• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

Tafsir surat AL BAQOROH Ayat 14 - 15

(Hasil kajian bersama Bapak KH. Abdul Wahid Hasyim, rutin dan urut mengkaji kitab tafsir IBNU KATSIER setiap hari Ahad di Masjid Al Masyhur desa Bageng – Gembong ) 

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْإِلىَ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:"Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (QS. 2:14

Allâh menerangkan bahwa ketika orang-orang munafik bertemu dengan orang-orang beriman, mereka mengatakan bahwa dirinya adalah bagian dari orang-orang mukmin. Mereka berkata : “Kami beriman.” Mereka menampakkan keimanan, seolah-olah loyal terhadap kepemimpinan Rasûlullâh SAW, serta menampakkan kekerabatan yang baik dalam masyarakat Islam. Hal itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan kecuali mereka orang-orang munafik  hendak menipu dan berpura-pura di hadapan orang-orang mukmin, dengan tujuan agar mendapatkan kebaikan serta berharap bisa mendapatkan bagian dari ghonimah ( harta rampasan perang ).

Begitulah perilaku munafik, pura-pura dalam masalah keimanan, demi kepentingan-kepentingan duniawi. Dan hatinya tetap ingkar terhadap beberapa hokum Allâh, khususnya dalam masalah perjuangan, infaq fisabilillâh, serta menolak bermu’amalah dengan syari’at Islam. Seperti yang dijelaskan Allâh dalam firman-Nya :

وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللهُ وَإِلَى الرَّسُوْلِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْكَ صُدُوْدٌا

Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allâh telah turunkan dan kepada hukum Rasûl", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An-Nisâ’ [4]: 61)

Keadaan semacam itu tidak pernah berubah antara munafik pada jaman Rasûlullâh SAW dengan munafik masa kini. Yaitu sama-sama ikut berjuang akan tetapi dengan tujuan untuk mendapatkan kesenangan dunia. Entah itu berupa harta ataupun status sosial, mengharap pengakuan dari masyarakat. Hanya saja pada jaman Nabi munafik  jumlahnya minoritas dan tidak berani terang-terangan konfrontatif kepada Nabi dan orang-orang beriman serta posisinya menjadi masyarakat kelas 2. Dan mereka tidak mempunyai peran dalam percaturan kemasyarakatan.

Sedangkan munafik masa sekarang, jumlahnya lebih banyak dibanding dengan orang-orang yang benar-benar beriman,  mereka lebih berani untuk menampakkan keberadaannya, bahkan membentuk dalam sebuah institusi jaringan, semisal JIL (Jaringan Islam Liberal). Dan lebih hebatnya munafik sekarang mampu menguasai segala lini aspek kehidupan.

Ketika orang-orang munafik kembali kepada setan-setan mereka, yaitu  para pendeta Yahudi, para pemuka kaum musyrikin dan sesama munafik, maka mereka akan berkata : “Sesungguhnya kami bersamamu.” Maksudnya adalah munafik mempunyai pola pikir yang sama dengan pendeta-pendeta Yahudi dan pemuka-pemuka musyrik dalam mengingkari Rasûlullâh. Dan memang dalam kenyataan  orang-orang munafik lebih dekat dengan Yahudi dan musyrikin dalam membicarakan kebenciannya terhadap Rasûlullâh.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَافَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَايَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (darijenis) manusia dan (darijenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”(QS. Al-An’am [6]: 112)

Sehingga kalimat IMAN yang mereka nyatakan di depan hanyalah kebohongan! Mereka hendak mengolok-olok, mengejek dan mencemooh sahabat Nabi SAW.  Munafik tidak akan beriman sebagaimana imannya Nabi dan sahabat. Mereka lebih ada kecondongan hati seperti  Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik dibanding dengan orang-orang mukmin. Dan yang lebih dari itu semua, munafik tidak akan melandaskan hidup dengan syari’at Islam.

الله يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَ يَمُدُّهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.”(QS. Al-Baqarah [2]: 15)

Ini adalah jawaban dari sikap munafik terhadap orang-orang beriman. Bahwa Allâh akan membalas cemoohan mereka pada hari kiamat kelak, melalui firman-Nya

وَلَايَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا أَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوْا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِيْنٌ

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami member tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan.
”(QS. Ali Imran [3]: 178)

Ini merupakan berita Allâh, bahwa DIA akan membalas olok-olok orang munafik dengan siksa yang amat pedih pada hari  kiamat kelak, dari sebab kedustaan yang dilakukannya terhadap Nabi dan orang-orang mukmin. Sehingga makar yang dilakukan munafik terhadap umat Islam justru akan kembali menimpa pada diri munafik sendiri.

Ketika di dunia Allâh akan membiarkan mereka terombang-ambing  dalam kesesatan, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan beberapa sahabat memaknai bahwa Allâh member waktu tenggang di dunia dan membiarkan mereka dalam kesesatan dan kedustaan yang semakin jauh. Sebagaimana penjelasan Allâh

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لمَ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّ لَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al-An’am [6]: 110)

Ayat tersebut di atas menggambarkan kacau balaunya hati orang-orang munafik. Pada satu sisi otak mereka menerimakan kebenaran ayat-ayat al-Qur’an, akan tetapi karena tidak sesuai nafsunya maka hati mengajak otak untuk mengingkari, dan jatuhlah dalam kekafiran karena menolak sebagian ayat dalam al-Qur’an. Kebingungan hati mereka terhadap kebenaran al-Qur’an dengan jelas digambarkan Allâh

أَفَلَمْ يَسِيْرُوا فِي اْلأَرْضِ فَتَكُوْنُ لهَمْ قُلُوْبٌ يَعْقِلُوْنَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُوْنَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَلْ أَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَىلْ قُلُوْبُ الَّتِيْ فِيْ الصُّدُوْرِ

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22]: 46)

Sesungguhnya bukan telinganya yang tidak mampu mendengarkan ayat-ayat Allâh,  dan mereka tahu bahwa apa yang dibawa Rasûlullâh SAW adalah wahyu  yang pasti benar. Tidak pula mereka adalah orang-orang yang buta matanya, sehingga mereka mampu membaca ayat-ayat Tanziliyah berupa al-Qur’an maupun ayat-ayat Kauniyah berupa alam semesta. Akan tetapi karena hatinya tertutup oleh nafsu, maka tidak mampu mendengar dan membaca ayat-ayat Allâh.

Allâh akan menambah kesesatan mereka, dengan memberikan kelonggaran dalam urusan dunia. Sebagian ulama  mengatakan bahwa setiap kali mereka berbuat dusta, maka Allâh akan ‘ngujo’ mereka  dengan kenikmatan-kenikmatan hidup yang pada hakikatnya itu adalah adzab dari Allâh. Semakin besar kenikmatan yang mereka terima, maka semakin bertambah juga adzab yang akan menimpanya. Karena mereka akan semakin terlena dan jauh akan petunjuk kebenaran. Seperti yang ditegaskan Allâh

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّروُا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوْا بِمَا أُوْتُوْا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُوْنَ. فَقُطِعَ دَابِرَ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَالْحَمْدُ لله رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ


Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang dzalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]: 44-45)

Demikian Allâh berulang-ulang bercerita tentang munafik, agar  dijadikan pelajaran bagi orang-orang beriman bahwa hati yang sudah terjangkit penyakit NIFAQ, sangat sulit untuk diajak kembali beriman secara kaffah.

Allâhu ‘alambishshowwab

Ditulis Oleh

Author
HM. Kartono
Sekretaris Umum MPAQ
Nantikan Tafsir Surat berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar