• MAJALAH SINARANProduk Kajian MPAQ : Agar Ibadah Menjadi Lebih Midah
  • KADER DAKWAHKader-kader Islami yang telah disiapkan untuk Dakwah
  • ARAHAN PAK YAIPengarahan sebelum pengukuhan MPAQ Daerah
  • KAJIAN JUM'ATKajian jum'at rutin, bersama Ust. Suparman Al Jawi
  • MPAQ Daerah CilacapPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Cilacap dsk
  • MPAQ Daerah KlatenPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Klaten dsk
  • css sliderPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Magelang dsk
  • MPAQ Daerah YogyaPengajian Akbar dan Pengukuhan Anggota MPAQ Daerah Yogya dsk

STAIT : METODIK PENDIDIKAN AKHLAK APLIKATIF

METODIK PENDIDIKAN AKHLAK APLIKATIF, SOLUSI ATASI SEKULERISME-MATERIALISME*)
Pendidikan Akhlak Aplikatif Dalam Metodik BIAS

Pendidikan manusia menuju arah jati dirinya sangat dipentingkan dalam Islam sebagai sistem hidup karya Sang Pencipta alam raya bagi manusia ciptaan-Nya. Islam sebagai sistem hidup menempatkan wahyu dari Allâh Sang Pencipta dan Pola peri kehidupan utusan-Nya Muhammad SAW sebagai acuan bagi semua umat.  Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (Azzurqoni, Juz 4, 1997 : 344). Relevansi pendidikan dengan suri tauladan telah diyakini bagian dari keberhasilan pendidikan. Mengingat porsi mencontoh atau meniru merupakan faktor pembentuk kepribadian seseorang. Kecerdasan emosi menjadi bagian dari proses pembentukan kepribadian yang kuat tersebut sebagaimana analisis para ahli.

Akhlak aplikatif dikembangkan pembelajarannya dengan sistem pembiasaan ( habit forming ) diramu oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh Yogyakarta dari 16 Moral Dasar Anak yang ditulis Pam  Schiller dan Tamera Bryant dan dilengkapi dengan muatan antusias ibadah dan reflek infaq dan shodaqoh. Pengkajian terhadap moral dasar anak berkesesuaian dengan prinsip-prinsip moral pendidikan Islam yang dicontohkan Rasûlullâh SAW. Pendidikan  akhlak ini menggunakan pendekatan pembiasaan dan pengaturan  lingkungan serta dikombinasi dengan stimulasi pembelajaran tatap muka. Monitoring dilakukan dalam bentuk tabulasi untuk mendapatkan nilai harian ( Muhammad Jatmiko, 2003 ). Akhlak ini diyakini dibangun dari pendidikan aqidah / keyakinan yang  dengan pengamalan syariat Islam akan berbuah akhlaq. Akhlaq dengan penekanan aplikasi ini terdiri dari parameter – parameter :

  1. Antusias ibadah ta’alluh
  2. Reflek infaq dan bershodaqoh
  3. Kepedulian dan empati
  4. Kerjasama
  5. Berani
  6. Keteguhan hati dan komitmen
  7. Adil
  8. Suka menolong
  9. Kejujuran dan integritas
  10. Percaya diri
  11. Loyalitas
  12. Humor
  13. Sabar
  14. Rasa bangga
  15. Banyak akal
  16. Respek
  17. Tanggung jawab
  18. Toleransi

Pam Schiller dan Tamera Bryant, 2002 mengemukakan  jenis-jenis moral dasar bagi anak sebagai berikut :

  1. Kepedulian dan empati adalah menanggapi perasaan, pikiran dan pengalaman orang lain, karena kita secara alami merasakan kepedulian terhadap sesama, berupaya mengenali; pribadi orang lain dan keinginan membantu orang lain yang sedang dalam keadaan susah. Dari empati kita mengenali rasa kemanusiaan kita sendiri terhadap orang lain ( 2002 ; hal. 2).
  2. Kerjasama, adalah menggabungkan tenaga kita dengan tenaga orang lain untuk bekerja demi mencapai tujuan umum. ( 2002 ; hal 10 ).
  3. Berani, sikap berani memungkinkan kita menghadapi kesulitan, bahaya atau sakit dengan cara yang membuat kita dapat mengendalikan situasi (2002; hal. 20).
  4. Keteguhan hati dan komitmen, komitmen membuat kita bertahan dalam mencapai cita-cita kita, pekerjaan kita dan orang lain. Komitmen merupakan janji kita yang kita pegang teguh terhadap keyakinan kita dan membuat kita member dukungan serta setia kepada keluarga dan teman kita. Keteguhan hati membuat kita dapat mencapai cita-cita (2002; hal. 30).
  5. Adil, untuk dapat bersikap adil, kita harus memperlakukan orang lain dengan sikap tidak memihak dan memperlakukan orang lain secara wajar, seperti kita ingin diperlakukan oleh mereka (2002; hal. 42).
  6. Suka menolong, suka menolong adalah kebiasaan menolong dan membantu orang lain (2002;hal. 52).
  7. Kejujuran dan integritas, kita telah bersikap jujur ketika kita berbicara tidak bohong dan memperlakukan orang lain secara adil (2002; hal. 60).
  8. Humor, humor dapat membuat cerah kehidupan sehari-hari kita karena kita tersenyum pada saat senang, tertawa pada situasi yang menggelikan, dan tertawa kecil pada keadaan yang menertawakan. Humor adalah kemampuan kita untuk merasakan dan menanggapi komedi dalam dunia kita dan dalam diri kita sendiri (2002; hal. 68).
  9. Mandiri dan percaya diri,  kebebasan melakukan kebutuhan diri sendiri adalah mandiri. Berkat percaya diri kita dapat menjalani jalan kita sendiri di dunia, mempertimbangkan pilihan kita dan membuat keputusan sendiri (2002; hal. 76).
  10. Loyalitas, kita menunjukkan sikap loyal ketika kita tetap setia terhadap komitmen dengan seseorang, anggota keluarga atau teman atau dengan kelompok tertentu atau dengan apa yang kita percayai. Loyalitas menunjukkan untuk tetap komitmen dalam keadaan sulit maupun adanya rintangan (2002; hal. 84)
  11. Sabar, kita menunjukkan sikap sabar ketika kita mampu menangani kelambatan mencapai cita-cita atau kesempatan khusus dan menunggu dengan tenang (2002; hal. 92)
  12. Rasa Bangga, adalah perasaan yang kita punyai dalam menghargai diri sendiri, perasaan bangga adalah rasa menghargai diri. Kebanggaan merupakan perasaan senang yang kita rasakan ketika kita menyelesaikan suatu tugas yang menantang, mencapai tujuan yang sulit, atau bahkan saat mendapatkan sesuatu yang kita inginkan (2002; hal. 102).
  13. Banyak akal, adalah kemampuan kita untuk berpikir secara kreatif tentang metode dan bahan yang berbeda dalam upaya kita menanggulangi situasi yang baru dan sukar. Banyak akal memaksa kita untuk membuat pertimbangan, menggunakan imajinasi kita, semua pilihan yang mungkin dalam menemukan pemecahan suatu masalah (2002; hal. 110).
  14. Sikap respek, kita menghormati orang ketika kita mengagumi, menghargai, dan mempunyai penghargaan secara khusus (2002; hal. 120)
  15. Tanggungjawab,  berkaitan dengan menjadi dapat dipercaya dan dapat diandalkan, serta menjadi seseorang yang orang lain dapat mengandalkan anda (2002; hal. 130)
  16. Toleransi, kita bersikap toleransi ketika kita bersikap adil dan berperilaku obyektif terhadap orang lain. Orang sering berbeda pendapat, sikap, kepercayaan atau pakaian dengan kita; toleransi membuat kita menerima dan menghargai perbedaan kita (2002; hal. 140)

Dua tema lain yaitu antusias ibadah ta’aluh dan reflek bershodaqoh dikembangkan lebih lanjut oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh dalam kurikulum Akhlak Aplikatif.

Learning by doing
Dalam kehidupan sehari-hari banyak contoh yang menunjukkan, tidak sedikit orang dengan kemampuan intelektual luar biasa namun gagal dalam hidupnya karena rendahnya kecerdasan emosi yang dimiliki. Kecerdasan emosi menunjuk kepada suatu kemampuan untuk memahami perasaan diri masing-masing dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri, dan menata dengan baik emosi-emosi yang muncul dalam dirinya dan dalam berhubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosi menggambarkan suatu kemampuan yang walaupun berbeda namun berfungsi melengkapi kecerdasan kognitif seseorang (IQ). 

Perkembangan kecerdasan emosi yang mengarah pada perubahan moral/akhlak anak membutuhkan proses pembelajaran dan penilaian yang kontinyu dan akurat untuk memonitor dan memberikan pendekatan yang benar . Hal tersebut terkait faktor individual defferences (perbedaan individual) yang membutuhkan pendekatan personal dalam pembimbingannya. Pendidikan sikap mental merupakan permasalahan tersendiri dalam pendidikan di Indonesia. 

Dalam kehidupan banyak sekali masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan semata dengan menggunakan kemampuan intelektual seseorang. Kematangan emosi ternyata sangat menentukan keberhasilannya. Dengan kata lain, kecerdasan emosi mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam mencapai keberhasilan hidup. 

Penelitian yang dilakukan Daniel Goleman, tentang kompetensi-kompetensi aktual yang membuat orang sukses dalam pekerjaan apapun, membuktikan bahwa peran IQ memang hanya menempati posisi kedua sesudah kecerdasan emosi, dalam menentukan pencapaian prestasi puncak dalam pendidikan dan pekerjaan.

Berbeda dengan kebanyakan pemikiran konvensional, emosi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang bersifat positif atau negatif, tetapi berlaku sebagai sumber energi, autentisitas, dan semangat manusia yang paling kuat, dan dapat memberikan kita sumber kebijakan intuitif. Pada kenyataannya, perasaan memberi kita informasi penting dan berpotensi menguntungkan setiap saat. Umpan balik inilah dari hati, yang menyalakan kreativitas, membuat kita jujur dengan diri sendiri, membangun hubungan yang saling mempercayai, memberikan panduan nurani bagi hidup dan karir, menuntun  pada kemungkinan yang tak terduga, dan bahkan bisa menyelamatkan diri manusia dari kehancuran.

Tentu saja tidak cukup hanya memiliki perasaan. Kecerdasan emosi menuntut kita untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan -pada diri kita dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif informasi dan energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Ketika kita menggunakan bukan hanya otak analitis tapi juga emosi dan intuisi, indra dan kecerdasan emosi itu akan membuat kita mampu menarik dalam seketika ratusan pilihan atau skenario yang mungkin untuk menghasilkan pemecahan terbaik dalam waktu hanya beberapa detik, bukan-nya berjam-jam. Penelitian mengindikasikan bukan hanya kecepatan proses ini tetapi kemungkinan jawaban yang baik atau lebih baik yang akan ditemukan oleh orang yang menggunakannya daripada mereka yang hanya semata-mata bergantung pada akal atau intelektual.

Kecerdasan emosi bekerja secara sinergis dengan ketrampilan kognitif. Orang-orang yang berprestasi tinggi memiliki keduanya. Makin kompleks pekerjaan, makin penting kecerdasan emosi. Kekurangan kecerdasan emosi dapat menyebabkan orang terganggu dalam menggunakan keahlian teknis atau keenceran otak yang mungkin dimilikinya. Siswa yang cerdas dan terampil, dengan demikian akan sukses hidupnya kalau diukung oleh kecerdasan emosi yang tinggi.
Kajian tentang multiple intelegence secara luas dapat disoroti dari berbagai sudut pandang termasuk dalam pemahaman ranah pembelajaran kognisi, afeksi dan psikomotor. Masalah emosional sering dimasukkan dalam ranah afeksi


Suasana nyaman dalam belajar

Douglas dalam Djahiri (1985) menyebutkan ada delapan pendekatan yang dapat dipilih dalam pendidikan afeksi, yaitu:

  • Evocatio, pendekatan ekspresi spontan, dimana siswa diberi kesempatan dan kebebasan penuh untuk mengekspresikan tanggapan, perasaan, penilaian dan pandangan terhadap sesuatu hal.
  • Inculcation, pendekatan sugesti terarah, dimana peran guru sangat menentukan dengan memberikan rangsangan yang menggiring siswa secara halus pada suatu kesimpulan atau pendapat yang sudah ditentukan.
  • Awareness,  pendekatan kesadaran dengan cara menuntun, untuk mengklarifikasikan dirinya atau nilai orang lain melalui suatu kegiatan
  • Moral reasoning, pendekatan yang dipakai untuk mencari kejelasan moral melalui stimulus yang berupa permasalahan yang dilontarkan guru kepada peserta didik.
  • Analysis, pendekatan melalui analisis nilai yang ada dalam suatu media mulai dari analisis seadanya berupa berita kasus sampai pada pengkajian secara akurat, teliti dan tepat.
  • Value Clarification, pendekatan dengan membina kesadaran emosional nilai siswa melalui cara yang kritis rasional dengan mengklarifikasi dan menguji kebenaran, kebaikan, keadilan, kelayakan dan ketepatannya.
  • Commitment, pendekatan kesepakatan dimana siswa sejak awal sudah diminta untuk menentukan atau menyepakati sikap dan pola pikir berdasarkan acuan tertentu.
  • Union, pendekatan dengan mengintegrasikan diri dalam kehidupan nyata atau stimuli yang dirancang guru.

Bagaimana implementasi pendidikan Akhlak Aplikatif dalam Metodik Life Curriculum pendidikan Bina Anak Sholeh yang diterapkan sekolah-sekolah Bina Anak Sholeh sebagiannya telah dapat dijelaskan dalam tulisan ini. Akan tetapi dimensi menyeluruhnya tertopang dengan Sistem Pendidikan yang dikembangkan pada landasan mendasar kehidupan, yaitu sumber hakiki dari Sang Pencipta Allâh SWT, yang dikreasikan oleh Tim Pengembang dan Tim Manajemen BIAS dalam skema kehidupan pembelajaran, pembimbingan dan pelatihan peserta didik secara natural dengan tetap mensinergi kebutuhan jaman. 18 nilai moral dasar Akhlak Aplikatif patut ditengok secara langsung di sekolah-sekolah BIAS untuk mendapatkan perspektif riil. Wallahu alam bishowab.

Ditulis Oleh

Author
Ust. Danang Dwi Prasetyo, M.Pd
Dosen STAI Terpadu Jogja, juga Humas MPAQ Pusat
Nantikan tulisan berikutnya, hanya ada di www.mpaqpusat.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar