• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Penyimpangan Tashawwuf : Memiliki Surga dan Menebus Dosa

Pada edisi yang lalu kita sudah sampai pada point ke-2 tentang penyimpangan tashawuf. Edisi kali ini kita lanjutkan pada penyimpangan berikutnya:

3. Memiliki Surga dan Menebus Dosa 
Semua mursyid thariqah dari golongan mana saja menggembirakan murid–muridnya bahwa pada Hari Kiamat mereka akan menggiring semua murid–muridnya masuk surga, meskipun banyak melakukan perbuatan dosa dengan syarat antara lain sebagai berikut ;

  1. Meyakini bahwa ajaran mursyidnya adalah benar dari Rasûlullâh saw dan dari Allâh SWT.
  2. Mematuhi petunjuk dan arahan dari mursyidnya serta harus mengabaikan dari mursyid  yang lain terutama dari ulama’ ahlus sunnah karena ilmu mereka hanya kulit kosong tanpa isi.
  3. Mengikuti acara tawajjuhan, yaitu acara dzikir yang langsung dipimpin oleh mursyid atau badalnya.
  4. Mengikuti pengajian rutin yang diajarkan oleh mursyid atau badalnya.

Tentang memiliki surga ini, pembaca bisa menelaah kembali dalam buku ini pada pembahasan yang lalu, tentang janji dan jaminan Syaikh Ahmad ar Rifa’i yang mereka yakini sebagai Wali Quthub, bahwa orang yang menengok pintu madrasahnya saja besuk di Padang Makhsyar akan selamat dari siksa yang mengerikan. Kalau menengok pintu madrasahnya saja sudah selamat dari siksa, tentunya yang masuk dalam thariqahnya derajatnya akan tinggi di surga.

Dalam buku ini, pada bab Thariqah Tijaniyah halaman yang terdahulu, tentang janji Syaikh Ahmad at Tijani yang mereka yakini sebagai Wali Quthub, bahwa seluruh muridnya pasti masuk surga tanpa hisab, meskipun banyak berbuat dosa dan maksiat.
Dalam Kitab Lujainud Dani bab at Tahadus bin Ni’am, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang diyakini sebagai Wali Quthub berkata, 

ماَ مُسْلِمٌ عَلَى بَابِ مَدْرَسَتِيْ إِلاَّ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْهُ الْعَذَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


Tidaklah seorang muslim lewat dalam pintu madrasahku kecuali pada Hari Kiamat Allâh meringankan adzab baginya. 

Diberitakan pula bahwa beliau sedang melewati kuburan dan mendengar seorang menjerit–jerit di dalam kubur karena disiksa. Beliau berkata, “Orang ini pernah mengunjungi aku sekali, maka Allâh harus mengasihaninya.” Kemudian tidak terdengar jeritan lagi selama–lamanya.

Seperti itulah keberanian para mursyid thariqah dan murid–muridnya dalam membuat berita–berita dusta untuk membius umat Islam agar berbondong–bondong masuk ke dalam thariqah mereka, meskipun dengan cara–cara yang berlawanan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. 

Kedustaan yang berkaitan harta itu sudah dosa besar karena hanya merampas hak orang lain. Akan tetapi kedustaan yang merampas hak Allâh SWT dan melawan petunjuk Rasul-Nya adalah sesat yang akan menyesatkan mayoritas umat Islam dan menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Inilah yang disabdakan Rasûlullâh SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Mas’ud RA.

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ


Dan jauhilah oleh kalian perbuatan dusta. Sesungguhnya perbuatan dusta mengarahkan pada kemaksiatan dan kemaksiatan mengarahkan ke neraka. (HR. al-Bukhary–Muslim dari Ibnu Mas’ud RA).

Memasukkan orang ke dalam surga adalah hak Allâh SWT, demikian pula mengampuni dosa. Allâh bisa mengampuni hamba-Nya yang banyak berbuat maksiyat dan dosa besar kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Meskipun demikian Allâh berbuat adil, yaitu mengampuni hamba–hamba–Nya yang bertaubat dan memasukkan ke surga kepada orang–orang yang beramal shaleh yang berdasarkan iman yang bersih dari syirik, tidak cukup hanya dzikir mengucapkan kalimat, “Allâh, Allâh...”  beribu–ribu kali. Sebagaimana firman Allâh dalam surat Ali Imran ayat 133–135.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ   الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ   وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allâh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allâh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allâh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 133–135).

Sayid Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al Manaar Juz XI halaman 423, tentang tafsir surat Yunus ayat 62–64,  menyebutkan, bahwa seorang khathib di India berkhuthbah di hadapan kaum muslimin dalam peringatan hari lahir Syaikh Abdul Qadir al Jailani mengatakan, “Ada seekor burung elang yang dapat menyambar segumpal daging dari hewan yang dipotong untuk memperingati hari lahir Syaikh Abdul Qadir al Jailani, kemudian tulang dari daging tersebut jatuh di atas sebuah kubur, maka Allâh SWT memberikan ampunan kepada orang yang ada di dalam kubur tersebut. 

Cerita–cerita seperti ini mengakibatkan kerusakan aqidah mayoritas umat Islam. Tauhid mereka tercemar syirik besar karena percaya kepada berita–berita dusta yang mereka yakini sebagai karamah Syaikh Abdul Qadir al Jailani yang diangkat menjadi Wali Quthub oleh para mursyid thariqah. Mereka sengaja membuang firman Allâh SWT yang mewajibkan umat Islam mendahulukan Allâh dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang tersebut dalam al-Qur’an surat al Hujurat ayat 1 ,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allâh dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurât [49]: 1).

Sahabat Abdullah bin Abbas mengabarkan bahwa Rasûlullâh saw pernah melewati dua kubur, maka beliau bersabda bahwa keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Salah seorang di antaranya tidak membersihkan diri sewaktu buang air kecil, sedangkan yang lain karena suka berjalan–jalan menebar fitnah. Kemudian Nabi saw mengambil pelepah kurma dan membelah menjadi dua lalu menancapkan pada dua kubur tersebut.
Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasûlullâh, mengapa Tuan melakukan hal ini ?”
Beliau menjawab , 

لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

“Mudah–mudahan keduanya diringankan siksanya sebelum keduanya kering.” (HR. al-Bukhary–Muslim dari Ibnu Abbas).

Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allâh SWT saja tidak berani menentukan keringanan siksa dengan kata–kata “pasti” seperti yang diberitakan dari Syaikh Abdul Qadir al Jailani, tetapi menggunakan kata–kata “mudah–mudahan” yang menunjukkan makna do’a, yaitu semoga Allâh SWT meringankan siksanya.
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dan at Tirmidzi dari Aisyah RA, Rasûlullâh saw bersabda,

يَا فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ يَا صَفِيَّةُ بِنْتَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا بَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا سَلُونِى مِنْ مَالِى مَا شِئْتُمْ


Wahai  Fatimah binti Muhammad , wahai Shafiyah binti Abdul Muthallib , wahai Bani Abdul Muthallib , aku tidak memiliki kekuasaan sedikitpun untuk kalian dari siksa Allâh SWT. Tapi mintalah kalian hartaku sekehendakmu.” (HR. Muslim dan at Tirmidzi dari Aisyah RA).

Dari hadits–hadits ini orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allâh SWT akan memahami dan menyimpulkan bahwa :

  1. Rasûlullâh saw adalah seorang yang yang paling dicintai Allâh SWT, dan apa yang dikatakan benar karena mendapat wahyu dari Allâh SWT.
  2. Rasûlullâh saw tidak diberi  kemampuan untuk meringankan siksa orang-orang yang banyak dosa apalagi memasukkan orang ke dalam surga.
  3. Berita-berita tentang karomah dari orang yang diyakini sebagai wali yang berlawanan dengan petunjuk Allâh dan Rasul-Nya adalah dusta dan menyesatkan.
  4. Orang-orang yang meyakini kemampuan para wali dan orang-orang shalih kemudian mengagungkannya dan membangun kuburnya serta minta berkah kepadanya adalah perbuatan syirik akbar yang Allâh tidak akan mengampuni kalau tidak taubat.
  5. Orang-orang yang merasa do’anya kepada para wali dan orang-orang shalih yang telah meninggal dikabulkan dan hajatnya terpenuhi adalah disesatkan oleh syaithan. Sebagaimana firman Allâh dalam al-Qur’an Surah an Nisa (4) ayat 117


إِن يَدْعُونَ مِن دُونِهِ إِلآَّإنِاَثاً وَإِن يَدْعُونَ إِلاَّشَيْطَانًا مَّرِيدَا


“Yang mereka sembah selain Allâh itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.”

1. Memiliki Ketuhanan

Wali Quthub Syaikh Ahmad Rifa’i dalam perjalanannya berjumpa seekor singa sedang memangsa seorang pemuda yang telah merobek lengannya dan memakannya. Melihat kejadian ini Syaikh Ahmad menghardik dengan suara keras dan melepas pandangan tajamnya, maka singa itu jatuh tersungkur dan mati. Kemudian Syaikh Ahmad mengambil sisa lengan yang dimakan singa dan menancapkan ke pundak pemuda itu, maka pemuda tersebut sembuh kembali seperti sebelum dimangsa singa. 

Dalam kitab Lujjainid Dani, karangan Syaikh Ja’far bin Hasan Al Barjanji menceritakan bahwa 3 syaikh dari negeri Jailan datang silaturahmi kepada Syaikh Abdul Qadir. Ketika masuk rumah, mereka melihat ceret perebus air tidak menghadap kiblat dan mereka melihat pelayan berdiri di hadapan Syaikh Abdul Qadir maka tamu itu saling berpandangan. Seperti menunjukkan sikap tidak senang dengan adanya ceret tidak menghadap kiblat. Maka Syaikh Abdul Qadir meletakkan kitab yang ada di tangannya dan memandang kepada pelayan, seketika itu pula jatuh tersungkur dan mati. Dan beliau memandang kearah ceret dan seketika itu pula ceret berputar ke arah kiblat. 

Dalam Ihya’ Ulumuddin, kitab Mahabbah wasy-Syauq, Imam al-Ghazali menceritakan bahwa seorang mursyid Thariqah Syaikh Abu Turab At-Thahsyabi mengagumi muridnya yang rajin beribadah muwajadah kepada Allâh SWT, dan sudah mampu kasyaf melihat Allâh. Ketika beliau mengajak murid tersebut silaturahmi kepada wali Quthub Syaikh Abu Yazid Al Busthami, murid tersebut enggan karena sedang sibuk mujahaddah, seraya berkata: “Aku tidak butuh Abu Yazid, aku sudah melihat Allâh.” Mendengar jawaban ini, Abu Turab marah seraya berkata, “Celaka, Engkau tertipu dengan Allâh. Jika engkau melihat Abu Yazid sekali saja akan lebih berguna bagimu daripada Engkau melihat Allâh 70 kali.” Kemudian mereka berdua berangkat mengunjungi Abu Yazid dan menunggu di tanah tinggi di luar hutan karena Abu Yazid tinggal di hutan bersama binatang buas. Ketika Abu Yazid lewat, Abu Turab berseru : “Itu Abu Yazid, lihatlah” maka murid tersebut melihat Abu Yazid yang dibalas dengan pandangan tajam dan jatuh pingsan. Ketika dibangunkan ternyata sudah mati.

Cerita-cerita ini dan semacamnya telah menyesatkan mayoritas ummat Islam, mereka yakin dengan haqqul yaqin bahwa para mursid thariqah yang sudah mencapai derajat wali, mampu mematikan, menghidupkan, menyembuhkan penyakit, menghilangkan dan menolak bencana, memberi rizki, memenuhi kebutuhan hidup manusia. 

Mereka yakin bahwa mursid yang mereka yakini wali ini sesudah meninggal kemampuannya bertambah. Iman seperti ini berdasarkan Kitab Tanwirul Qulub, Fasal Fadlul Auliya’ yang kalimatnya sebagai berikut :

بَلْ ظُهُوْرُهَا حِيْنَئِذٍ أَوْلَى لِأَنَّ النَّفْسَ حِيْنَئِذٍ صَافِيَةٌ مِنَ الْأَكْدَارِ وَلِذَا قِيْلَ مَنْ لَمْ تَظْهَرُ كَرَامَتُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَيْسَ بِصَادِقٍ قَالَ بَعْضُ الْمَشَايِخِ إِنَّ اللَّهَ يُوَكِّلُ بِقَبْرِ الْوَلِيْ مَلَكًا يَقْضِي الْحَوَائِجَ وَتَارَةً يَخْرُجُ الْوَلِيُّ مِنْ قَبْرِهِ وَيَقْضِيْهَا بِنَفْسِهِ


Bahkan munculnya karamah setelah mati itu lebih utama. Karena jiwa pada saat ini dalam keadaan bersih dari noda. Oleh karena itu dikatakan, barang siapa yang setelah mati karamahnya tidak tampak, maka dia bukan orang shadiq. Dan beberapa syaikh mengatakan, sesungguhnya Allâh mewakilkan malaikat di kuburan seorang wali untuk memenuhi kebutuhan manusia. Bahkan kadang–kadang seorang wali keluar dari kuburnya dan memenuhi sendiri kebutuhan–kebutuhan manusia.” 

Di dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali menulis di kitab Mahabbah wasy-Syauq tentang kemampuan para mursyid yang diyakini wali ini sebagai berikut :

إِنَّ لِلَّه عِبَاداً فِيْ هَذِهِ الْبَلْدَةِ لَوْ دَعَوْا عَلَى الظَّالِمِيْنَ لَمْ يُصْبِحُ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ ظَالِمٌ إِلاَّ مَاتَ فِيْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ ............... فَلاَ يَنْبَغِيْ أَنْ يَخْلُوَ عَنِ التَّصْدِيْقِ والْإِيْمَانِ بِأَمْكَانِهَا


“Sesungguhnya Allâh mempunyai hamba–hamba di negeri ini yang jika mereka mendo’akan orang–orang dhalim, pastilah orang–orang dhalim tersebut mati dalam satu malam saja. ……………………………. Maka tidak sepatutnya seseorang tidak membenarkan dan tidak mengimani kemungkinan munculnya karamah.”

Oleh karena itu mayoritas ummat Islam mengagungkan mursyid Thariqah seperti mengagungkan Allâh. Mereka mendukung didirikan bangunan di atas kubur untuk dapat beribadah dan mensyiarkan ritual dan seremonial setiap tahun secara besar-besaran. Syiar ini apabila dikumpulkan dari seluruh dunia Islam akan menjadi lebih besar dari 1000 kali ibadah haji. Mereka beriman bahwa wali Quthub, wali Imamani, Wali Autad dan wali-wali yang lain adalah orang-orang suci yang menjadi perantara antara hamba dengan Allâh SWT. Apabila mendapat musibah atau kebutuhan dalam hidup di dunia mereka gamang berdoa kepada Allâh dan lebih mantap berdoa kepada para wali, oleh karena itu mereka berduyun-duyun datang ke kubur orang-orang yang mereka yakini sebagai wali untuk minta berkah, kelapangan rizki, sembuh dari penyakit, lepas dari musibah, berhasil dari pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Di hadapan pusara, mereka khusyu’ duduk bersimpuh merengek-rengek kepada sang wali agar mengabulkan doanya da memenuhi hajatnya diantara do’a mereka antara lain ,

طَلَبْنَا وُسْعَةَ الرِّزْقَ حَلاَلاً يَا وَلِيَ اللَّهِ   وَحِجَّ الْبَيْتِ  فِيْ الْحَرَامِ مِرَارًا يَا وَلِيَ اللَّهِ

Wahai Waliyullah, kami meminta kelapangan rizki yang halal, dan kami minta naik haji ke Tanah Suci berkali–kali.

Iman mereka kepada Allâh hampir putus tinggal beberapa lembar. Sedangkan iman mereka kepada wali makin erat dan mantap. Mereka lebih meyakini janji dusta para mursid daripada janji Allâh Yang Maha Kuasa dan Esa, Pemilik Berkah, Pemberi Rizki, mengabulkan do’a dan memberi kebutuhan hidup manusia di dunia. Sebagaimana ikrar kekasih Allâh Nabi Ibrahim AS dalam  al-Qur’an surat asy Syuara ayat  77–82 ,

فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}


Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb Semesta Alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Rabbku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit.Dialah Yang menyembuhkan aku dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 77–82)

Agaknya mereka ragu pada janji Allâh atau bahkan melupakannya bahwa Allâh itu dekat dengan hamba-Nya dan yang mengabulkan do’a sehingga tidak usah berdo’a kepada para wali. Dan cukup berdo’a kepada Allâh saja, serta tawakkal kepada-Nya. Sebgaimana firman Allâh dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat  186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Mereka adalah orang-orang Islam yang iman kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mengamalkan sebagian kecil syariat Islam yaitu shalat dan puasa. Dan kalau diberi kelapangan rizki mereka ibadah haji. Akan tetapi sayang, iman mereka tercemar syirik akbar yaitu iman kepada wali Qutub, wali Autad, wali Abdal dan wali-wali yang lain yang mereka yakini mampu memberi manfaat, menimpakan bencana, mengabulkan do’a dan memenuhi hajat manusia. Iman dan ritual mereka seperti orang-orang musyrik pada zaman jahiliyyah, sebagaimana yang diberitakan Allâh pada al-Qur’an surah az-Zumar (39) ayat  2–3,

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ {2} أَلاَ لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَانَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَاهُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ {3}


Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran.Maka sembahlah Allâh dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allâh-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allâh (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allâh dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allâh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya.Sesungguhnya Allâh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az-Zumar [39]: 2-3)


2. Mengkafirkan orang-orang yang tidak percaya karomah wali yang mereka ada-adakan.
Semua orang yang beriman dan bertakwa, melakukan perintah Allâh, menjauhi larangan-Nya beramar makruf nahi mungkar dan berjuang menegakkan agama Allâh adalah wali-wali Allâh karena mereka dicintai-Nya. Didalam al-Qur’an surat Yunus (10) ayat 62-63. Allâh berfirman,

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ {63}


Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allâh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS. Yunus [10]: 62-63)

Namun derajat kewalian mereka berbeda-beda sesuai kualitas iman dan takwa serta amal sholeh mereka. Orang-orang mukmin yang telah melakukan kewajibannya seperti tersebut di atas ditambah melakukan yang disunahkan sesuai dengan syariat, mereka itulah yang derajat kewaliannya tinggi. Rasûlullâh saw bersabda dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan Imam al-Bukhary dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA ,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ


“Barang siapa yang memusuhi wali–wali-Ku, maka Aku umumkan perang padanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan satu ibadah yang lebih Aku cintai kecuali dengan ibadah yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan tak henti–hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah–ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintai hamba-Ku, maka Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, dan Aku menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, dan Aku menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang, dan Aku menjadi kaki yang dia gunakan untuk melangkah. Dan jika dia meminta kepada-Ku, pasti Aku akan memberinya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku akan melindunginya.

Apabila ada keajaiban dari orang mukmin, misalnya diserang musuh-musuhnya kemudian mereka jatuh pingsan sehingga ia selamat atau dituduh berzina dengan seorang janda kemudian anak yang baru lahir mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang penggembala onta, maka itu adalah karomah dari Allâh SWT. Contohnya ketika Umar bin Khaththab RA sedang khutbah diatas mimbar, ia berteriak :
“Hai pasukan …… ke gunung ……. , hai pasukan …… ke gunung……….. ”. Maka pasukan Islam yang berhadapan dengan tentara Persia yang sangat besar mendengar komando Umar dan mereka naik gunung dan memenangkan pertempuran.
Wali-wali Allâh adalah sahabat Rasûlullâh saw dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik, yaitu orang-orang yang berpegang pada kitab Allâh dan Rasul-Nya serta mengikuti manhaj sahabat dalam memahami dan mengamalkannya. Karena mereka itulah orang-orang yang diridhai Allâh dan dijanjikan masuk surga, sebagaimana firman Allâh SWT dalam al-Qur’an surat at-Taubah (9) ayat 100 ,

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ


Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah [9]: 100)

Orang-orang yang mengaku menyingkap tabir ghaib mendapat petunjuk langsung dari Allâh SWT atau mengaku nabi sesudah Rasûlullâh SAW, sebenarnya mereka orang-orang yang tertipu dan menipu umat dan menjerumuskan ke dalam kesesatan. Ajaran mereka bertentangan dengan tauhid sehingga akan mencemari akidah isalm dengan syirik akbar, satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni Allâh kalau tidak bertaubat.

Wali Allâh tidak ditentukan dengan keajaiban yang keluar dari dirinya, misalnya tidak terbakar api, tidak luka ditusuk senjata tajam seperti permainan debus. Juga tidak boleh ditentukan dengan cerita ajaib yang tidak tentu ujung pangkalnya seperti tangan Rasûlullâh SAW menjulur dari dalam kubur ketika Syaikh Rifa’i memberi salam dan memanggilnya, juga tidak seperti cerita sadis Syaikh Abdul Qodir al-Jailani membunuh burung pipit dengan sekali pandang karena telah mengotori pakaiannya, atau Syaikh Abu Yazid al Busthami membunuh murid kesayangan Syaikh Abu Turab karena merendahkannya dengan memandangnya. Wali Allâh ditentukan oleh kualitas iman dan ketakwaan serta istiqamah dalam berjihad menegakkan agama Allâh, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhary dari Mughirah bin Syu’bah ,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ يُقَاتِلُونَ وَهُمْ أَهْلُ الْعِلْمِ.

Tidak henti–hentinya satu golongan dari umatku, berjuang menegakkan kebenaran, mereka adalah ahli ilmu.”

Hujjah dari al-Qur’an dan dalam hadits cukup jelas dan banyak bahkan tidak terhitung, tetapi para mursyid sufi tetap pada pendirian yaitu iman pada wali-wali yang mereka ada-adakan dan karomahnya. Bahkan mereka yakin ‘ainul yaqin bahwa setelah wali itu meninggal karomahnya bertambah agung, padahal karomah wali setelah meninggal adalah rekayasa para pengabdi kubur. Mereka berani menentang Rasûlullâh saw hanya untuk mengada-adakan karomah para wali yang sudah meninggal, misalnya mengadakan acara haul di kuburan, padahal Rasûlullâh saw melarangnya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan sahabat Abu Hurairah,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ


Janganlah kalian jadikan rumah–rumah kalian seperti kuburan, dan janganlah kalian jadikan kuburku tempat perayaan haul. Bacalah shalawat, sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku, dimanapun kalian berada.

Membangun kubur yaitu membuat batu nisan yang indah dan permanen tidak akan rusak sampai kiamat bahkan diselimuti kain yang setiap tahun diganti dana dijual dengan harga yang super mahal. Seandainya para sahabat masih hidup, kubur seperti ini pasti akan dihancurkan. Sebagaimana perintah Khalifah Ali bin Abu Thalib RA kepada Abul Hayaj al-Asadiy, yang diriwayatkan oleh Jama’ah kecuali al-Bukhary dan Ibnu Majjah,

أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ.


“Ketahuilah, aku mengutusmu seperti aku pernah diutus oleh Rasûlullâh saw, yaitu, jangan engkau biarkan patung–patung kecuali engkau hancurkan, dan jangan engkau biarkan kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.”

Membangun rumah untuk beribadah di atas kubur agaknya menjadi kewajiban bagi orang-orang yang mengada-adakan karamah dari orang-orang mati dengan dalil mencintai orang shalih. Padahal perbuatan ini dilarang Rasûlullâh saw dan termasuk perbuatan yang paling jahat. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, bahwa Ummu Salamah RA menceritakan kepada Rasûlullâh saw tentang gambar-gambar yang ada di gereja-gereja  negeri Habasyah, maka Raulullah saw bersabda, 

أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ ، أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ - بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ.


Mereka itulah Kaum yang ketika orang shaleh di antara mereka mati mereka membangun masjid di atas kuburnya dan mereka menggambarnya. Mereka itulah sejahat–jahat makhluk di sisi Allâh.”

Beribadah di sekeliling kubur seperti membaca al-Qur’an, Tahlil, berdo’a dengan harapan mendapat berkah wali atau orang shaleh yang telah mati adalah perbuatan yang didominasi oleh unsur syirik, apalagi seperti yang dilakukan umumnya orang Islam. Mereka berdo’a langsung kepada wali agar dipenuhi hajatnya. Ini sudah merambah ke dalam syirik akbar, satu-satunya dosa yang kalau tidak taubat, Allâh tidak akan mengampuninya. Allâh berfirman dalam al-Qur’an surat an Nisa (4) ayat 116–117.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا (116) إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا (117)


Sesungguhnya Allâh tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allâh, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
Tidaklah mereka berdo’a dari selain Allâh kecuali perempuan dan tidaklah mereka berdo’a kecuali kepada syaitan  durhaka.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 116-117)

Hujjah dari al-Qur’an dan as-Sunnah cukup jelas dan banyak sekali. Akan tetapi, para mursyid sufi tetap mempertahankan pendiriannya karena merasa mendapat petunjuk langsung dari Allâh SWT. Mereka berani mengkafirkan orang-orang yang tidak percaya kepada karomah para wali yang mereka ada-adakan. Dalam kitab Qiladatul Jawahir karangan Abul Hadi ar Rifa’i mereka berfatwa, bahwa mengingkari karamah Syaikh Ahmad ar Rifa’i adalah kafir.

وَإِنْكَارُ هَذِهِ الْكَرَامَةِ كُفْرٌ

“Dan mengingkari karamah ini adalah kafir”

Ditulis Oleh

Author
Muhammad Suparman al Jawi, S.Pd.I
Mjelis Syuro MPAQ
Baca terus kajian aQidah ini hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar