• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Penyimpangan Ghulatush Shufiyah (Tashawwuf yang Berlebihan)

1. Menghina Ulama
Dalam Kitab Lujainid Dani tentang Karamah diceritakan bahwa dalam pengajian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani datanglah seratus ulama ahli fiqih dari Baghdad dan sekitarnya untuk bertanya masalah hukum Islam. Setiap ulama telah menyiapkan satu pertanyaan sehingga jumlah pertanyaan yang diajukan ada seratus masalah.

Kemudian datang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di majlis pengajian tersebut seraya melihat kehadiran seratus ulama tersebut. Maka dada beliau membara karena marah dan memancarkan cahaya kilat menyambar seratus ulama tersebut dan mengakibatkan mereka hilang akal serta menjadi linglung. Mereka menjerit–jerit histeris, membuang surban–surban mereka dan merobek–robek pakaian mereka hingga hampir–hampir mereka telanjang di tengah–tengah yang hadir dalam pengajian yang jumlahnya banyak sekali.

Kemudian Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab satu persatu dari pertanyaan seratus ulama tersebut dengan tuntas. 

Hikayat ini dibaca dan didengar oleh ratusan juta umat Islam dan diantara mereka banyak yang membaca lebih dari seratus kali sehingga iman mereka makin kokoh dan mantap bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah Wali Quthub yang akan mengabulkan do’a mereka. 

Oleh karena itu setelah membaca hikayat ini mereka berdo’a kepada arwah para wali yang antara lain berbunyi :

وَ يَا أَقْطَابُ وَ يَا أَنْجَابُ وَ يَا سَادَاتُ وَ يَا أَحْبَابُ
وَ أَنْتُمْ يَا وَلِيَ الأَبَابِ تَعَالَوْا وانْصُرُوْا لِلَّهِ

Wahai Wali Quthub, wahai Wali Nujaba’, wahai pemimpin para wali, wahai wali yang dicintai, kemarilah dan tolonglah kami.

Memang tidak diingkari bahwa Allâh SWT memberi karamah kepada wali-Nya sebagaimana Umar bin Khaththab RA ketika sedang berkhuthbah, kemudian memberi komando pasukan Islam yang sedang bertempur melawan tentara Persia yang berakhir dengan tumbangnya kerajaan Persia meskipun pernah jaya selama ribuan tahun.

Umar bin Khaththab adalah waliyullah karena disaksikan oleh Rasûlullâh SAW termasuk sepuluh sahabat yang masuk surga tanpa hisab dan termasuk Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk dan harus diikuti sunnahnya sesudah beliau. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah dari sahabat Irbad bin Sariyah RA.

وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلاَفًا شَدِيدًا ، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي ، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَالأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
Dan kalian akan melihat perselisihan yang banyak setelahku, maka kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah–sunnah tersebut dengan gigi geraham, dan berhati–hatilah kalian terhadap perkara–perkara yang diada–adakan. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Ibnu Majjah dari Irbad bin Sariyah).

Hikayat–hikayat palsu seperti di muka merupakan cara mursyid thariqah dan murid–muridnya untuk mendewakan Mursyid Agung mereka agar umat Islam yang pengetahuan agamanya kurang, meyakini bahwa Mursyid Agung Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah Wali Quthub al-Ghauts yang mampu mengabulkan do’a–do’a mereka.

Para mursyid thariqah dan murid–muridnya suka mengarang hikayat–hikayat dusta dan fatwa–fatwa yang menyimpang dari syari’at Islam dan merendahkan ulama. Misalnya, belajar ibadah dari mursyid thariqah itu seribu kali lebih utama dibandingkan belajar dari ulama. Sebagaimana tersebut dalam Kitab Anwar yang dikarang oleh Abu Qasim as-Suhaili dan dalam Kitab Kifayatul Atqiya’ karangan Syaikh ad-Dimyati ;

رَكْعَةٌ مِنْ عَارِفٍ أَفْضَلُ مِنْ أَلْقِ رَكْعَةٍ مِنْ عَالِمٍ

Satu raka’at dari seorang ‘Arif lebih utama dibandingkan seribu raka’at seorang ulama.

Demikian juga dalam Kitab Thabaqatusy Sya’rani menukil fatwa Mursyid Agung Syaikh Junaid al-Baghdadi:

اَلْمُرِيْدُ الصَّادِقُ غَنِيٌّ عَنْ عِلْمِ الْعُلَمَاءِ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْمُرِيْدِ خَيْراً أَوْقَعَهُ إِلَى الصُّوفِيَةِ وَمَنَعَهُ عَنْ صُحْبَةِ الْقُرَّاءِ


Murid yang benar tidak membutuhkan ilmu ulama. Dan apabila Allâh SWT menghendaki kebaikan kepadanya maka Allâh  menetapkannya  pada tashawwuf  dan mencegahnya berkawan dengan ahli al-Qur’an. 

Mereka lupa bahwa menghina ulama adalah dosa besar, karena ulama adalah orang–orang yang dimulyakan Allâh sebagai pewaris para nabi yang ilmunya harus diambil dan digunakan untuk pegangan hidup di dunia. Sebagaimana dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, at Tirmidzi dan Ibnu Majjah dari sahabat Abu Darda’ bahwa Rasûlullâh SAW bersabda,

فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا ، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.

Keutamaan orang yang berilmu dan ahli ibadah adalah seperti keutamaan rembulan terhadap seluruh bintang–bintang. Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil ilmunya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. (HR.Abu Dawud, at Tirmidzi dan Ibnu Majjah dari Abu Darda’ RA.)

Mereka sengaja melupakan bahwa belajar agama kepada ulama’ yang faham al-Qur’an dan as-Sunnah serta luas ilmunya sehingga menjadi faqih adalah ibadah yang paling utama dibanding ibadah–ibadah yang lain. Sebagaimana sabda Rasûlullâh SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Iman at-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah RA,

مَا عُبِدَ اللَّهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ فِقْهٍ فِيْ الدِّيْنِ


Tidak ada ibadah kepada Allâh yang lebih utama dibanding paham terhadap urusan agama. (HR. at Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Mereka melupakan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allâh adalah ulama’, dan orang yang paling baik di dunia ini adalah orang–orang yang faham al-Qur’an dan as-Sunnah serta dalam ilmu agamanya, bukan yang lain. Sebagaimana firman Allâh SWT dalam surat al Fathir ayat 28,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya hamba yang takut kepada Allâh hanyalah ulama’ (QS. Fathir : 28)

Dan sabda Rasûlullâh SAW dalam hadits Shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Muawiyah RA ,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Barang siapa yang dikehendaki oleh Allâh menjadi baik, maka Allâh memahamkannya dalam urusan agama. (HR. Bukhari dari Muawiyah RA).

Apa yang dilakukan mursyid thariqah dan murid–muridnya yaitu menyebar luaskan hikayat–hikayat dusta yang menghina ulama dan fatwa–fatwa yang menyimpang dari syari’at Islam dari Mursyid Agung mereka yang merendahkan ulama’ akan menjerumuskan mayoritas umat Islam ke dalam dosa besar.

Untuk menyelamatkan umat Islam dari perbuatan dosa yang sudah mengelilingi kehidupan di dunia ini, Rasûlullâh SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Hakim dan al-Bazar dari sahabat Ubadah bin Shamid , 

ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه

Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak tahu hak–hak para ulama’ (HR. Ahmad, al-Hakim dan al-Bazar dari Ubadah bin Shamid RA.)

Fatwa para mursyid thariqah tersebut di atas banyak tertulis dalam kitab–kitab thariqah. Fatwa–fatwa seperti ini diyakini kebenarannya oleh seluruh murid thariqah karena keluar dari lisan mursyid agung yang mereka yakini sebagai Wali Quthub yang mendapat ilham dari Allâh SWT.

Padahal fatwa ini jelas menentang Allâh dan Rasul-Nya, karena ada ratusan ayat al-Qur’an yang memerintahkan agar umat Islam mempelajari dan memahami al-Qur’an, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya serta mengikuti petunjuknya. Misalnya firman Allâh SWT dalam surat at Taubah ayat 122 ,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ


Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memahami urusan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At Taubah : 122).

Dan Sabda Rasûlullâh SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majjah dari sahabat Abu Dzarr al Ghifari ,

يَا أَبَا ذَرٍّ ، لأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ ، خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِئَةَ رَكْعَةٍ

Wahai Abu Dzarr, apabila engkau datang pagi–pagi kemudian engkau mempelajari satu ayat al-Qur’an, maka hal itu lebih baik dibandingkan engkau shalat seratus raka’at. (HR. Ibnu Majjah dari Abu Dzarr al Ghifari).


2. Mengaku menerima wahyu dan menyingkap tabir ghaib.
Semua pengikut thariqah meyakini dengan haqqul yakin bahwa mursyid mereka menerima wahyu dari Allâh SWT dan mampu menyingkap tabir ghaib, contohnya dalam Kitab Lujainud Dani, menceritakan bahwa satu kafilah perniagaan dikepung oleh perampok dan akan membunuh pemilikknya, maka ia menyebut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, minta pertolongan kepadanya agar diselamatkan dari bahaya, dan bernadzar akan memberi hadiah dengan sebagian hartanya. 

Ketika itu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sedang shalat dua raka’at. Setelah selesai shalat beliau mengambil sebelah alas kakinya dan melemparkan ke udara sambil berteriak. Kemudian beliau mengambil yang satunya dan melemparkannya sebagaimana yang pertama. Maka kedua kepala perampok tersebut jatuh tersungkur dan mati terkena alas kaki yang dilempar Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, padahal jaraknya dua puluh tiga hari perjalanan. 

Berita–berita tentang kasyaf (menyingkap tabir ghaib) menerima ilham dan wahyu dari Allâh SWT ini tertulis dalam kitab–kitab tashawwuf dari berbagai golongan. Sehingga semua pengikut thariqah meyakini kebenaran, nasehat, fatwa dan ajaran mursyidnya sekalipun bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah Rasûlullâh SAW.

Tentang kasyaf dan wahyu ini dalam Kitab Dirasat fit Tashawwuf bab at Tashawwuf Muammiratun Dhiddal Islam, Syaikh Ihsan Ilahi Dhahir menukil dari kitab–kitab tashawwuf antara lain ; 

Dari Kitab Syarah Kalimat Shufiyah karangan Mahmud Gharab meriwayatkan bahwa seorang wali Shufi, Abu Yazid al Busthami berkhuthbah di hadapan ulama sunnah, “Kamu mengambil ilmu dari orang yang telah mati sedangkan kami mengambil ilmu dari Dzat Yang Hidup yang tidak akan mati.”

Dari Kitab Musharri’it Tashawwuf,  Ibnu Arabi mengatakan, ”Ulama penulis kitab mengambil ilmu dari satu generasi ke generasi sebelumnya sampai Hari Kiamat, maka nisbat mereka makin jauh. Sedangkan para wali mengambil ilmu dari Allâh SWT yang diwahyukan dalam hati mereka.”

Dari Kitab Thabaqatush Shughra karangan asy-Sya’rani, ia menukil fatwa seorang wali shufi Muhammad al-Istambuli yang mengatakan, “Tidak boleh orang yang tidak mengerti ungkapan para wali mengatakan bahwa keadaan mereka buruk. Hal ini karena perasaan kewalian berasal dari belakang akal yang berdasar pada kasyaf (menyingkap tabir ghaib).”

Dari Kitab Yawakit wal Jawahir karangan asy-Sya’rani, dia menjawab pertanyaan tentang turunnya wahyu dan ilham kepada para wali, ”Jika Allâh menghendaki memberi wahyu kepada wali tentang perkara apa saja maka tampak di hati wali tersebut gambaran perkara, dan dia memahami dengan gamblang apa yang dikehendaki Allâh SWT dari makna kalam-Nya. Demikianlah para wali menemukan ilmu dari dirinya sendiri yang tidak ia ketahui dari syari’at.”

Syaikh Ahmad ar-Rifa’i  mengatakan, ”Aku mempunyai pengikut tiga ratus ribu bangsa dan mengetahui bahasa, sifat–sifat, nama–nama rizki dan ajal mereka.” Setelah disanggah oleh pelayannya, bahwa ini adalah sifat–sifat Allâh, maka ia menjelaskan, “ Wahai Ya’qub, minta ampunlah kepada Allâh, sesungguhnya jika Allâh mencintai seorang hamba maka Dia menyerahkan seluruh kerajaan-Nya dan menampakkan pengetahuan ghaib yang dikehendaki-Nya.” 

Hikayat dan fatwa tentang kasyaf (menyingkap tabir ghaib) tidak hanya tertulis dalam kitab–kitab tashawwuf saja, akan tetapi dalam kitab–kitab fiqih yang ditulis oleh pengikut–pengikut thariqah juga membahas tentang kasyaf. Misalnya Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin di kitab Mahabbah was Syauq bab Hikayatul Muhibbin wa Mukasyafatihim. Setelah menceritakan seorang murid thariqah munajat dan melihat Allâh SWT, maka beliau berkomentar, “Kasyaf seperti ini, seorang mukmin tidak boleh mengingkari.” 

Berita tentang kasyaf yang bertaburan dalam kitab–kitab tashawwuf dan sebagian kitab–kitab fiqih ini akan mengakibatkan sesatnya mayoritas umat Islam karena beriman bahwa mursyid thariqah yang mereka yakini wali itu mengetahui hal–hal ghaib dan mampu memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya sebagian umat Islam apabila mengalami masalah atau mempunyai kebutuhan, mereka mengadakan ritual berdo’a kepada wali agar dipenuhi hajatnya. 

Keyakinan tentang kasyaf (menyingkap tabir ghaib) ini bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah Rasûlullâh SAW antara lain,
Surat an Naml : 65

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُون


“Katakanlah: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allâh", dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan”. (QS. An-Naml [27]: 65)

Surat al Jin : 26
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا  إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu.  Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”. (QS. al Jin [72]: 26-27).
Surat al A’raf : 188

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ


“Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allâh. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".  (QS. Al-A’raf [7]: 188).

Surat Saba’ ayat 14
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ


“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”. (QS. Saba’ [34]: 14).

Bahkan Rasûlullâh SAW memberitahukan bahwa orang–orang yang meyakini ada orang, baik wali, orang shalih maupun yang lain yang mengetahui perkara ghaib, maka mereka kafir. Hadits–hadits tentang hal ini banyak, antara lain, Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari beberapa istri Rasûlullâh SAW, bahwa beliau bersabda ,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, kemudian dia menanyakan sesuatu perkara, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam”. (HR. Muslim dari beberapa istri Rasûlullâh SAW).

Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA ,
من أتى كاهنا أو عرافا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه و سلم

Barang siapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal , kemudian dia mempercayai perkataannya , maka sungguh dia telah kafir terhadap syari’at yang diturunkan kepada Muhammad SAW”. ( HR. Ahmad dari Abu Hurairah ).

Dari ayat–ayat al-Qur’an dan hadits–hadits Rasûlullâh SAW tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Ilmu ghaib hanyalah milik Allâh SWT dan tidak ada yang mengetahui perkara ghaib, baik malaikat, jin maupun manusia.
  2. Allâh SWT menampakkan ilmu ghaib hanya kepada nabi–nabi dan rasul–rasul–Nya. Dalam hal ini Allâh SWT memerintahkan kepada malaikat–malaikat untuk menjaga agar penyampaiannya kepada umat tidak ada penyimpangan karena pengaruh kepentingan, hawa nafsu dan rayuan syetan.
  3. Rasûlullâh SAW mengetahui perkara ghaib setelah mendapat wahyu dari Allâh SWT. Sebagaimana firman Allâh SWT dalam surat an Najm ayat 3,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (QS. An-Najm [53]: 3-4 ).

Para sahabat beriman bahwa sesudah Rasûlullâh SAW tidak ada orang yang yang diberi wahyu, sehingga apabila ada masalah yang timbul harus susah payah berijtihad. Oleh karena itu sahabat Abu Bakar, Umar dan yang lain menangis tersedu–sedu, bukan karena ditinggal Rasûlullâh SAW tetapi karena wahyu sudah berhenti dan tidak ada lagi. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik RA, bahwa Ummu Aiman berkata ,

مَا أَبْكِى أَنْ لاَ أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلَكِنْ أَبْكِى أَنَّ الْوَحْىَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ. فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلاَ يَبْكِيَانِ مَعَهَا

“Aku menangis bukan karena aku tahu bahwa kehidupan di sisi Allâh SWT lebih baik bagi Rasûlullâh SAW, tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit.”  Maka perkataan Ummu Aiman tersebut membangkitkan Abu Bakar dan Umar untuk menangis. Akhirnya keduanya menangis bersama Ummu Aiman. (HR. Muslim dari Anas bin Malik).

4. Orang yang percaya dan yakin ada seseorang yang yang mengetahui perkara ghaib adalah syirik besar, karena menyamakan sifat manusia dengan sifat Allâh SWT.

Ditulis Oleh

Author
Muhammad Suparman al Jawi, S.Pd.I
Mjelis Syuro MPAQ
Baca terus kajian aQidah ini hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar