Mengenal Syi`ah
Syi’ah bukan Islam. Tetapi syi’ah adalah agama baru yang dibangun diatas kedustaan, kebencian serta kedengkian para bangsawan dan pemuka agama Iran (Majusi–Persia) karena kerajaan mereka dihancurkan oleh tentara kaum muslimin pada masa Khalifah Umar bin Khaththab tahun 14 H.
Menurut Dr. Lawrence Brown, seorang orientalis berkebangsaan Inggris yang tinggal di Iran selama waktu yang panjang dalam penelitiannya tentang Sejarah Bangsa Iran secara komprehensif dalam karyanya yang berjudul Tarikh Adabiyat Iran Juz 1 halaman 217, ia menuturkan “Di antara faktor terpenting yang menyebabkan permusuhan bangsa Iran terhadap Umar bin Khaththab رضي الله عنه, Khalifah ar Rasyidah II, adalah karena beliau telah menaklukkan negeri bangsa Non–Arab dan telah meruntuhkan kekuatan mereka. Hanya saja permusuhan tersebut dibungkus dengan baju agama.
Dia juga menjelaskan bahwa kebencian mereka kepada khalifah Umar bin Khaththab رضي الله عنه bukan karena merampas hak–hak Ali رضي الله عنه dan Fathimah رضي الله عنه , tetapi karena beliau telah menaklukkan Iran dan menumbangkan Dinasti Sasaniah. Sebagaimana yang tertulis dalam sebuah syair Iran yang banyak disadur ke dalam Bahasa Arab sebagai berikut ,
إن عمر كسر ظهور أسد العرنين المفترشة * واستأصل جذور آل جمشيد *
ليس الجدال على أنه غصب الخلافة من علي * بل أن المسئلة قديمة يوم فتح إيران
Umar telah mematahkan gagahnya singa Iran yang ganas. Dan telah mencabut akar keluarga Jamsyid .
Bukanlah permusuhan itu karena merampas hak kekhalifahan Ali, tetapi dendam lama ketika ia menaklukkan Persia.
Untuk menipu umat, maka Kulainy (w.329 H) dalam kitab “Al-Kafi” menulis hadits-hadits palsu bahwa khutbah Rasûlullâh صلى الله عليه وسلمdi Ghodir Khom setelah haji wada` adalah pengangkatan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه sebagai Kholifah sepeninggal beliau.
Untuk membakar semangat bangsa persi (Iran) masuk agama Syi`ah, maka yang diangkat menjadi imam-imam Syi`ah adalah keturunan Sasania yang disucikan dalam agama Majusi. Dia adalah Ali bin Husain Zaenal Abidin putera Syahrobanu cucu raja Persi terakhir Zajdajard yang terbunuh dalam perang Nahawan oleh tentara Sa`ad bin Abi Waqqosh. Maka dari itu agama Syi`ah mensucikan imam-imam mereka dan meyakini bahwa mereka maksum, terbebas dari dosa, bahkan orang-orang yang mencintai para Imam dan mendukungnya, pasti masuk syurga sekalipun durhaka kepada Alloh سبحانه وتعالى dan barang siapa yang mengingkari Imam mereka pasti masuk neraka, sekalipun taat kepada Alloh سبحانه وتعالى.
Agama Syi`ah mengajarkan bahwa para Imam mereka memiliki derajat lebih tinggi daripada Nabi dan Rasûl, mengetahui perkara-perkara yang ghaib, baik yang sudah terjadi maupun yang akan datang, dan dapat berbicara dengan Allâh سبحانه وتعالى. Imam Khumaini dalam buku “Al-Hukumat Islamiyah” mengatakan: “Imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat muqorobin ataupun para Nabi yang di utus”.
Imam Ibnu Batoh dalam kitab “Al-Ibanah Al-Sughro” meriwayatkan dari Imam Malik beliau berfatwa :
والذى يشتم أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم ليس لهم نصيب فى الاسلام.
“Orang yang memaki sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, mereka tidak termasuk dalam Islam”
Fatwa Imam Malik ini cukup jelas bahwa Syi`ah itu bukan termasuk dalam agama Islam, artinya termasuk agama-agama kafir.
Dengki
Dimuka telah saya jelaskan bahwa Syiah bukan Islam tetapi agama baru yang berdasar dengki, dendam dan dusta. Bukti kedengkian mereka terhadap Ahli Sunnah banyak sekali tersebar dalam tulisan mereka di kitab-kitab lama pada tahun tigaratusan hijriyah maupun kitab-kitab baru. Disini saya nukil beberapa kalimat dari kitab-kitab mereka.
Dalam kitab “Rijalul Kisyi” diriwayatkan bahwa Abu Ja`far berkata:
كان الناس أهل الردة بعد النبى الا ثلاثة ,فقلت : ومن الثلاثة ؟ قال: المعداد ابن الاسود وأبو ذر الغفارى وسلمان الفارسى.
Setelah Nabi صلى الله عليه وسلم wafat semua manusia itu murtad kecuali tiga. Saya bertanya: Siapa tiga itu? Dia menjawab : Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al- Ghifari dan Salman Al Farisi.
Dalam kitab “Lillahi tsumma li tarihi” yang menukil dari kitab Raudloh, al Kulaini meriwayatkan:
ان الناس كلهم اولاد زنا أو بغايا ما خلا شيعتنا
Kedengkian mereka juga terlihat jelas dalam salah satu do`a mereka yang dibaca setelah sholat sebagai berikut:
اللهم العن صنمي قريش، وجِبْتَيْهما وطاغوتَيْهما ( أبا بكر وعمر ) وابنتيهما ( عائشة وحفصة )
Ya Allâh, laknatilah Dua Patung Quraisy, Dua Berhala Quraisy dan Dua Thaghut Quraisy (maksudnya : Abu Bakar dan Umar) serta Anak Perempuan Keduanya (maksudnya : Aisyah dan Hafshah) .
Demikian juga Imam Khumaini, dia membaca do’a tersebut selesai shalat shubuh setiap harinya, sebagaimana yang ditulis oleh murid terkasih dan orang kepercayaannya sendiri, Sayyid Husain al Musawi dalam Kitab “Lillaahi tsumma lit Taarikhi” , halaman 81.
Dalam kitab “Ar Raudhah al Kaafii” juz 8 halaman 246, al-Kulaini meriwayatkan dari Imam Abi Ja’far sebagai berikut ,
إن الشيخين أبا بكر وعمر فارقا الدنيا ولم يتوبا ولم يذكرا ما صنعا بأمير المؤمنين عليه السلام فعليهما لعنة الله وملائكته والناس أدمعين
Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dan tidak menyesali apa yang mereka perbuat terhadap Amirul Mukminin, Ali عليه السلام, maka keduanya layak mendapat laknat Allâh, para malaikat dan seluruh umat manusia.
Dendam
Dalam kitab–kitab rujukan mereka juga tampak dendam mereka kepada bangsa Arab (Ahlus Sunnah) seperti di beberapa riwayat berikut ini ,
عن داود بن فرقد قال : قلت لأبي عبد الله : ما تقول في قتل الناصب فقال : حلال الدم ( وسائل الشيعة ( 18 : 463 ) وبحار الأنوار ( 27 : 231 ))
Dari Dawud bin Farqad : Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Ja’far ash Shadiq) : Apa pendapatmu hukum membunuh Nawashib (Ahlus Sunnah)? Abu Abdullah menjawab : Mereka halal darahnya. (Wasailusy Syi’ah Juz 18 halaman 463 , Biharul Anwar Juz 27 halaman 231).
وعلق الإمام الخميني : فإن استطعت أن تأخذ ماله فخذه وابعث إلينا بالخمس
Imam Khumaini memberikan memo kepada anak buahnya : Jika kamu mampu untuk merampas harta Ahlus Sunnah, maka rampaslah. Dan kirimkan seperlima bagiannya pada kami.” ( Lillaahi Tsumma Lit Taarikhi , Sayyid Husain al Musawi ).
Dalam kitab “Al-Irsyad” Al Mufid meriwayatkan dari Ja`far bin Baqir berkata:
اذا قام القائم من أل محمد صلوات الله وسلامه عليهم فأقام خمسمائة من قريش فضرب أعناقهم ثم قام خمسمائة من قريش فضرب أعناقهم حتى يفعل ذلك ست مرات.
Ketika Al-Qoim (Muhammad bin Hasan Al Mahdi) datang, maka dia mengumpulkan 500 orang Quraisy kemudian dibunuh yang demikian ini di lakukan sampai enam kali.
Dalam kitab “Biharul Anwar” Al Majlisi meriwayatkan bahwa Al-Muntadlor akan membunuh orang-orang Arab seraya mengatakan:
ما بقى بيننا وبين العرب الا الذبح
Dusta
Banyak sekali riwayat–riwayat dusta yang ditulis oleh para ulama–ulama mereka baik yang didakwakan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم maupun para Imam mereka. Diantaranya adalah dalam kitab “Man Laa Yahdhuruhu al Faqiih” Juz 3 halaman 366, karangan Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih
قال النبي صلى الله عليه وسلم : من تمتع مرة أمن سخط الجبار ومن تمتع مرتين حشر مع الأبرار ومن تمتع ثلاث مرات زاحمني في الجنان
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : Barang siapa yang melakukan nikah mut’ah sekali, maka dia aman dari murkanya Allâh al Jabbar. Dan barang siapa yang melakukan mut’ah dua kali, maka dia dibangkitkan bersama Golongan Abrar. Dan barang siapa yang melakukan mut’ah tiga kali, maka dia berada di sampingku ketika di surga.
Dan juga kedustaan Syi’ah yang ditulis oleh Ath Thibrisi dalam Kitab “Al Ihtijaj “, sebagai berikut ,
لما توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم جمع علي القرآن وجاء به إلى المهاجرين والأنصار فلما فتحه أبو بكر خرج في أول صفحة فتحها فضائح القوم، فوثب عمر، وقال: يا علي فلا حاجة لنا فيه فأخذ علي عليه السلام وقال : إن القرآن الذي عندي لا يمسه إلا المطهرون والأوصياء من ولدي، إذا قام القائم من ولدي يظهره ويحمل الناس عليه
Ketika Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم wafat Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mengumpulkan al-Qur an dan mendatangi Kaum Muhajirin dan Anshor. Ketika Abu Bakar رضي الله عنه membuka halaman pertama, di sana terdapat celaan terhadap Kaum Muhajirin dan Anshor. Maka Umar bin Khaththab رضي الله عنه melompat dari duduknya, dan berkata : “Wahai Ali, kami tidak membutuhkan al-Qur’anmu.” Maka Ali bin Abi Thalib عليه السلام mengambilnya, dan berkata : “Sesungguhnya al-Qur’an yang aku bawa tidak boleh disentuh kecuali oleh orang–orang yang disucikan. Dan orang yang mendapat wasiat itu adalah dari anak keturunanku. Jika al-Qaim dari anakku telah datang, maka dia akan menampakkannya dan manusiapun akan menggunakannya.”
Juga dalam kitab Ushul Kafi pada Bab Hujjah, Al Kulaini meriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali عليه السلا, bahwa beliau berkata ,
علمت المنايا والبلايا ولم يعزب عني ما غاب
Aku mengetahui kematianku dan kecelakaanku, dan perkara yang ghaib tidak ada yang luput dariku.
Hadits-hadits dan berita-berita tersebut adalah dusta yang merupakan kebohongan yang luar biasa dan melampaui batas.
Apakah mungkin Rasûlullâh saw menghalalkan nikah mut`ah bahkan menjadikan perbuatan mulia yang pelakunya menjadikan masuk Surga berdesakan dengan beliau? Mut`ah adalah nikah tanpa wali, tanpa saksi dan berbatas waktunya misalnya 10 hari, 5 hari semalam atau sekali hubungan sex.
Semua manusia (kecuali Syi`ah) merasa buruk dan yakin bahwa perbuatan ini merupakan kejahatan, karena mengakibatkan banyak anak tanpa ayah, tanpa nasab bahkan bisa seorang ayah menghamili anaknya sendiri. Sebagaimana yang dilakukan seorang Imam Syi`ah di Irak yang dihormati dan dimuliakan umatnya yaitu Sayyid Husain As Shader.
Aqidah agama Syi`ah yang pertama adalah Al-Qur`an Al-Karim itu tidak asli karena telah diubah oleh Abu Bakar dan Umar. Sedangkan Al-Qur`an yang benar adalah Al-Qur`an Fatimah yang ghaib bersama Imam kedua belas yaitu Muhammad bin Husain Al-Muntadlor, yang hilang dari pandangan pada tahun 260 H. Mereka beriman bahwa aqidah Syi`ah dan syari`at yang dilakukan umatnya sekarang ini sudah ditulis dalam Qur`an Fatimah dan kelak ketika Al-Qoim Al Muntadlor itu datang akan digunakan untuk menghukumi umat Islam. Semua Ahlu Sunnah harus menanggalkan agamanya untuk mengikuti agama Syi`ah, dan orang-orang yang menolak akan dibunuh beserta anak-anaknya yang tersisa hanyalah para wanita muda.
Keyakinan dan Iman seperti ini adalah dusta dan bohong 100%, Qur`an Fatimah itu tidak ada dan tidak mungkin diadakan, karena bila ulama` Syi`ah berani menulis Qur`an yang berlawanan denganAl-Qur`anul Karim kemudian diproklamirkan, pastilah ketahuan, karena tulisannya tidaklah tulisan pada masa Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم , tapi tulisan baru sekarang.
Memang ulama` Syi`ah adalah pendusta, pembohong dan penghianat yang tidak tahu malu, seandainya mereka punya malu pastilah mereka tidak akan menorehkan tulisan yang memalukan seperti dalam kitab-kitab mereka.
Sahabat Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه tidak pernah mengatakan ada Al-Qur`an Fatimah apalagi menunjukkan kepada para sahabat yang lain, karena Qur`an Fatimah itu memang tidak ada, yang ada hanyalah Al-Qur`an Ustmani yaitu yang diwahyukan kepada Rasûlullâh saw, kemudian dihafal dan ditulis para sahabat dan ditulis dalam satu mushaf atas perintah Kholifah Abu Bakar رضي الله عنه, kemudian Kholifah Ustman bin Affan رضي الله عنه memerintahkan memperbanyak untuk dikirimkan ke negeri-negeri Islam.
Al-Qur`an inilah yang dihafal Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه dan diajarkan kepada murid-muridnya, sehingga qiro`ah sab`ah yang mutawatir, empat diantaranya adalah bersumber dari beliau.
- Qiro`at Abu Amr bin Al-`Ala ( 68-154 h) dari Nashr bin Ashim dari Yahya bin Ya`mar, keduanya dari Abul Aswad Ad-Dualy dari Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه.
- Qiro`at Ashim bin Abi anNujud (w.127h) dari Abu Abdul Rohman As-Sulamy yang menerima langsung dari Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه.
- Qiro`at Hamzah Az-Zayyad ( 180-156 h ) dari Ja`far Asshodiq dari Muhammad Al-Baqir dari Ali Zaenal Abidin dari Husain bin Ali dari Ali bin Abi Tholib.
- Qiro`at Kisai (w.189 h) dari Hamzah Az-Zayyad dari Ja`far As-Shodiq dari Muhammad Al-Baqir dari Ali Zaenal Abidin dari husain bin Ali dari Ali bin Abi Tholib.
Dengan jalur-jalur sanad seperti ini pastilah Ahlul bait tidak keluar dari Ijma` kaum muslimin yang menyepakati otoritas Mushaf Ustmani.
Seluruh fakta diatas, menunjukkan dengan pasti bahwa tuduhan ulama` Syi`ah tentang ketidak aslian Al-Qur`an di seluruh dunia ini karena dirubah oleh Abu Bakar رضي الله عنه dan Umar bin Khottob رضي الله عنه adalah dusta dan kebohongan yang luar biasa serta kejahatan terhadap agama Islam bahkan penghianatan terhadap Allâh dan Rasûl-Nya.
Orang syi`ah yakin dan beriman bahwa Imam-imam mereka itu mengetahui kematiannya, bahaya yang akan menimpanya, dan semua yang ghaib baik yang sudah terjadi atau akan datang. Iman dan keyakinan seperti ini dusta dan bohong luar biasa, karena bertentangan dengan puluhan ayat Al-Qur`an dan hadits Nabi saw dan mudah dibuktikan kebohongannya.
Seandainya Ali Bin Abi Tholib رضي الله عنه kholifah ke empat itu mengerti dibayangi Ibnu Muljam yang akan membunuhnya, pastilah ia mengajak teman atau penjaga yang menyertainya berjalan menuju masjid untuk sholat subuh. Oleh karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi maka beliau keluar rumah seorang diri berjalan ke masjid sehingga Ibnu Muljam tidak ada halangan mengayunkan pedangnya yang mengakibatkan kematian beliau.
Pada tahun 60 H penduduk Kufah yang dipelopori orang-orang Persi mengirim utusan ke Makkah menemui Husain bin Ali dan mengundangnya untuk datang ke Kufah yang akan di bai`at sebagai Kholifah.
Pada tanggal 8 Dzulhijah 60 H, beliau berangkat menuju Kufah bersama keluarga dan beberapa pengiringnya. Sebelum sampai di Kufah, yaitu di padang Karbala beliau dihadang oleh Shimr bin Dzil Jasym bersama tentaranya dari Basroh, dan disanalah terjadi pertempuran dan berakhir dengan kematiannya.
Seandainya Husain bin Ali yang diyakini sebagai Imam ketiga agama Syi`ah itu mengetahui hal-hal Ghaib, apa yang akan terjadi dan tipu daya orang-orang persi terhadap dirinya serta balas dendam kepada bangsa Arab, pastilah beliau tidak akan menerima permintaan penduduk Kufah untuk diangkat sebagai Kholifah. Padahal persiapan penyambutan penduduk Kufah kepada beliau bukanlah mengagungkan dan mengelu-elukan sebagai kholifah tetapi pembantaian.
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar