• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Memurnikan Ibadah dan Mengembalikan ideologi kehidupan

Majalah Sinaran Ed.17
Hal 33 - 34
Sebagian dari kita beranggapan pemahaman Islam dan pemahaman ibadah masih ditempatkan sebagai rangkaian ritual dalam sebuah sistem kehidupan. Hal ini nampak nyata manakala melihat fenomena di masyarakat, dimana Islam dan ibadah muncul di aktivitas sholat, puasa, haji, peringatan-peringatan hari besar, ziarah ke makam-makam wali. Karenanya pemahaman ibadah yang benar, sesuai pemahaman Rasulullah saw dan para sahabat sangat penting merasuk dalam sanubari umat muslim, di tengah “budaya” yang dikenal sebagai ibadah.

Maka kebutuhan memurnikan ibadah dan memurnikan sumber rujukan
ketauladanan atau idola kehidupan menjadi sangat penting di dunia yang kian gemuruh dengan kesesatan ini.

MEMURNIKAN IBADAH
Salah satu hal terpenting bagi umat Islam adalah bagaimana mengikuti kaidah yang benar dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meluruskan kembali ibadah di atas keyakinan aqidah yang lurus dan kokoh, melahirkan ibadah dalam makna yang luas sesuai tuntunan syariat, yang pada gilirannya menghasilkan masyarakat “ baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur.”

Ibadah secara etimologis berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai makna yang dengan berbagai rumusan, akan tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah :

  1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasul-Nya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
  3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah ‘azza wa jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dhahir maupun yang bathin.

Makna ibadah secara lebih mudah dalam perspektif yang mudah dipahami diartikan sebagaimana tercantum dalam buku Miftahul Jannah ( karya KH. Abdul Wahid Hasyim ) sebagai :
  1. Gerak hati, ucapan lisan, perubahan anggota badan yang didorong keyakinan ghoib. Dorongan keyakinan kepada Allah maka menjadi ibadah yang benar, sebaliknya bila keyakinan kepada selain Allah maka dikatakan sebagai ibadah yang sesat.
  2. Patuh jiwa raga peraturan, undang-undang, adat kebiasaan. Pada pengertian kedua ini pun peraturan, undang-undang dan adat kebiasaan yang sesuai dengan petunjuk Allah maka akan menjadi kepatuhan yang benar, dan sebaliknya kepatuhan kepada peraturan, undang-undang dan adat kebiasaan yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah menjadi ibadah yang sesat ( Mifatuhul Jannah )
Dengan definisi ini maka esensinya setiap aktivitas lahiriah dan batiniyah manusia masuk dalam ranah ibadah manakala didorong ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, mulai dari gerak hati, ucapan lisan hingga amal perbuatan, kepatuhan jiwa raga kepada peraturan, perundangan dan adat kebiasaan sekalipun.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58].

Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” HR. Muslim (no. 1718 (18)) dan Ahmad (VI/146; 180; 256), dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma

Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat :

a. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
b. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ikhlas karena Allah berimplikasi pada kepatuhan total pada perintah, kepatuhan menjauhi larangan, kepatuhan menjalankan hukum, kepatuhan menempatkan eksistensi pribadi manusia dalam ketundukan pada Allah semata. Atau meninggalkan perintah, meninggalkan hukum, dan sikap yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah. Yang petunjuk Allah itu ada pada Kalam Allah Al-Qur’anul Karim dan Sunnah Rasulullah saw yang menyertainya.

Karenanya sangat penting sebagai umat yang beriman kita berpegang teguh pada landasan Kalamullah dalam menjalani kehidupan ini.

Allah telah menegaskan akan prinsip ketaatan kepada Allah pada kitab suci Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 30 :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (sebagai perwujudan dari) fitrah Allah (sifat-sifat Allah). (Allah) Yang telah menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (yang berupa) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (hakekat semua ajaran agama-Nya ialah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, dengan menselaraskan kehidupan manusia kepada berbagai sifat-Nya dalam Asmaul Husna)" – (QS.30:30)

Komponen Kunci :

  • Fitrah manusia tetap,itulah agama yang lurus,
  • Kebanyakan manusia, tidak mengetahui

Allah menciptakan manusia menurut fitrah yang tetap, yang fitrah tersebut adalah الدِّينُ الْقَيِّمُ (agama yang lurus), akan tetapi وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ , akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Bersambung...

Ditulis Oleh

Author
Ust. Danang Dwi Prasetyo, M.Pd
Dosen STAI Terpadu Jogja, juga Humas MPAQ Pusat
Nantikan tulisan berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar