مثلهم كمثل الذي استوقد نارا فلما أضاءت ما حوله ذهب الله بنورهم وتركهم في ظلمات لا يبصرون. صم بكم عمي فهم لا يرجعون
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allâh hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Al-Baqarah [2]: 17-18)
Allâh membuat perumpamaan tentang orang-orang munafiq, yang membeli kesesatan dengan petunjuk, yaitu seperti orang yang sedang menyalakan api. Ketika api sudah menyala, menerangi di sekitarnya dan mereka dapat melihat apapun yang berada di sebelah kanan dan kirinya, bisa mengambil kemanfaatannya. Namun pada saatnya api tersebut padam, sehingga mereka benar-benar di dalam kegelapan. Tidak lagi bisa melihat apapun yang berada di sekitarnya. Keadaan itu ditambah lagi dengan dirinya yang tuli, sehingga tidak bisa mendengar apa-apa, bisu sehingga tidak bisa bicara, dan buta sehingga meskipun ada cahaya yang terang benderang akan tetapi tetap tidak bisa melihat apapun di sekitarnya. Yang dengannya mereka tidak mampu lagi kembali ke tempat semula.
Demikianlah munafiq, orang-orang yang lebih mencintai kesesatan daripada petunjuk. Dalam pandangan sosial mereka adalah orang-orang Islam. Bersama-sama dengan Sahabat, mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, melakukan ibadah-ibadah ritual bersama Rasûlullâh. Sholat berjamaah di belakang Rasûlullâh, dan mereka pun tahu batasan halal dan haram. Akan tetapi karena kepentingan-kepentingan duniawi, mereka mengkafiri beberapa ayat yang ada dalam al-Qur’an, yaitu ayat-ayat yang tidak sejalan dengan nafsunya. Merekapun mengkritisi beberapa kebijakan Rasûlullâh, terutama dalam urusan Jihad dan Infaq fie sabilillah. Maka jadilah mereka orang yang tersesat, mereka kehilangan sesuatu yang sangat berguna dalam hidupnya, yaitu cahaya. Hidupnya dalam kegelapan dan dijauhkan dari petunjuk. Sehingga yang dimunculkannya adalah kalimat-kalimat dan sikap kekafiran. Seperti yang digambarkan Allâh:
هم الذين يقولون لا تنفقوا على من عند رسول الله حتى ينفضوا ولله خزائن السماوات والأرض ولكن المنافقين لا يفقهون. يقولون لئن رجعنا إلى المدينة ليخرجن الأعز منها الأذل ولله العزة ولرسوله وللمؤمنين ولكن المنافقين لا يعلمون
“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasûlullâh supaya mereka bubar (meninggalkan Rasûlullâh)". Padahal kepunyaan Allâh-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allâh, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Al-Munâfiqûn [63]: 7-8)
Mereka mempengaruhi orang-orang Anshor agar tidak membantu dan mendukung Nabi Muhammad SAW , sehingga dakwah Islam di Madinah menjadi lemah. Mereka juga mengancam Rasûlullâh dan orang-orang Muhajirin untuk keluar dari kota Madinah.Tidak hanya itu....orang-orang Munafiq di bawah komando Abdullah bin Ubay selalu memanfaatkan moment untuk menebar fitnah terhadap Nabi dan para sahabat (seperti yang diceritakan dalam ayat-ayat sebelumnya). Itu semua mereka lakukan agar dakwah Islam padam dan melemah.
Akan tetapi orang-orang munafiq tidaklah mengetahui bahwa Allâh Maha Tahu atas makar yang telah mereka rencanakan. Allâh Maha Kaya untuk membela dan membantu dakwah Islam. Bahwa sesungguhnya kekuatan hanyalah milik Allâh, RasulNYA, dan orang-orang mukmin, itupun orang-orang munafiq tidak mengetahui.
Allâh menghilangkan cahaya yang menyinari mereka, dan membiarkannya dalam kegelapan, yaitu sesuatu yang mereka berada di dalamnya, berupa keraguan, kemunafikan, dan kekufuran. Mereka tidak lagi mampu melihat cahaya kebenaran.
Bersamaan dengan itu, mereka adalah orang-orang yang tuli, tidak mampu mendengar ayat-ayat Allâh. Mereka juga bisu, tidak bisa membicarakan perkara-perkara yang memberikan manfaat bagi kehidupannya. Dan yang lebih dari itu semua adalah mereka buta mata hatinya, sehingga tertutup sudah hatinya dari hidayah petunjuk.
Firman Allâh:
أفلم يسيروا في الأرض فتكون لهم قلوب يعقلون بها أو آذان يسمعون بها فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التي في الصدور
“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22]: 46)
أو كصيب من السماء فيه ظلمات ورعد وبرق يجعلون أصابعهم في آذانهم من الصواعق حذر الموت والله محيط بالكافرين
“atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allâh meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 19)
Maka perumpamaan yang diberikan Allâh adalah :
1. Ash-shayyib, orang munafiq mensikapi Islam seperti hujan, yang semua orang suka dengan air, karena air adalah kepentingan yang pokok bagi kehidupan. Demikian juga munafiq dalam mensikapi beberapa ayat yang menyejukan hati seperti hujan, mereka membenarkan, mereka mengimani. Semisal ayat yang digambarkan :
إن الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى والصابئين من آمن بالله واليوم الآخر وعمل صالحا فلهم أجرهم عند ربهم ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allâh, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 62)
وإذا دعوا إلى الله ورسوله ليحكم بينهم إذا فريق منهم معرضون
“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allâh dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (QS. An-Nûr [24]: 48)
3. Ar-ra’dun wa barqun, terhadap ayat-ayat yang tertuju kepadanya, orang-orang munafiq laksana disambar halilintar, perumpamaan ketakutan yang mengguncangkan hati. Misalnya pada waktu pembangunan Masjid DHIRROR yang diprakarsai Abdullah bin Ubay, sebagai tempat berkumpulnya orang munafiq untuk mendiskusikan dan mengkritisi kebijakan Nabi . kemudian Allâh menegur dengan turunnya QS AT-TAUBAH : 107....tulis ayat dan artinya.....
والذين اتخذوا مسجدا ضرارا وكفرا وتفريقا بين المؤمنين وإرصادا لمن حارب الله ورسوله من قبل وليحلفن إن أردنا إلا الحسنى والله يشهد إنهم لكاذبون
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allâh dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allâh menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. At-Taubah [9] : 107)
Terhadap ayat-ayat semacam ini mereka sangat ketakutan, karena bisa dipahami pada saat itu Nabi dan Sahabat sudah mempunyai kekuatan politik yang mampu memberi tekanan kepada munafiq. Ketakutan dan kecemasannya tergambar dalam firman Allâh Ta’ala:
وإذا رأيتهم تعجبك أجسامهم وإن يقولوا تسمع لقولهم كأنهم خشب مسندة يحسبون كل صيحة عليهم هم العدو فاحذرهم قاتلهم الله أنى يؤفكون
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? " (QS. Al-Munâfiqûn [63]: 4)
Ketakutan yang luar biasa, sampai-sampai digambarkan Allâh dalam ayat terakhir,”mereka menyumbat telinganya dengan jari-jemarinya, karena mendengar ayat-ayat tersebut sebagaimana mereka melihat petir menyambar-nyambar. Akan tetapi ketakutan yang tidak akan memberikan kebaikan baginya :
- Ketika di dunia, ayat-ayat semacam itu tidak akan menjadikannya kembali kepada Iman yang benar, sebagaimana Imannya Nabi dan para Sahabat. Dan mereka tidak akan mampu membuat makar terhadap umat Islam yang teguh Aqidahnya.
- Di akhirat, Allâh akan menempatkannya di neraka yang paling dalam, dinyatakan Allâh dalam QS AN-NISSA’ : 145.
إن المنافقين في الدرك الأسفل من النار ولن تجد لهم نصيرا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. Al-Munâfiqun [63]: 4)
يكاد البرق يخطف أبصارهم كلما أضاء لهم مشوا فيه وإذا أظلم عليهم قاموا ولو شاء الله لذهب بسمعهم وأبصارهم إن الله على كل شيء قدير
“Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allâh menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allâh berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 20)
Semakin jelas Allâh membuat perumpamaan orang Munafiq, agar orang-orang beriman dengan mudah mengambil pelajaran darinya.
Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu. Pada saat Islam mendapatkan kemenangan, mereka berlindung dengan nyaman di dalamnya. Berkata-kata kepada orang banyak bahwa dirinya telah memberi andil atas kemenangan tersebut.
Namun ketika umat Islam sedang mengalami kesulitan, mereka menjauh darin Islam, berlepas diri dari keadaan tersebut dan kembali kepada kekufuran.
Ayat inipun bisa dimaknai sikap menduanya Munafiq dalam menerima ayat-ayat Allâh. Mereka akan menerimakan al-Qur’an manakala ayat-ayatnya sejalan dengan kepentingan-kepentingan pribadi, atau tidak bertentengan dengan nafsunya. Misal perintah untuk sholat, puasa dan haji tidak akan mereka patuhi.
Namun ketika al-Qur’an berbicara ajakan penegakan syari’at Islam secara kaffah, mereka MENOLAK.
Kelak di akhirat orang-orang Munafiq akan menerima adzab sesuai amal dan peran yang dilakukannya ketika di dunia. Mereka semua akan ditempatkan pada neraka yang paling dalam, tentu dengan kadar yang berbeda antara yang berperan sebagai pentolan, penyeru dengan yang karena tidak berilmu mereka sekedar menjadi pengikut-pengikut Munafiq.
Dalam hal ini Allâh menjelaskan dalam QS AL-AHZAB : 64-68
إن الله لعن الكافرين وأعد لهم سعيرا. خالدين فيها أبدا لا يجدون وليا ولا نصيرا. يوم تقلب وجوههم في النار يقولون يا ليتنا أطعنا الله وأطعنا الرسولا. وقالوا ربنا إنا أطعنا سادتنا وكبراءنا فأضلونا السبيلا. ربنا آتهم ضعفين من العذاب والعنهم لعنا كبيرا.
“Sesungguhnya Allâh melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allâh dan taat (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. Al-Ahzab [33]: 64-68)
ALLÂHU ‘ALAM BISHSHOWWAB
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar