Upaya menggagas islamisasi sains, dengan demikian dapat dipahami dalam kerangka revolusi sains menurut Thomas Kuhn, yaitu bahwa perkembangan sains dimulai dari krisis paradigma ilmu normal, diikuti oleh pengajuan paradigma baru dan periode pengembangan sains normal berbasis paradigma baru ini, kemudian diikuti oleh krisis lagi dan seterusnya.
Kerangka krisis paradigma sebagai perangkat revolusi atau pembaruan ilmu ini juga harus diberlakukan atas ilmu-ilmu agama yang diklaim telah diturunkan dari al-Qur’an dan Hadits. Penulis harus mengatakan bahwa perubahan paradigmatik yang paling mengundang kontroversi adalah perubahan-perubahan pada khasanah ilmu-ilmu agama karena ini berkaitan dengan dasar-dasar keyakinan manusia. Kata “Tauhid” sebagai cabang ilmu agama, misalnya, adalah sebuah kata asing dalam al-Qur’an, namun diyakini oleh mayoritas muslim dunia sebagai semacam pondasi Islam. Padahal, kata “iman” jauh lebih mendasar dan memiliki rujukan yang jauh lebih banyak dalam al-Qur’an. Akan tetapi, realitas wacana keislaman menunjukkan seolah “tauhid” lebih penting daripada “iman”, seperti tercermin dalam istilah “tauhid sosial”, misalnya. Makalah pendek ini akan mencoba menggagas aspek-aspek epistemologi sains baru ini.
Upaya melakukan kritik terhadap ilmu-ilmu agama ini bukanlah hal yang baru, bahkan telah dilakukan oleh pujangga besar Sir Muhammad Iqbal dalam disertasinya di awal abad 20 dalam “The Reconstruction of Islamic Thoughts”.
Upaya-upaya membangun kembali sains telah dicoba dimulai melalui upaya-upaya “islamisasi sains” oleh Sir Naquib Allatas pada awal 1970-an, dan diwujudkan dalam sebuah institusi pendidikan, yaitu Universitas Islam Internasional di Kuala Lumpur pada awal tahun 1980-an yang disponsori oleh Organisasi Konferensi Islam. Kelahiran beberapa UIN dari eks IAIN di Indonesia sedikit banyak mencerminkan upaya islamisasi sains ini. Sekalipun “islamisasi sains” mungkin kontroversial, penulis memahaminya sebagai upaya membangun sains baru ini.
Mudah-mudahan makalah ini dapat menjadikan kajian bersama dalam memahami sains menurut konsep Islam dengan kenyataan kehidupan sekarang ini.
SAINS
Secara sederhana sains merupakan tubuh pengetahuan (body of knowledge), pengertian itu muncul penemuan ilmiah yang dikelompokkan secara sistematis. Sains juga dapat berupa produk. Produk yang dimaksud adalah fakta-fakta, prinsip-prinsip, model-model, hukum-hukum alam, dll. Sains juga dapat berarti suatu metoda khusus untuk memecahkan masalah, atau biasa disebut sains sebagai proses. Sains sebagai proses dapat berupa metoda ilmiah merupakan hal yang sangat menentukan pembuktian suatu kebenaran yang objektif. Sains sebagai proses yang dilakukan melalu metoda ilmiah ini, terbukti ampuh memecahkan masalah ilmiah sehingga membuat sains terus berkembang dan merevisi berbagai pengetahuan yang sudah ada.
Selain itu sains juga bisa berarti suatu penemuan baru atau hal baru yang dapat menghasilkan suatu produk. Produk tersebut biasa disebut dengan teknologi. Teknologi merupakan suatu sifat nyata dari aplikasi sains, suatu konsekuensi logis dari sains yang mempunyai kekuatan untuk melakukan sesuatu.
Sumbangan konsep dan ide dalam sains terbukti telah banyak mengubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya. Contoh-contoh sumbangan konsep dan ide sains diantaranya :
- Teori Relativitas Einstein. Teori relativitas umum ini misalnya telah mengubah pandangan orang secara drastis akan sifat kepastian waktu serta sifat massa yang dianggap tetap.
- Pengamatan bintang-bintang oleh Edwin Hubble melalui teleskop di Gunung Wilson pada tahun 1920-an misalnya, membawa beberapa implikasi seperti adanya galaksi lain selain Bimasakti dan adanya penciptaan alam semesta secara ilmiah dengan makin populernya teori ledakan besar (Big Bang).
- Teori grafitasi Newton yang dapat membuktikan bahwa planet berputar pada porosnya dan bergerak mengelilingi matahari pada lintasan tertentu.
Teori-teori dalam sains terus berkembang dengan pesatnya, menggantikan berbagai teori yang ternyata terbukti salah setelah melalui konfirmasi percobaan ataupun memperbaiki dan melengkapi teori yang telah ada sebelumnya. Suatu teori adalah suatu konstruksi yang biasanya dibuat secara logis dan matematis yang bertujuan untuk menjelaskan fakta ilmiah tentang alam sebagai mana adanya. Suatu teori yang baik harus mempunyai syarat lain selain dapat menjelaskan, yaitu dapat memberikan adanya prediksi.
Dari ketiga contoh di atas kadang manusia lupa, siapa yang menciptakan ruang, masa dan waktu yang disampaikan Einstein tersebut? Siapa yang menciptakan bintang dan benda-benda langit lainnya yang diamati Hubble? Dan siapakan yang menciptakan gravitasi dengan bumi planet lainnya yang diamati Newton? Melupakan yang causal itulah yang membuat orang sekuler !
Jadi untuk menghindari sekulerisme tersebut dalam sains diperlukan suatu bimbingan. Dan bimbingan agar manusia tidak takabur adalah agama. Agama tersebut diantaranya adalah Islam.
ISLAMISASI SAINS
Islamisasi sains tidak hanya berarti menyisipkan ayat-ayat suci al-Qur’an yang sesuai dengan konsep tertentu dalam sains. Tetapi terfokus kepada bagaimana Islam sebagai pondamen nilai yang mengikat sains (value bound). Atau bagaimana pemahaman sains dapat meningkatkan kadar iman dan takwa terhadap sang Kholiq. Jadi penulis membuat istilah Islamisasi Sains ke dalam dua katagori: (1) Islam to Sains; (2) Sains to Islam
Dasar pemikiran tersebut berangkat dari lima ayat dalam Surah al-Alaq; Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajar manusia hal-hal yang belum diketahuinya (Q. S. Al-Alaq:1-5). Lima ayat ini bukan sekadar perintah untuk membaca ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya dorongan untuk membaca ayat-ayat kauniyah di alam. Manusia pun dianugerahi kemampuan analisis untuk mengurai rahasia di balik semua fenomena alam. Kompilasi pengetahuan itu kemudian didokumentasi dan disebarkan melalui tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini akhirnya melahirkan sains. Ada astronomi, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.
Mari kita kaji kedua katagori tersebut ke dalam contoh berikut :
Teori klasik menyatakan alam ini terdiri dari empat unsur yaitu tanah, udara, api dan air. Mari kita analisa, disadari atau tidak oleh kita, isyarat itu mewarnai apa yang kita pelajari tetang alam ini; Mengapa daratan dibuat dengan ketinggian yang berbeda, tentunya agar air dapat mengalir melewati sungai, sehingga memberi kehidupan pada makhluk yang dilewatinya. Demikian juga dengan tekanan dan suhu udara. Tekanan dan suhu udara dibuat berbeda-beda di setiap lapisan (atmosfer) dan di setiap tempat. Hal itu menyebabkan timbulnya angin. Dan angin dapat menimbulkan perubahan cuaca, salah satunya dapat menimbulkan hujan. Hujan dapat menyuplai air ke permukaan bumi, dimana air merupakan sumber kebutuhan utama bagi kehidupan manusia.
Marilah kita renungkan, baik fenomena alam yang terjadi di sekitar kita, maupun aktivitas yang kita lakukan sehari-hari. Berapakah ketinggian gunung, kedalaman laut, tekanan udara, kelajuan angin dan banyak lagi fenomena alam lainya. Demikian juga keadaan fisik dan aktivitas yang kita lakukan. Berapakah berat badan kita, tinggi badan kita, suhu badan kita, lama hidup kita di dunia, dan banyak hal lain lagi yang dapat dianalisa sebagai bahan renungan kita terhadap kebesaran yang maha kuasa.
Oleh karena itu, kita ”wajib” meyakini bahwa bukan kita manusia, hewan atau tumbuhan yang telah menciptakan benda dengan berbagai ukuran, tetapi ”Allâh-lah” yang telah menciptakannya seperti apa yang diisyaratkan oleh Allâh dalam Quran Surat al-Qomar ayat 49, Yang artinya : Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
Besaran-besaran yang dapat diukur itu merupakan besaran fisika atau biasa disebut dengan besaran fisis. Allâh telah menciptakan; ketinggian, suhu, tekanan, kelajuan, berat, waktu dan banyak lagi besaran fisika lainnya. Semuanya diciptakan Allâh memiliki ukuran tertentu yang dinyatakan dalam satuan ukur.
Dari salah satu contoh sains di atas, maka dari esensinya, sains sudah Islami. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan sains seluruhnya tunduk pada hukum Allâh. Pembuktian teori-teori sains pun dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusia. Dalam sains, kesalahan analisis dimaklumi, tetapi kebohongan adalah bencana.
Contoh lain adalah kekeliruan analisis terhadap hukum kekekalan massa dan energi. Massa tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat berubah ke dalam bentuk lain. Hukum konservasi massa dan energi ini dinilai menentang tauhid. Padahal, hukum ini adalah hukum Allâh yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan, alam dan manusia hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allâh yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?
Jadi, Islamisasi sains bukan menempatkan Ayat al-Qur’an sebagai alat analisis sains. Dalam sains, rujukan yang dipakai mesti dapat dipahami siapa pun tanpa memandang sistem nilai atau agamanya. Tidak ada sains Islam dan sains non-Islam, yang ada saintis Muslim dan saintis non-Muslim. Pada merekalah sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam tulisan populer atau semi-ilmiah. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Maka, riset saintis Muslim berangkat dari keyakinan bahwa Allâh pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkap mata rantai rahasia alam disyukuri bukan dengan berbangga diri, melainkan dengan ungkapan “Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa”. Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia (Q. S. 3:191).
Uraian di atas menunjukan Islam to sains, yaitu riset saintis muslim yang berangkat dari keyakinan bahwa Allâh pencipta dan pemelihara alam semesta, dan keyakinan itu bersumber dari al-Quran dan al-Hadits. Sekarang bagaimanakah memahami Sains to Islam? Marilah kita mulai dengan sebuah contoh!
Apa yang ada dalam benak pikiran kita tentang api? Api adalah panas, api adalah terang atau berwarna. Api adalah panas dan panas adalah kalor dan kalor berhubungan dengan suhu/temperature (T). Warna apa sajakah yang kita lihat dari api? Merah, kuning, hijau, biru dll. Warna adalah gelombang dan gelombang berhubungan dengan panjang gelombang/lamda (λ). Panas manakah api merah dan api biru? Besar manakah panjang gelombang merah dan panjang gelombang biru?. Hubungan antara panjang gelombang dengan suhu merupakan sebuah teori dan fakta yang biasa disebut dengan konsep. Dan konsep merupakan sains. Lalu apa yang merupakan sumber dari api? Mengapa api panas? dan siapa yang menciptakan warna?.
Dari pemahaman konsep sains tersebut dapat menggiring manusia kepada keyakinan bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan yaitu Allâh SWT. Jadi Sains to Islam suatu keyakinan terhadap Allâh berdasarkan analisis terhadap bukti yang diciptakan-Nya. Dan analisis terhadap bukti yang diciptakan-Nya dapat dilakukan dengan suatu metode, dan metode tersebut adalah metode ilmiah, sebagai contoh :
Dalam tulisan ini diajukan sebuah paradigma sains alternatif. Untuk tujuan ini harus dikatakan, bahwa kata “iman” dan beragam bentuk turunannya amat banyak dibicarakan dalam al-Qur’an, sehingga sesungguhnya lebih layak dipakai sebagai basis sain
s daripada kata “tauhid” yang sama sekali tidak dipakai dalam al-Qur’an. Bahkan jibril seolah membagi al-Qur’an ke dalam sebuah sistematika tertentu, yaitu iman, islam, ihsan, dan sa’ah (kiamat).
Al-Qur’an harus dipandang sebagai kerangka sistem aksiomatika ilmu -terutama ilmu sosial- karena tidak ada keraguan di dalamnya (la rayba fii hi), bahkan memberi penjelasan atas segala sesuatu (tibyaanan li kulli syai’in). Al-Qur’an tersusun oleh kerangka teoretik ilmu-ilmu sosial (ayat-ayat muhkamaat), sedangkan lainnya merupakan penjelasan kerangka teori ilmu-ilmu sosial tersebut yang disajikan melalui perumpamaan-perumpamaan astronomi, biologi, fisika, dsb. (ayat-ayat mutasyaabihaat). Jadi, perbedaan antara muhkamat dan mutasyabihat adalah perbedaan antara isi/kandungan dengan bungkus/kandang, bukan antara ayat yang jelas dan yang tidak jelas. Sebab jika hal ini menyangkut ayat-ayat yang jelas dan tidak jelas, kedudukan al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup tidak bisa lagi dipertahankan.
Al-Qur’an sendiri mengajukan definisi sains, sebagaimana dinyatakan dalam Surah ar-Rachman. Lima ayat pertama surah ar-Rachman memberi definisi sains alternatif, yaitu saat mendefinisikan al-bayyan sebagai rangkaian informasi dari Allâh swt. tentang astronomi, biologi, dan kehidupan sosial. Model kognitif atau metodologi sains alternatif bisa dirumuskan dengan memperhatikan surah Yunus : 5 yang menggambarkan metodologi sains ini melalui perumpaman astronomi. Jika realisme dan naturalisme dapat diibaratkan sebagai sebuah metode gerhana bulan (moon eclipse) , dan idealisme sebagai gerhana matahari (sun eclipse), maka metodologi alternatif ini adalah metode non-gerhana. Jika bulan melambangkan manusia, bumi melambangkan alam, dan matahari melambangkan Sang Pencipta, maka gerhana bulan menggambarkan penyembahan manusia atas alam semesta, sedangkan gerhana matahari menggambarkan penuhanan manusia atas dirinya sendiri.
Penuhanan diri sendiri yang sering dilakukan oleh para pemimpin agama gadungan digambarkan Qur’an melalui upaya-upaya kadzdzaba, yaitu “yaktubuuna al kitaaba bi aydii-him, tsumma yaquluuna haadza min ‘indillah, liyastaruu bihi tsmanan qaliilan”. Sementara penuhanan pada alam dilakukan oleh para saintis melalui proses-proses “pencurian” ilmu (tawallay), dengan mengatakan “penemuanku” daripada mengatakan “sunnatullah”.
Bersambung
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar