• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Penyimpangan – penyimpangan Aqidah : KHAWARIJ

Pendahuluan
Kaum Muslimin di Indonesia sangat didominasi oleh kalangan awam yang sama sekali tidak faham dengan Aqidah Islam dan Sejarah Perkembangan Islam dikarenakan masuknya Agama Islam ke Tanah Air melalui asimilasi budaya Hindu. Sebenarnya metode ini ditentang oleh mayoritas Wali Songo, akan tetapi Wali Abangan (Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus) menjamin bahwa setelah Dakwah Asimilasi Budaya selesai akan dilanjutkan Dakwah Purifikasi (pemurnian) oleh santri–santri penerus beliau agar umat mengambil ajaran yang berasal dari Islam dan meninggalkan yang berasal dari ajaran Hindu secara lambat laun. Maka langkah tersebut direstui.

Akan tetapi faktanya sampai sekarangpun penerus beliau tidak ada yang berani melaksanakan wasiat tersebut. Dan Kaum Muslimin pun masih mencampur adukkan antara ajaran Islam dengan bid’ah dan kesyirikan yang berasal dari agama sebelum Islam, Animisme, Dinamisme, Hindu dan Budha. Kondisi awamnya ummat ini rupanya dipelihara hingga sekarang yang dieksploitasi untuk kepentingan para pelaku kebatilan untuk menghasut dan memecah belah ummat serta untuk mencapai tujuan mereka agar mendapatkan posisi agama yang strategis demi kepentingan dunia semata.

Diantara usaha para pelaku kebatilan untuk menjauhkan manusia dari kebenaran adalah dengan mengaburkan makna kebenaran dan memberikan (menempelkan) citra yang buruk kepada para ulama, seperti Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab serta Da’i Tauhid yang berusaha menjelaskan pada umat tentang bahaya bid’ah dan syirik. Para pelaku dakwah tersebut difitnah dengan cap Khawarij, Wahabi dan citra buruk lain. 

Sebaliknya, mereka akan berusaha memodifikasi dan menghiasi kebatilan Sekularisme, Liberalisme, Pluralisme, Bid’ah dan Syirik, Hubungan Sejenis (LGBT) dan kebatilan lain sehingga terlihat indah dan benar di mata manusia. Maka kebenaran dan kebatilan akan terlihat terbalik, yang benar terlihat batil, dan yang batil terlihat benar.

Maka disinilah tentunya kita perlu menjelaskan kepada umat tentang Penyimpangan Aqidah agar mengetahui kebenaran yang direpresentasikan oleh dakwah tauhid dan juga mengetahui kebatilan yang salah satu bentuknya adalah paham Khawarij dan yang lain. Dengan itu kita bisa membedakan antara manhaj salafiyah dan manhaj khorijiyah. Kitapun menjadi lebih yakin, bahwa jalan yang kita tempuh adalah benar serta tidak mudah terprovokasi oleh para penyeru kebatilan. 

Definisi Khawarij
ilustrasi
Para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan Khawarij, namun secara umum bisa disimpulkan bahwa Khawarij adalah salah satu golongan dari tubuh umat islam yang mengkafirkan pelaku dosa besar dan keluar dari pemerintahan yang sah. Adapun dinamakan Khawarij karena mereka keluar (khuruj) dari pemerintah yang sah. 

Selain Khawarij mereka juga dinamakan sebagai Harûriyah, dinisbatkan kepada tempat pendahulu mereka berkumpul untuk memerangi Ali bin Abi Thalib RA, yaitu Harura’. Mereka juga dinamakan As Syurroh, karena mereka mengatakan kami telah menjual (Syara’nâ) diri kami di dalam ketaatan kepada Allâh. Dan nama-nama yang lainnya seperti Al Mâriqoh dan Al Muhakkimah. Namun nama Khawarij adalah yang paling sering digunakan dibandingkan nama nama yang lainnya.
Sejarah Khawarij

Adapun sejarah kemunculan Khawarij ada 3 tahap semenjak zaman Rasûlullâh SAW :
Yang pertama, awal mula Khawarij muncul pada zaman Rasûlullâh SAW, ketika seseorang yang dikenal dengan nama Dzul Khuwaishiroh sebagaimana dalam sebuah riwayat ,

عن أبي سعيد الخذري قال: بينما نحن عند رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو يقسم قسما أتاه ذوالقويصرة وهو رجل من بني تميم فقال: يا رسول الله اعدل. قال رسول الله صلى الله عليه وسلمويلك ومن يعدل إن لم اعدل؟ قد خبتُ وخسرتُ إن لم اعدل. فقال عمر بن خطابصلى الله عليه وسلم يا رسول الله ائذن لي فيه اضرب عنقه. قال رسول الله صلى الله عليه وسلمدعه فإن له أصحابا يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم وصيامه مع صيامهم يقرئون القران لا يجاوز تراقيهم ويمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية


Dari Abi Said Al-Khudhry berkata, tatkala kami bersama Rasûlullâh SAW. dan beliau sedang membagikan ghanimah, datang Dzul Khuwaishirah salah seorang dari Bani Tamim dan berkata, “Wahai Rasûlullâh berbuat adillah!” Berkata Rasûlullâh SAW, “Celaka! Siapa yang akan berbuat adil jika saya tidak berbuat adil? Niscaya saya celaka dan binasa jika saya tidak adil.” Berkata Umar bin Khattab, “Wahai Rasûlullâh! Ijinkan saya memenggal lehernya.” Berkata Rasûlullâh SAW, “Biarkanlah dia. Sesunggulinya dia mempunyai banyak teman, dirnana dianggap remeh shalat di antara kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca al‑Qur’an tidak sampai kecuali pada tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busur.” 

Dalam riwayat lain disebutkan,
إن من ضئضئ هذا قوما يقرئون القرآن لا يجاوز حناجرهم يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان يمرقون الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد

Dalam riwayat yang lain: “Sesungguhnya dari keturunan ini ada kaum yang membaca al-Qur’an yang tidak sampai kecuali pada kerongkongan, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya, jika saya menjumpai mereka pasti akan saya bunuh mereka seperti membunuh kaum Aad.” 

Fase kedua Khawarij muncul dengan kekuatan yang lebih besar pada zaman kekhilafahan Utsman bin Affan RA, yaitu mereka para pemberontak yang mengepung rumah Utsman RA untuk kemudian membunuh beliau radhiyallahu ‘anhu.

Dan akhirnya Khawarij muncul dengan kekuatan besar ketika pasukan Ali bin Abi Thalib RA mengadakan tahkim dengan pasukan Muawiyah RA .

Sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan RA, umat Islam membai’at Ali RA termasuk sebagian besar orang‑orang yang telah membunuh Utsman RA. Sementara itu Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Aisyah, dan sahabat yang lain keluar dan menuntut pembelaan terhadap Utsman RA. Ali RA berkata, “Saya setuju dengan pendapat Anda, tapi mereka sangat banyak dan bercampur dalam pasukan kami.” Ali RA menghendaki masalah Khalifah diselesaikan dahulu baru menyelesaikan orang‑orang yang membunuh Utsman. Kemudian antara pihak Ali RA dan Aisyah RA sudah terjadi kesepakatan bahwa mereka tidak akan berperang kecuali untuk menuntut pembunuh Utsman, tapi orang‑orang yang membunuh Utsman membuat fitnah lagi dalam Perang Jamal. Mereka memisahkan diri jadi dua, sebagian bersama Ali dan sebagian bersama Aisyah dan mereka berdua saling melempar lembing, dan satu sama lain mengatakan bahwa Ali telah berkhianat dan Aisyah telah berkhianat, maka terjadilah apa yang terjadi dalam Perang Jamal.

Pada waktu terjadi peperangan antara Ali RA dengan Muawiyah RA, mereka juga bersama Ali dalam suatu peperangan yang terkenal dalam sejarah disebut Perang Shiffin. Dalam buku‑buku tarikh Sunnah, disebutkan ada pihak ketiga yang netral di antaranya Abdullah bin Umar, Abu Musa Al‑Asyari, Zaid bin Tsabit, dan yang lainnya yang mencoba mengadakan ishlah pada keduanya dan mempertemukan keduanya. Terjadilah suatu dialog antara utusan Ali RA dengan Muawiyah bin Abi Sofyan.

Apakah Anda memerangi Ali karena Anda ingin menjadi khalifah?” Muawiyah berkata, “Saya tahu diri saya. Saya tahu diri saya jauh di bawah Ali, dan tidak ada dalam benak saya keinginan untuk menjadi khalifah. Saya keluar berperang untuk menuntut darah Utsman.” “Apa betul Anda tidak ingin menjadi khalifah?” Berkata Muawiyah, “Andaikata Ali menyerahkan siapa pembunuh Utsman niscaya saya orang yang pertama berbai’at.” Akan tetapi suasana dikacaukan oleh orang‑orang Khawarij yang akhirnya terjadi Perang Shifiin.

Ketika pihak Muawiyah hampir kalah, atas usulan Amru bin Al‑Ash untuk meletakkan mushaf di pucuk pedang sebagai tanda ingin berunding. Ali RA tahu bahwa ini tipu daya tetapi orang‑orang Khawarij meminta Ali untuk menerimanya bahkan memaksa dan mengancam:

لئن أتيت لنفعلنّ بك كما فعلنا بعثمان لنقتلنك كما قتلنا عثمان


“Jika engkau menolak, kami akan memperlakukan Anda sebagaimana kami memperlakukan Utsman dan kami akan membunuh Anda sebagaimana kami telah membunuh Utsman.”

Akhirnya Ali RA menerima dengan terpaksa, kemudian menyuruh panglima perangnya Asytar An‑Nakha’i untuk menerima tahkim. Tapi Asytar juga keberatan atas perintah itu karena ia tahu benar unsur tipuannya sangat besar. Namun, lagi‑lagi orang‑orang Khawarij memaksa Asytar dan mengatakan apa yang dikatakan kepada Ali RA, maka Asytar pun menerima tahkim itu.

Ketika Ali RA tahu bahwa pihak Muawiyah mengutus Amru bin Al‑Ash, seorang yang diketahui ahli diplomasi, maka Ali RA mengutus Abdullah bin Al‑Abbas. Tapi lagi‑lagi orang Khawarij membuat ulah dan berkata, “Kalau Anda mengutus Ibnu Abbas apa bedanya Anda dengan Utsman. Kami memerangi Utsman karena dia selalu mengangkat keluarganya sendiri. Sekarang Anda mengutus Ibnu Abbas, keponakan anda sendiri.” Mereka meminta yang menjadi utusan dari pihak Ali adalah Abu Musa Al‑Asy’ari. Mereka bersikeras dan mengancam Ali RA, sampai dalam hal ini Ali berkata,

كنت بالأمس أميرا وكنت اليوم مأمورا

Dulu saya bisa memimpin tapi saya sekarang jadi dipimpin.

Kemudian setelah acara tahkim usai dengan hasil yang sangat merugikan Ali RA, permasalahan ternyata belum selesai. Orang Khawarij membuat ulah lagi dengan mengkafirkan Ali RA dengan berkata,

كفرت لأنك حكمت رجالا في حكم الله, إن الحكم إلا لله


Anda telah kafir karena Anda telah menyerahkan urusan tahkim kepada orang dalam hukum Allâh. Tiada yang berhak menghukum melainkan Allâh.

Dan mereka keluar dari pasukan Ali RA jumlah mereka sebanyak 12.000 orang yang tak satupun di antara mereka seorang sahabat pun.

Kalau kita melihat ketiga fase perkembangan Khawarij diatas bisa kita simpulkan bahwa pada zaman Rasûlullâh SAW belum muncul khawarij sebagai sebuah kelompok yang memiliki kekuatan, namun hanya sekedar adanya perorangan karena tamak dengan harta, memprotes kebijaksanaan Rasûlullâh SAW dalam membagikan harta rampasan perang. Dari orang ini lah muncul orang orang yang nantinya menjadi kelompok khawarij. Maka bisa dikatakan bahwa benih Khawarij telah tumbuh pada zaman Rasûlullâh SAW.
Adapun pada masa Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, meskipun muncul kelompok yang keluar (khuruj) dari ketaatan bahkan sampai membunuh Utsman RA selaku khalifah kaum muslimin, namun motif mereka masih sebatas faktor kemarahan. Setelah kejadian itu pun mereka berpencar dan tidak berkumpul menjadi sebuah kelompok yang memiliki kekuatan.
Baru kemudan pada masa Ali bin Abi Thalib RA khususnya setelah terjadinya perang Shiffin yang di akhiri dengan peristiwa tahkim-, muncul Khawarij sebagai sebuah kelompok yang memiliki kekuatan besar serta memiliki pandangan politik dan ideologi yang berbeda dari kaum muslimin.

bersambung


Ditulis Oleh

Author
Muhammad Suparman al Jawi, S.Pd.I
Mjelis Syuro MPAQ
Baca terus kajian aQidah ini hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar