أولئك الذين اشتروا الضلالة بالهدى فما ربحت تجارتهم وما كانوا مهتدين
“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”. (QS. Al-Baqarah [2]: 16)
Orang orang munafik telah mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk. Artinya mereka sudah mendapatkan petunjuk, di hatinya sudah ada iman akan tetapi karena kepentingan nafsunya mereka mengingkari beberapa hal dalam syari’at Islam sehingga menjadikan imannya rusak, dan jadilah mereka orang-orang yang tersesat. Itulah yang disebut dengan membeli kesesatan dengan petunjuk.
Allâh memberi penjelasan dalam QS AN NISSA’ : 137-138
إن الذين آمنوا ثم كفروا ثم آمنوا ثم كفروا ثم ازدادوا كفرا لم يكن الله ليغفر لهم ولا ليهديهم سبيلا، بشر المنافقين بأن لهم عذابا أليما
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (QS. An-Nisâ’ [4]: 137-138)
Yang dimaksud ayat ini bukan orang yang murtad kemudian kembali kepada Islam, kemudian murtad lagi, dan kembali kepada Islam lagi, bukan! Akan tetapi orang-orang beriman yang mengingkari beberapa ayat dalam al-Qur’an, sebagaimana pembahasan munafik di ayat-ayat sebelumnya. Yang dengan begitu akan menjadi semakin bertambah kekafirannya.
Beberapa mufassirin menyimpulkan bahwa orang-orang munafik itu menyimpang dari petunjuk dan jatuh ke dalam kesesatan. Atau mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk.
Ancaman Allâh bagi orang-orang yang tersebut di atas adalah :
- Karena termasuk orang-orang kafir, maka Allâh tidak akan mengampuni dosa-dosanya.
- Akan merugi perniagaannya, apapun yang diupayakan ketika di dunia tidak akan memberikan keuntungan kelak di akhirat.
- Yang jelas akan mendapat adab yang sangat pedih.
1. MENGGANTI SUNNAH, DENGAN BID’AH
Keadaan bisa kita lihat saat ini, mayoritas umat Islam lebih menyukai bid’ah daripada menghidupkan sunnah Rasûlullâh SAW. Padahal jauh-jauh Rasûlullâh SAW telah berpesan dalam hadist diriwayatkan Malik :
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه
"Aku tinggalkan dua perkara pada kalian, kalian tidak akan pernah tersesat apabila berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allâh dan Sunnah NabiNYA”
Akan tetapi rupanya mayoritas umat Islam melupakan pesan nabi tersebut, sehingga bid’ah bahkan kemusyrikan kian merajalela di tengah tengah masyarakat. Yang lebih tragis mereka beranggapan sedang menjalankan sunnah, sehingga tersesat akan tetapi tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya jauh dari tuntunan sunnah Rasûlullâh SAW.
Ketika umat Islam lebih suka kepada bid’ah, maka akan sulit diseru untuk kembali kepada sunnah. Sebagaimana sinyal yang disabdakan Rasûlullâh SAW
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
“Kalian pasti akan mengikuti jalan beragama umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke liang biawak, pasti kalian menempuhnya. Kami bertanya : Yahudi dan Nasrani wahai Rasûlullâh ? Beliau menjawab : siapa lagi ?
(HR Bukhory dari Abi Sa’id RA)2. MEMBUAT FIRQOH, MELEPAS DARI JAMA’AH,
Dalam istilah Aqidah yang dimaksud jama’ah adalah masyarakat sahabat, seperti yang dijelaskan dalam hadist
وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي.
“Ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semua masuk neraka kecuali satu golongan, siapakah mereka ? dijawab apa yang ada di jamanku dan sahabatku”
Sedangkan jama’ah dalam Al Qur’an disebut dengan SABILUL MUKMININ, yaitu jalannya orang-orang beriman, seperti yang tersebut dalam QS AN NISSA’ : 115
ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا
Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisâ’ [4]: 115)
Maka keluar dari jama’ah artinya keluar dari manhaj Sahabat dan menjadi kelompok SESAT , seperti yang dilakukan oleh orang-orang KHAWARIJ, SYI’AH, JAM’IYAH/ MU’TAZILAH, ASYARIYAH dan kelompok AHMADIYAH.
3. MENCARI JALAN SESAT, MELEPAS PETUNJUK
Yang pokok dari jalan sesat adalah meninggalkan SUNNAH, dan lebih memilih BID’AH. Sehingga semakin dijauhkan dari petunjuk jalan yang benar.
4. MEMILIH KEHIDUPAN YANG KACAU, MELEPAS RASA AMAN
Orang-orang yang tersesat lebih memilih cara dan keadaan hidup yang kacau balau daripada sistem hidup yang aman. Mestinya naluri manusia tidak mau hidup yang kacau dan tidak aman, akan tetapi karena pandangan hidupnya sudah jauh dari nilai sunnah maka tidak biisa menemukan jalan dan sosok yang bisa dijadikan uswah untuk menuju jalan hidup yang aman, tentram dan tidak kacau. Namun anehnya ketika diajak hidup dengan pola Sahabat, Salafush Sholeh, mereka menolak.
Padahal sejarah telah mencatat dengan tinta emas atas keberhasilan yang gemilang masyarakat Sahabat, seperti yang digambarkan Allah dalam QS AT TAUBAH : 100
والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allâh dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah [9]: 100)
Yang terpenting dalam masyarakat sahabat adalah kesamaan Aqidah, yaitu Aqidah shohihah yang murni dan tidak tercampuri dengan kemusyrikan sedikitpun. Itulah yang menjadi kekuatan pokok dari tegaknya masyarakat Sahabat. Meski mungkini terjadi perbedaan, namun masih mempunyai Aqidah yang sama maka tidak akan terjadi perpecahan umat.
Pada jaman sahabat sudah mulai muncul kelompok-kelompok yang menyimpang, semisal Syi’ah, Khawarij tapi karena masyarakat Islam saat itu kuat dengan Aqidah yang lurus maka keberadaan kelompok-kelompok menyimpang tidak akan mengganggu stabilitas masyarakat Islam.
Namun ketika umat Islam mulai terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran menyimpang, umat Islam meninggalkan pola hidup Sahabat, Aqidah sudah tercampur dengan paham tasawwuf, maka yang terjadi adalah kekacauan hidup. Umat Islam semakin lemah, tidak mempunyai kekuatan, tidak lagi menjadi bangsa yang ditakuti, bahkan justru menjadi bangsa yang tertindas dan tunduk dengan orang kafir.
Allâh tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang lebih memilih kepada jalan kesesatan.
Allâhu ‘alam bishshowab
Produk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
Kader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
Pengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
Kajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
Pengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar