• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 24

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong )

فإن لم تفعلوا ولن تفعلوا فاتقوا النار التي وقودها الناس والحجارة أعدت للكافرين

Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah [2]; 24)

Orang-orang kafir Qurays tidak mampu  dan sampai kapanpun tidak akan mampu memenuhi tantangan Allâh untuk membuat satu surat saja yang semisal dengan al-Qur’an. Meskipun mereka bersekutu dengan ahli sastra ataupun para cendekiawan. Ini adalah kepastian dari Allâh, bahwa al-Qur’an tidak akan bisa tertandingi selamanya.  Dan fakta telah membuktikan bahwa sejak dahulu sampai sekarang dan sampai kapanpun tidak akan ada yang mampu menyamai al-Qur’an. Al-Qur’an adalah firman Allâh, Rabb semesta alam, maka tidaklah mungkin firman Sang Maha Pencipta diserupakan dengan ucapan makhluk .

Sehingga? Kalau orang-orang kafir memang tidak mampu membuat surat yang semisal al-Qur’an, maka al-Qur’an adalah BENAR! Semua isi yang ada di dalam  al-Qur’an, baik yang berisi berita ancaman bagi yang ingkar, dan janji surga  bagi yang Taqwa itu  adalah benar. Maka tidak ada pilihan lain bagi orang-orang Kafir, kecuali IMAN dan mengikuti al-Qur’an, 

كتاب أنزل إليك فلا يكن في صدرك حرج منه لتنذر به وذكرى للمؤمنين. اتبعوا ما أنزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء قليلا ما تذكرون

“Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)”. (QS. Al-A’râf [7]: 2-3)

Allâh telah menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW untuk :

  • Menjadi peringatan bagi orang-orang kafir, maka Rasûlullâh tidak boleh sempit dada dalam menyampaikan al-Qur’an kepada mereka, meski dengan berbagai resiko yang akan dihadapi.
  • Menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman, agar semakain bertambah imannya.
  • Menjadi jalan hidup (WAY OF LIFE) maka jangan mengikuti jalan selain jalan al-Qur’an.

Mengikuti al-Qur’an adalah menjaga diri dari panasnya api neraka yang bahan bakarnya dari manusia yaitu mereka  yang ingkar kepada al-Qur’an,  dan dari batu. Kata Batu dalam ayat ini ada dua tafsier. Tafsier pertama yang dimaksud adalah  batu-batu berhala yang dijadikan sesembahan orang-orang kafir, yang  kelak di hari kiamat akan menjad bagian dari bahan bakar api neraka. Sebagaimana yang dijelaskan Allâh 

فاستجبنا له ونجيناه من الغم وكذلك ننجي المؤمنين. وزكريا إذ نادى ربه رب لا تذرني فردا وأنت خير الوارثين

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 88-89)

Tafsir kedua, batu dalam ayat ini bisa diartikan batu belerang yang menyala-nyala  agar menjadi adzab yang sangat pedih bagi penghuninya.

Akan tetapi dalam kenyataan tidaklah demikian, tidaklah banyak orang-orang yang mau mengambil al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Mereka mengaku sebagai Islam, namun tidak mau belajar/ mengkaji al-Qur’an, sehingga tidak paham ilmu tentang Aqidah : sesuatu yang sangat penting bagi hidup manusia. Juga tidak paham dengan Ilmu Syari’ah : aturan-aturan hidup yang mengajak kebaikan tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. 

Maka, neraka yang bahan bakarnya terbuat dari manusia dan batu telah disediakan bagi orang-orang yang mengingkari al-Qur’an, yaitu kepada :

  1. Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang dengan tegas MENOLAK keberadaan al-Qur’an.
  2. Munafik : iman kepada sebagian kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain.

وبشر الذين آمنوا وعملوا الصالحات أن لهم جنات تجري من تحتها الأنهار كلما رزقوا منها من ثمرة رزقا قالوا هذا الذي رزقنا من قبل وأتوا به متشابها ولهم فيها أزواج مطهرة وهم فيها خالدون

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al-Baqarah [2]: 25)

Setelah menjelaskan tentang adzab yang telah disiapkan bagi orang-orang yang ingkar kepada al-Qur’an, selanjutnya Allâh  memberi  khabar gembira bagi orang-orang  yang beriman kepada Allâh dan Rasûl-Rasûl-NYA, yang mereka membuktikan keimanannya dalam bentuk  amal shalih. Allâh menyediakan SURGA, suatu tempat  yang sangat menyenangkan, yang keadaannya dijelaskan Allâh sebagai berikut :

1. Mengalir di bawahnya sungai-sungai
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Ibn Abi Hatim dari Abu Hurairoh Ra, ia berkata Rasûlullâh SAW bersabda : “Sungai-sungai Surga memancar dari bawah anak bukit atau gunung yang terbuat dari kasturi”

2. Disediakan rezeki buah-buahan yang melimpah,
Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, ia mengatakan : “Rerumputan Surga terbuat dari za’faran, bukitnya dari kasturi. Mereka akan dikelilingi pelayan-pelayan muda belia dengan membawa buah-buahan dan penduduk surga memakannya. Kemudian mereka diberi lagi buah-buahan yang serupa. Maka berkatalah penduduk Surga : “Ini adalah buah-buahan yang kalian bawa tadi,” maka pelayan muda belia tersebut berkata : “Makanlah! Warnanya serupa akan tetapi rasanya berbeda.”

3. Istri-istri yang suci bagi penduduk surga
Ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia mengatakan : “Maksudnya suci dari noda dan kotoran.”

Qotadah mengatakan : “Suci dari kotoran dan perbuatan dosa.” Dan dalam riwayat yang lain ia berkata,”Tidak pernah haidh dan tidak memiliki beban untuk beramal.”
Namun, yang lebih penting dari masalah Surga yang serba menyenangkan tersebut adalah pembahasan tentang IMAN. Yaitu Iman yang bagaimana yang bisa menuai janji Surga-NYA Allâh?
Masalah Iman sudah dibahas pada ayat sebelumnya,  di surat Al Baqoroh ayat 3.  Yaitu seperti yang dijelaskan dalam Hadits Arba’in Imam Nawawi bab ke-2, bab tentang pengajaran Rukun Iman kepada Rasûlullâh yang dilakukan oleh malaikat.

Maka kalau kita lihat dari hadits tersebut, mestinya IMAN adalah masalah yang sederhana saja, yaitu percaya kepada Allâh, malaikat, Rasul, Kitab, Taqdir dan Hari Kiamat. Dan yang prinsip dari ke-enamnya adalam Iman kepada Allâh dan Hari Akhir.

Namun dalam kenyataan hidup tidak sedikit umat Islam yang imannya rusak dikarenakan AQIDAHNYA menyimpang. Adapun penyimpangan Aqidah yang pokok adalah salah dalam operasional Tauhid Uluhiyah. Yaitu keyakinan bahwa :

  • Ada dzat lain selain Allâh yang mempunyai kekuatan ghaib.
  • Keyakinan bahwa ruh-ruh orang shalih mempunyai kemampuan memberi pertolongan secara ghaib.

Dan  penyimpangan Aqidah  yang lain adalah pandangan orang-orang atas perlunya MEMBUMIKAN  al-Qur’an, maksudnya memahami al-Qur’an disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Bukan masayarakat yang harus menyesuaikan dengan kehendak al-Qur’an, akan tetapi sebaliknya al-Qur’an ditafsiri berdasar situasi dan kondisi masyarakat sekitar. Ayat-ayat dalam al-Qur’an yang nash shoreh dan dirasa tidak sesuai dengan kondisi masyarakat sekitar akan dibuang dan diganti dengan ayat-ayat yang Mutasyabihat. Maka dalam operasional, hukum-hukum yang berlaku di masyarakat lebih diakui dibanding hukum nash dalam al-Qur’an. Misalnya saat ini yang lagi populer adalah paham PLURALISME, yaitu paham yang mengatakan semua agama adalah sama, sama-sama mempunyai tujuan membawa umatnya ke surga dengan jalan yang berbeda-beda. Sehingga mereka beranggapan posisi Islam setara dengan posisi agama lainnya. Dengan begitu posisi umat Islam akan menjadi sangat lemah. Tidak akan ada lagi kepentingan terhadap WALA’ kepada kepentingan Islam dan Umat Islam, dan BARA’ kepada apapun yang menjadi musuh Islam. Justru sebaliknya WALA’nya kepada orang-orang non Islam, semisal dalam masalah memilih pimpinan , mereka tidak lagi mempedulikan peringatan keras Allâh tentang larangan mengangkat pimpinan non Muslim. 

Demikianlah penyimpangan-penyimpangan  Aqidah yang menjadikan rusaknya Iman, yang harus dihindari, bila kita masih berharap surga yang menyenangkan, yang telah disediakan Allâh SWT.
Dan Iman yang direalisasikan dengan amal shalih yang akan mendapat balasan dari Allâh. Seperti yang diterangkan Allâh 

من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
(QS. An-Nahl [16]: 97)

Janji Allâh bagi orang-orang yang Iman dan Amal Shalih adalah, mendapatkan kehidupan yang bersih  dan baik, serta janji surga dari sebab amal sholeh yang berlandaskan iman yang benar.

Allâhu a’lam


Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar