مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya diniatkan karena Allâh, ia tidaklah mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan kesenangan dunia, tidaklah ia mencium bau surga pada hari kiamat” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam riwayat hadits yang lain,
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ ، أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ ، فَهُوَ فِي النَّارِ
“Barang siapa yang belajar ilmu untuk membandingi ulama atau mendebat orang-orang bodoh atau untuk memalingkan pandangan manusia agar tertuju kepadanya, maka orang tersebut tempatnya di neraka” (HR.Ibnu Majah)
Dan banyak lagi hadits-hadits semisal itu, bahkan sebagian ulama salaf berkata, “Manusia yang paling menyesal ketika mati adalah orang alim yang tidak bermanfaat ilmunya.”
Ibnu Qudamah mengatakan, sudah semestinya orang yang berilmu senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak tamak terhadap urusan dunia, dan tidak pula menolak hal-hal yang dimubahkan. Semua ia ambil berdasarkan kebutuhan, karena tidak semua orang bisa hidup menderita dan serba terbatas. Pada masalah ini manusia bertingkat-tingkat.
Diriwayatkan dari Sufyan as-Sauri bahwa beliau orang yang senantiasa membaguskan makanannya dan beliau berkata, “Sesungguhnya binatang melata jika tidak dicukupkan makanannya maka ia tidak akan bisa digunakan untuk bekerja.”
Dikisahkan juga bahwa sesungguhnya Imam Ahmad bin Hambal adalah seorang yang sangat sabar dengan sulitnya hidup. Dan sekali lagi pada masalah dunia manusia memiliki kemampuan berbeda-beda.
Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, mereka sangat mengetahui dan memahami bahwa dunia itu urusannya sangatlah kecil dan remeh sedang akhirat sangatlah penting dan mulia. Sehingga mereka orang-orang yang senantiasa mendahulukan urusan akhirat, mereka adalah orang yang tidak pernah berbeda antara perkataan dan perbuatan, senantiasa mendahulukan ilmu-ilmu yang bermanfaat dan menjauhi ilmu-ilmu yang sedikit manfaatnya atau tidak ada manfaatnya sama sekali.
Dikisahkan suatu waktu Syaqiq al-Balkhi berkata kepada Hatim, “Kamu telah berguru kepadaku beberapa tahun, lantas apa yang kamu dapatkan dariku? Hatim berkata, “Aku mendapatkan delapan pelajaran darimu,
2. Ketika aku membaca frman Allâh SWT,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
“dan adapun orang yang takut terhadap kedudukan Allâh maka ia akan menahan diri dari hawa nafsu.” (QS. an-Naziaat 79: 40)
Maka aku akan senantiasa berjuang melawan nafsu sehiangga ia bisa tenang dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh SWT.3. Sesungguhnya aku melihat setiap kali manusia memiliki barang yang berharga maka ia akan selalu menjaganya, kemudian ketika aku membaca firman Allâh SWT,
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
Maka setiap kali aku memiliki barang yang berharga maka aku akan infakkan karena Allâh agar ia kekal di sisi-Nya.
4. Aku melihat manusia dalam kehidupan senantiasa mengukur kesuksesan dan kemuliaan dari harta, pekerjaan dan popularitas, kemudian ketika aku membaca firman Allâh SWT,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bertaqwa kepada Allâh agar aku bisa hidup mulia di sisi Allâh SWT.
5. Aku sering melihat manusia saling hasad terhadap perkara dunia, maka ketika aku melihat firman Allâh SWT,
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ
Maka aku mudah untuk meninggalkan sifat hasad karena aku tahu bahwa seseorang sudah memiliki bagian masing-masing dari Allâh SWT.
6. Aku melihat banyak orang saling bermusuhan, namun ketika aku membaca firman Allâh,
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
Maka aku berazam untuk meninggalkan segala macam permusuhan dan aku akan senantiasa menjadikan setan sebagai musuh utama.
7. Aku banyak melihat manusia seringkali menghinakan dirinya di dalam mencari rizki, maka ketika aku membaca firman Allâh SWT,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Maka aku akan bekerja sebatas bagian yang Allâh berikan kepadaku, dan aku akan tinggalkan yang bukan bagianku.
8. Aku melihat banyak manusia bergantung (bertawakal) dengan perniagaan, perusahaan dan kesehatan badan mereka, maka aku cukupkan untuk hanya bertawakal kepada Allâh SWT semata.
Dan dari ciri-ciri ulama akhirat yang lain adalah, senantiasa mampu menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan para pejabat dan pemimpin negara dan sangat berhati-hati jika bergaul dengan mereka. Sahabat Khudzaifah bin Yaman berkata, “Hati- hatilah kamu jika bertepatan dengan fitnah, dikatakan apa yang dimaksud dengan hal tersebut? Beliau menjawab, “Pintu-pintu para pemimpin, ketika sesorang ulama berteman dengan para pemimpin maka ia akan membenarkan yang dusta, dia akan berkata sesuatu yang tidak ada hanya ingin dipandang baik di matanya.”
Sahabat Sa’id bin Musayab berkata, “Jika ada seorang ulama terlalu dekat dengan para pemimpin maka berhati-hatilah darinya karena sesungguhnya ia adalah seorang pencuri.”
Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, tidak tergesa-gesa dalam berfatwa, dan tidaklah ia berfatwa melainkan hanya tebatas hal-hal yang telah ia tahu dan yakin kebenarannya. Abdurrahman bin Abi Laila berkata, “Aku dapatkan di masjid nabawi ini 120 sahabat Nabi, namun ketika mereka ditanya suatu masalah, setiap mereka senang jika mencukupkan dari jawaban saudaranya.”
Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, mereka lebih banyak mencari ilmu dan sekaligus belajar bagaimana mengamalkan ilmu tersebut, belajar tentang hal-hal yang bisa merusak amal, belajar tentang hal-hal yang bisa merusak hati manusia, belajar tentang bagaimana bisa mengusir was-was dalam hati. Karena bagi mereka yang sulit itu bukan beramal namun yang sulit dan melelahkan adalah membersihkan amal itu sendiri dari berbagai kepentingan-kepentingan dunia. Dan pokok dari agama ini adalah berhati-hati dari keburukan dan sesorang tidak akan bisa menjaga diri dari keburukan jika ia tidak tahu keburukan itu sendiri.
Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, senantiasa mencari hikmah dari setiap amal yang disyariatkan oleh Allâh SWT, dengan tetap memegang teguh hukum-hukum yang sudah ditetapkan. Dan jika ia tidak mampu memahami hikmah atau alasan ditetapkannya hukum, maka ia mencukupkan dhohir hukum syariat apa adanya.
Dan dari ciri-ciri ulama akhirat adalah, senantiasa mengikuti sahabat nabi, para tabiin dan ulama-ulama salaf di dalam memahami agama, serta menjauhi sekuat tenaga dari hal-hal yang berbau bid’ah.
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar