kain, tukang kayu melihat ke atap rumah dan tukang bangunan melihat ke tembok, demikian pula seorang Mukmin, bila dia melihat kegelapan, maka dia teringat kegelapan alam kubur, bila mendengar suara yang menakutkan, maka dia teringat tiupan sangkakala, bila melihat kenikmatan, dia teringat kenikmatan surga, bila melihat siksa, maka dia teringat azab neraka.
Makruh masuk pemandian menjelang matahari terbenam dan di antara Maghrib dan Isya, karena waktu tersebut adalah waktu setan gentayangan.
Bentuk kedua dari mengangkat kotoran adalah bagian-bagian yang patut dibuang seperti mencukur kumis, mencaput bulu ketiak, mencukur bulu kelamin dan memotong kuku. Makruh mencabut uban dan dianjurkan untuk disemir.
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar