• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Membangun Kesepakatan Dengan Anak Dirumah

Andiii.....ayo mandii....segera berangkat ke sekolah, bereskan buku-bukumu, kapan waktumu belajar, ayo makannya, jangan berlama-lama kita akan segera berangkat ke sekolah, nanti ayah terlambat ke kantor dan lain-lain yang sering sekali kita mengingatkan kepada anak-anak kita untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangannya. Dalam mengingatkan di atas tentunya kita juga mearasa bosan terus anak harus di ingatkan akan tugas-tugasnya, bahkan kita juga sebagai orang tua kadang jengkel kenapa perkataan kita tidak diperhatikan oleh anak kita, padahal itu untuk kebaikan dia juga agar lebih mandiri dan faham akan tugas bantu dirinya, yang lebih farah lagi anak juga merasa bosan dan bahkan tidak nyaman terus saja bunda, ayah menginga atkanku untuk melakukan ini itu dsb. 

Sering kali banyak orang tua mengeluhkan bahwa ia kesulitan untuk mengingatkan anaknya berangkat sekolah, entah karena mandi, makannya berlama-lama, memakai baju, sepatu, menyiapkan barang keperluaannya tidak segera dilakukannya, padahal orang tua juga harus berangkat kerja ke kantor sehingga setiap pagi sering terjadi konflik kecil yang menyita energi kedua belah fihak (orang tua ataupun anak).

Kejadian ini, sepertinya masalah klasik yang sering dan biasa terjadi dalam sebuah rumah tangga kehidupan pendidikan di rumah, namun orang tua kadang tidak memahami apa yang seharusnya dilakukan. Banyak yang menyikapinya dengan cara yang keras dengan memaksakan kehendak agar anak mengikutinya segera mandi dan berangkat ke sekolah dengan dimandiin, dibantu atau disuruh segera dengan ancaman kecil agar orang tua tidak terbengkalai pekerjaan di kantornya. Ada juga orang tua yang membiarkannya anak yang tidak segera meyelesaikannya dengan cara ditinggalkannya begitu saja ke kantor terserah anaknya mau segera atau tidak.

Seharusnya bagaimana kita menyikapi permasalahan rutinitas yang sering mengganggu kenyamanan hubungan di dalam rumah..?, agar kita merasa tenang dan anakpun senang bisa melakukan tugas-tugas perkembangannya. Yang paling utama anak terbiasa melakukan tugas perkembangan tanpa merasa dipaksakan.

Salah satu cara agar kita bisa melakukan aktifitas dan mendidik anak kita menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya yaitu dengan kontrak / membangun kesepakatan di rumah. Ada beberapa tahapan dalam membangun kesepakatan di rumah :


  1. Tenttukan masalah apa yang akan kita perbaiki dengan anak kita, misalnya anak suka berlama-lama kalau mandi sehingga menyebabkan aktifitas kita sering terlambat. 
  2. Bicarakan dengan anak kita kalau terus seperti ini kita semua akan kesulitan melaksanakan tugas kita masing-masing dan tawarkan bagaimana kalau mandi kamu antara jam sekian sampai sekian.
  3. Berikan poin apabila mandi sesuai jadwal, dan hitung poin tersebut kalau sudah seminggu bisa diberi reward / hadiah yang sesuai dengan kebutuhan anak.
  4. Kurangi poin apabila anak terlambat lagi mandi atau mandi di luar jam yang telah ditentukan.
  5. Terus lakukan dengan konsisten. Kalau sudah satu bulan dengan point sekian bias diberi penguat yang lebih baik misalnya diberikan mainan kesuakaannya dan lainlain.
  6. Pencatatan point bisa dengan gambar atau setiker yang menarik, apabila anak melakukan prestasi maka biarkan ia sendiri yang menempelkannya. 
  7. Pencatatan selalu tertempel terlihat dan mudah dijangkau anak, agar anak merasa bahwa ini merupakan prestasi dirinya.
  8. Kita tidak harus banyak mengingatkan, cukup mengatakan ini waktunya apa..?, Selamat mencoba…..bertahap sesuai kemampuan anak dan juga disesuaikan dengan permasalahan apa yang akan dibiasakan dan dilatihkan. Wallahu a’lam bishowab.


Ditulis Oleh

Author
Adin Suryadin, Psi., M.Si
Team Psikologi BIAS
Nantikan kajian Psikologi Syari'ah berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Pendidikan Untuk Anak Cerdas Berbakat

Anak cerdas berbakat yaitu anak yang mempunyai kemampuan lebih pada beberapa bidang dengan bidang - bidang umum lainnya tidak ketinggalan, misalnya ia pintar musik, mengaji, dan ketrampilan elektronik namun pelajaran matematika, IPA, IPS dan bahasa juga tidak ketinggalan. Anak cerdas berbakat ini kalau kemampuannya di ukur dengan tes inteligensi akan menunjukkan kemampuan yang lebih dari rata-rata kemampuan anak seusianya, kalau kemampuan Inteligensi Quation (IQ) anak yang rata-rata berkisar antara 91 -110, anak cerdas berbakat mempunyai
kemampuan IQ berkisar antara 121 -130. Dengan kemampuan seperti ini anak yang mempunyai kemapuan cerdas berbakat akan lebih cepat dan akan lebih mudah untuk mempelajari materi atau kegiatan apapun apalagi kalau sesuai minatnya akan lebih hebat lagi kemampuan belajarnya.

Orang tua mana yang tidak ingin anaknya mempunyai kemampuan cerdas berbakat..? tentunya hampir semua orang tua mengharapkan anaknya mempunyai kemampuan cerdas berbkat. Berbagai usaha dan stimulasi banyak dilakukan untuk membuat si buah hati jadi anak yang cerdas untuk masa depannya, maka beruntunglah sebagian orang tua yang anaknya mempunyai bakat bawaan sejak lahir sebagai anak yang mempunyai otak yang cerdas.
Memang benar jika kebanyakan anak baru bisa dikatakan jenius atau cerdas atau kemampuan lainnya ketika sudah memasuki usia sekolah. Meskipun demikian ada beberapa ciri atau tanda sejak balita yang dapat menunjukkan apakah buah hati anda mempunyai kecerdasan yang tinggi. Anak yang berusia 2 hingga 4 tahun atau balita mungkin saja merupakan seorang anak yang cerdas berbakat apabila menunjukkan tanda-tanda seperti dibawah ini :

  1. Mempunyai talenta khusus, misalnya seperti kemampuan artistik contoh si kecil bisa menggambar sesuatu dengan cukup jelas, ataupun dalam hal yang berkaitan dengan angka, misalnya dapat berhitung lebih cepat, dan mengingat angka-angka dengan mudah.
  2. Dapat mencapai tonggak perkembangan lebih awal dibandingkan dengan teman seusianya, misalnya lebih cepat berjalannya, dan lebih terampil dalam gerakannya, serta lebih seimbang kordinasi garak badannya.
  3. Kemampuan dalam berbahasa yang sangat baik, contohnya anak mampu berbicara dengan kalimat lengkap lebih awal jika dibandingkan dengan teman sebayanya.
  4. Mempunyai rasa ingin tahu yang cukup tinggi dan tidak pernah bosa untuk mengajukan pertanyaan apabila ada sesuatu yang belum difahaminya.
  5. Sangat aktif (bukan hiperaktif) bergerak dan mempunyai energi yang cukup kuat dengan kontrol gerak yang baik, artinya anak cerdas berbakat aktifnya karena ingin mengetahui terhadap lingkungan sekita dengan setiap gerakannya mempunyai tujuan yang jelas dan konsentrasi yang fokus untuk memperhatikan apa yang ia ingin diketahuinya, sedang anak hiperaktif gerakannya tidak bertujuan dan tidak fokus ke suatu tujuan yang jelas.
  6. Mempunyai imajinasi yang jelas. Biasanya anak berbakat sering menciptakan teman imajiner dan daya fantasi yang tinggi.
  7. Dapat mengingat sesuatu dengan sangat mudah dan menceritakannya  kembali apa yang telah ia pelajari dari buku, TV, ataupun film yang pernah ditontonnya.
  8. Anak cerdas berbakat juga mudah bosan untuk pekerjaan yang bersifat rutinitas yang kurang bervariasi, dan kurang tantangan (monoton).

Ciri-ciri anak cerdas berbakat sejak balita lainnya mungkin cukup sulit untuk dilihat. Ada juga beberapa anak cerdas berbakat yang telah, menyadari bahwa mereka “berbeda” dari teman sebayanya. Hal itu dapat membuat mereka jadi merasa terasing dan kadang juga menjadi sasaran bulying. Beberapa anak berbakat juga sering mengalami rasa prustasi dikarenakan mereka dapat berfikir jauh lebih cepat dibandingkan dengan apa yang dapat mereka ekspresikan, baik itu secara verbal ataupun fisik. Maka dengan  demikian setelah kita bisa mengetahui tentang keberbakatan anak, selanjutnya yang paling penting adalah pendidikan untuk anak cerdas berbakat ini yang membutuhkan perhatian dan penanganan secara serius.

Ada beberapa metode  pendidikan untuk anak cerdas berbakat :

  1. Di sekolah reguler anak cerdas berbakat bisa di ikutkan kelas sesuai kemampuannya (akselerasi), artinya anak yang cerdas berbakat bisa mengikuti pelajaran di kelas 2 tanpa masuk ke kelas satu.
  2. Kelas khusus, anak berbakat menempati kelas khusus dengan grade / tingkatan kelas yang sama dengan kelas reguler lainnya hanya di kelasnya penuh dengan pengayaan materi sesuai kemampuan dan minat bakatnya.
  3. Bergabung dengan kelas reguler pada umumnya, namun setelah selesai belajar reguler anak cerdas berbakat mendapatkan waktu tambahan untuk belajar.
  4. Sekolah khusus, anak cerdas berbakat mengikuti di sekolah khusus yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak cerdas berbakat tersebut.
  5. Home schooling, anak cerdas berbakat bersekolah di rumah dimana pelayanan pendidikan di sesuaikan dengan keunikan anak, sehingga apa saja bisa diberikan seusia dengan kebutuhan anak dibawah kendali rumah (orang tua).

Wallahu a’lam bishowab...........


Ditulis Oleh

Author
Adin Suryadin, Psi., M.Si
Team Psikologi BIAS
Nantikan kajian Psikologi Syari'ah berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

MOMENTUM BULAN RAMADHAN UNTUK MENDIDIK ANAK KITA

Pendidikan merupakan tulang punggung dalam membentuk karakter anak. Dalam pendidikan ada tiga hal yang sangat penting yang berpengaruh dalam membentuk karakter anak. Pertama, pendidikan di rumah yang tentunya dikepalai oleh orangtua. Kedua, pendidikan di lingkungan sekolah. Ketiga, pendidikan di lingkungan masyarakat.

Semua komponen ini harusnya bersinergi dan saling mendukung untuk membentuk karakter anak, namun kenyataannya hal ini sangat sulit terjadi. Keadaan di rumah kadang tidak sesuai dengan kondisi di sekolah dan di lingkungan masyarakat sekitar anak kita. Sehing
ga orangtua di era sekarang ini kesulitan membentuk pribadi anak yang diharapkannya.

Bulan Ramadhan merupakan bulan tarbiyah ( pendidikan ) dimana pada bulan ini diwajbkan pada seluruh umat Islam yang beriman untuk berpuasa menahan diri dari makan dan minum sehari penuh, menahan hubungan suami istri di siang hari, serta menahan perkataan dan perilaku yang negatif. Dengan demikian di bulan Ramadhan ini hampir disetiap sendi kehidupan tercipta suasana lingkungan yang kondusif untuk mendidik dan membentuk karakter anak. Kemaksiatan di bulan Ramadhan ini biasanya agak berkurang dan cenderung lebih tersembunyi, jiwa-jiwa kesabaran dan pemaaf dari setiap orang lebih terbuka, silaturahim dan saling bersodaqoh lebih meningkat, sehingga stimulasi pendidikan akan mudah diterima oleh setiap orang.

Momentum inilah yang bisa kita ambil hikmah sebagai orangtua untuk melakukan perbaikan, perubahan dalam sistem pendidikan untuk kita sebagai orangtua dan tentunya juga untuk anak-anak kita agar bisa lebih baik dalam aqidah, ibadah dan akhlaknya. Karena di bulan Ramadhan ini ketiga aspek yang mempengaruhi pembentukan karakter pada anak yaitu lingkungan masyarakat, sekolah dan kondisi di rumah lebih bersinergi dan kondusif sehingga akan lebih mudah proses pendidikan di bulan Ramadhan ini dalam rangka pembentukan karakter yang beraqidah shohihah, beribadah dan berakhlak mulia.

Apa dan bagaimana yang bisa kita lakukan sebagai orangtua dalam memanfaatkan momentum bulan Ramadhan ini untuk merubah dan memperbaiki, pendekatan dalam mendidik anak-anak kita? Dibawah ini ada beberapa tips dan langkah sederhana yang bisa kita lakukan dengan anak-anak kita di rumah, yaitu :

  1. Langkah pertama dalam rangka menyambut Ramadhan kita bisa mengumpulkan semua anggota keluarga kita ( keluarga primer : ayah, bunda dan anak-anak ) pada suatu tempat favorit keluarga dan adakan acara pengajian kecil, berbincang kecil dari hati ke hati, sambil makan bersama.
  2. Dalam acara tersebut kita sebagai orangtua bisa mengatakan mohon maaf apabila ada kesalahan selama mendidik anak-anak, kemudian sedikit tausiyah dengan memberikan nasihat ringan untuk anak-anak kita, dan harapan orangtua untuk anak-anak bisa disampaikan juga sebagai tujuan dari proses pendidikan selama bulan Ramadhan nanti.
  3. Buatlah agenda kegiatan bersama selama bulan Ramadhan ( yang berifat kesepakatan / kontrak ) di rumah mulai dari sholat tarawih, sahur bersama, kuliah subuh, pengajian sebelum buka bersama, buka bersama, membaca al-Qur’an, belajar mandiri dan lain-lain.
  4. Untuk memotivasi anak-anak kita bisa dibuatkan reward dengan point-point penilaian seperti stiker, bintang, cap jempol, angka atau lainnya untuk sebuah prestasi di bulan Ramadhan. Misalnya, si kecil kita ( usia TK – kelas 2 SD ) bisa berpuasa setengah hari dapat satu point yang ditempelkan, kalau puasa penuh sehari dapat dua stiker. Setelah satu bulan point itu bisa dihitung untuk diberikan hadiah sesuai jumlah pointnya. Point ini bisa dilakukan untuk perilaku lainnya.
  5. Adakan perayaan kecil di Hari Raya untuk kemenangan kita telah melakukan pendidikan di bulan Ramdhan dan lanjutkan terus untuk kegiatan yang positif setelah bulan Ramadhan.


Dalam pelaksanaan kesepakatan di atas bisa menyesuaikan dengan kondisi setiap keluarga masing-masing.

Untuk lebih memperjelas orangtua dalam membuat kesepakatan kegiatan selama bulan Ramadhan, dibawah ini saya berikan contoh jadwal kegitan dan proses penilaian :



Keterangan :

  • Sholat berjamaah dapat 2 bintang, sholat sendiri 1 bintang.
  • Puasa penuh dapat 2 bintang, setengah hari 1 bintang.
  • Mengikuti kegiatan sampai selesai dapat 2 bintang, belum selesai sudah pulang dapat 1 bintang.


Jam bisa meyesuaikan, kegiatan bisa ditambah atau dikurangi sesuai keadaan keluarga masing-masing. Mudah-mudahan kita semua bisa diberi kemudahan dalam melaksanakan ibadah puasa sekaligus mendidik keluarga kita.
Wallahu a’lam bishshowab.

Menjadi Orang Tua Yang Bijak di Era Digital - Bagian 1

Di era digital ini boleh jadi kita lebih memilih ketinggalan dompet di rumah daripada smartphone atau tablet digital. Perangkat gadget yang terkoneksi dengan internet telah begitu mempengaruhi aktifitas dan gaya hidup hampir setiap orang, terutama di daerah perkotaan. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan jumlah pengguna internet di tahun 2013 mencapai 71.19 juta, meningkat 13% dibanding 2012. "Penetrasi jumlah pengguna internet terus meningkat, saat ini mencapai 28 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang 248 juta orang," kata Ketua Umum APJII, Semuel A. Pangerapan (Januari 2014). Bila demikian data secara umum di Indonesia, bagaimana di kalangan anak dan remaja? Sebagai kelompok umur yang adaptif terhadap teknologi, golongan anak-anak dan remaja tentunya juga menjadi bagian terdepan dari gelombang perubahan jaman ini.

PERKEMBANGAN PESAT INTERNET DI KALANGAN ANAK DAN REMAJA DI INDONESIA DAN DAMPAKNYA

minato - naruto - kushina
Fenomena penggunaan internet di kalangan anak dan remaja telah diteliti oleh UNICEF, lembaga PBB untuk anak, bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Berkman Center for Internet and Society dan Universitas Harvard, AS pada tahun 2014 dengan tajuk "Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia". Studi ini menelusuri aktifitas online dari sampel anak dan remaja yang melibatkan 400 responden berusia 10 sampai 19 tahun di seluruh Indonesia dan mewakili wilayah perkotaan dan pedesaan.

Studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dan digital menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia. Sebanyak 98% dari anak dan remaja mengaku tahu tentang internet dan 79,5% di antaranya adalah pengguna internet. Penelitian ini memprediksi pengguna internet yang berasal dari kalangan anak-anak dan remaja mencapai 30 juta orang di tahun 2014.

Tercatat juga adanya kesenjangan digital yang kuat antara anak dan remaja yang tinggal di perkotaan dengan yang tinggal di pedesaan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta dan Banten, misalnya, hampir semua responden merupakan pengguna internet. Sementara di Maluku Utara dan Papua Barat, kurang dari sepertiga jumlah responden telah menggunakan internet.

Ada tiga motivasi bagi anak dan remaja untuk mengakses internet, yaitu untuk mencari informasi, untuk terhubung dengan teman (lama dan baru) dan untuk hiburan. Pencarian informasi yang dilakukan sering didorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan konten hiburan didorong oleh kebutuhan pribadi.

Hampir semua responden dari penelitian tersebut tidak setuju terhadap isi pornografi di internet. Namun toh mereka tetap terpapar dengan konten pornografi, terutama yang muncul secara tidak sengaja atau dalam bentuk iklan yang bernuansa vulgar. Lebih dari separuh responden (52%) terpapar konten pornografi via iklan vulgar maupun situs yang tidak mencurigakan ketika sedang membuat tugas. Hanya 14% yang mengaku mengakses situs pornografi secara sukarela.

Tidak ada orang tua normal yang menginginkan anaknya menonton pornografi. Itu berarti kita tidak boleh lengah. Setiap anak baik itu yang masih kecil dan polos maupun remaja, begitu mereka memiliki akses ke internet itu berarti mereka berpotensi terpapar konten pornografi.

Berdasarkan riset yang dilaksanakan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) sejak tahun 2008 hingga 2010, sebanyak 67% dari 2.818 siswa sekolah dasar (SD) kelas 4, 5, dan 6 di wilayah Jabodetabek mengaku pernah mengakses konten pornografi. Sebanyak 37% diantaranya mengakses dari rumah sendiri, sementara 11% dari rumah teman. Hal ini berarti hampir 1 dari 2 anak kita melihat pornografi dari rumah sendiri.

Menurut Ibu Elly Risman, pakar psikologi, ada berbagai alasan anak melihat pornografi: iseng (21%), penasaran (18%), terbawa teman (9%), dan takut dibilang kuper (3%). Fakta yang lebih menyedihkan adalah 24% dari anak-anak itu merasa biasa saja melihat pornografi. “Jadi bisa ditanyakan sejak usia berapa anak-anak itu mulai melihat pornografi,” tutur beliau.

Di tahun 2013 angka ini meningkat drastis. Ada 95% siswa mengaku pernah mengakses konten pornografi. Penelitian dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di tahun 2014 juga menunjukkan bahwa 90% anak terpapar pornografi internet saat berusia 11 tahun.

Data Komnas Anak Indonesia menunjukkan bahwa di tahun 2014 Indonesia merupakan pengguna internet terbesar ke-3 dunia yaitu sebanyak 89 juta orang. Yang menyedihkan, 50-45 juta dari pengguna tersebut mengakses pornografi dengan 38% adalah adalah dari kalangan anak dan remaja. Itu artinya ada 17 sampai 19 juta anak dan remaja Indonesia telah mengakses konten pornografi melalui internet di Indonesia pada tahun 2014. Adakah putra-putri kita di antara mereka?

Pornografi memiliki banyak cara dalam membahayakan anak. Efek dari pornografi bersifat progresif yaitu terus-menerus dan adiktif bagi banyak orang. Sekali terkena paparan pornografi mungkin tidak secara otomatis menyebabkan anak mengalami penyimpangan atau menjadi pecandu seks. Namun karena pornografi memiliki banyak sekali pintu masuk, yaitu bisa saja di rumah, sekolah, rumah, warnet, gadget dan sebagainya maka paparan yang berulang pada akhirnya bisa membawa kerusakan yang serius. Penting sekali bagi kita untuk melihat bahwa banyak cara pornografi yang berpotensi membahayakan anak-anak kita.

MENGENAL OTAK DAN PERKEMBANGANNYA

Otak dibentuk sejak kita masih dalam kandungan. Perkembangannya dapat dilihat sejak janin berusia tiga minggu, dan terus berkembang dengan lahirnya bayi. Pematangannya terjadi kira-kira di usia pertengahan 20 tahunan. Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan seluruh aktifitas. Di dalam otak terdapat 100 juta sel syaraf. Terdapat koneksi antar sel syaraf ini yang disebut sinap. Sinap atau hubungan antar sel syaraf ini terus bertumbuh dan diperkuat atau dipangkas sesuai dengan rangsangan input pengetahuan dan pengalaman. Terdapat masa emas pertumbuhan sinap hingga anak usia 2 tahun memiliki setengah jumlah sinap orang dewasa (Nasional Institute of Mental Health).

Korteks adalah adalah bagian otak yang berfungsi aktif, termasuk untuk berfikir dan menyimpan memori. Pertumbuhan korteks meningkat di masa kanak-kanak, kemudian sesuai dengan pertumbuhan kematangan, maka makin menebal kemudian menurun. Volume otak mengalami peningkatan tertinggi selama masa remaja awal (pra-baligh), yaitu kira-kira usia 11 tahun untuk putri, 12 tahun untuk putra.

Pada masa masa pra dan awal baligh itulah terjadinya pertumbuhan pesat koneksi antar sel neuron, dan sel syaraf mengembangkan myelin, lapisan pelindung agar sel syaraf terbantu berkomunikasi. Sementara pemangkasan terhadap koneksi yang tidak diperlukan belum terjadi. Perubahan mendasar ini membuat koordinasi pikiran, tindakan dan perilaku remaja belum berimbang.

Selain itu, para ilmuwan mengidentifikasi amigdala sebagai bagian otak yang bertanggung jawab atas perilaku yang bersifat insting seperti rasa takut atau agresifitas. Bagian ini berkembang terlebih dahulu dibandingkan dengan area pengendali utama (korteks lobus frontalis atau Pre-Frontal Cortex (PFC)). Ketika seseorang memasuki usia baligh, terjadi ledakan-ledakan hormon pada amigdala. Di lain pihak, PFC sebagai area pengendali moral dan nilai, pengembilan keputusan, kontrol diri belum berkembang sempurna. Jadi sebelum PFC sempurna, otak emosi berkembang terlebih dahulu. Inilah yang menjelaskan perilaku remaja yang cenderung lebih cepat bertindak, mendahului pemikiran untuk menimbang resiko dan konsekuensi.

PENGARUH PORNOGRAFI PADA OTAK DAN RESIKO ADIKSI

Perilaku manusia cenderung kepada pencarian kesenangan dan kenyamanan. Perilaku ini dipandu oleh hubungan antar sinap melalui neurotransmiter, yaitu pembawa pesan antar sinap. Salah satunya adalah dopamin, suatu neurotransmiter yang menimbulkan sensasi rasa senang, nyaman dan bahagia. Misalnya ketika kita memakan sesuatu yang lezat, maka dopamin akan segera melakukan tugas penghubung antar sinap. Bermilyar sinap akan berpendar menyebarkan impuls senang yang berputar di pusat emosi: amigdala.

Apa yang terjadi bila anak terpapar gambar pornografi secara tidak sengaja? Gambar pornografi yang diterima oleh mata, cukup dalam 3/10 detik saja, akan mentriger keluarnya dopamin di amigdala. Bisa dibayangkan bila anak melihat gambar tersebut selama 1 menit, 10 menit… dan seterusnya. Akan terjadi banjir dopamin di otak yang menimbulkan kekacauan neurotransmiter, yang dapat berakibat pada susutnya sel penerima pesan. Hal ini dalam jangka panjang akan menyebabkan peningkatan kebutuhan “dosis”. Lama-lama anak akan merasa “kosong” atau “mati rasa” dan akan membutuhkan adegan yang lebih intens atau lebih lama untuk mendapatkan sensasi rasa senang yang sama.

Hal ini seperti lingkaran setan yang dalam jangka panjang akan menyebabkan gangguan menetap yaitu penyusutan lobus frontal (PFC) yang dapat bersifat permanen. Sebagai penanggung jawab fungsi kontrol moral dan nilai, rusaknya PFC berarti anak akan mengalami kerusakan system nilai, ia akan biasa saja terhadap hal buruk atau disebut desentisasi. Dan dengan menyusutnya PFC, berarti terjadi juga penurunan fungsi pengambilan keputusan. Anak akan mengalami kesulitan untuk membuat keputusan terhadap tindakan-tindakan yang akan diambilnya.

Adanya dopamin di amigdala akan mentriger keluarnya hormon norepinephrine, yang terkadang disebut hormon noradrenalin. Hormon ini bertanggung jawab atas focus dan asosiasi. Paparan pornografi yang dilihat anak akan selalu terbayang-bayang secara detil detik perdetik. Ini akan menyebabkan gangguan pada kemampuan focus anak dan dapat berakibat pada perilaku kompulsif.

Hormon yang selanjutnya adalah oksitosin, hormon “bonding” yang pertama kali diidentifikasi pada bayi yang dipeluk oleh sang Ibu. Oksitosin disebut juga hormone “bonding” atau jalinan kasih sayang yang akan keluar ketika seseorang berpegangan, berpelukan atau berciuman. Hormon inilah yang akan mentriger keluarnya ASI pada Ibu yang sedang memeluk bayinya. Hormon inilah juga yang akan berpendar-pendar di system syaraf pada saat hubungan suami istri mencapai puncaknya. Dapat dibayangkan apa akibatnya bila anak kita punya keterikatan, “bonding” dengan pornografi. Akan terjadi desentisasi atau mati rasa terhadap hal-hal yang normalnya menimbulkan sensasi senang yang layaknya akan didapatkan bila ia berhubungan dengan manusia lain. Hal ini dapat menyebabkan perubahan perilaku pada anak terutama bila sudah pada tahap adiksi.

Hormon terakhir adalah serotonin, hormon pengatur suasana hati. Setelah oksitosin keluar pada saat sensasi puncak, keluarlah serotonin yang akan menimbulkan sensasi ketenangan, kepuasan dan lepasnya ketegangan. Dengan ketergantungan keluarnya serotonin dengan paparan pornografi, anak akan menjadi sulit lepas darinya. Ini dapat mempengaruhi nafsu makan, pola tidur, kemampuan otak anak untuk menyimpan memori dan belajar.

Begitulah kerusakan yang bisa terjadi pada otak dan diri anak-anak kita bila mereka terpapar dengan pornografi. Hingga Bu Elly Risman dalam makalahnya

“Memahami Dahsyatnya Kerusakan Anak Akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia ” mengatakan, “Tidak perlu Bom untuk menghancurkan Indonesia.”

Resiko apa lagikah yang dapat diakibatkan oleh pornografi? Masihkan kita sebagai orang tua merasa tenang karena anak-anak anteng di depan layar masing-masing sementara kita mengerjakan sesuatu atau juga kita sibuk dengan gadget kita sendiri? Bagaimanakah perilaku orang pada umumnya pada jaman digital ini? Di lain pihak, bagaimanakah penemuan para peneliti untuk paparan layar gadget pada anak-anak kita?
(BERSAMBUNG ke bagian 2)

Ditulis Oleh

Author
Ir. Andari Harnito, MBA
Dosen STAI Terpadu Jogja
Nantikan artikel berikutnya dari STAIT Yogya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Mendidik anak untuk mudah bersosialisasi dengan teman dan lingkungan

Pada suatu hari saat Adi bersama ibunya masuk di sekolah baru, Adi yang masih berusia 3 tahun terus berada di belakang ibunya dengan memegangi baju dan sesekali saat didekati teman-temannya yang sudah berada di sekolah tersebut maka Adi akan memukulkan tangannya ke arah teman yang ingin berkenalan dengannya, fenomena demikian lumayan sering kita jumpai di saat-saat pendaftaran siswa baru di playgroup atau taman kanak-kanak, hal ini tentunya sangat menggelisahkan orang tua dan juga membuat jengkel teman-temanya yang berniat baik ingin berkenalan juga para guru akhirnya mendapatkan “PR” baru karena keadaan tingkah laku anak tersebut, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa anak masih usia tahun berperilaku sudah memiliki rasa malu atau ketakutan, padahal semestinya anak usia 3 tahun mereka akan ceria, mereka akan tidak terpengaruh oleh lingkungan.

Hal ini semua tidak lepas dari pembiasaan sikap yang dilakukan oleh orang tuanya maupun orang tua terhadap anaknya tersebut, anak yang memiliki karakter demikian biasanya diawali saat dia berusia kurang lebih 20 bulan dimana orang tua kemungkinan terbiasa :

1. Manakut-nakuti anak, contoh kasus :
Anak ketika tidak mau menuruti perintah orang tua maka orang tua mengatakan : ( awas lhoo...nanti disuntik pak dokter, nanti dipegang pak polisi, nanti dijemput orang gila dan lain-lain ).

2. Protektif
Orang tua selalu memenuhi kebutuhan anak dengan nyaris sempurna misalkan susu dibotol selalu tersedia 5 botol dengan tujuan agar saat anak menginginkan susu, maka susu bisa langsung tersedia. Segala permintaan anak selalu dituruti karena khawatir jangan sampai anak itu menangis.

3. Sering dicegah atau dilarang.
Orang tua biasanya akan tidak mampu membiarkan anaknya berbuat sesuai dengan usianya, jika anak itu masih balita khususnya usia 2 – 4 tahun pastilah banyak yang ingin dicoba diamati dilakukan oleh anak ( masa eksplorasi ) biasanya orang tua ketika anak meloncat-loncat, berlari, naik tangga memegang benda-benda yang menurut anak itu menarik maka orang tua akan serta merta menarik atau membentak atau melarang anak dengan nada spontan sehingga menjadikan saraf-saraf otak yang baru akan mencoba melakukan hal-hal baru menjadi aus ( gagal untuk bertaut dengan syaraf-syaraf yang lain ).

4. Karakter orang tua. 
Jika orang tuanya adalah orang yang pemalu, tidak biasa berbicara didepan kelompok manusia atau orang tua yang kurang bergaul dilingkungannya ini akan berefek juga kepada sikap anak-anak.

Keempat hal diatas diantaranya yang menjadikan sebab pada anak untuk tidak berani menampilkan dirinya dan menolak keramahan teman-temannya karena hal-hal diatas itu bagi anak akan direspon sesuai dengan kapasitas berfikir mereka diantaranya dimulai :

a. Jika orang tua atau lingkuangan terbiasa menakut-nakuti maka karena anak tidak bisa memilah serius atau guyonan maka “menakut-nakuti” bagi anak akan direspon serius bahwa semua orang yang tidak dikenal akan menakutkan termasuk saat anak bertemu dengan anak atau guru yang baru ditemui disekolah barunya sehingga agar anak bisa nurut terhadap segala yang kita anggap bahaya atau tidak baik untuk anak cukuplah orang tua memberikan alasan yang bisa diterima akal si anak.

b. Yakni protektif maka yang muncul dari anak adalah pemikiran ketika dia tidak berposisi dirumah pastilah fasilitas tidak akan seenak dirumah sehingga yang perlu kita netralkan kepada anak adalah latihan-latihan dirumah agar anak dapat melihat masalah hidup itu dengan berbagai sudut pandang, diantaranya ada hal yang bisa tercukupi dan ada juga hal-hal yang tidak bisa terpenuhi sehingga orang tua bisa melatih berupa pembuatan susu dilakukan setelah anak meminta, agar anak berlatih untuk menahan emosi dengan menunggu proses pembuatan susu

c. Perilaku mencegah anak juga akan mempengaruhi perkembangan otak anak sehingga anak mudah merasa asing terhadap lingkungannya karena anak sudah merasa ketakutan bersikap karena khawatir mendapatkan celaan dari orang tuanya sehingga yang bisa kita lakukan apapun yang dilakukan oleh anak-anak sepanjang tidak berbahaya dan tidak melanggar adab lingkungan sebaiknya orang tua membiarkannya agar anak tumbuh kepercayaan dirinya karena tidak sering mendapatkan celaan atau larangan dari orang tua dan lingkunganya.

d. Adapun karakter bawaan orang tua yang kurang bisa bergaul atau berkomunikasi dengan kelompok atau lingkungan maka dari fihak orang tuapun mesti berusaha untuk berubah karena anak-anak kita pastilah akan menangkap gelagat yang dimiliki oleh orang tuanya dan si anak pun sedikit atau banyak akan menirunya.

Dimikianlah beberapa sebab dan sekaligus cara mengatasinya agar anak lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungannya, karena bagaimanapun juga ketika anak mengalami kesulitan bersosialisasi maka, kemampuan-kemampuan yang lain diantaranya kognitif ( kecerdasan, kepercayaan diri, kreatifitas ) juga akan terhambat.


Ditulis Oleh

Author
Ade Yari Choirun Nisa
Psikologi anak
Nantikan tulisan Psikologi anak berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Gangguan Konsentrasi Hiperaktivitas Pada Anak

Majalah Sinaran
Hal. 18 - 20
Di pagi hari yang cerah di musim hujan, aktifitas suatu sekolah dasar di pagi hari itu cukup sibuk dengan kegiatan belajarnya, ada yang dengan tekun belajar di dalam kelas, ada yang sebagian belajar di halaman kelas dengan didampingi ustadzahnya, dan ada juga yang sibuk keliling ruangan kelas mengobservasi lingkungan sekolah dengan pengarahan ustadznya. Namun saya melihat dua anak lari-lari dan beraktifitas sendiri tidak mengikuti kegiatan belajar yang ada, lalu saya tanya sedang apa mas kok di sini? Jawabnya sedang bermain pak, kok nggak sama temannya?, bosan pak gitu-gitu saja belajarnya, aku ingin lari-lari sendiri lihat kesana kemari, banyak ini itu….katanya.

Kemudian saya tanyakan sama ustadzahnya, “ kenapa ust. kok dua anak itu bermain sendiri tidak ikut kegiatan belajar di kelas bersama temannya ?. “ Ustadzah itu pun menjawab, “itu pak dua anak itu sulit untuk duduk berlama-lama, suka usil ganggu teman di kelas, pekerjaan sekolah jarang selesai, sering keluar kelas bermain-main sendiri melihat-lihat lingkungan sekitar yang meyenangkan sehingga sering menghilang dan kabur beberapa jam pelajaran maka prestasi belajarnya tertinggal.” Setelah saya tanyakan bagaimana belajar di rumah, ternyata dua anak tersebut sulit belajar dengan tertib, apa yang di ingat mudah lupa, saat sedang belajar sering terganggu suara-suara dari luar, kadang dia hanya diam, bengong saja tidak melakukan kegiatan apa-apa.

Itulah sekelumit kasus perilaku anak yang mengalami gangguan konsentrasi yang menyebabkan prestasi belajar anak tertinggal dan bahkan anak seperti ini sering di cap anak nakal, tidak mau mengikuti aturan, usil mengganggu teman dan lain-lain. Apa dan bagaimana anak yang mengalami gangguan konsntrasi?

Anak yang mengalami ganguan konsentrasi ditandai dengan kesulitan bertahan pada satu aktifitas ( mudah bosan ), pada saat belajar mudah terdistruksi atau terganggu hal-hal lain di sekitar tempat belajar, sering melamun dan bengong, mudah lupa, belajar tidak mandiri (sering bertanya dan minta bantuan), dan sering kehilangan barang yang dibutuhkan, anak yang mengalami gangguan konsentrasi sering tidak mengikuti instruksi dan sering tidak mendengarkan apabila orang lain sedang bicara padanya, selain itu anak yang mengalami gangguan konsentrasi sering menghindar dari tugas-tugas yang membutuhkan perhatian lama dan kesulitan mengatur jadwal, tugas dan kegiatan sehingga tugas-tugas sering tidak selesai.

Ada dua jenis gangguan konsentrasi pada anak, pertama gangguan konsentrasi tidak disertai dengan hiperaktifitas, pada gangguan konsentrasi ini anak sering diam bengong melamun, mudah lupa pelajaran, dan banyak beraktifitas sendiri, sedangkan gangguan konsentrasi yang kedua disertai denga Hiperaktifitas yang terkenal dengan nama ADHD ( Atention Deficite Hiperaktif Disorder ). Gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas ditandai banyak gerak pada anak yang berlebih-lebihan yang tidak bertujuan dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Adapun ciri perilaku anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas adalah sebagai berikut :

  1. Impulsivitas, yaitu anak tidak sabaran menunggu sesuatu, tidak sabaran untuk selalu berkata-kata, menyela dan tidak bisa antri.
  2. Sering memberikan jawaban sebelum pertanyaan selesai, dan sering memotong pembicaraan orang lain.
  3. Anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas cenderung agresif menyerang teman, bisa berupa kata-kata atau bahkan serangan berupa fisik misalnya memukul dan usil pada temannya.
  4.  Sembrono, anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas sering melakukan tanpa fikir panjang.
  5. Sering berteriak di kelas dan permintaan harus segera dipenuhi, kalau ada sedikit tekanan misalnya permintaan tidak dipenuhi anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas mudah frustasi dan putus asa.
  6. Sulit duduk diam, dan apabila dipaksakan untuk duduk diam anak yang mengalami gangguan konsntrasi dan hiperaktifitas sering menggerak-gerakkan kaki pada saat diam dan menggeliat-geliat seolah tidak tahan untuk duduk diam.
  7. Mengalami kesulitan untuk kegiatan yang tenang, misalnya kegiatan upacara, baris berbaris dan sebagainya. 
  8. Anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas bergerak seolah-olah ada motor penggerak diluar kesadarannya sehingga kesulitan untuk mengontrol geraknya misalnya sedikit-sedikit berlari dan sering naik pohon.

Seandainya perilaku anak kita banyak kesamaan dengan ciri-ciri di atas besar kemungkinan anak kita mengalami gangguan konsentrasi, sebelum diperiksakan ada beberapa tips untuk mendidik anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas :

  1. Latih anak dengan pembiasaan berupa jadwal harian secara tertulis mulai dari bangun tidur, sekolah bermain sampai tidur lagi secara detail, juga jadwal perhari senin sampai minggu, serta jadwal mingguan dan bulanan. 
  2. Ada ruangan khusus belajar di rumah secara tersendiri yang bebas dari distruksi. 
  3. Berikanlah pelajaran secara bertahap dan per materi, misalnya pada saat belajar matematika berikanlah secara bertahap dan jangan diberikan pelajaran yang lain (sehari satu tema pelajaran) 
  4. Ruangan belajar sebaiknya polos (tidak banyak gambar-gambar yang menarik perhatian) dan dengan warnah teduh misalnya hijau daun yang cerah. 
  5. Biasakan selalu berdoa secara khusus sebelum dan sesudah belajar, karena dengan berdoa otak anak dalam kondisi alfa yang terlatih memperkuat syaraf-syaraf otak untuk tenang dan fokus. 
  6. Di dalam kelas anak yang mengalami gangguan konsentrasi dudukkan di depan sebelah kanan, karena dengan demikian anak akan sering melihat langsung ke depan sebelah kiri anak. Secara umum penglihatan ke sebelah kiri lebih mudah dilakukan anak dari pada ke sebelah kanan. 
  7. Lakukan gerakan senam otak 2 - 3 menit sebelum pelajaran di mulai. 

Setelah kita melakukan pembimbingan belajar secara intensif dengan menggunakan tips-tips di atas ternyata belum ada perkembangan setelah tiga bulan maka sebaiknya anak yang mengalami gangguan konsentrasi dan hiperaktifitas diperiksakan kepada Psikolog untuk dilakukan assesment seberapa besar tingkat gangguan konsentrasinya serta untuk mendapatkan program terapi Sensori Integrasi dan terapi Okupasi secara tepat. 

Wallahu a’lam bish-showaab.

Ditulis Oleh

Author
Adin Suryadin, Psi., M.Si
Team Psikologi BIAS
Nantikan kajian Psikologi Syari'ah berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com