• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

ULAMA DUNIA DAN ULAMA AKHIRAT

Ulama dunia mereka adalah orang-orang yang menjadikan ilmunya untuk mendapatkan kesenangan dan kesuksesan di dunia. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda,

    مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya diniatkan karena Allâh, ia tidaklah mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan kesenangan dunia, tidaklah ia mencium bau surga pada hari kiamat” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) 

Dalam riwayat hadits yang lain,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ ، فَهُوَ فِي النَّارِ

Barang siapa yang belajar ilmu untuk membandingi ulama atau mendebat orang-orang bodoh atau untuk memalingkan pandangan manusia agar tertuju kepadanya, maka orang tersebut tempatnya di neraka” (HR.Ibnu Majah)

Dan banyak lagi hadits-hadits semisal itu, bahkan sebagian ulama salaf berkata, “Manusia yang paling menyesal ketika mati adalah orang alim yang tidak bermanfaat ilmunya.”

Ibnu Qudamah mengatakan, sudah semestinya orang yang berilmu senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak tamak terhadap urusan dunia, dan tidak pula menolak hal-hal yang dimubahkan. Semua ia ambil berdasarkan kebutuhan, karena tidak semua orang bisa hidup menderita dan serba terbatas. Pada masalah ini manusia bertingkat-tingkat.

Diriwayatkan dari Sufyan as-Sauri bahwa beliau orang yang senantiasa membaguskan makanannya dan beliau berkata, “Sesungguhnya binatang melata jika tidak dicukupkan makanannya maka ia tidak akan bisa digunakan untuk bekerja.” 

Dikisahkan juga bahwa sesungguhnya Imam Ahmad bin Hambal adalah seorang yang sangat sabar dengan sulitnya hidup. Dan sekali lagi pada masalah dunia manusia memiliki kemampuan berbeda-beda. 

Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, mereka sangat mengetahui dan memahami bahwa dunia itu urusannya sangatlah kecil dan remeh sedang akhirat sangatlah penting dan mulia. Sehingga mereka orang-orang yang senantiasa mendahulukan urusan akhirat, mereka adalah orang  yang tidak pernah berbeda antara perkataan dan perbuatan, senantiasa mendahulukan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan menjauhi ilmu-ilmu yang sedikit manfaatnya atau tidak ada manfaatnya sama sekali. 

Dikisahkan suatu waktu Syaqiq al-Balkhi berkata kepada Hatim, “Kamu telah berguru kepadaku beberapa tahun, lantas apa yang kamu dapatkan dariku? Hatim berkata, “Aku mendapatkan delapan pelajaran darimu, 

1. Aku melihat setiap manusia pasti memiliki hal-hal yang dicintai, namun ketika mereka sampai di kuburan mereka terpisah dengan hal yang mereka cintai. Maka aku akan senantiasa berusaha sekuat tenaga agar bisa menjadikan amal kebaikan menjadi sesuatu yang aku cintai agar ia bisa menemaniku selamanya.

2. Ketika aku membaca frman Allâh SWT,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
dan adapun orang yang takut terhadap kedudukan Allâh maka ia akan menahan diri dari hawa nafsu.” (QS. an-Naziaat 79: 40) 
Maka aku akan senantiasa berjuang melawan nafsu sehiangga ia bisa tenang dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh SWT.

3. Sesungguhnya aku melihat setiap kali manusia memiliki barang yang berharga maka ia akan selalu menjaganya, kemudian ketika aku membaca firman Allâh SWT,
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
Apa yang ada di sisimu akan hilang dan apa yang ada di sisi Allâh akan abadi.” (QS. an-Nahl [16]: 96)
Maka setiap kali aku memiliki barang yang berharga maka aku akan infakkan karena Allâh agar ia kekal di sisi-Nya.

4. Aku melihat manusia dalam kehidupan senantiasa mengukur kesuksesan dan kemuliaan dari harta, pekerjaan dan popularitas, kemudian ketika aku membaca firman Allâh SWT,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allâh adalah orang yang paling taqwa diantara kalian.” (QS al-Hujurât [49]: 13)
Maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bertaqwa kepada Allâh agar aku bisa hidup mulia di sisi Allâh SWT.

5. Aku sering melihat manusia saling hasad terhadap perkara dunia, maka ketika aku melihat firman Allâh SWT,
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ
Sungguh kami telah membagi kehidupan (rizki) diantara mereka.” (QS.  az-Zukhruf [43]: 32)
Maka aku mudah untuk meninggalkan sifat hasad karena aku tahu bahwa seseorang sudah memiliki bagian masing-masing dari Allâh SWT.

6. Aku melihat banyak orang saling bermusuhan, namun ketika aku membaca firman Allâh,
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا  
Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian maka jadikan ia sebagai musuh.” (QS. Fâthir [35]: 6)
Maka aku berazam untuk meninggalkan segala  macam permusuhan dan aku akan senantiasa menjadikan setan sebagai musuh utama.

7. Aku banyak melihat manusia seringkali menghinakan dirinya di dalam mencari rizki, maka ketika aku membaca firman Allâh SWT,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Tidaklah ada binatang melata di muka bumi melainkan rizkinya telah dijamin oleh Allah.” (QS Huud [11]: 6)

Maka aku akan bekerja sebatas bagian yang Allâh berikan kepadaku, dan aku akan tinggalkan yang bukan bagianku.

8. Aku melihat banyak manusia bergantung (bertawakal) dengan perniagaan, perusahaan dan kesehatan badan mereka, maka aku cukupkan untuk hanya bertawakal kepada Allâh SWT semata.

Dan dari ciri-ciri ulama akhirat yang lain adalah, senantiasa mampu menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan para pejabat dan pemimpin negara dan sangat berhati-hati jika bergaul dengan mereka. Sahabat Khudzaifah bin Yaman berkata, “Hati- hatilah kamu jika bertepatan dengan fitnah, dikatakan apa yang dimaksud dengan hal tersebut? Beliau menjawab, “Pintu-pintu para pemimpin, ketika sesorang ulama berteman dengan para pemimpin maka ia akan membenarkan yang dusta, dia akan berkata sesuatu yang tidak ada hanya ingin dipandang baik di matanya.” 
Sahabat Sa’id bin Musayab berkata, “Jika ada seorang ulama terlalu dekat dengan para pemimpin maka berhati-hatilah darinya karena sesungguhnya ia adalah seorang pencuri.” 

Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, tidak tergesa-gesa dalam berfatwa, dan tidaklah ia berfatwa melainkan hanya tebatas hal-hal yang telah ia tahu dan yakin kebenarannya. Abdurrahman bin Abi Laila berkata, “Aku dapatkan di masjid nabawi ini 120 sahabat Nabi, namun ketika mereka ditanya suatu masalah, setiap  mereka senang jika mencukupkan dari jawaban saudaranya.” 

Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, mereka lebih banyak mencari ilmu dan sekaligus belajar bagaimana mengamalkan ilmu tersebut, belajar tentang hal-hal yang bisa merusak amal, belajar tentang hal-hal yang bisa merusak hati manusia, belajar tentang bagaimana bisa mengusir was-was dalam hati. Karena bagi mereka yang sulit itu bukan beramal namun yang sulit dan melelahkan adalah membersihkan amal itu sendiri dari berbagai kepentingan-kepentingan dunia. Dan pokok dari agama ini adalah berhati-hati dari keburukan dan sesorang tidak akan bisa menjaga diri dari keburukan jika ia tidak tahu keburukan itu sendiri. 

Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, senantiasa mencari hikmah dari setiap amal yang disyariatkan oleh Allâh SWT, dengan tetap memegang teguh hukum-hukum yang sudah ditetapkan. Dan jika ia tidak mampu memahami hikmah atau alasan ditetapkannya hukum, maka ia mencukupkan dhohir hukum syariat apa adanya. 
Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, senantiasa mengikuti sahabat nabi, para tabiin  dan ulama-ulama salaf di dalam memahami agama, serta menjauhi sekuat tenaga dari hal-hal yang berbau bid’ah. 

Ditulis Oleh

Author
Ust. H. Sigit Sulistyo, Lc
Mjelis Syuro MPAQ
Nantikan kajian Tazkiyatun Nafs berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar