Mungkin pernah terbesit dalam benak kita, “kenapa kok Indonesia gak maju-maju?” kemudian “kenapa kok kaum muslim begitu terpuruk?” dan juga “dulu Islam seperti yang digambarkan dalam sejarah menjadi pusat perdaban dunia, tapi kenapa saat ini malah sebaliknya?” lalu “apakah ini hanya akan menjadi sejarah saja dan tak akan pernah kembali?” selanjutnya “mungkinkah kita bisa kembali seperti dulu? Jika mungkin, kapan?”.
Ini mungkin pertanyaan-pertanyaan yang kita pertanyakan dalam hati kita yang terdalam. Kita tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Karena kita ketahui bersama bahwa saat ini jika kita bertanya kepada cendekiawan intelek maka pasti jawabannya “kita harus menciptakan teknologi, mengejar ilmu pengetahuan, menjadi ahli teknologi, dsb” kemudian setelah dipikirkan “benarkah dengan kemajuan sains dan teknologi, umat Islam akan bangkit?”
Terus jika kita tanya kepada “ustadz” pasti jawabannya “apapun masalah hidup yang penting akhlak kita, sabar, tawakal, dzikir, In syâ’ Allâh pasti Allâh memudahkan” lalu terpikir “apakah mungkin dengan pemahaman agama seperti itu umat islam akan bangkit?”
Sungguh jawaban-jawaban di atas tidak bisa memuaskan akal dan menentramkan hati. Bila kita cermati jawaban-jawaban di atas, ada dua hal penting yaitu yang satu mengedepankan kehidupan dan yang satu mengedepankan agama. Seperti ada dikotomi, yaitu yang satu porsi kehidupan lebih banyak ketimbang agama dan yang satu sebaliknya porsi agama lebih amat banyak daripada kehidupan.
Melihat pemikiran seperti itu, berarti barat telah sukses mensekulerkan umat Islam. Saat ini di negeri kita Indonesia dengan jumlah kaum muslim terbesar di dunia, kenyataannya tidaklah menjadi kaum muslim yang paling beriman dan bertakwa kepada Allâh SWT. Dari segi kehidupannya jauh dari syariah Islam. Hal ini bisa kita lihat dari pengadilan yang ada yang terdiri dari pengadilan agama dan pengadilan sipil. Dari institusi pendidikan ada sekolah dan ada pesantren. Semuanya terpisah/terpecah, bahkan ketika di masjid shalat tetapi ketika diluar maksiat. Ketika shalat menutup aurat ketika di luar membuka aurat.
Inilah yang dinamakan dengan sekularisme yaitu memisahkan kehidupan agama dari kehidupan negara. Pemahaman sekular telah menjadikan kaum muslim meninggalkan Islam sebagai pandangan hidupnya sehingga dalam hidupnya kaum muslim tidak pernah merasakan ketentraman. Pikirannya selalu saja condong ke arah manfaat sedangkan hatinya selalu gelisah.
Belum lama ini kasus LGBT yang akan dilegalkan oleh pemerintah juga merupakan dampak nyata dari sekulerisme. Bagaimana pemahaman sekulerisme mampu merobohkan sendi nilai agama yang sangat urgen bagi masyarakat. LGBT yang berlawanan dengan fitrah kemanusiaan mampu disulap menjadi sebuah norma realita yang menolaknya malah justru dinilai melawan HAM (Hak Asasi Manusia). Seakan-akan HAM menjadi hakim tertinggi dalam memutuskan permasalahan yang ada. Belum lagi ketidak stabilan pemerintahan justru menambah beban yang tidak ringan bagi negara.
Sekularisme pertama kali muncul ketika kaisar dan raja-raja di Eropa dan Rusia menjadikan agama sebagai alat untuk memeras, menganiaya dan menghisap darah rakyat. Para pemuka agama waktu itu dijadikan perisai untuk mencapai keinginan mereka. Maka timbulah pergolakan sengit, yang kemudian membawa kebangkitan para ahli filsafat dan cendekiawan. Sebagian dari mereka mengingkari adanya agama secara mutlak. Sedangkan yang lainnya mengakui adanya agama, tetapi menyerukan agar dipisahkan dari kehidupan dunia. Sampai akhirnya pendapat mayoritas dari kalangan filosof dan cendekiawan itu cenderung memilih ide yang memisahkan agama dari kehidupan, yang kemudian menghasilkan usaha pemisahan antara agama dengan negara.
Pemisahan agama dari negara ini merupakan pendapat yang diambil dan disepakati sebagai jalan tengah (kompromi). Sejak saat itu kehidupan agama menjadi berada pada masing-masing individu yang tidak boleh dibawa dalam ranah negara karena negara memiliki aturan lain yang tentu bukan berasal dari agama.
Jadi, sekularisme itu bukan hanya sekedar pemisahan antara dunia dengan akhirat, namun juga bisa berupa pemisahan kehidupan agama dari kehidupan negara. Saat ini pemahaman ini secara paksa ditanamkan oleh orang-orang kafir barat untuk menghancurkan Islam dan kaum muslim, dan usahanya berhasil. Ini terlihat dari pola pikir dan pola sikap umat Islam saat ini yang tidak Islami. Ketika memandang suatu fakta seperti teknologi, pergaulan, politik, dan lain-lain. Kaum muslimin saat ini tidak pernah merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih memilih berdasarkan pemikiran kapitalis atau sosialis yang berasaskan manfaat belaka tanpa melihat lagi halal dan haram.
Di samping itu, mereka meyakini adanya Allâh tapi tidak mau menggunakan aturan Allâh sebagai aturan hidupnya. Mereka hanya mengambil sebagian isi dari al-Qur’an dan mengabaikan yang lainnya. Allâh SWT berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allâh dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allâh dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 150-151)
Ketika di masjid serasa menjadi orang yang paling takwa tapi di luar masjid mencampakkan syariah Islam. Mereka memilih demokrasi sebagai jalan hidupnya. Maka jelas, orang-orang seperti ini merupakan orang yang split personality dengan kata lain “sakit” baik jiwanya maupun akalnya.
Maka jika masih tidak sadar juga kaum muslim akan keadaannya saat ini yang jauh dari syariah Islam, jangan harap kehidupan yang dulu pernah diukir melalui tinta emas yang memukau dunia akan terulangi kembali. Untuk itu, mengkaji Islam secara utuh adalah suatu kewajiban, jangan hanya ritual belaka. Ingat Islam mengatur semua aspek kehidupan, jadi kalau tidak kita cari dan kaji sama-sama.
Maka jika kaum muslim ingin meraih kembali kehidupan yang seperti dulu kala yakni menjadi umat terbaik, maka kaum muslim harus meninggalkan sekularisme karena sekularisme merupakan ide gila dan kufur yang sengaja dipaksakan oleh kaum kafir kepada kaum muslim, supaya jauh dari Islam dan tersesat hingga akhirnya jatuh ke jurang kehinaan dan menemani mereka di neraka.
Kaum muslim harus mengambil Islam sebagai jalan hidupnya hanya Islam saja! Supaya kehidupan Islam seperti dahulu bisa kita rasakan sebagaimana generasi sebelum kita. Semoga Allâh SWT menegur dan menyentil orang-orang yang belum sadar supaya mereka sadar dan kembali pada Islam. Amiin. Wallahu a’lam
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar