• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 13

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ) 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.

Masih menjelaskan tentang sifat sifat orang MUNAFIK, ketika diserukan untuk beriman sebagaimana imannya para Sahabat dan Salafush Sholeh, yaitu iman kepada Allah, Malaikat-malaikatNYA, Kitab-kitabNYA, Rasul-rasulNYA, adanya kebangkitan setelah kematian, adanya surga dan neraka, serta iman kepada qodho’ dan qodrNYA Allah dengan sikap SAMI’NA WA ATHO’NA terhadap apa yang yang datang dari Allah dan Rasul-NYA, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS Al Baqoroh : 285

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

Atau seperti yang digambarkan Allah dalam QS An Nuur : 51

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

ketika mendengar seruan dari Allah dan RasulNYA yang terkait dengan hukum-hukum pidana ataupun perdata, yang menyangkut kepentingan muamalah, maka hanya ada satu jawabannya yaitu : SAMI’NA WA ATHO’NA....kami mendengarkan dan kami mematuhinya !

Dalam SAMI’NA/ memahami hukum-hukum Allah barangkali bukan sesuatu yang sulit, kita bisa belajar dan mengkaji Al Qur’an, akan tetapi untuk menjadi ATHO’NA, mematuhi hukum-hukum Allah manusia banyak mempunyai keterbatasan kemampuan serta beberapa kendala. Akan tetapi Allah maklum dan mengampuni apabila dalam memenuhi kepatuhan tersebut terhalang keterbatasan kemampuan. Lain masalah jika pelanggaran  terhadap hukum-hukum Allah itu dikarenakan, manusia berpaling, mengkritisi bahkan mengoreksi ayat-ayat Allah, maka jatuhlah hukum KAFIR, dan Allah tidak akan memberi ampunan kecuali dengan Taubat.

Sedangkan imannya para sahabat tergambar jelas dalam QS An Nisaa’ : 65

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Dalam mensikapi hukum-hukum perdata dan pidana, para sahabat tidak akan berhukum kecuali dengan apa-apa yang telah ditetapkan Allah dan RasulNYA. Menerima dengan ikhlash, tanpa ada sedikitpun perasaan berat hati. 

Maka orang –orang munafik menolak seruan untuk beriman sebagaimana imannya Sahabat. Mereka beranggapan bahwa imannya para Sahabat seperti imannya orang-orang yang bodoh, iman yang tidak menggunakan logika. Sufaha’ dalam ayat ini mengandung arti bodoh, lemah akal serta sedikit  memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang mendatangkan manfaat dan mudhorot. Dan begitulah pandangan orang-orang Munafik terhadap imannya para Sahabat. 

Seperti yang dijelaskan Allah dalam QS An Nuur : 48
وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ
Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

Sangat berbeda dengan imannya para  Sahabat yang sami’na wa atho’na terhadap panggilan Allah dan RasulNYA,maka orang-orang Munafik MENOLAK ketika diajak berhukum dengan hukum Allah. Mereka lebih memilih hukum thoghut untuk menyelesaikan perselisihan. Inilah bentuk keimanan orang-orang Munafik, yaitu tidak menerima Islam secara Kaffah.Menerima dalam beberapa ayat yang terkait dengan ibadah maghdloh, dan menolak ayat-ayat  lain yang biasanya terkait dengan hukum-hukum muamalah, semisal masalah pendidikan, ekonomi,politik, infaq, dan jihad.

Hal di atas juga sama seperti kehendak orang-orang Munafikterhadapi MUSLIHUN : yaitu Yahudi-Nasrani, yang diharapkan mempunyai peran dalam penetuan kebijakan-kebijakan publik. Mereka lebih berwala’ dan lebih memilih berhukum kepada Yahudi-Nasran ketika berselisih, daripada berhukum kepada Allah dan rasulNYA.

Demikian itulah imannya orang MUNAFIK  !
Maka Allah menyanggah semua hal yang terkait dengan perkataan orang-orang Munafik.  Merekalah sesungguhnya yang bodoh, akan tetapi Munafik tidak tahu kesesatan dan kebodohannya.  Orang-orang Munafik tidak tahu bahwa tergantung dan berharap kepada Yahudi-Nasrani adalah sebuah kebodohan yang besar. Mereka tidak pernah menyadari bahwa Yahudi-Nasrani tidak sedikitpun akan mendatangkan kemanfaatan bagi umat Islam.

Hal tersebut sangat berbeda sekali dengan keyakinan umat Islam,  untuk tidak boleh sedikitpun berWALA’ dan tergantung kepada Yahudi-Nasrani. Tidak boleh menjadikan mereka sebagai pimpinan, ataupun teman dekat. Tidak akan sempurna iman kita tanpa mempunyai sikap BARO’ kepada Yahudi-Nasrani !

Orang orang munafik akan menyadari kebodohannya, serta mengakui  kebenaran keimanan para Sahabat dalam mematuhi Allah dan RasulNYA, ketika Allah membolak balikan wajah mereka ke dalam api neraka, sebuah pengakuan yang tiada guna tentunya.

QS Al Ahzhab : 66

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul".
Allahu ‘alam bishshowwab.......

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar