Kita hanya tersenyum GELI menyaksikan perdebatan persoalan Full Day School yang digagas menteri pendidikan yang baru, hal yang sangat biasa di lingkungan BIAS menjadi luar biasa diperdebatan dunia akademik. Setelah Menteri Malik Fajar menghapus ranking ( dan buktinya tidak mampu dilakukan pihak sekolah-sekolah ) dilanjutkan penerusnya dengan penilaian portofolio, dilanjutkan dengan pendidikan karakter oleh Bapak Anis Baswedan, dan terakhir pendidikan full day, gagasan menteri pendidikan yang baru, SEMUA MENIRU PERSIS dengan pendidikan di BIAS. Kita tersenym geli karena semua sudah dilakukan jaringan BIAS sejak 22 tahun yang lalu.
Alasan mencontoh FINLANDIA yang tingkat pendidikannya maju dan indeks kemanusiaannya tinggi sangat menggelikan, ya……... memang betul di Finlandia memang begitu, tetapi untuk di Indonesia “ ngapain “ mencontoh Finlandia, sedang di Indonesia pendidian berasrama / boarding dan pendidikan full day sudah sangat terbiasa, yaitu di pesantren. Kalau saja para ahli ini jujur melihat fenomena PESANTREN yang sudah digempur sekulerisasi dengan pendidikan orientasinya AGAR MENDAPAT TEMPAT, yang arahnya agar mudah mencari duit, ternyata pesantren yang tidak berharap itu semua tetap eksis dan semakin berkibar dimana-mana, apalagi PESANTREN SUNNAH, mestinya negara belajar dari sana, bukan malah melanglang buana keluar negeri. Pesantren yang arah pendidikan karakternya sangat kental tidak mengapa ditiru menjadi sistem pendidikan nasional, toh mayoritas penduduk ini beragama Islam, yang di didik Belanda atau Amerika prosentasenya sangat kecil, mengapa malu mengakui keberhasilan sistem pendidikan pesantren ?
Seorang Rektor dari Universitas terkemuka, pernah berkonsultasi kepada salah satu Syeikh di Arab Saudi, bagaimana sistem pendidikan, agar anak didik betul-betul menjadi berkwalitas seperti ANAK MANUSIA, bukan seperti ROBOT, seperti yang berlaku di negara kami, kata sang Rektor, maka Syeikh menjawab, bagaimana sistem pendidikan di negara anda ?, maka di jelaskan di negeri ini pendidikan mulai pendidikan dasar 6 tahun kemudian menengah pertama 3 tahun, menengah atas 3 tahun dan pendidikan tinggi. “Apa kwalifikasi setiap jenjang pendidikan itu?” tanya Syeikh, maka di jawab sang Rektor, “kalau pendidikan dasar ya sekedar jadi Room Boy, atau penyapu jalanan, kalau pendidikan menengah sampai atas bisa menjadi satpam, atau pekerja pabrik, kalau pendidikan tinggi bisa menjadi mandor atau manager.” Bayangkan perbedaannya dengan sistem pendidikan di tempat sang Syeikh, mulai pendidikan dasar adalah dengan menghafal Al-Qur’an baru ditambah pendidikan CALISTUNG, pendidikan menengah dengan hafalan hadits-hadits dan pemahaman syari’ah ditambah IPA, pendidikan tinggi sudah kearah pemahaman tafsir dan pemahaman hadits ditambah keilmuan khusus yang mereka nikmati. Syeikh tersebut bertanya “Kalau di negera tuan, orang terdidik menghafal Al-Qur’an apakah ada yang menjadi room boy / penyapu jalan ?” “Tidak” jawab Rector. “Kalau penghafal hadits apakah ada yang menjadi kuli di pabrik ?” “Tidak juga” jawab Rektor dan seterusnya, dan pahamlah sang Rektor, bahwa arah pendidikan mestinya kepada agama, sedang tambahan ILMU KAUNIYAH hanyalah sekedar tambahan berdasar pada minat anak. Namun bagaimana di Indonesia yang SANGAT SEKULER hal ini bisa diterapkan ? sedangkan yang namanya pendidikan justru yang arahnya dunia, yang dibiayai dengan APBN / APBD sampai 20 % hingga senilai Rp. 400 Trilyun.
Lagi-lagi yang konyol adalah alasan, kalau kemasyarakatan siswa-siswi akan tercerbut dari sistem sosial lingkungannya jika dipakai sistem full day, adalah alasan sangat bodoh, bukankah lingkungan akan membentuk karekter anak dengan lebih intens ?, sehingga kalau anak dibuatkan lingkungan terdidik dalam waktu lama, tentu akan sangat menguntungkan bagi perkembangan mereka dilingkungan yang terdidik dan terkendali. Mungkin bayangan mereka dan mengakunya para ahli anak didik di sekolah full day akan DIGEROJOK dengan persoalan hitung-hitungan, fisika, biologi, pendidikan Pancasila, sejarah, dan lain lain yang dibayangkan anak akan berkutat dengan buku di atas meja dengan duduk manis, seperti lagu sewaktu TK “ Siji loro telu, tangane sedeku, MIRENGAKE bu guru, menowo DIDANGU, papat nuli limo LENGGAHE ditoto, aja podo sembrono mundak ora biso…………… “, lagu konyol yang menggambarkan siswa duduk manis dan hanya bereaksi ketika ditanya gurunya ini sangat populer dikumandangkan, dan para ahli tentu masih lekat dengan lagu ini. Akan sangat lain kalau pendidikan AGAMA, memang diperlukan sikap seperti diatas, kedisiplinan untuk memperhatikan guru sangat diperlukan, namun akan sangat lain kalau sekedar pendidikan dunia, kebebasan anak didik berapresiasi tentu lebih baik.
Bahwa sekarang learning by doing bisa menjangkau untuk bermacam pelajaran ilmu dunia, Habits Forming untuk memantabkan contoh guru menjadi guru selama 24 jam, kayaknya masih jauh dari impian para guru, apalagi negeri yang mereka sudah termanjakan dengan gaji besar dan jaminan lolos sertifikasi dengan tambahan insentif yang semakin besar. Sangat berlainan dengan guru swasta apalagi dilingkungan jaringan BIAS. Bayangkan untuk USTADZ- USTADZAH di lingkungan BIAS dan jaringannya, dengan SPP tidak sampai $ 50, dan tidak pernah naik selama 21 tahun dari mulai berdiri sampai sekarang ( Kecuali Jogja ), maka 20 % digunakan menggaji guru, akan ketemu berapa, kecuali hanya sekedar menjangkau UMR, seperti tenaga kerja di pabrik-pabrik, dan mereka para Ustadz-ustadzah sudah sangat terbiasa dengan jam dinas panjang, mulai jam 07.00 pagi hingga sore bahkan kadang lepas maghrib. Anggaran selebihnya yang 80 % dibagi untuk kepantingan kantor dan perlengkapan sekolah 30 %, selebihnya untuk kepentingan putra- putri kita, dari mulai makan siang bergizi, perlengkapan belajar yang macem-macem, sampai urusan pemeriksaan dokter, sehingga untuk pengembalian investasi hampir tidak pernah terjangkau, kecuali karena keberadaan Infaq awal dan wakaf yang mengalir setiap awal tahun.
Kita berharap, para pemimpin dan para ahli jujur dengan keadaan, bahwa sistem pendidikan yang di skenario menjadi sekuler, yang dikejar hanya dunia, untuk kepentingan dunia dan dibiayai dengan anggaran negara sangat besar, adalah keliru, buktinya sudah sangat dirasakan sekarang ini dimana-mana. Kenakalan anak sekolah sudah diluar batas bahkan cenderung premanisme yang menguat, kebebasan seksual sudah tidak terbendung, pemakaian NARKOBA dan obat terlarang sudah bukan rahasia lagi, dimulai dari budaya MEROKOK yang dianggap masalah biasa, dan sikap serta budaya jalanan dan tidak terdidik lainnya menghantui semua orang tua siswa-siswi di pendidikan sekuler / umum. Sedangkan di depan mata kita sudah sangat terlihat, INDAHNYA pendidikan pesantren yang orintasi pendidikannya adalah agama dan akhirat, sedang masalah dunia hanya sambil lalu saja, kita bisa menyaksikan hasilnya, istri seorang pimpinan di MPAQ yang baru lulus pesantren setingkat SMA, berhasil MENDIRIKAN SEKOLAH setingkat Play Group dan TK di ibu kota propinsi diluar Jawa dalam waktu hanya sebulan setelah kelulusannya, putra seorang pimpinan MPAQ setingkat KELAS DUA SMA, biasa dan mudah sekali disuruh maju menjadi imam sholat taraweh dengan bacaan yang bagus dan suara merdu, sehingga dirindukan ibu-ibu untuk mengimami, dan mudah sekali tampil di mimbar memberi ceramah, juga adiknya yang baru kelas 1 SMA, itu sekedar contohnya. Dan kalau pimpinan negeri ini jujur melihat fenomena-fenomena semacam ini, mustinya mereka harus sadar lepaskan sistem pendidikan sekuler, jangkau pendidikan agama apalagi untuk pendidikan dasar dengan benar. Full day school tidak perlu mencontoh sampai FINLANDIA, di pesantren di Indonesia dan di BIAS khususnya sudah berjalan sejak dari dulu kala.
Terakhir kami ingatkan hadits dari Rasulullah SAW, “ Barangsiapa yang orientasi / perhatiannya kepada DUNIA, Allah akan MEMPORAK PORANDAKAN dunianya, dimatanya yang ada hanya kefakiran, rezeki tidak datang sebatas yang sudah ditakdirkan, (sebaliknya) barangsiapa yang perhatiannya / orientasinya AKHIRAT, maka Allah AKAN MENATA kehidupannya, dan rezeki akan datang seperti yang sudah ditakdirkannya “ – Intisari hadits. MJK
Wallahu a’lam bish-showab
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar